Transmigration

Transmigration
Chapter 3



Beberapa jam sebelum kejadian di kantin.


Alesya memandang pintu berwarna putih yang tertutup di hadapannya, kemudian penanda yang tergantung di sudut atas pintu.


<11-4>


Akhirnya, setelah berkeliling cukup lama, Alesya akhirnya menemukan kelasnya. Untung saja dia bertemu dengan orang baik yang mau menolongnya menemukan kelasnya. Kalau tidak, dirinya pasti akan telat masuk kelas.


Begitu Alesya membuka pintu, netranya menyapu pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Seluruh tatapan orang-orang di kelas tertuju padanya dengan berbagai pandangan.


Menghela nafas berat, Alesya melangkahkan tungkainya dengan malas menuju kursi paling belakang. Mengabaikan tatapan yang tertuju padanya.


Iris Alesya menangkap sosok gadis yang duduk dua meja di depannya yang menatapnya dengan tatapan kaget. Seolah-olah melihat akhir dunia. Alesya memiringkan kepalanya bingung. Gadis itu dengan ragu-ragu hendak mengatakan sesuatu, namun terhenti saat suara dari sosok guru yang memasuki kelas terdengar.


"Ayo semuanya duduk, kita mulai kelasnya!" Seru guru perempuan tersebut dengan lantang di hadapan kelas.


"Maya Angelina, lihat ke depan. Apa tembok lebih menarik dari ibu, hmm?" Alesya dapat menangkap keengganan dari gerak gerik tubuh Maya yang berbalik menghadap ke depan.


Kelas berjalan dengan lancar, tak ada hambatan apapun, Alesya pun mengikuti kelas dengan tenang. Pelajarannya pun sama persis seperti di dunianya, dirinya tak memiliki masalah apapun. Ya kecuali tatapan dari para siswa yang sering diam-diam meliriknya.


Terutama gadis bernama Maya Angelina yang kini berada di hadapannya yang mengaku sebagai sahabatnya. Alesya merasa tak pernah ingat ada karakter yang bernama Maya Angelina. Apalagi gadis itu menatapnya seolah mengenal Alesya lebih dari orang tuanya sendiri. Jika dipikir-pikir, sejauh yang dia baca di novel The Way I Fell For You, Alesya tak pernah terlihat dekat dengan orang lain bahkan memiliki teman.


"....so….what Bara said is true, " Suara gadis dengan kuncir ponytail itu melemah, hampir terdengar akan menangis.


Maya menggeleng kepalanya kencang. "No no you can't like this Maya! You harus mendukung temen you! Gak papa Al, I'll bantu you buat remember lagi."


"Hah?"


Alesya yang hendak menenangkan Maya cengo sendiri mendengar perkataan Maya yang bercampur dengan bahasa Inggris.'Sialan lo Alesya! Diantara banyaknya orang, kenapa lo harus berteman sama orang yang ngomong bahasa alien!' Rutuknya.


"Perkenalkan nama I Maya Angelina, your friend and your seatmate, " Ujar Maya, mengulurkan tangannya.


Alesya tersadar dari linglungnya, menerima uluran tangan itu dengan canggung, walaupun dirinya tak tahu apa yang dikatakan Maya. "Huh, yes yes."


Senyuman tak dapat disembunyikan Maya saat Alesya menerima uluran tangannya. Maya mengangguk, "Then let's go to the cafeteria, I'm starveling."


Tanpa menunggu persetujuan dari orang yang diajak, Maya dengan begitu saja menarik lengan Alesya yang tak diberi kesempatan untuk menolak.


...◖◇◗...


Mata Alesya menyapu sekeliling Kantin. Kata luas sepertinya terlalu meremehkan ruangan kantin ini. Dirinya berdecak kagum,bahkan kantin di sekolahnya dulu, yang sudah termasuk sekolah elit pun tak sebesar ini. Mungkin karena ini novel, jadi kantinnya luas karena menjadi salah satu tempat utama. Sebab kantin merupakan tempat sakral dimana banyak peristiwa penting terjadi di dalam novel-novel fiksi remaja, terutama yang berlatar sekolah.


Tapi itu tak akan terjadi -hari ini-, sebab tak akan ada peristiwa besar yang akan terjadi. Alesya sudah menghitung waktu kejadian-kejadian penting di novel. Jadi Alesya bisa dengan tenang menikmati waktu sekolah yang damai.


"Al,kenapa gak dimakan? You gak suka sama makannya?"


Alesya menggeleng," Gak, makannya enak, kok." Alesya mengambil sesendok nasi beserta lauk dan memakannya dengan senyum yang melekat di wajahnya.


"Okay" Maya melanjutkan acara makannya yang tertunda, mengabaikan Alesya yang menurutnya aneh.


Kantin yang tadinya sudah ramai dengan suara para siswa, kini bertambah dua kali lipat. Tapi tak membuat Alesya terusik. Toh bukan urusannya.


"Oh Langit,"


Gumaman Maya berhasil membuat


Alesya mendongak, mengikuti pandangan para siswa perempuan yang merupakan penyebab utama kegaduhan karena teriakan mereka.


Mata Alesya menangkap sekelompok siswa laki-laki yang duduk di meja di belakangnya. Lima siswa laki-laki dengan Bara di antara mereka.


◖Geng Shadow, kelompok yang berisi anak-anak yang sering balapan, baik motor maupun mobil. Shadow memiliki banyak anggota baik di luar maupun di dalam sekolah, namun ada enam anggota utama.


Pertama, Langit Biantara. Pencetus sekaligus ketua geng Shadow yang di sebut sebagai Leader. Sangat populer karena ketampanan dan juga sifatnya yang dingin


Kedua, Rey Alexander, laki-laki yang selalu tersenyum seperti orang bodoh dan gila. Eksekutif pertama, sekaligus orang kepercayaan Langit.


Ketiga, Antonio Hendrawan,eksekutif kedua. Laki-laki yang memiliki kesabaran setipis tisu, selalu melakukan apapun sesuai suasana hatinya.


Keempat, Bara Keandra, mendapat julukan sebagai boyfriend material karena sifatnya yang kalem dan juga gentleman. Eksekutif ketiga.


Kelima, Arya Kamandanu, sang playboy shadow, itulah julukan yang disematkan padanya. Bukan hanya seorang playboy dia juga seorang narsis. Eksekutif keempat dan satu-satunya anggota inti yang berbeda sekolah.


Menghela nafas, aku menutup buku. Hanya itu informasi yang dapat ku kumpulkan dari para siswa◗  


Netranya masih menatap ke sekelompok siswa saat Alesya mengingat penggalan novel. Alesya harus menggunakan kesempatan ini untuk menjalankan rencananya, berteman dengan para tokoh utama. Karena menurut pengalamannya membaca novel-novel tentang transmigrasi, semakin menghindar dari para pemeran utama, maka dirinya akan semakin terjerat. Jadi Alesya memutuskan untuk berteman dengan mereka.


Namun masalahnya, bagaimana? Tidak mungkin kan dia datang ke meja mereka terus 'ayo kita berteman, berteman itu menyenangkan lo!'. Tidak mungkin kan? -padahal mah mungkin saja-


Seolah harapannya terkabul, Langit tersedak, "Kesempatan!" Dengan gesit Alesya mengambil botol minum dan menyodorkannya ke Langit. Untung dirinya membeli air tadi di stand makanan.


Maya melihat hal itu tercengang dengan mata terbelalak. Bukan hanya dirinya namun hampir semua orang, karena yang hendak menawarkan air bukan hanya Alesya namun juga para siswa perempuan lainnya - dan Rey yang kebetulan duduk di pinggir Langit-


"Loss memory doesn't make love disappear," Maya berdecak kagum dengan berapa kuatnya cinta Alesya untuk Langit.


Langit melirik minuman yang di sodorkan Alesya, namun dirinya justru menegak minuman milik Bara yang duduk di depannya. Langit mendengus jijik,"Dasar caper."


Alesya yang tahu bahwa perkataan itu tertuju padanya tak bisa tidak bertanya-tanya, Apa caper? "Enggak gue cuma pengen ngasih minuman do-"


"Gue pikir dengan kecelakaan itu lo bisa ngerti dan paling sedikit sadar tapi nyatanya…" Langit menatap Alesya yang diam dengan wajah jijik, seolah menatap hal paling dibencinya. "cewe ganjen tetep ganjen ."


Tangan Alesya terkepal erat, buku-buku jarinya memutih menahan amarah karena perkataan dari laki-laki di hadapannya. Dan Amarah Alesya semakin membuncah saat satu kata terucap, satu kata yang membuat urat kesabarannya terputus.


"Pelacur."


PRANG!!


Suara gelas pecah membuat seluruh perhatian kantin tertuju pada satu titik. Semua mata terbuka lebar dan mulut mereka menganga selebar danau Toba, menatap mengeri pada Alesya yang tengah mengangkat kursi di atas kepalanya. Siap menggeplak Langit yang tengah tersungkur di depannya.


Alesya menatap Langit dengan nyalang. Dirinya sudah siap lillahi ta'ala untuk membu- memberi pelajaran pada sang tokoh utama laki-laki novel yang ia masuki, Langit Biantara.


Kesabaran Alesya sudah habis. Mendapat ujaran kebencian secara langsung, dirinya tak habis pikir. Dia tahu jika Alesya asli itu menyebalkan-dan sedikit keterlaluan- tapi dia tak pernah melakukan hal-hal yang membuatnya harus di sebut sebagai pelacur.


Ini baru hari pertama, namun Alesya sudah naik pitam dengan kelakuan orang-orang di sekitarnya. Apalagi makhluk yang sedang terduduk di lantai seraya menatapnya kaget dan takut.


Lupakan tentang rencana berteman dengan tokoh utama laki-laki, yang ada Alesya hanya ingin membunuhnya.


Dan yang paling membuatnya paling kesal adalah bahwa sang protagonis favoritnya jatuh cinta dengan makhluk seperti ini.


'Gimana bisa lo jatuh cinta sama orang modelan kek gini hah?!! badak aja lebih baik anjir, ' Batinnya, mengutuk ke begoan sang protagonis. Dia tahu cinta itu buta dan tuli, tapi gak ngebuat orang tolol juga kan?.


Pegangannya pada kursi mengerat,Alesya menggertakan giginya saat mengingat hal itu.


".....Dengerin ini ya bangsat." Alesya memecah keheningan. "Sekali lagi lo ngebacot di depan muka gue, gue pastiin barang berharga lo gue putus, GUE BABAT!!!"


Perkataan Alesya membuat semua orang tercengang dan para siswa laki-laki seketika menutupi celana mereka takut.