Transmigration

Transmigration
Chapter 12



◖Saat membuka pintu minimarket, mataku menangkap sosok tubuh tak jauh dari tempatku berdiri. Memicingkan mata, aku menyadari jika sosok itu ternyata terjauh dari motor. Dengan sigap aku menghampirinya. 


"Hey, lo gak papa?" Tanyaku khawatir. 


Sosok itu membuka helm yang dikenakannya. Sekarang aku bisa melihat wajahnya, wajah dari laki-laki ini. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, mungkin karena rasa pusing. Aku bisa menebak bahwa ia baru saja sadar dari pingsan. Laki-laki itu mencoba untuk bangun, tapi terjatuh. Refleks tanganku menahannya.


Netraku menatap pada kalinya. Ternyata lututnya terluka, cukup parah dilihat dari banyaknya darah yang keluar. Sepertinya ia terjatuh dari motor dengan benturan yang cukup keras karena dilihat dari celananya sobek lumayan parah. Dan juga motor yang lumayan jauh dari tempat aku menemukannya. 


"Mau gue bantu?" Tawar ku, karena tidak mungkin aku meninggalkan orang yang terluka, ditambah sekarang sudah malam. 


Laki-laki itu tak membalas. Aku mendengus lelah, dengan inisiatif aku menyeretnya ke kursi di depan minimarket. "Tunggu di sini."


Aku kembali masuk ke minimarket dan membeli beberapa peralatan pertolongan pertama.


Aku berlutut dan mulai membersihkan lukanya dengan kapas yang sudah dilumuri alkohol. Dengan telaten aku membalut luka," Udah selesai," Ujarku.


Aku mendongak dan mendapati laki-laki itu tengah menatapku dan kami melakukan kontak mata◗  


"Kyaa! Berkibarlah kapalku!" Ujar Alesya girang saat melihat Viana dan Raka yang saling melakukan kontak mata. Ia mengibarkan bendera merah putih yang kebetulan ia temukan di semak-semak tadi. 


Ia terus menatap dari balik semak-semak interaksi antara keduanya. Alesya merasa akan mati karena terlalu bahagia. Alesya menggelengkan kepalanya, 'Gak,gue gak boleh mati! Masih banyak adegan yang ingin gue lihat!' 


Dan lagi pula….ia belum siap jika harus bertemu 'dia'. Tatapan Alesya menyendu saat mengingat orang itu. Bertanya-tanya bagaimana jika dia juga ada disini bersamanya. Alesya sudah bisa membayangkan ekspresi kesal dan cibiran yang dilontarkan olehnya. 


"Sialan, kapan mereka berhenti tatap-tatapan sih!"


Alesya menoleh, matanya membelalak kaget saat melihat Alan di sampingnya. "Kenapa lo bisa ada di sini?"


"Ngejar lo."


Mata Alesya menatap Alan dengan curiga. Walaupun Alan mengatakan hal itu namun Alan tidak menatapnya saat berbicara. Justru Alan malah melihat ke arah minimarket, 'Bentar.' Alesya menatap Alan dan kedua orang yang tengah duduk di depan minimarket itu bergantian. 


"Lo….suka sama Viana ya!"


Kepala Alan menoleh dengan cepat," Enggak," Sanggahnya dengan tegas. 


"Bohong!" Takis Alesya. Jika Lan beneran tidak menyukai Viana, lalu kenapa ia terus menatanya. Alesya mengangguk secara mental dengan hipotesisnya. Namun apa yang Akan katakan berikutnya membuat Alesya kaget serta heran. 


"Beneran! Ya kali gue suka sama adik gue sendiri."


"Hah, adik?" Alesya semakin menatap curiga Alan. Seingatnya Viana adalah anak tunggal. Tidak mungkin kan tiba-tiba dia punya kakak? "Lo bohong."


Alan mendecakkan lidahnya, lalu berdiri.


"Eh, lo mau kemana?" 


"Misahin mereka," Sahut Alan dengan dingin, merenung tajam ke arah dia orang yang tengah duduk itu. 


"Jangan." 


Alesya dengan segera menarik jaket Alan, mencegahnya melakukan hal itu. Ia tak bisa mengacaukan pertemuan pertama Viana dan Raka. Ia tak bisa membiarkan lebih banyak riak air yang tercipta karena ia yang bertransmigrasi. Alesya tak bisa membiarkan alur novel semakin berantakan dan berbeda dengan alur novel asli. -Sebenarnya alasan utamanya Alesya masih ingin melihat interaksi kedua orang itu-. 


"Lepasin." Tak mau kalah Alan menarik jaketnya lebih kencang. Dan akhirnya terjadilah adegan tarik menarik di semak-semak yang berakhir dengan mereka berdua yang terjatuh. 


Viana mengerutkan keningnya saat mendengar suara samar-samar. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. 'Gak ada apa-apa,' Viana mengedikkan bahunya 'mungkin cuma salah denger.' 


"Jadi kenapa lo bisa kayak gini?" Tanya Viana pada laki-laki di sampingnya. 


"Jatoh," Ujar laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Raka itu. 


Mengerjapkan matanya beberapa kali, Viana tak bisa tidak terheran-heran mendengar jawaban singkat dari Raka. 'Ya gue tau lo jatoh, tapi kenapa apa siapa bagaimana mengapa kapan?!' Viana secara mental bersungut-sungut kesal. Namun di luar ia hanya menampilkan senyum manisnya. 


"Disana." Raka menunjuk ke arah semak-semak yang lumayan tinggi di pinggir jalan, tepat menghadap ke arah mereka. 


Berdiri, Viana melangkah ke arah sumber suara itu dan diikuti Raka. Semakin dekat mereka, semakin jelas suara-suara itu. 


"Emm kalian….lagi ngapain? " Tanya Viana canggung saat melihat ternyata asal dari semua suara itu adalah Alesya dan juga Alan yang ia ketahui sebagai anak baru satu minggu yang lalu dan juga merupakan seniornya itu dengan berada dalam posisi yang lumayan mengundang tanda tanya. 


Alesya dengan panik segera mendorong Alan yang berada di atasnya, "I-ini gak seperti yang lo bayangin!" Seru Alesya dengan gugup. Ia menatap bergantian antara Viana dan Raka. 


Viana tak berkata apa-apa, ia hanya mengangguk lalu tersenyum ke arah keduanya. "Gue paham."


Perasaan Alesya campur aduk saat melihat senyum Viana. Dari luar senyum itu terlihat menyakinkan, namun entah mengapa perasaannya justru mengatakan sebaliknya. Lalu Raka yang terus menatapnya lekat. 


'Ugh malu banget sampe mau mati!' Alesya dalam benaknya menangis, meratapi nasibnya. Ia yakin sekarang pasti mereka berdua menganggapnya perempuan tidak benar -udah dari awalnya emang kayak gitu- karena dilihat menangis. 


Alesya menendang kaki Alan, memberinya kode untuk menjelaskan, namun Alan malah mengacuhkannya. Justru malah menatap tajam Raka.  Rasanya Alesya ingin mencekiknya sampai  mati lalu memutilasinya.


Kesal Alesya dengan sekuat tenaga menendang kaki Alan membuat sang korban tersungkur dan menyerang kesakitan. 'Rasain!'


Viana dengan kikuk tersenyum menyaksikan interaksi keduanya. 'Mereka akrab ya?'


...◖◇◗...


Ramalan cuaca mengatakan jika sepanjang hari ini akan cerah, hal itu membuat Alesya senang karena janjinya dengan Maya untuk pergi ke mall akan terlaksana. 


Alesya menyisir rambutnya yang panjang dan mengepangnya. Ia Menatap pantulannya di cermin dari atas ke bawah, "Sempurna." Gumamnya. Entah sejak kapan ia sudah mulai terbiasa dengan tubuh barunya, ya walaupun masih agak canggung saat melihat cermin dan bukan wajahnya yang terlihat. 


Meletakkan tangannya di dada, Alesya dapat merasakan jantungnya yang berdebar kencang. Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan dirinya. Tidak tahu mengapa setiap menyangkut Maya jantungnya selalu berdebar dan tangannya berkeringat dingin. Alesya tak tahu mengapa, namun ia bisa menebaknya. Kemungkinan besar karena Maya yang berstatus temannya dan kata teman itu mengingatkannya tentang orang itu. "Gak papa Al, ini cuma Maya, bukan dia."


Alesya tersentak kaget saat telinganya mendengar suara benda pecah dari lantai bawah. Tangannya yang memegang knop pintu mendingin. "Mereka ada  di rumah ya?" Bisiknya. 


Dan benar saja, saat ia menuruni tangga, netranya menangkap sepasang suami istri yang tengah bertengkar. Pertengkarannya lumayan hebat dilihat dari. Banyaknya benda pecah di sekitar mereka. 


Namun Alesya mengabaikannya, toh mereka bertengkar bukan karena dirinya, dan ia juga tidak membuat masalah. Ya walaupun membuat masalah mereka tak akan peduli. Jadi ia dengan acuh berjalan melewati kedua orang itu tanpa memperhatikan tatapan bi Yuni yang menatapnya sendu. 


"Al, here!"


Alesya melambaikan tangannya, menanggapi seruan Maya dari dalam mobil.


"Al, kenapa You minta jemput di sini? Bukannya masih jauh dari your house?"


"Gak papa, sekalian olahraga aja," Alesya menjawab dengan acuh. Memasuki mobil milik Maya. 


Alasan sebenarnya ia tak ingin  Maya merasakan tidak nyaman jika dia pergi ke rumahnya. Rasanya tidak pantas memperlihatkan pertengkaran orang tua di depan seorang teman. 


Maya mengangguk, dia tidak mengatakan apapun lagi. Setelah memastikan Alesya memasang sabuk pengaman Maya mulai membawa mobilnya membelah jalanan kota yang lumayan ramai karena akhir pekan. 


Sepanjang perjalanan ke mall tidak membosankan karena mereka berdua terus mengobrol tentang hal-hal acak. Alesya bersyukur karena Maya tak pernah mengungkit masalah ia yang memintanya menjemputnya bukan di depan rumah.


Alesya memiliki kesan yang baik terhadap Maya, ia akan mendapatkan nilai 70 darinya sebagi teman yang baik. Namun hal itu segera hancur dalam hitungan detik.


".... dan dia membagikan semuanya ke anggotanya! Coba bayangin geh mana ada orang sebaik Langit coba?"


"Oh," Alesya menjawab dengan acuh, berharap Maya berhenti membicarakan si anjing gila itu. "Bisa bahas yang lain gak?" Tanya Alesya yang sidak muak mendengar ocehan Maya yang membahas beberapa hebatnya Langit Biantara.


Namun entah kemana kepekaan Maya pergi, ia justru malah menganggap Alesya sedang malu karena membicarakan Langit. Maya terkikik geli, "C'mon Al, why are you so cold?"


Alesya tak menjawab pertanyaan Maya, ia malah menatap keluar jendela. Alasannya bukan karena ia malas meladeni Maya karena terus membahas langit -Ya sebagian- namun karen ia tidak mengerti apa yang dikatakan Maya!


'Kenapa lo punya temen ngomong bahasa alien sih Alesya.'