
Viana masih ingat saat beberapa minggu yang lalu Alesya meminta bertemu dengan dirinya di belakang sekolah, tempat yang sama dimana ia meminta Alesya untuk bertemu dengannya setelah kecelakaan itu.
Dirinya sangat terkejut sebab itu merupakan pertama kalinya Alesya yang meminta bertemu dengan dirinya terlebih dahulu. Padahal biasanya Viana yang harus menghubungi gadis itu duluan.
Pikirannya melayang pada satu gagasan bahwa ingatan Alesya sudah kembali. Hal itu tentu membuatnya senang sebab perjanjian yang mereka buat bisa berjalan kembali setelah dua bulan lebih terhenti.
Namun ternyata pikirannya salah, Alesya bertanya soal perjanjian apa yang mereka buat. Viana menolak untuk memberi tahu karena itu bisa mempengaruhi reputasinya. Tentu saja Alesya tidak terima dan mengatakan bahwa perjanjian itu menyangkut dirinya juga. Viana tidak dapat menyangkalnya, namun pilar kehidupan sekolahnya yang sudah susah payah ia bangun akan terancam dan setelah beberapa argumen Alesya menyerah.
Viana pikir masalahnya sudah beres, akan tetapi Alesya kembali melontarkan pertanyaan yang sukses membuat alisnya bertautan sebab bingung. Alesya bertanya ia memiliki kakak laki-laki. Awalnya Viana bingung atas pertanyaan Alesya yang menurutnya random itu. Mungkin Alesya hanya basa-basi saja, jadi Viana menjawabnya dengan jujur bahwa ia tidak punya. Tapi entah mengapa ekspresi yang di pasang Alesya terlihat serius membuatnya berpikir ulang apakah itu hanya sekedar basa-basi atau sebuah kode.
Bahkan ia sampai bertanya kepada kedua orang tuanya apakah ia memiliki kakak atau tidak dan jawaban mereka sesuai dengan apa yang ia tahu bahwa ia adalah anak tunggal.
Sejak kecil Viana selalu memiliki ambisi yang tinggi. Karena ia terlahir dari keluarga kurang mampu membuat apa yang Viana inginkan selalu tidak berjalan mulus, entah itu karena ekonomi maupun orang-orang yang meremehkannya. Namun Viana tidak pernah menyerah dengan apa yang sudah ia putuskan, tidak peduli jika jalan yang akan ia lalui itu penuh duri atau lava sekalipun. Itulah mengapa saat Viana berhasil masuk ke CPB Highschool, dirinya tidak terkejut dengan perlakuan mereka.
Dia sudah sejauh ini dan itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa ia atasi. Viana mulai membangun kekuatannya di CPB dengan berbagai cara, baik itu dengan prestasinya, maupun memanipulasi orang lain memanfaatkannya.
Karena begitulah cara dunia bekerja. Kalau tidak ingin dimangsa maka kau harus menjadi pemangsa.
Tapi prinsip yang selalu ia pegang itu tanpa ia sadari membuatnya tidak pernah puas. Viana tersadar bahwa dirinya menjadi terlalu serakah saat ia melihat sosok Alesya dari balik jendela yang memisahkan area kantin dan lorong.
Saat itu waktu istirahat, ketika tiba-tiba Langit mendatangi kelasnya dan memintanya untuk ke kantin dengannya. Hal itu mengundang kehebohan di kelasnya sebab Langit yang merupakan senior yang banyak diidolakan kaum hawa itu mengajaknya ke kantin. Menurut mereka itu merupakan sebuah bukti bahwa rumor yang sudah lama beredar bahwa sang Leader Shadow mengejarnya itu benar.
Kebingungan yang ia rasakan karena tindakan tak terduga Langit terjawab sudah, ternyata Langit hanya ingin bertanya soal keadaan Alesya setelah kejadian pot jatuh itu. Walaupun secara tidak langsung. Tetapi Viana menangkapnya sebab tingkah laku yang ditunjukkan Langit.
Memang Langit tidak salah bertanya padanya karena ia yang membawa Alesya ke UKS untuk memeriksa apakah Alesya terluka. Dan tidak mungkin juga Langit bertanya pada Kak Darren sebab hubungan OSIS dan geng Shadow kurang baik.
Senyum tipis terukir di wajahnya ketika netranya menangkap Alesya yang tengah mengobrol dengan santai dengan orang lain. Semakin kita memiliki apa yang kita inginkan maka kita akan selalu menginginkan lebih dan lebih, membuat kita tanpa sadar menjadi serakah dan Viana menyadarinya.
Karena itulah ia perjanjiannya dengan Alesya sudah tidak bisa dipertahankan. Setelah ia pikirkan itu tidak menjadi masalah, karena posisinya juga sudah stabil.
"Good luck for you Alesya Gabriella Keandra."
"Lo beneran gak apa-apa?"
Suara berat sedikit serak di sampingannya menyandarkan Viana dari lamunan. Viana menoleh pada Langit yang masih berada di tenda PMR bersamanya.
"Kenapa lo masih di sini?"
"Tentu aja buat ngejagain lo. Siapa yang tau dia bakalan ngebully lo lagi."
Mendengus, Viana sudah menduga jika Langit akan kembali salah paham. Pasalnya Langit datang disaat Alesya tengah berteriak padanya. "Dia gak ngebully gue, justru Alesya yang nolongin gue," Viana berdiri, menatap tepat pada manik mata Langit. "gue harap lo jangan mengambil kesimpulan kalo lo gak tau yang sebenarnya," tuturnya tenang, mengambil paper bag berisi baju basahnya. Mengabaikan ekspresi rumit yang di pasang Langit.
...***...
"Ck, sialan."
"Kalo lo ngedumel terus, gak bakalan selesai-selesai ngumpulin kayu bakarnya."
Tangannya yang hendak meraih ranting terhenti, Alesya melirik sinis pada Alan yang tengah memunguti ranting pohon, "Lo jangan deket-deket ke gue, mesum!"
"Gue harus sejauh apa, pendek? Lo gak liat kita udah jauh banget? Lagian gue juga gak akan nyentuh lo walaupun dekat."
"Eleh, tadi aja lo nyuri-nyuri kesempatan pegang tangan gue!" Alesya mendengus, ia merujuk saat Alan yang tiba-tiba menyentuh tangannya -padahal gak sengaja- ketika mereka tidak sengaja bertemu saat mencari kayu bakar dan berakhir ribut. Juga saat itu mereka tidak sengaja menemukan Viana yang didorong oleh Hani.
Alesya menghembuskan nafas gusar saat mengingat ia yang berteriak pada Viana karena terbawa emosi. Melihat sosok Viana yang basah kuyup dan menggigil kedinginan mengingatkannya pada 'orang itu'. Alesya menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa terus memikirkan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Dirinya harus fokus pada situasi sekarang, sebab ia tidak tahu apa yang akan mengancamnya di masa depan.
"Segini udah cukup kali ya?" Alesya memandang pada tumpukan ranting yang telah berhasil ia kumpulkan. 'Gimana bawanya ya?' batinnya, memandangi tumpukan ranting yang lumayan banyak.
"Sini."
"Hmm?"
"Biar gue yang bawa.," Ujar Alan
Alesya tertegun, menatap tidak percaya pada laki-laki yang kini tengah mengikat ranting yang ia kumpulkan. Apakah yang diharapkannya ini adalah Alan yang ia kenal? Entah mengapa melihat sosok Alan yang seperti itu membuatnya hatinya terasa tersentuh-
"Kalo lo yang bawa nanti malah berantakan, lo kan pendek. Juga nanti lo malah makin pendek lagi bawa yang berat-berat."
Ok, Alesya tidak jadi tersentuh. Dengan segera ia merebut tumpukan ranting yang sudah diikat itu dan membawanya sendiri. "Gak usah, gue bisa sendiri," Ujarnya penuh penekanan, lalu melenggang pergi memunggungi Alan yang menatapnya bingung.
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Alan memandangi Alesya yang pergi begitu saja, "Lah, apa yang gue bilang kan bener."
...***...
Netra Alesya menelusuri setiap sudut yang dapat ia lihat. Mencari sosok ke tiga gadis yang akhir-akhir ini selalu bersamanya di antara hiruk-pikuknya para siswa maupun guru yang tengah melakukan aktivitas masing-masing.
Ngomong-ngomong soal itu, entah mengapa akhir-akhir ini Maya sering menghilang. Ia tahu itu bukan urusannya, namun apa daya ia juga manusia yang punya rasa kepo. Dan jika menyangkut Maya, Alesya jadi teringat satu hal yang membuatnya selalu bertanya-tanya.
Alesya menatap Bara yang tengah duduk bersamanya. "Bara," Panggil Alesya pelan namun masih dapat Bara dengar sebab Bara duduk tepat di depannya.
"Apa?"
"Gue mau nanya."
Mata Alesya melirik Bara yang tengah minum. Bara tidak menjawab, hal itu Alesya anggap sebagai tanda untuk melanjutkan.
"Lo…pacaran sama maya ya?"
Bara menyemburkan minumannya sedetik setelah Alesya melontarkan pertanyaan itu. Ia menatap Alesya dengan mata membola, "Dari mana lo bisa dapet pemikiran ke gitu?"
"Ya abisnya setiap info yang berhubungan dengan gue Maya selalu bilang 'Bara bilang', 'Kata bara' Ya gimana gue gak curiga." Tuturnya, menjelaskan pemikirannya, "Jadi lo pacaran gak?"
"Ya enggak lah, gue cuma minta Maya buat ngawasin lo, karena yang gue tau cuma dia yang paling deket sama lo." Jelas Bara, tangannya kembali membawa botol minum kembali ke bibirnya. "Lagian siapa juga yang mau punya pacar," sambungnya, Mendengus geli.
Oh benar juga, Alesya sesaat lupa Bara itu adalah jenis orang yang lebih mencintai peralatan gymnya ketimbang perempuan. Sepertinya Om Candra harus menyerah untuk punya cucu.
"BARA KUMPUL!!"
Baik Bara maupun Alesya menoleh pada asal suara. Itu adalah seorang gadis yang mengenakan alat dr berwarna merah, tanda bahwa gadis itu merupakan panitia acara.
"Gue cabut. Jangan buat masalah."
Alesya mengangguk, memandangi Bara yang berjalan pergi menghampiri gadis yang berteriak tadi. 'Jadi panitia sibuk juga ya.' batinnya seraya meminum minuman ya g diberikan Bara tadi.
"Alesya."
Menoleh, dahi Alesya mengernyit saat melihat orang yang memanggilnya.
"Lo..."