Transmigration

Transmigration
Chapter 16



[Gaara, kelas 11-3, klub fotografi] Alesya menatap bergantian antara laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya dengan tulisan di layar ponsel gadis berponi di depannya yang merupakan teman sekelasnya. Alesya memijat keningnya yang berdenyut, kepalanya sudah pusing karena kurang tidur tadi malam dan ditambah orang-orang yang entah kesambet apa datang silih berganti menemuinya.


Semua ini dimulai saat dirinya sampai di sekolah dan Alesya langsung disambut dengan laki-laki acak yang menyatakan perasaannya di depan kelas. Dia baru sampai dan itu masih pagi! Lalu lokernya yang dipenuhi oleh banyak surat-surat yang entah apaan, bahkan saking banyaknya sampai berceceran keluar seperti air terjun!


Tak cukup sampai di situ, hampir setiap menit dirinya dimintai nomor teleponnya. Dan salah satunya ada di depannya sekarang yang tengah menyodorkan ponsel ke arahnya. Ayolah Alesya ingin makan dengan tenang kenapa mereka terus mengganggunya.


Netranya kembali membaca tulisan di layar ponsel yang mengarah padanya, Alesya bahkan hampir terbiasa dengan hal ini. Gadis berponi di depannya ini selalu dengan cepat memberikan Alesya informasi mengenai orang yang meminta nomor teleponnya setelah mengetahui Alesya memberikan nomornya ke sembarangan orang. Lalu beralih pada Lulu yang menggelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat untuk tidak memberikan nomornya.


Entah sejak kapan hubungannya dengan orang-orang di kelasnya menjadi dekat. Sebenarnya Alesya masih belum terbiasa, karena ia biasanya selalu menghindari bersosialisasi dengan orang lain. Namun tidak tahu mengapa Alesya merasa mereka berbeda dengan orang-orang munafik yang memasang senyum tulus padanya namun di belakang menertawakannya.


Hal ini membuktikan jika tujuannya untuk memperbaiki reputasinya berhasil. Namun Alesya masih bertanya-tanya apa penyebabnya. Mungkinkah karena dia menghindari Viana? Tidak menutup kemungkinan jika hal itu penyebabnya.


Setelah melihat reaksi Langit saat dirinya bersama Viana waktu itu -ketika Viana di bully di gudang- Alesya memutuskan untuk menghindari sang protagonis novel ini untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Walaupun hatinya menjerit tak terima karena tidak bisa berinteraksi dengan tokoh favoritnya itu. Namun mau bagaimana lagi, bertahan hidup adalah prioritasnya saat ini.


Alesya baru saja hendak membuka mulutnya namun disela oleh kedatangan Bara yang tiba-tiba. Tubuhnya yang tinggi menjulang di belakang Gaara.


"Nyingkir."


"Hah! siapa lo nyuruh-nyu…ruh gue." Suara Gaara mengecil di ujung saat menyadari siapa orang yang berbicara di belakangnya. Wajahnya pun seketika memucat. Dengan segera Gaara menepi, memberi jalan.


Mendengus kasar, Bara mengambil tempat duduk di pinggir Alesya meletakkan nampan makanannya di meja. "Ngapain lo masih disini?" Bara mendelik tajam pada Gaara yang masih berdiri.


"Tapi-" Gaara terlonjak kaget saat Bara semakin menatap tajam ke arahnya dan tanpa sepatah kata dia segera pergi meninggalkan meja mereka.


"Apa kan gue bilang, dia itu red flag," Ujar Lulu sesaat setelah Gaara pergi.


"Kok lo bisa tau dia red flag?" Alesya memandang Lulu dengan penasaran.


"Dia pernah hampir jadi korbannya Sya."


"Apaan sih lo Silvi," Lulu merenggut kesal pada gadis berponi yang duduk di sampingnya itu. Silvi justru malah terkikik melihat Lulu yang cemberut.


Alesya memandang Maya, "Apa yang dibilang Silvi bener May?" Tanyanya yang dibalas Maya dengan anggukan sebagai konfirmasi lalu kembali menyuapkan sendok berisi makanan ke mulutnya.


Tiba-tiba Lulu menggebrak meja membuat atensi di meja itu terarah padanya. Bahkan sendok Maya pun ikut jatuh saking kagetnya dia.


Lulu berdiri, matanya memandang Alesya dengan serius. "Tunggu kenapa lo manggil di pake nama sedangkan gue lo sebut anak katak?" Protes Lulu pada Alesya yang tengah menyeruput minumannya. Kenapa hanya dirinya yang dipanggil dengan sebutan seperti itu, padahal yang lain dia panggil pake nama.


"Ya lo mirip anak katak," Sahut Alesya santai, seraya menyendok makanan dan memakannya.


"Kecebong," Timpal Silvi


"Berudu," Maya ikut menimpali.


Pipi Lulu membulat selaras dengan kacamata yang dikenakannya ketika mendapat respon seperti itu. Ia duduk kembali dengan cemberut masih menghiasi wajahnya.


Silvi tertawa terbahak-bahak melihat gadis mata duitan itu merajuk. Bahkan perutnya sampai sakit karena terus tertawa. Lulu segera menggeplak kepala Silvi sebab kesal dan mendapat erangan sakit dari sang korban.


Berdehem pelan Silvi mencoba mengendalikan sisa tawanya serta rasa sakit akibat dipukul. "Sya,gue denger lo nolak Saka ya?" Tanyanya merubah topik. Ia tak ingin mendapat geplakan maut Lulu lagi.


Alesya memiringkan kepalanya,"Hm? Siapa?"


"Itu loh yang nembak lo kemarin," Terang Silvi. Diam-diam dia menyeringai saat menyadari kedua laki-laki yang duduk bersama mereka diam-diam melirik penasaran.


"Oh iya, memangnya kenapa?"


Melipat tangannya di atas meja, Silvi mencondongkan tubuhnya kedepan, "Kenapa di tolak? Padahal dia ganteng loh, ya emang gak seganteng Langit sih. Tapi dia ketua ekskul bulu tangkis dan populer juga."


"Karena gak kenal," Celetuk Alesya yang sukses membuat orang yang ada di meja itu terdiam dan bingung.


Alesya yang menyadari kebingungan mereka segera menjelaskan,"Ya memangnya siapa sih yang mau pacaran sama orang yang bahkan baru lo liat?"


"Bener juga sih." Silvi mengangguk pelan, setuju dengan apa yang dikatakan Alesya. Menang benar siapa juga yang mau nerima orang yang bahkan kita baru tau kalo dia ada? Mungkin cuma orang-orang yang sudah terlalu lama ngejomblo aja yang mau.


"Terus gimana kalo orang itu udah lama lo kenal?" Alan yang sejak kedatangannya diam kini membuka suara.


Silvi menutup mulutnya tak percaya, 'Apaan nih? Cintaku kepincut cewe pembully tobat kah?' batin Silvi, Diam-diam melirik laki-laki yang duduk di sebelahnya yang merupakan kakak tingkatnya.


"Ya bisa aja gue terima. Tapi dia harus ganteng, pinter, baik, sopan, gak mesum," Jelas Alesya dengan menekan kata mesum, tak lupa mendelik ke arah Alan.


"Mana ada cowo kek gitu-tunggu kok lo kayak ngedeskripsiin si ketos sih. Tipe lo cowo modelan ke dia?!"


"Kalo iya kenapa? Siapa sih yang gak suka kak Darren iya gak?"


Lulu, Silvi dan Maya mengangguk setuju. Memang Ketos termasuk boyfriend materia dan juga kepribadiannya yang ramah juga menjadi nilai plus untuknya.


...◖◇◗...


"Maksudnya?"


Viana mendengus geli, "Kalo lo mau nanya soal kondisinya, tanya langsung ke orangnya," Terang Viana, merujuk pada peristiwa kemarin.


Netranya menangkap kegelisahan pada perilaku Langit, dilihat dari laki-laki tampan itu menghindari tatapannya serta mengingat bibirnya. Sejujurnya dirinya pun masih terkejut, jika bukan karena Kak Darren yang dengan cepat melindungi Alesya, Alesya pasti harus dibawa ke rumah sakit karena tertimpa Pot bunga yang lumayan besar itu, apalagi bahannya yang terbuat dari keramik.


"Gue pikir lo salah paham, gue cuma penasaran aja kenapa Bara tiba-tiba pindah tempat duduk." Sanggah Langit lalu meneguk es jeruk miliknya.


Memutar matanya malas, Viana ikut meminum es teh miliknya. Sangat terlihat jelas bahwa Langit berusaha menyangkalnya, "Ok, lalu kenapa lo ngajak gue ke sini?"


Viana tak bisa tidak bertanya-tanya mengapa Langit tiba-tiba mengajaknya ke kantin. Langit memang sering tiba-tiba duduk di sampingnya saat istirahat, namun itu dulu. Setelah kecelakaan yang menimpa Alesya dan juga amnesia yang dideritanya Langit berhenti mengekorinya. Viana sangat bersyukur karena hal itu. Jujur saja dia risih diikuti terus oleh Langit. Apa ini yang dirasakan Langit saat terus diikuti Alesya?


"Gak kenapa-napa, gue cuma pengen tau lo masih di ganggu Alesya apa enggak."


Menghembuskan nafas gusar, Viana memandang Langit serius, "Dengerin ya, gue gak selemah yang lo bayangin dan Alesya juga enggak sebodoh yang lo kira, jadi stop jadi cowo labil." Viana berdiri lalu pergi meninggalkan Langit yang masih tercengang dengan perkataannya. Yah, mau bagaimanapun Langit harus bisa membedakan antara ego dan perasaannya sendiri.


"Huh mereka berantem?" Gumam Rey yang melihat adu argumen singkat antara Langit dan Viana. Padahal dia dan Anton hanya pergi sebentar mengambil makanan, tapi sudah banyak yang terjadi. Bara yang pindah tempat duduk, Viana yang pergi dan Langit yang sendirian.


Rey melirik Anton yang sudah menggertakkan giginya menahan marah. "Jangan marah mulu napa, lo itu belum pernah ngerasain namanya jatuh cinta makanya lo gak paham perasaan Langit."


"Diem B*ngsat!" Anton mendengus kesal, lalu pergi ke meja yang diduduki Langit.


"Yang satu marah yang satu galau." Rey menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya itu dan berjalan menyusul Anton.


Langkah Viana terhenti saat netranya menangkap Alesya yang sedang mengobrol entah membicarakan apa dari balik jendela yang memisahkan area kantin dan lorong. Senyum tipis terukir di wajah gadis berambut melewati bahu itu. Sepertinya perjanjiannya dengan Alesya sudah tidak bisa dipertahankan. Yah lagipula tidak jadi masalah, karena posisinya juga sudah stabil.


"Good luck for you Alesya Gabriella Keandra," Bisiknya dan melanjutkan langkahnya yang terhenti.


...◖◇◗...


"Sebenarnya lo siapa?"


Alan menghentikan langkahnya, ia berbalik dan mendapati Bara yang tengah menatapnya curiga.


Bagaimana Bara tidak curiga pada laki-laki yang merupakan seniornya ini setelah balapan hari itu, bagaimana dia tahu dan apa maksudnya dia ada di pihaknya? Dia sudah menyelidiki tentang Alan sejak saat itu namun hasilnya biasa saja yang justru semakin membuatnya curiga tentang identitas dari Alan. Oleh sebab itu Bara segera mengejar Alan setelah Alan keluar dari kantin.


"Maksudnya?"


Bara mendengus kesal saat pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan. "Gimana lo tau tentang hal itu dan juga apa maksudnya lo ada di pihak gue?"


Alis Alan naik sebelah, ia memandang Bara seolah Bara adalah orang paling bodoh di dunia, "Bukannya udah jelas ya?"


Rahang Bara mengeras karena amarah, tapi ia segera mengendalikannya. Memang benar apa yang dikatakan Alan, maksudnya sudah jelas. Namun ia merasakan ada yang ganjil, terutama bagaimana Alan tau tentang hal itu yang bahkan ia sembunyikan dari Langit. "Terus lo sebenarnya siapa?" Bara kembali melontarkan pertanyaan yang sama, namun respon yang diberikan Alan berbeda.


"Orang yang tau masa depan mungkin?" Jawab Alan, matanya menatap ke luar jendela tepatnya pada gedung utama dimana pot bunga kemarin jatuh. "Bye." Alan mengeluarkan satu tangannya dari saku celana, melambai pada Bara dan pergi, mengabaikan ekspresi bingung yang tercetak jelas di wajah pemilik tubuh kekar itu.


"Aneh," Gumam Alan begitu dirinya menuruni anak tangga.


Bara mengalihkan perhatiannya pada jendela yang di tatapan Alan tadi, matanya memicing serta kerutan di dahinya terlihat jelas saat menyadari apa yang dilihat Alan barusan.


...◖◇◗...


"Sesuai dugaan gue," Gumam laki-laki yang tengah memandang ke arah lapangan dari balkon lantai tiga. Dia tau hal ini akan terjadi dimana orang-orang yang menyukai Alesya saat awal tahun pelajaran akan kembali mengejar gadis itu setelah kabar bahwa Alesya tak lagi menyukai Langit tersebar.


Laki-laki itu -yang ditemui Alesya di kelas Langit saat mencari Bara- tak bisa tidak kasihan pada Saka yang ditolak untuk ketiga kalinya. Dia akui Saka memang orang yang tak pantang menyerah, bahkan saat dia menyarankannya untuk menyerah kemarin, Saka malah kembali mendekati Alesya dengan mengajaknya pulang bersama. Yah tentu saja ditolak Alesya bahkan mendapat bonus kata-kata menusuk jiwa serta tatapan maut dari Bara.


"Sialan lo Alesya."


Laki-laki itu mendongak saat mendengar suara yang lumayan ia kenal, "Bukannya dia-"


"Woy ngapain masih di sana?! Gak mau pulang lo?"


"Ck, iya-iya!" Laki-laki itu segera berlari menghampiri temannya, "Gue salah lihat kali," Gumamnya seraya melirik kebelakang dimana sosok itu yang sudah tak terlihat.


...◖◇◗...


"Argh dasar NPC sialan berhenti nelpon gue!" Alesya berteriak frustasi saat ponselnya terus menerima panggilan telepon. Dia merutuki kebodohannya karena dengan gampangnya memberikan nomornya ke sembarangan orang. Alhasil panggilan telepon serta SMS tak henti-hentinya berdatangan.


Alesya hanya ingin membaca novel dengan tenang di ponselnya setelah sesi belajar tambahan dari Maya, namun semua itu hancur seketika karena panggilan telepon yang tiada habisnya. "Sialan, mana gak bisa di unduh lagi ni novel," Gumam Alesya, ia rasanya ingin menangis sekarang juga.