
"....dan karena itu dalam teori evolusi Darwin, adaptasi adalah mekanisme biologis dimana organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan baru atau perubahan dalam lingkungan mereka saat ini. Lalu….."
"Adaptasi ya?" Gumam Alesya saat mendengar penjelasan dari guru perempuan yang tengah mengajar kelas 11-4.
Alesya menoleh ke arah jendela yang menampilkan langit biru dengan gumpalan awan putih yang bertebaran. Manusia itu makhluk yang mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Baik sadar maupun tidak mereka menyesuaikan diri pada setiap perubahan. Termasuk dirinya.
Tanpa terasa sudah dua bulan ia berada di dalam novel, dan dirinya pun sudah beradaptasi dengan dunia ini. Jujur, Alesya kadang merinding mengingat seberapa cepatnya ia beradaptasi. Mulai dari orang-orang yang memanggilnya dengan nama yang bukan miliknya, tubuh barunya, orang-orang baru dan juga lingkungan baru.
Kadang ia bertanya-tanya bagaimana keadaan dunianya setelah ia bertransmigrasi, bagaimana dengan dirinya di sana, dengan tubuhnya. Apakah ia mati setelah kecelakaan panggung itu? Dan bagaimana bisa itu terjadi masih menjadi misteri baginya, tidak mungkin tiba-tiba lampu itu jatuh, mengingat acara itu adalah acara nasional. Dimana banyak orang-orang berpengaruh yang hadir. Tapi itu tak menutup kemungkinan jika terjadi kesalahan dari pihak panitia. Namun entah mengapa kecelakaan yang menimpanya itu terasa ganjil, seolah di senga-
"ALESYA!!!"
Tersadar dari lamunannya, Alesya melihat ke depan, dan dirinya langsung disuguhi dengan pemandangan seorang wanita usia pertengahan tiga puluhan yang tengah berkacak pinggang, menatapnya tajam. Alesya dengan sudah paya meneguk ludahnya ketika melihat mata tajam yang ditunjukan guru berkacamata tersebut.
"Walaupun kamu tidak suka belajar, tapi setidaknya perhatikan ke depan! Kamu itu nilainya paling jelek di kelas ini tahu tidak?!" Omel guru itu yang juga merupakan wali kelas dari 11-4.
Alesya menggelengkan kepalanya, "Nggak bu," Celetuknya
Mendengar jawaban Alesya yang blak-blakan, seluruh murid di kelas itu tidak bisa tidak tertawa. Hal itu mengundang tanda tanya di benak Alesya. Alesya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Apa yang ia katakan benar kan? Sebab dirinya baru tau saat ini bahwa Alesya memiliki nilai yang jelek di kelas. Kemudian ia menengok ke arah Maya hendak menanyakan apa yang salah dengan jawabannya, namun ia malah mendapati Maya yang juga tengah menahan tawanya. Memanyunkan bibirnya, Alesya menatap kesal pada Maya.
Maya berdehem saat menyadari jika Alesya yang tengah menatapnya, ia segera memberi tanda damai. Dirinya tak mau mendapat amukkan dari teman duduknya.
Bibir Alesya semakin mengerucut, menatap tidak puas Maya. Dirinya hendak menegur namun tidak jadi karena suara gebrakan dari papan tulis yang tiba-tiba. Alhasil seluruh kelas menjadi hening.
Mereka semua yang berada di kelas secara serentak menatap orang yang memukul papan tulis itu yang merupakan guru mereka.
Memijat keningnya yang terasa pusing, lalu guru itu menghela nafas lelah. "Dengarkan ini kalian semua, ulangan akhir semester tinggal satu minggu lagi. Jadi ibu ingin kalian mempersiapkannya dengan baik. Terutama kamu Alesya," Ujar wali kelas 11-4, menunjuk Alesya.
"Lo kok saya lagi bu?"
"Diam!"
Sekali lagi guru tersebut menghela nafas berat. "Jika diantara kalian ada yang gagal…." Guru tersebut mengedarkan pandangannya pada seluruh kelas, "maka kalian semua tidak diperbolehkan untuk ikut acara sekolah!" Seru guru tersebut diiringi dengan bunyi bel istirahat.
Sepertinya guru yang mengajar pelajaran biologi itu, Alesya segera memutar tubuhnya, menghadap Maya yang tengah membereskan buku-bukunya. "May emangnya acara apa sih yang dimaksud guru tadi?" Tanyanya penasaran.
Maya menghela nafas, kemudian melirik sekilas Alesya. "Bu Ria Al," Ucap Maya, memberi tahu nama dari sang wali kelas untuk yang kesekian kalinya. Dirinya lelah sekaligus heran pada Alesya yang selalu melupakan nama-nama guru maupun teman-teman sekelas mereka. Alesya justru malah memberi nama panggilan yang sedikit unik? Kepada mereka. "I Gak tau. Entar coba I tanya ke Lulu," Lanjut Maya, menghentikan kegiatannya.
"Lu!" Panggil Maya pada gadis yang duduk di depan di sebelah barusan mereka. Lulu yang merasa dipanggil menoleh lalu berjalan ke arah tempat duduk Maya dan Alesya. "lo tau gak acara apa yang dimaksud sama bu Ria?"
Lulu membenarkan kacamata bulatnya, "Tau."
"Apaan?/What this that?" Tanya Alesya dan Maya serentak bahkan para siswa lain yang masih berada di kelas pun ikut mendengarkan percakapan ketiga gadis tersebut.
Gadis yang mengenakan jepit rambut berwarna-warni di kedua sisi kepalanya itu tak langsung menjawab, membuat suasana kelas hening menunggu jawaban.
"Itu rahasia," ucap Lulu santai dengan seringai di wajahnya.
Mereka semua yang mendengarnya menggeram frustasi.
"Lu kenapa gak kasih tai aja sih, kita kan temen sekelas," Bujuk salah satu siswa laki-laki dan di angguki oleh siswa lainnya, tanda setuju. Namun hal itu direspon Lulu dengan gelengan kepala.
Menatap Alesya, Maya menggelengkan kepalanya, memberi tahu bahwa mereka tak memiliki kesempatan untuk mendapat informasi dari Lulu.
Namun Alesya mengabaikan Maya. Dalam benaknya, Alesya mempunyai satu solusi yang akan selalu mempan pada orang-orang yang dalam tubuhnya mengalir darah negeri konoha. Ia mengeluarkan uang dari sakunya lalu menaruh uang lima puluh ribu di atas meja dengan bunyi yang cukup keras.
Lulu yang hendak pergi terhenti saat suara gebrakan meja terdengar. Bukan hanya dirinya namun para siswa lain pun menatap ke arah sang pelaku dari asal suara itu.
Lulu secara bergantian menatap antara uban di atas meja dengan Alesya yang tengah menatapnya. Seketika Lulu mengerti apa yang dimaksud Alesya. Sekali lagi ia menggeleng, "Gak bisa, gue sebagai anggota OSIS yang baik dan jujur tidak menerima suap," Lulu dengan tegas menolak uang Alesya.
Bahu para siswa seketika merosot saat Lulu menolaknya, padahal mereka sudah berharap Lulu akan membuka mulut.
Berdecak, Alesya kembali meletakkan uang di atas meja. Alesya menyilangkan kakinya serta bersedekah dada, menatap Lulu dengan acuh. Berbeda dengan Lulu yang sudah menatap Uang diatas meja dengan Alesya.
Memejamkan matanya, Lulu kembali menatap tegas ke arah Alesya dan berkata, "OSIS adalah pedoman bagi seluruh siswa jadi gue gak akan termakan dengan uang suap-"
Perkataan Lulu terhenti saat Alesya untuk ketiga kalinya meletakkan uang di atas meja, total uang diatas meja menjadi lima ratus ribu. Dengan secepat kilat Lulu mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam saku almamaternya.
Melihat hal itu Alesya menyunggingkan senyum kemenangan. "Jadi apa?"
Lulu berdehem, "Acara sekolahnya itu…." Semua siswa mendengarkan dengan seksama, dengan penuh perhatian. Jantung mereka berdegup, tak sabar mendengar jawaban dari satu-satunya anggota OSIS di kelas 11-4.
Netra Lulu menyapu seluruh kelas, menatap wajah-wajah penuh harap teman sekelasnya, "...rahasia." Dengan segera Lulu berlari keluar kelas.
Mereka semua tertegun untuk beberapa saat. Lalu tak selang beberapa lama, Alesya dengan segera berlari menyusul Lulu yang kabur membawa uangnya, "Lulu anak katak! Kembaliin uang gue!" Seru Alesya menggelegar di koridor yang lumayan ramai.
...◖◇◗...
"B*NGSAT!!" Teriakan Anton serta suara kursi jatuh menggema di dalam kelas. Mereka semua yang ada di dalam kelas itu seketika membeku. Suasana mencekam seketika menyebar di dalam ruang kelas.
"Bisa gak kalian berhenti ngomongin hal itu hah?!" Ujar Anton dengan intonasi yang tinggi. Menggertakkan giginya, Anton menatap satu persatu Langit, Bara dan Rey, "gue muak sama kalian."
Dengan langkah kasar Anton berjalan ke arah pintu lalu menutupnya dengan keras. Ia tak peduli, saat ini ia sangat kesal.
"Dia kumat lagi ya?" Celetuk Rey seraya membenarkan kacamatanya yang miring karena kaget ketika Anton membanting pintu.
"Ck, tadi lo dimana?" Ujar Bara mengabaikan pertanyaan Rey dan kembali memfokuskan perhatiannya pada game di ponselnya.
" Gue di gedung utara." Jawab Langit yang juga kembali memusatkan atensinya pada ponsel.
Rey menghela nafas lelah melihat kedua orang itu yang mengabaikannya. Namun tidak mengapa ia masih memiliki satu orang lagi, "Arya, gimana-
"Apa sayang?"
Sekujur tubuh Ret seketika merinding, ia memandangi ponselnya dengan tatapan horor. 'Temen gue gak ada yang bener. '
Anton berjalan dengan langkah yang berat juga kasar di sepanjang koridor. Semua yang melewati jalan yang sama dengan Anton merinding mereka memilih menyingkir atau memutar arah. Menghindari dari terkena amuk dari bom berjalan dari Shadow.
'Sialan mereka gak bosen apa ngomongin itu terus setiap kumpul?' Pikir Anton.
Jenuh dengan teman-temannya yang selalu membicarakan tentang Viana ataupun Alesya. Seolah-olah mereka akan terkena kutukan jika tidak membicarakan kedua gadis itu barang sehari.
Tangan yang sejak keluar dari kelasnya itu selalu di saku kini beralih mengacak-acak rambutnya frustasi. Padahal mereka memiliki hal yang lebih penting untuk dibicarakan misalnya si c*cunguk s*alan Black Flame yang selalu menghalangi mereka.
Anton tenggelam dalam pikirannya sampai tak sadar jika ada seseorang yang tengah berlari ke arahnya. Alhasil bahu mereka berdua bertabrakan. Kekesalan bara semakin membludak ia hendak menegur siswa perempuan itu namun pelaku yang menabraknya itu sudah berada di lantai bawah.
"Anak katak, jangan kabur lo!"
Menoleh, Anton mendapati salah satu penyebab kekesalannya itu kini berlari ke arahnya dan melewatinya. Namun ia segera meraih kerah Alesya menahannya.
"Apaan sih lo?! Lepasin!!" Desis Alesya melemparkan lirikan tajam,
"Lo mau terus lari hah? Lo gak liat tuh tangga?" Anton menggerutu kesal.
Alesya menoleh ke ke depan dan Anton bergantian, "Hehehe,makasih ya."
Memutar matanya malas, Anton melepaskan genggamannya. Lalu kembali berjalan. Namun baru beberapa langkah kaki jenjangnya melangkah ia berhenti. Menoleh pada kerumunan yang ada di tengah lapangan.
"Lagi ngapain dia?" Gumamnya menatap seorang laki-laki yang tengah memegang pengetahuan suara serta menganggap bouquet bunga.
"ALESYA!!" Seru laki-laki itu. Anton menoleh pada gadis yang dipanggil namanya itu yang juga tengah melihat ke bawah dari koridor lantai dua.
Anton dapat melihat senyum gembira yang terpasang di wajah laki-laki itu saat menatap ke arahnya tidak tepatnya ke arah Alesya. Laki-laki itu mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya yang sukses membuat Anton bertanya-tanya bagaimana dia bisa memegangnya disaat kedua tangannya tengah memegang pengeras suara dan juga bouquet.
"Aku masih bersedia,
menyediakan diri untuk mencintaimu
Tetaplah menetap di hatiku,
sebab hidup akan jauh lebih baik berjalan menujumu.
Menatap matamu,
sudah membuat duniaku penuh dengan rindu,
apalagi jikalau memilikimu seusia hidup,
tentu akan lebih indah dari itu.
Peluk bahaya,
tabahlah berjuang bersamaku.
Peluklah Aku dengan Ketabahanmu - Boy Chandra."
Laki-laki itu di geplak oleh temannya, "Yang itu gak usah dibaca goblok," Ujarnya yang terdengar dari penggemar suara. Memicu gelak tawa dari siswa lain yang menyaksikan itu.
Laki-laki itu berdehem, lalu kembali melanjutkan. Mengabaikan gelak tawa. "Alesya Gabriella terimalah hatiku, terimalah pernyataan cintaku dan jadilah pacarku!"
"OGAH!!" Teriak Alesya, "WOY ANAK KATAK DIEM LO DISANA!!" Alesya segera menuruni anak tangga, kembali mengejar Lulu. Yang berada di lapangan, melewati orang yang baru saja mengungkapkan perasaannya. Karena uangnya lebih penting daripada orang random yang menyatakan cintanya.
Mengerutkan keningnya, Anton kembali melanjutkan langkahnya, "Aneh."