
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, semakin waktu berlalu, semakin ramai pula para anak muda yang berdatangan ke jalanan. Entah itu perempuan maupun laki-laki semuanya berkumpul di satu tempat. Mereka semua datang dengan tujuan yang sama, yaitu untuk menonton balapan yang akan dilaksanakan malam ini.
Yah, sepertinya tidak semua orang yang datang kesini untuk menonton balapan. Dan salah satunya orang itu ada di hadapannya. Gadis di depannya ini begitu sampai langsung ngacir ke tempat para pedagang kaki lima berjualan. Bara memijat dahinya yang terasa pening karena kelakuan Alesya yang semakin kesini semakin kesana.
"Anjir! Ada tukang sate, batagor, siomay, seblak bahkan bakso juga? Wah emang yah masyarakat Indonesia pinter nyari peluang.Langit Biantara"
Bara menatap datar Alesya yang tengah berdecak kagum. Ia bertanya-tanya apa sebenarnya isi kepala Alesya sampai ia berperilaku seperti ini.
"Kenapa lo mau ikut sih? Ngerepotin tau gak," Ketusnya. Bingung mengapa tiba-tiba Alesya memaksa ingin ikut, bahkan sampai mengancam akan melaporkan ke ayahnya jika tak di ajak.
Alesya melirik ke arahnya, dan kembali melihat ke jejeran gerobak di depannya. "Yaelah, gue pengen aja, pelit banget," Cibirnya.
Bara menghembuskan nafas lelah, ia memijat panggang hidungnya. "Terserah lo lah," Ujar Bara, berbalik meninggalkan Alesya dengan dunianya sendiri.
Namun baru dua langkah, Bara berhenti. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Alesya yang tengah menarik ujung jaketnya. Bara mengerutkan kening, "Apa lagi?"
"Pinjem uang," Alesya membuat gestur tangan meminta, "Gue mau jajan, tapi lupa bawa dompet," Sambungnya dengan cengiran di akhir.
"Heh!" Dengusnya, menatap tak percaya ke arah Alesya. Bara merogoh saku jaketnya, ia memberikan dompetnya pada Alesya dan melenggang pergi begitu saja, mengabaikan Alesya yang tercengang.
"Wah! Arigatou gozaimasu Bara-sensei!" Seru Alesya girang dan membungkuk 90 derajat.
Bara tersenyum tipis saat mendengar seruan Alesya. Tanpa berbalik pun ia tahu raut macam apa yang dipasang Alesya. Ia bisa membayangkan dengan jelas senyum lebar yang dipasangnya.
Setelah beberapa saat berjalan, Bara sampai pada tujuannya. Anak-anak geng Shadow melambai padanya dan dibalasnya dengan lambaian juga.
"Yo bro," Sapa Arya.
Mereka berdua melakukan adu kepalan tangan sebagai salam yang juga ia lakukan kepada yang lainnya.
"Baru segini? Yang lain kemana?" Tanya Bara yang tak melihat beberapa anggota.
"Langit belum dateng dan Rey-"
"Keliling," Saut Anton tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.
Arya melirik ke arah Anton kemudian mengangguk. Tak mempermasalahkan Anton yang memotong ucapannya. Toh tak masalah juga. Lagipula mereka tak bisa membuat kekacauan sekarang karena malam ini sangat penting.
"Belum datang?" Bara bergumam.Rahangnya mengeras. Bagaimana Langit belum datang di saat-saat penting seperti ini.
Arya yang mendengar gumaman Bara hanya bisa tersenyum kecut. Ia menepuk bahu laki-laki bertubuh kekar itu, berniat menenangkannya. Ia mengerti, tidak, semua anggota Shadow yang ada di sini mengerti betapa pentingnya balapan ini untuk Bara.
Bahkan Anton pun hari ini hanya diam. Termasuk dirinya. Jika ini hanya balapan biasa ia akan berkeliling mencari gadis-gadis sekolah lain. Namun ia sekarang harus tenang dan berkepala dingin untuk kelompoknya menggantikan Langit yang belum datang. Bahkan Rey pun.
Selang beberapa menit kemudian terlihat motor berwarna hitam mendekati mereka. Pandangan Bara menajam saat motor itu berhenti dan sang pemilik motor turun dan membuka helmnya. Menampilkan sang ketua dari Geng Shadow, Langit Biantara. "Lama."
Langit yang tengah memberi salam pada anggota lain menghentikan kegiatannya begitu mendengar ucapan Bara yang tertuju padanya. "Gue jemput Viana." Ujarnya, melanjutkan kegiatannya yang terhenti.
Bara tersenyum miring, ia memasukan kedua tangannya ke saku celana. "Heh, cewe lagi, " Cibirnya.
Lagi-lagi Langit menghentikan apa yang tengah ia lakukan. Ia melirik sekilas Bara yang tengah menatapnya dan duduk di kursi taman, tepat di sebelah Anton yang juga tengah duduk. Tempat mereka balapan memang tepat bersebelahan dengan area taman. Namun tempat ini baik pada siang maupun malam hari selalu sepi karena jauh dari pusat kota. "Bukannya lo juga?"
"Kalo gue wajar."
Mata Bara mengawasi setiap gerak-gerik Langit. Ia merenung tajam pada Langit yang mendengus geli, lalu mengeluarkan rokok dan membakar ujungnya. Kepulan asap terbentuk begitu ia menghembuskan nafas. Melihat tingkah Langit memicu amarah Bara. Tatapan tajamnya semakin menajam. Seolah siap menghabisi laki-laki yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.
"Tadi pagi gue denger lo di cariin Alesya, mau ngapain?"
Ekspresi Langit yang tadinya santai berubah menjadi serius saat pertanyaan itu diajukan. Mengundang tanda tanya di benak semua orang, termasuk Bara yang tengah di tatap oleh Langit yang menunggu jawaban.
"Memangnya apa hubungannya sama lo?" Desis Bara, menatap tajam Langit dan dibalas Langit dengan tatapan dingin.
"Oalah santai aja dong bro, ga usah sewot gitu. Langit kan cuma nanya." Arya merangkul pundak Bara. Mencoba meredakan amarah salah-satu dari mereka. Entah mengapa ia merasa sifat Anton dan Bara sedang tertukar malam ini.
"Sensian banget," Celetuk Anton, mengundang tatapan dari yang lainnya. "APA LIAT-LIAT!!" Sungut Anton, menatap tajam orang-orang yang menatapnya.
"DIAM!"
Oke Arya menarik kembali kata-katanya. Ia menghembuskan nafas gusar. Ia memelototi Anton karena menambahkan bensin di api yang tengah berkobar. Anton yang mendapat tatapan itu langsung menciut. Juga kedua orang yang tengah saling bertatapan itu juga berhenti dan memalingkan wajah.
Mereka semua yang menonton diam-diam menghembuskan nafas lega saat suasana tegang tadi akhirnya lumayan berkurang.
...◖◇◗...
Berbeda dengan suasana tegang di geng Shadow, Alesya kini tengah menikmati bakso dengan santai seraya mendengar curhatan mas tukang bakso.
"....yah mau gimana lagi, kalo gak kayak gini anak sama istri saya mau makan apa? Bukannya kami gak mau menuruti, mengikuti peraturan dari pemerintah. Tapi keadaan yang memaksa kami semua. Sebenarnya juga kami gak mau kayak gini." Ucap tukang bakso.
Alesya yang sejak tadi mendengarkan mengangguk mengerti. Ia sekarang sedikit mengerti mengapa orang itu selalu berusaha walaupun sudah dijatuhkan berkali-kali.
Kadang kebutuhan untuk bertahan hidup membuat kita mengabaikan segalanya. Entah itu hukum bahkan diri sendiri. Bertahan dengan hanya berpegangan pada harapan bahwa kedepannya akan lebih baik. Harapan bahwa setelah semua kesulitan ini, pasti akan terbayar di kemudian hari.
Alesya menusukkan garpu pada bakso berukuran kecil lalu mengunyahnya. Tak tahu mengapa rasa baksonya tiba-tiba terasa hambar di mulutnya. Apa mungkin karena perasaannya yang campur aduk?
"Pendek? Lo…kok ada disini?"
Tangan Alesya yang tengah menusuk bakso terhenti. Ia memejamkan matanya. Dirinya bertanya-tanya apakah ia dikutuk sampai harus terus bertemu dengan laki-laki menyebalkan ini? Dan apa-apaan dengan ucapannya yang seolah-olah seharusnya Alesya tak ada di sini. Apa ia tak boleh berada di sini?
Menghembuskan nafas kasar, Alesya memilih untuk mengabaikannya saja. Ia hanya ingin menikmati malam minggu ini dengan makanan tersayangnya. Alesya kembali menyantap baksonya, mengabaikan sepenuhnya keberadaan Alan.
Namun bagaimana dia mengabaikannya jika orang yang bersangkutan berdiri di sampingnya dan terus menatapnya. Demi apapun, Alesya sangat merasa risih.
"Gue tau gue cantik, sangat malah. Tapi bisa kan gak usah natap ke gitu?"
Bukannya menjawab, Alan justru berbalik dan malah memesan bakso. Alesya sempat bernafas lega karena sang pengganggu pergi namun itu hanya sesaat. Karena Alan kembali lagi dan yang membuatnya tak habis pikir mengapa dia malah duduk di sampingnya. Padahal masih banyak kursi kosong. Sebenarnya apa sih yang ada di pikirannya.
"Kenapa lo ada disini?"
Kening Alesya merenggut. Ia secara spontan menoleh ke samping saat pertanyaan yang sama kembali terlontar. Netranya melakukan kontak dengan netra Alan yang juga tengah menatapnya.
Jika di novel-novel fiksi remaja, peristiwa ini akan membawa ke hal-hal romantis. Alesya akan merasa bahagia jika itu terjadi, namun jika itu dengan laki-laki lain dan buka laki-laki di hadapannya ini. "Kenapa? Gak boleh hah! Emangnya ini tanah bapak lo, sampe lo ngelar-"
"Nyata."
Terkejut, heran, bingung, syok semuanya menyatu bagai es campur ketika tiba-tiba Alan menyentuh dahi Alesya dengan jari telunjuknya. Alesya yang masih linglung menatap bergantian antara tangan dan sang pemiliknya. Refleks Alesya menepis tangan itu. Sebagai respon alami perlindungan diri, Alesya dengan cepat berdiri dan menjauh dari Alan.
"Nyata-nyata apaan hah? ! Lo kira gue hantu apa! Dasar mesum. Modus!" Gerutu Alesya.
Ia tak terima. Dua kali, dua kali dia dilecehkan olehnya! -padahal mah enggak juga sih-. Alesya memeluk tubuhnya saat Alan menatapnya lalu kembali pada bakso yang di pesannya tadi. Memakannya seolah tak terjadi apapun. 'Sinting.'
"Cangcimen!, cangcimen! , cangci- Loh Alesya?"
Alesya yang merasa namanya dipanggil menoleh dan seketika tercengang dengan apa yang dilihatnya. Ia menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan tak percaya.
"Rey?"
Rey Alexander, anggota Eksekutif pertama dari Shadow yang merupakan salah satu geng besar yang amat disegani kini tengah berada di hadapannya. Sangat kontras dengan pakaian, sepatu serta jaket bermerek yang dikenakannya. Rey kini tengah menggendong sebuah kotak yang berisi berbagai jenis makanan ringan yang diletakkan di depan dadanya, khas pedagang asongan.
"Mau beli?"