Transmigration

Transmigration
Chapter 18



Bara yang tengah mengangkat barbel berhenti, kepalanya menoleh ke arah pintu pada asal siulan tadi. 


"Lo udah nyampe?" Tanya Bara heran, matanya menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat. Bertanya-tanya pukul berapa Alesya berangkat dari rumahnya jika pada jam segini dia sudah sampai di rumahnya -padahal dia sampai di rumah Alesya jam setengah tujuh setiap menjemput sekolah-


Alesya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Gak, masih di jalan. Kejebak lampu merah," Celetuknya sedikit kesal, apa Bara tak melihatnya sudah berdiri di sini? Pake ditanya segala lagi.


Menyandang kepalanya pada pinggiran pintu, netranya menelisik, mengamati ruang gym pribadi yang ia yakini milik Bara -tau dari papan nama yang digantung di pintu- mengabaikan decakkan kesal Bara. Ruangannya tidak terlalu besar, alat-alat olahraganya pun hampir lengkap. Ruangan ini mengingatkannya pada ruang musik miliknya. Perbedaannya hanya isinya.


"Lo bawa kan?"


Melirik sekilas Bara yang tengah meneguk minuman, Alesya mengeluarkan kertas yang dibagikan wali kelasnya kemarin dari tas kecil yang ia pakai. 


Surati izin orang tua untuk acara kemah. Alesya sedikit mengerutkan dahinya, sejak semalam ia terus memikirkan hal ini. 


Entah bagaimana Alesya lupa dengan salah satu adegan yang cukup penting ini. Tidak tahu mengapa semakin waktu berlalu, ingatannya tentang novel seperti memudar. Juga ingatan tentang Alesya asli sedikit demi sedikit muncul. Seperti sekarang, ia samar-samar melihat dua anak kecil yang tengah berlarian di taman kecil, yang menghadap langsung dengan pintu tempat ia berdiri sekarang. Salah satunya adalah Alesya asli, sebab ia pernah melihat fotonya ketika di rumah. 


"Kenapa lo suruh gue bawa ini?" Tanya Alesya heran, sebab setelah mengantarkannya pulang, Bara memintanya untuk datang ke rumahnya pagi-pagi dan juga membawa surat yang dibagikan oleh wali kelas. Entah untuk apa dirinya tak tahu. 


"Buat ditandatangani lah, emangnya buat apa lagi?"


Mengerutkan dahinya, Alesya menatap Bara dengan tatapan bingung. Dia tahu surat ini harus ditandatangani untuk meminta persetujuan, tapi kenapa harus di bawa kesini? 


Bara meletakkan botol minumnya lalu mengelap wajahnya yang berkeringat dengan handuk kecil. "Emangnya lo mau minta mereka buat tanda tangan?" Lanjutnya setelah melihat kebingungan di wajah Alesya. 


Alesya langsung paham apa yang Bara maksud. Memang benar jika ia sepertinya tidak mungkin minta orang tuanya untuk menandatanganinya. Sebab setiap dia bertemu keduanya hanya pertengkaran yang dapat ia lihat. Bahkan Alesya sampai bertanya-tanya apa yang menyebabkan kedua orang tua Alesya ini tidak bertengkar saat pertama mereka bertemu? Tapi itu bukan urusannya.


"Oh kamu udah dateng Alesya." 


Lamunan Alesya buyar saat sebuah suara berat mencapai telinganya. Menoleh, sebuah senyum tulus yang amat jarang Alesya tunjukkan tersungging di wajahnya saat mendapati seorang pria berdiri di belakangnya dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya, "Iya Om candra."


"Kamu udah sarapan belum?"


"Udah om tadi sarapan roti sobeknya si Bara," Canda Alesya yang di sambut gelak tawa Candra. 


"Kamu ada-ada saja." Candra menepuk pucuk rambut Alesya dan sedikit mengacak-acaknya.


Alesya bergeming ketika Candra tiba-tiba menepuk kepalanya. Walaupun ia sudah agak terbiasa dengan lingkungan sekitarnya, tapi tetap saja Alesya masih belum terbiasa dengan perlakuan hangat dari orang-orang sekitarnya, terutama orang-orang yang memiliki 'hubungan darah' dengannya. 


'Gak buruk juga.' diam-diam bibir Alesya melengkung menjadi senyum kecil saat tangannya kembali menyentuh kepala yang baru saja di tepuk Candra. 


"Bara kamu cepat mandi sana, papa sama Alesya tunggu di ruang tamu ya."


Bara mengangguk, memandangi kepergian kedua orang tersebut yang meninggalkan ruangan. Senyum kecil yang tersungging di bibirnya ketika melihat keakraban di anatar mereka.


...◖◇◗ ...


Pulpen bertinta hitam dengan lincah menari di atas kertas, menghasilkan sebuah tanda tangan tertera di sana. Candra menyodorkan pada Alesya surat yang sudah ia tanda tangan dengan senyum simpul di wajahnya, "Nah ini." 


Dengan segera Alesya memasukkannya ke dalam tas begitu menerimanya, kalo hilang kan repot. 


Bangun, Candra mengambil tas kerjanya yang tergeletak diatas meja kaca, "Om berangkat dulu ya, baik-baik di rumah jangan ribut." Pesan Candra yang langsung menusuk ke jantung Alesya. 


"I-iya Om tenang aja." Jawab Alesya sedikit kikuk. 


Candra menggelengkan kepalanya melihat perangai keponakannya itu. Tangannya kembali menepuk rambut Alesya sebentar dan melepaskannya, "Alesya." panggil Candra dengan nada yang amat lembu. 


"Jangan terlalu memaksakan diri kamu untuk mengembalikan ingatan kamu, santai saja ya?."


Alesya mengangguk kecil, "Iya."


"Juga, jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang tua kamu, itu bukan salah kamu. Jika kamu punya masalah atau butuh apapun bilang sama Om. Ingat kamu gak sendiri di sini. Kamu punya Om buat bergantung, juga Bara buat bersandar. "


...◖◇◗...


Untuk kesekian kalinya Alesya mendengus lelah. Lelah menunggu Bara yang mandi seperti sedang semedi. Sudah dua jam dia menunggu, DUA JAM! 'Kata siapa cuma cewe yang siap-siapnya lama, cowo juga kayak gitu!' omel Alesya dalam hati. 


Dia yang tadinya duduk tenang di sofa kini sudah rebahan saking bosannya. Cemilan yang disediakan ART pun sudah habis semua. Begitu pula air minumnya, padahal ia haus. Mau minta lagi ARTnya tidak ada entah kemana. Mau tidak mau Alesya harus mengambil sendiri. 


Dengan langkah gontai, Alesya berjalan ke arah dapur yang tak jauh dari ruang tamu tempat ia tadi. Ia membuka kulkas dan mengambil teh kemasan. 


Alesya tidak langsung kembali duduk, ia justru memilih untuk melihat-lihat foto yang terpajang rumah Bara. Matanya menelusuri setiap bingkai yang yang terpajang, menampilkan berbagai foto. 


"Tenang aja tuan putri, sekarang lo punya gue disini, buat lo bergantung dan bersandar ya tapi gak gratis sih fufufu."


"Omong kosong," Cibir Alesya dengan senyum kecut di bibirnya saat ingatannya melayang pada memori yang selalu ingin ia lupakan. Alesya kembali menelusuri foto-foto di dinding, mencoba mengalihkan perhatiannya. 


"Oh, ternyata Bara," Ujar Alesya terujar saat melihat dua anak kecil yang tengah berdiri berdampingan di dalam foto. Dua anak kecil yang juga muncul dari ingatan Alesya asli tadi. 


Kembali menyapu pandangannya pada foto yang terpajang, netranya berhenti pada satu foto. Di foto itu menampilkan seorang wanita dewasa berambut panjang dengan kedua anak kecil yang merupakan Bara dan Alesya. 


"Itu mama gue," Ujar Bara tiba-tiba, membuat Alesya menyemburkan minumannya sebab kaget, delikan tajam Alesya layangkan pada laki-laki menjulang di belakangnya. 


'Dasar, bapak sama anak suka banget datang tiba-tiba.' Alesya memegang dada kirinya, jantungnya yang berdegup kencang sampai terasa akan copot. 


Membersihkan tenggorokannya, Alesya berbicara, "Ehem, kalo gitu di mana mama lo? Kok gue dari tadi gak liat,"


Dahi Alesya berkerut saat tidak ada jawaban malah keheningan yang mengundara di antara mereka berdua. Penasaran, Alesya menoleh memandang bingung pada Bara yang hanya diam menatap sendu foto ibunya. 


"Mama gue meninggal sepuluh tahun lalu."


Pupil Alesya melebar, ia tertegun. Dirinya tidak tahu jika ibu Bara sudah meninggal. Hal Ini tidak ada di dalam novel. Tunggu mungkin bukan tidak ada tapi bisa jadi dia belum membacanya. Sebab ia baru membaca setengah dari novelnya, tepat saat kejadian Alesya meninggal. Baru saja ia hendak meminta maaf karena tak enak, namun Bara segera memotongnya. 


"Gak papa, mungkin lo gak inget," Bara dengan santai berucap. Alesya diam-diam menghembuskan nafas yang bahkan tidak tahu ia tahan. 


"Ngomong-ngomong soal gak inget, gue heran kok ingatan lo belum balik juga ya? Bukannya sementara?"


Seketika Alesya kembali tegang, mata mereka melakukan kontak saat Bara menoleh ke arahnya. Entah mengapa tiba-tiba atmosfernya menjadi menegangkan -bagi Alesya- Dengan segera Alesya memalingkan wajahnya, dengan susah payah ia meneguk ludahnya. 


"Ya mana gue tau, mungkin aja maksud dokternya itu sementara berarti bakal balik lagi tapi gak tau kapan. Makanya disebut amnesia sementara." 


Entah kesambet apa tiba-tiba otak Alesya menjadi encer. Mungkin sebab adrenalin. Ya tidak penting juga yang penting dia berhasil menjawabnya dan Bara tampaknya percaya dilihat dari ia yang kembali menatap foto mendiang ibunya. 


Alesya diam-diam melirik Bara, ia tak bisa tidak bertanya-tanya, pertama Candra yang secara tak langsung mengungkit soal ingatannya yang tak kunjung kembali, lalu sekarang Bara. 'Apa mereka mulai curiga ya?'


...◖◇◗  ...


Bara menatap mobil hitam yang terparkir di garasi rumahnya. Rasa dingin menjalar menyentuh kulitnya saat ia menyentuh bagian depan mobil. 


"Dia gak inget atau gak sadar ya?" Gumamnya saat otaknya kembali memutar kejadian tadi siang saat ia kan mengantar Alesya ke mall. Ekspresi yang dikenakan Alesya tidak ada perubahan, seolah gadis itu hanya melihat mobil biasa. Padahal mobil ini…