
"Lo….dagang?" Alesya bertanya dengan canggung. Ia pikir Rey hanya menenteng dagangan itu untuk iseng ternyata dia sungguhan berjualan. Ia bingung karena hal ini tak ada di novel. Atau memang ada tapi dia belum baca ya?
"Iya lumayan buat nambah uang jajan. Rame loh yang beli, terutama cewek," Ujar Rey dengan semangat.
"Kayaknya mereka beli ke lo bukan karena mau beli geh, tapi karena lo ganteng."
Alan yang tengah memakan baksonya tersedak mendengar ucapan blak-blakan Alesya. Alesya hanya melirik sinis, tak peduli. Toh apa yang dia katakan tak salah. Rey memang tampan.
"Ya bagus dong, kita kan harus memanfaatkan segala yang kita miliki. Bener gak bang?"
"Iya dong!" Saut tukang bakso setuju.
Alesya hanya bisa tersenyum canggung melihat interaksi kedua pedagang itu. Apa ini yang namanya solidaritas pedagang?
Dari kejauhan, sorak sorai seketika meluap mengiringi datangnya sebuah rombongan motor yang diikuti sebuah mobil hitam di belakangnya. Hal itu menyita perhatian semua orang. Termasuk Alesya, Rey dan juga Alan yang sekarang berdiri di sampingnya, menatap gerombolan tersebut.
"Udah dimulai ya?" Celetuk Rey dengan seringai lebar si wajahnya. "Gue cabut ya!" Sambungnya dan pergi begitu saja.
Punggung Rey menjauh dan menghilang di antara kerumunan orang dan tak terlihat lagi oleh mata Alesya. Benar apa yang dikatakan Rey, kedatangan mereka berarti pertanda dimulainya balapan malam ini.
Alesya menarik hoodie putih yang dikenakan Alan saat melihatnya melangkahkan kakinya. "Mau kemana?"
Alan menunjuk dengan ibu jarinya ke arah kerumunan. "Lo enggak?"
Mata Alesya mengikuti arah yang ditunjuk Alan. Ia bisa melihat kerumunan yang semakin lama semakin ramai itu dari balik bahu Alam. "Ya iyalah, gue datang ke sini juga buat liat. Emangnya mau ngapain lagi gue ada disini, " Gerutu Alesya dengan wajah cemberut.
"Oh, gue kira buat ngapel sama tukang bakso."
Mulut Alesya ternganga. "Apaan! Nggak kali. Dia udah punya istri sama anak ya kali," Tukas Alesya dengan lantang. Ia menyilangkan tangannya didepan dada, kesal kenapa Alan bisa sampai berpikiran seperti itu.
"Bukan toh, tapi kok gue liat lo ngobrolnya kek deket gitu. Oh!" Alan menepukkan kedua tangannya, tersenyum lebar seolah baru saja mendapatkan pencerahan," Atau lo mau jadi pelakor ya! Dilihat dari lo yang tau anak sama istri-"
"Awww!!" Alan melolong kesakitan segera setelah Alesya menendang kakinya. "Lo kok nendang gue sih?!"
"Salah sendiri ngomong sembarangan!" Seru Alesya dengan wajah yang sudah memerah karena marah. Ia memelototi Alan, geram dengan ucapannya yang asal ceplos. Ya kali dia jadi pelakor. Ogah banget! Mendingan gak usah punya pacar sekali daripada harus merebut dari orang.
"Y-ya siapa tau kan?" Alan memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Alesya yang membuatnya merinding.
Mendengar hal itu dan melihat perilaku Alan membuat Alesya yang sudah kesal bertambah kesal. Memutar matanya, ia melenggang pergi, dengan acuh meninggalkan Alan.
Alan mengacak-acak rambutnya kemudian berdecak. "Kacau dah." Gumamnya kesal. Ia dengan segera menyusul Alesya yang sudah lumayan jauh.
...◖◇◗...
Alisnya tidak bisa tidak menukik saat melihat geng Shadow. Bagaimana tidak, bahkan dari kejauhan Alesya bisa merasakan atmosfer di sekitar mereka yang berat. Mungkin setara dengan berat beras untuk memberi makan satu RT.
Tapi apa dia punya urusan dengan itu? Gak ada. Jadi Alesya dengan santai berjalan ke arah mereka, mengabaikan suasana tegang di sekelilingnya.
"Yo Alesya!" Sapa Rey seraya melambaikan tangannya saat melihat kedatangan Alesya. Alesya hanya mengangguk sebagai respons.
Semua yang ada di sana mendongak ke arah dimana Rey melambai dan mendapati dua orang yang tengah berjalan ke arah mereka. Sekarang bukan hanya tatapan yang mengikuti langkah Alesya karena berani mendekati geng Shadow yang sepertinya tengah tegang. Namun juga bisikan serta gumaman juga turut menyertainya.
"Oh itu Alesya?"
"Iya kan? Cantik banget ya."
"Kenapa bos nolak dia ya?"
"Gak tau? Mungkin bukan seleranya?"
"Setau gue sih katanya risih diikuti terus."
"Lah gue mau malah bersyukur bisa diikuti sama cewek secantik ini."
"Dia buta kali ya?"
Mendengar hal itu hidung Alesya kembang kempis, bangga karena dipuji cantik. 'Ya kecantikan gue emang gak ada yang menandingi. Langit aja yang buta karena tidak menyadari betapa mempesonanya gue,' Batinnya.
Alesya menyelipkan helaian rambutnya ke telinganya. Matanya tak sengaja melakukan kontak dengan Alan yang tengah menatapnya aneh. Namun siapa peduli!
Berbeda dengan Langit yang sudah melayangkan tatapan membunuh pada anggota gengnya karena mengkhianatinya. Mereka langsung memalingkan wajah, menghindari tatapan maut itu. Mengabaikannya seolah sejak pertama mereka tidak melakukan apa-apa.
"Nih dompetnya, makasih ya," Ujar Alesya, memberikan dompet Bara dengan senyum manis di wajahnya.
Bara mengambil dompetnya, lalu menepuk pucuk kepala Alesya, "Ya, sama-sama."
Perilaku Bara membuat Alesya tertegun,begitu pula orang-orang yang melihatnya. Bahkan yang melakukannya pun juga ikut tercengang dengan apa yang baru ia lakukan.
Mereka semua terdiam, tak ada yang berbicara bahkan bergerak seincipun saking terkejutnya. Bingung apakah yang ada di depan mereka ini Bara yang mereka kenal atau bukan.
"Semua peserta balapan segera berkumpul! Sekali lagi, semua peserta balapan segera berkumpul di garis start! Balapan akan segera dimulai!"
Suara seorang wanita terdengar nyaring dan jelas di antara banyaknya suara yang ada. Menarik kembali mereka dari pikirannya masing-masing.
...◖◇◗...
Tepat di garis start sudah ada sekitar tujuh motor yang terparkir, mewakili tujuh geng yang ikut balapan. Para pesertanya merupakan para ketua geng yang juga merupakan tema dari balapan kali ini.
Tak seperti balapan pada umumnya, balapan malam ini merupakan balapan yang rutin dilakukan satu bulan sekali. Balapan yang bertujuan untuk mencegah keributan antar geng dan sebagai sarana untuk membangun relasi. Karena itu hadiah yang didapat pemenangnya tak main-main. Setiap geng yang mengikuti balapan harus mempertaruhkan sesuatu. Apa saja bisa di pertaruhkan, entah itu uang, motor dan mobil bahkan bantuan. bantuan, ataupun motor serta mobil. Lalu semua yang dipertaruhkan itu akan menjadi hadian kemenangan. Menggiurkan bukan?
Netra Alesya menyisir setiap sudut yang bisa dijangkaunya, mengamati setiap orang yang ada di sana. Namun apa yang ia cari tak kunjung ia temukan. Balapan ini merupakan salah satu dari peristiwa penting di dalam novel, dan harusnya dimana 'dia' muncul untuk pertama kalinya.
'Orang lagi benerin motor, Bara yang lagi berbicara dengan Langit dengan wajah serius, Anton yang fokus ke ponselnya dan orang yang lagi ci- Arghh kenapa disini juga ada sih!' Alesya menggeram secara internal. Ia merasa matanya ternodai melihat hal itu.
Suara teriakan girang dari para gadis tiba-tiba menggelegar saat sesosok laki-laki memasuki area balapan. Alesya mencibir para gadis itu yang terlalu heboh hanya karena seorang laki-laki. Mungkin karena ini novel.
Namun Alesya menelan ludahnya sendiri saat ia melihat siapa itu. Ia menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya. Tubuh yang tinggi semampai, rambut ikal sebahu serta kulit tannya yang tersorot lampu jalanan tampak seolah-olah berkilau. Itu dia yang ia cari! Abimanyu Raka, ketua dari geng Black Flame sekaligus saingan Langit Biantara.
Alesya terdiam cukup lama, matanya masih mengikuti sosok itu, Raka. Ia meletakkan tangannya di dada sebelah kiri, jantungnya berdegup kencang karena kegembiraan.
"Kenapa lo?" Tanya Alan yang bingung dengan Alesya yang hanya diam dari tadi.
"Gue pikir gue jatuh cinta geh, " Celetuk Alesya membuat terkejut semua anak-anak geng Shadow, terutama para anggota inti mereka.