
-Ok, I tunggu ya, makasih Al (≡^∇^≡)
Alesya menggelengkan kepalanya melihat pesan yang dikirim Maya. "Apaan sih, heboh banget." Gumamnya.
Dirinya merasa Maya terlalu berlebihan. Padahal hanya minta di ambilkan buku di perpustakaan, namun Maya sangat heboh memintanya untuk mengambilkan.'Padahal kan dia bisa ambil sendiri,' Pikir Alesya.
Dengan santai, Alesya berjalan di Koridor yang tak terlalu ramai karena masih lumayan pagi, jadi sebagian siswa masih belum datang. Berterima kasihlah pada Bara Keandra yang menjemputnya jam enam pagi. Ia bertanya-tanya apa alasan Bara berangkat sekolah begitu pagi. Namun itu bisa dipikirkan belakangan.
Mata Alesya terlalu fokus pada layar ponselnya, membuatnya tak memperhatikan sekitar. Hingga dirinya menabrak seseorang dan terjatuh. Alesya meringis, merasakan sakit di pantatnya karena menghantam lantai.
"Ups, lo gak papa?"
Alesya meraih tangan yang terulur di depannya dan berdiri, "Gak papa," Jawabnya, menepuk-nepuk roknya yang sedikit kotor.
"Ini."
Menghentikan kegiatannya, Alesya mendongak. Akhirnya memusatkan perhatiannya pada orang yang menabraknya atau dia yang menabrak? Atensinya terlalu fokus pada orang berkacamata di depannya, mengabaikan barang yang di sodorkan padanya.
"Kak Darren."
"Iya?" Saut laki-laki berkacamata itu, sedikit heran karena Alesya memanggil namanya tiba-tiba.
Alesya hendak membuka suaranya, namun di sela oleh tindakan tiba-tiba Darren yang meraih lengan kanannya, meletakan ponsel di telapak tangannya. "Hah?"
Darren tersenyum, "Ponsel lo. Tenang aja gak jatuh kok," Jelasnya, melihat kebingungan di wajah Alesya.
"Oh makasih. " Alesya dengan segera memasukan ponselnya ke saku rok.
"Apa setiap kita ketemu harus tabrakan ya?"
Candaan Darren yang disambut tawa canggung Alseya. Mengingat pertemuan mereka berdua yang selalu diawali dengan mereka yang selalu bertabrakan.
Darren memasukan kedua tangannya ke saku celahnya, "Oh iya, ngomong-ngomong lo mau kemana?" Tanyanya memecah keheningan yang terbentuk sesaat.
"Mau ke perpus kak."
Darren bersenandung pelan, mengangguk-anggukan kepalanya. Matanya memandang ke arah lain. "Tau perpusnya dimana?" Tanya Darren sedikit menggoda.
"E-enggak," Alesya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Irisnya menatap bergantian antara lantai dan Darren berusaha menyembunyikan rasa malunya. Kenapa ia dengan bodohnya menyetujui permintaan Maya? Padahal dirinya tak tahu letak perpustakaan.
Kebingungan tak bisa di sembunyikan dari wajah Alesya saat dirinya mendengar Darren terkekeh. Alesya mendongak, mendapati Darren yang memalingkan wajahnya. Sementara satu tangannya menutupi mulutnya, sangat jelas menahan tawa. Sebab Alesya masih dapat melihat senyum di wajah tampan pria berkacamata itu.
Mengusap tenggorokannya, Darren berdehem saat menyadari dirinya di tatap Alesya,"Yaudah ayo. "
Kepala Alesya miring karena bingung, sedangkan Darren sudah melangkahkan kakinya," Eh, kemana?"
"Ke perpus."
Alesya langsung mengerti maksud Darren, seketika berseru, "Gak usah kak!"
Sudah cukup Darren membantunya mencari kelasnya saat ia pertama kali masuk. Jika ditambah lagi, ia merasa tak enak karena terus mendapatkan bantuan dari Darren.
Mendengar penolakan Alesya, Darren berhenti. Ia berbalik, "Gak papa, gue juga mau ke perpus.." Ujar Darren, melanjutkan langkahnya.
Alesya menghela nafas lega, mulai mengikuti langkah Darren dan berjalan beriringan. Tak menyadari beberapa siswa yang melihat mereka dengan ekspresi wajah yang amat terkejut.
...◖◇◗...
Tak ada yang berbicara selama perjalanan, keduanya sibuk dengan diri sendiri. Darren melirik Alesya yang celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Perjalanan mereka memang agak jauh karena perpustakaan berada di gedung utama, sedangkan mereka bertemu di gedung tiga.
"Lo mau ngapain ke perpus?" Darren membuka suara, memulai percakapan.
"Ambil buku," Jawab Alesya apa adanya, "kalo kak Darren mau ngapain?"
Darren tak langsung menjawab, dirinya justru malah memperhatikan langkah Alesya yang menuruni tangga. Lalu mengalihkannya ke jendela yang mereka lewati.
Alesya berhenti, memutar kepalanya, menatap Darren penuh tanya sebab tak mendapat jawaban. Alesya menemukan Darren tak memperhatikannya malahan menatap jendela. Alisnya terangkat sebelah. Karena penasaran, Alesya ikut menatap jendela.
Gedung utama, yang langsung berhadapan dengan lapangan sepak bola serta lintasan lari adalah pemandangan yang terbentang di balik jendela itu.
"Mau ambil laporan dari penjaga perpus."
Alesya memutar kepalanya saat mendengar Darren berbicara setelah beberapa saat hening. Mata mereka bertemu, namun itu hanya sesaat karena Alesya segera memalingkan wajahnya dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Jadi ketua OSIS ternyata ribet juga ya." Alesya berujar, mengaitkan kedua tangannya di punggung begitu anak tangga terakhir.
"Ya bisa dibilang begitu. Tapi seru juga kok," Darren membenarkan posisi kacamatanya, "Karena kita punya wewenang buat ngatur siswa lain. Jadi kalo ada yang macem-macem ya mereka harus bersiap dengan konsekuensinya." Lanjut Darren dengan senyum terbentuk di wajahnya laki-laki berkacamata tersebut.
Alesya mengangguk paham, 'Bener juga sih,'
Sekarang Alesya tahu alasan mengapa Maya meminta bantuannya mengambil buku daripada mengambilnya sendiri. 'Dasar kampret lo Maya, kalo tau jauh gini gue tolak,' Rutuk Alesya dalam hati.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berdua sampai di perpustakaan. Darren langsung masuk dan mendaftarkan namanya dan Alesya di buku kunjungan. Namun Alesya hanya diam di pintu masuk.
Alesya membeku. Aroma buku yang familiar, pemandangan yang familiar, suasana yang familiar dan…dan…. Ia menggigit bibirnya dengan kuat saat rasa mual menghantam perutnya.
"Alesya kenapa gak masuk?"
"Hah?!"Alesya tersadar dari lamunannya, balas menatap Darren.
Darren mengangkat sebelah alisnya, "Lo gak mau ambil buku?"
"Oh iya, kak,"
Mengangguk Darren pergi menuju tempat pengawas perpustakaan yang berada tepat di sebelah pintu meninggalkan Alesya.
Menarik nafas dalam, Alesya berbisik pada dirinya sendiri begitu melangkahkan kakinya ke dalam perpustakaan.
'Gapapa, ini perpustakaan, ini perpustakaan….bukan toko buku dan….bukan perpustakaan yang sama tempat dia sembunyi.'
Alesya menatap buku-buku yang tersusun rapi di hadapannya. Matanya dengan teliti melihat nama-nama yang mencantumkan nama-nama buku.
"Fisika....fisika….nah ketemu!" Dengan gembira Alesya mengambil buku yang ia cari. Senyum Alesya merekah, ia mengacungkan buku itu ke udara. Butuh perjuangan hanya untuk mendapatkan buku ini.
Namun senyum Alesya segera hilang,digantikan dengan cemberut saat tiba-tiba beberapa buku jatuh mengenai kepalanya. Kedua alis mengerut, tangannya mencengkeram dengan kuat buku di tangannya sampai buku itu sedikit berkerut.
Alesya berbalik, penasaran siapa yang sudah mengganggu kebahagiaannya serta menuntut permintaan maaf. Namun amarah Alesya justru bertambah berkali-kali lipat saat mendengar suara sang pelaku.
"Oh ternyata lo, pendek. Gue kira siapa." Laki-laki itu membungkuk, mengambil buku yang berjatuhan. "Sorry ya, " Ucapnya dengan tak niat, mengangkat tangan kirinya, menyeringai.
"L-lo!!" Ucap Alesya dengan penuh penekanan, menahan amarahnya.
Alesya tak menggubris permintaan maafnya yang tak ikhlas itu. Dirinya masih menatap tajam penuh dendam pada laki-laki di depannya yang tengah menyusun buku. Dendam karena gara-gara dia, dirinya gagal mendapatkan snacknya. Alhasil niatnya untuk menamatkan film yang ia tonton selama waktu-waktu terakhir masa skorsingnya pupus karena moodnya hancur.
Ujung bibir Alesya berkedut, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ap-apa? Sorry?"
"Ya, sorry. Lo budeg?"
"Hah!"Alesya mendengus kesal. Mengetuk-ketukan sepatunya ke lantai. " Sorry katanya?" Gumam Alesya.
Dirinya bukannya tak tau arti kata 'SORRY', walaupun dia tak mengerti bahasa inggris. Namun bukan itu masalahnya. Yang jadi masalahnya adalah orang yang mengucapkannya. Jika seseorang meminta maaf mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh. Lah ini apaan? Minta maaf kayak minta permen.
"Minta maaf yang bener, sialan!"
"Kan udah"
PLAK!
"Kok lo mukul gue?" Serunya tak Terima saat tiba-tiba Alesya memukulnya.
"Gue bilang kan minta maaf yang bener," Belanya, Alesya tersenyum miring, "Kenapa? Gak suka?"
Laki-laki itu menutup mulutnya tak percaya, "Wah nantangin ya lo, " Ujarnya menunjuk Alesya.
"Apa!" Seru Alesya saat laki-laki itu menatapnya. Namun bukannya menjawab, laki-laki tersebut malah berbalik. Alesya bingung, namun kebingungannya hanya tertahan sebentar karena laki-laki tersebut tiba-tiba berbalik dan menerjang ke arahnya.
Refleks, Alesya menghindar. Namun naas, laki-laki itu terjatuh.
"Hahaha rasain lo, mak-"
Ucapan Alesya terhenti. Dirinya menatap tajam lengan di roknya, lebih tepatnya lengan laki-laki tadi yang mencekam pahanya! Laki-laki itu menggunakan kaki Alesya sebagai pegangan untuknya berdiri.
"Sial, sakit banget," Ringis laki-laki itu, ia memutar kepalanya, hendak mengomel. Namun terhenti saat melihat Alesya yang menunduk. Penasaran laki-laki itu ikut melihat kebawah, dimana Alesya menatap.
Dengan susah payah laki-laki itu menelan ludahnya. "Pantesan empuk," Gumamnya saat menyadari apa yang ia pegang. Namun sial baginya karena Alesya mendengar kata-katanya, ia mengangkat kepalanya. Laki-laki itu langsung kabur saat bertatapan dengan mata marah Alesya.
"DASAR MESUM SIALAN!!" Teriak Alesya sekuat tenaga. Tak perduli jika ia kan dimarahi oleh penjaga perpustakaan karena membuat kegaduhan.