
Detak jarum jam di dinding terdengar jelas di dalam ruangan. Suasananya mencekam, padahal mereka tidak sedang di kuburan. Keringat dingin pun sudah membanjiri tubuh mereka, padahal ruangan ini ber-AC. Hanya satu penyebabnya, dan sumber dari semua ketegangan itu ada di hadapan mereka.
"Jadi ada yang bisa menjelaskan?"
Suara pria paruh baya itu lembut, namun entah mengapa membuat semua yang ada di ruangan BK menggigil. Termasuk Alesya, padahal baru pertama kali dirinya bertemu pria di hadapannya, namun itu tak memungkiri dirinya juga merasakan aura berbahaya yang terpancar begitu kental dari balik suara lembutnya.
Alesya melirik Langit yang duduk di sebelahnya yang juga menunduk sepertinya. Entah kerasukan apa, Alesya merasa ingin tertawa melihat tampang ketakutan sang ketua Shadow yang digadang-gadang tak takut apapun. Namun kini tengah menggigil ketakutan. Alesya menggigit bibirnya berusaha untuk menahan tawanya.
"Alesya, saya tahu pacar kamu ganteng. Tapi bisa saya minta perhatiannya sebentar?"
Alesya mengangkat kepalanya yang sejak masuk ke ruangan ini tertunduk, menatap tak percaya. Dirinya terperangah mendengar penuturan sang guru BK.
"Apaan! dia bukan pacar saya pak. Ogah banget!" Sanggahnya dengan suara sengit. Entah kemana perginya sara takut yang ia rasakan. "Badak aja lebih baik dari dia," sambungnya, melipat kedua tangannya di depan dada. Tak menutupi ketidaksukaannya.
Langit memutar matanya malas, "Idih, gue juga gak sudi kali," Cibir Langit tak terima, membalas perkataan Alesya tak kalah sengit.
Sang guru BK sedikit terkejut,"Oh kalian gak pacaran? Bapak pikir kalian pacaran loh," Ujarnya, menatap bergantian pada dua murid yang duduk di depannya.
"Ck, pak dengerin ya, saya mah gak sudi pacaran sama dia. Lebih baik saya pacaran sama badak. Lagian siapa juga yang mau pacaran sama Anjing gila ke dia coba." Celetuk Alesya, beberapa kali menunjuk-nunjuk laki-laki di sampingnya.
Anton dan Rey yang sejak tadi menonton pertengkaran tersebut saling memandang dalam diam. Tak berani buka mulut karena takut dengan sang guru BK. Mereka berdua bertanya-tanya apa yang merasuki kedua orang berbeda gender itu sampai berani bertengkar di depan guru BK.
Langit tersenyum sinis, "Heh gak sudi tapi kok ngejar-ngejar." Langit ikut melipat kedua tangannya di depan dada, "mana caper lagi."
"Idih gue lagi khilaf, sekarang gue udah sadar, udah tercerahkan!"
BRAK!!
Ruangan kembali hening dan juga suasananya kembali tegang saat Guru BK memukul meja dengan sebuah penggaris. Padahal tadi sudah mulai memanas karena pertengkaran Alesya dan Langit.
"PENGGARIS LEGEN UDAH KELUAR!" Batin Anton dan Rey serempak. Menatap horor penggaris kayu panjang di tangan sang guru BK.
"Saya di sini untuk mendengarkan penjelasan kalian atas keributan yang terjadi di kantin saat waktu istirahat. Bukan mendengar pertengkaran rumah tangga kalian."
Mereka berempat dengan susah paya meneguk ludah mendengar suara guru BK yang kini berubah dingin yang membuat ruangan itu berkali-kali lebih mencekam dari sebelumnya.
"A-Alesya duluan pak!" Seru Langit dengan suara gagap, menunjuk Alesya.
"Enak aja! enggak pak, dia duluan," Bantah Alesya.
"Enggak-enggak, terus lo nodongin kursi ke gue apa maksudnya?"
"Ya itu karena lo duluan yang mulai."
BRAK!!
Sekali lagi suara penggaris memukul meja mengheningkan ruangan. Membuat keempat siswa tersebut menunduk takut.
Menghela nafas lelah dengan kelakuan siswa di depannya, guru BK tersebut memandang Alesya,"Alesya, jelaskan."
Alesya menunduk saat sang guru BK memandangnya dengan tatapan yang cukup tajam. Jantungnya berdegup kencang saat mengingat tatapan yang familiar namun dengan orang yang berbeda.
"Gini pak," Alesya memulai setelah beberapa saat diam, "kan saya liat si Langit keselek, saya sebagai temen yang baik dan juga murid teladan ya nawarin dia minum dong? - padahal mah ada maksudnya- Nah, bukannya nerima, dia malah ngehina saya pak. Ya saya gak terima, " terang Alesya panjang lebar, tak lupa raut wajah tak bersalah terpasang di wajahnya.
Guru BK mengangguk mengerti. "Langit,kamu gak boleh ngehina Alesya, dia bermaksud baik. "
Langit hendak membantah namun niatnya ia urungkan saat melihat tatapan tajam dari guru BK. Sedangkan Alesya diam-diam tersenyum atas kemenangannya. Namun hal itu segera pudar saat mendengar ucapan selanjutnya.
"Dan juga Alesya, saya tahu kamu merasa terhina. Tapi kamu tidak perlu bertindak seperti itu. Mengerti kalian berdua?"
"Mengerti Pak," Saut Alesya dan Langit serempak.
"Baiklah karena kalian sudah mengerti, saya akan memberitahu hukuman kalian, karena menyebabkan kegaduhan dan memulai pertengkaran di area sekolah, juga mengganggu aktivitas siswa lain. Kalian berdua diskors selama tiga hari, tidak ada penolakan, tidak ada bantahan."
Alesya tercengang. Dia baru saja masuk sekolah dan sekarang dia diskors? Alesya mendelik tajam pada sang biang kerok -padahal dia juga bersalah- penyebab hal ini terjadi yang juga menunduk pasrah.
"Dan untuk kalian berdua. " Penggaris guru BK menunjuk ke arah Anton dan Rey yang berdiri di belakang Alesya dan Langit. "Kalian dihukum membersihkan taman sekolah selama tiga hari setelah waktu pulang sekolah. "
"Pak, kami mah gak salah," Elak Anton yang di angguki Rey.
"Kalian juga salah, seharusnya teman kalian berantem itu dilerai bukannya didukung. Terutama kamu Rey."
Mereka bertiga menatap Rey bersamaan. Khusus Langit, dia menatap tajam, yang justru dibalas dengan wajah bingung Rey.
Saat Alesya dan Langit bertengkar, Rey justru menawarkan pisau pada Alesya sambil berkata, "Ini pisaunya, gak usah nyari lagi, langsung di potong aja." Dengan wajah polos. Membuat yang melihatnya geleng-geleng kepala.
Dan Anton justru juga ikut mengangkat kursi dan menodongkannya ke Alesya.
"Sudah keluar sana!"
...◖◇◗...
"Lo- lo baru masuk dan udah bikin masalah. Bisa gak sih gak usah nyusahin gue?!" Seru Bara, tanganya yang berkacak pinggang sejak datang ke rumah kini mengusap wajahnya. Frustasi dengan kelakuan sepupunya.
"Habisnya temen lo nyebelin banget. Dan lo juga gak ngelerai, malah ngelongos gitu aja," Sambung Alesya berusaha membela diri. Dirinya sedikit marah, bukannya membelanya saat dihina, Bara malah pergi begitu saja.
Bara membuang muka, "Gue lagi ke kamar mandi." Ucapnya acuh, "Lo juga udah gede masa harus gue awasin mulu. Dan lagian juga ada si Maya." Bara kembali menatap gadis yang duduk di sofa yang masih setia menghindari kontak mata.
Alesya bungkam. Bukan karena membenarkan ucapan Bara. Namun Alesya sedikit kecewa pada Maya yang hanya diam saja. Padahal dia mengatakan bahwa mereka berteman. Teman apanya coba yang hanya diam saat temannya di hina. Teman itu seharusnya kan saling membela dan membantu sama seperti dia-
"Udahlah gue cape," Berdiri, Alesya melangkah pergi ke kamarnya mengabaikan teriak frustasi Bara.
"Arghh, ALESYA!"
Bara mengacak-acak rambutnya kasar,"Sialan, alat-alat gym gue," Gumamnya putus asa.
Setelah kecelakaan, Bara mendapat titah dari sang ayah untuk menjaga Alesya dan itu juga termasuk mengantar jemputnya ke sekolah. Kini Alesya di skors dan sesuai perjanjian, jika Alesya mendapat masalah di sekolah, maka alat-alat gym Bara akan disita.
Bara melangkahkan kakinya dengan lemas, meratapi nasibnya karena alat-alat gymnya akan disita oleh sang ayah sebab lalai mengawasi Alesya.
"Aw, Sialan lo meja!" Bara meringis sakit saat kakinya tersandung kaki meja, membuat kekesalannya bertambah berkali-kali lipat.
Bi Yuni yang melihatnya dari dapur menggelengkan kepala melihat tingkah keponakan dari tuannya, menatapnya kasihan.
...◖◇◗...
Langit mungkin sudah berubah warna menjadi hitam, namun hal itu tak membungkam suara bising dan gaduh yang memenuhi sebuah rumah. Rumah sederhana bercat dominan ungu dan hitam itu dipenuhi oleh para anak muda dari berbagai sekolah serta motor dan mobil di halamannya yang lebih besar dari rumah itu sendiri. Termasuk di dalamnya.
"Hahaha gue setuju tu," Timpal Anton, tangannya menggeplak Langit yang tengah berkutat dengan ponselnya, mengabaikan kelakuan laknat Anton yang menjadikannya karung tinju.
"Bodo amat," Jawab Langit acuh.
"Katanya Bodo amat, tapi pas denger berita Alesya masuk langsung penasaran," Sahut laki-laki di samping Bara yang mengenakan hoodie dengan celana pendek.
"Jiaahh gue setuju sama Arya, " Timpal Rey, mengabaikan tatapan Langit yang seolah mengatakan 'lo temen gue apa bukan sih'.
"Kenapa lo Bar, abis di tolak pacar," Tanya Arya heran melihat Bara yang sejak kedatangannya memasang wajah masam.
"Bacot lo" Sungut Bara kesal. Mereka yang berada di ruangan itu menatap Bara heran dengan respon Bara.
Arya merangkul bahu Bara, "Kenapa Bar? Sini cerita ke gue," Namun tak langsung dijawab oleh Bara.
"Alat-alat gym gue disita sama bokap," Terang Bara setelah beberapa saat hening, "dan itu semua gara-gara lo," Lanjutnya, menunjuk Langit.
"Huh, lo gak salah nuduh gue?"
"GAK! Kalo lo gak ribut dan sama Alesya, gue gak akan kayak gini, "
Rey yang duduk di sebelah Bara, menepuk bahu Bara yang bergetar. Mencoba menghibur, "Cup cup cup udah gak usah nangis."
"Gue gak nangis! Hikss" Sangkalnya, membuat mereka terdiam dengan kebohongan yang sangat jelas.
'Badan kekar hati hello kitty,' Batin mereka semua. Menatap datar Bara. Apa dirinya tak menyadari air matanya sendiri yang sudah mengalir bak air terjun di pipinya itu?
"Ngomong-ngomong soal Alesya, setelah gue denger dari kalian soal kejadian hari ini dia kok agak aneh ya? Agak lain gitu?" Suara Arya memecah keheningan.
"Lain kek gimana? Dia masih nempel tuh sama Langit, " Ujar Anton menolak gagasan Arya.
Jika boleh jujur, dirinya pun agak merasa aneh.
"Dia amnesia," Celetuk Bara yang disambut dengan tatapan kaget dan tak percaya.
"Huh amnesia? Kok bisa," Arya tidak bisa tidak bertanya-tanya. Wajar dirinya tak satu sekolah dengan mereka. Namun melihat raut wajah Langit, Anton dan Rey yang juga terkejut, dirinya yakin mereka juga baru mendengar soal ini.
"Lo inget kan waktu kecelakaan pas di gerbang?"
Arya seketika paham apa maksud ucapan Bara, ia mengguk mengerti. Dia ingat. Saat kejadian, itu adalah hari balapan. Dan Bara yang paling bersemangat dengan balapan itu tak hadir karena harus menemani ayahnya menjaga Alesya di rumah sakit.
"Menurut gue, kalo amnesia itu termasuk hal yang ringan loh. Mengukir dari seberapa parah kecelakaannya." Anton menimpali yang diangguki Arya tanda setuju. Anton juga melihat seberapa parah kecelakaan itu. Bahkan dirinya masih merinding saat mengingat seberapa banyak darah yang keluar dari tubuh Alesya.
Mereka terdiam, ingatan mereka diputar saat kejadian di depan gerbang. Sampai suara Rey memecahnya.
"Lo tau gak menurut teori yang pernah gue baca, orang yang anemia itu-"
"Amnesia goblok, otak lo kok goblok banget sih!" Potong Anton kesal, yang di sambut geplakan dari Bara, membuatnya meringis sakit. Mana tangan Bara otot semua lagi.
"Ck, ganggu lo," Bara mengangguk ke arah Rey, menyuruh secara tidak langsung untuk melanjutkan.
"Itu sebenernya sifat aslinya," Lanjut Rey.
Mereka semua lagi-lagi terdiam, tenggelam dengan pikirannya masing-masing setelah mendengar penuturan Rey. Entah kesambet apa mereka menanggapi perkataan Rey dengan serius.
'Apa iya?'