Transmigration

Transmigration
Chapter 17



Bell tanda pulang berbunyi, bergema di seluruh sekolah. Para siswa CPB Highschool berlomba-lomba keluar dari kelas masing-masing. Namun berbeda dengan satu kelas, para siswanya masih duduk di kursi mereka masing-masing, dengan keringat dingin di dahi. Menunggu dengan cemas hasil dari Ulangan Akhir Semester yang juga penentu mereka ikut tidaknya acara sekolah yang disebutkan sang wali kelas mereka. 


Ruangan kelas begitu hening, hanya suara gesekan kertas yang di balik oleh Bu Ria serta gumaman sang ketua kelas yang tak henti-hentinya berdoa yang dapat terdengar. 


Berbeda dengan siswa lain yang cemas, ekspresi Alesya justru biasa saja. Karena dia sudah biasa mendapat nilai jelek. Walaupun ada sedikit harapan di hatinya, sebab ia sudah belajar mati-matian serta merelakan waktunya untuk belajar ketimbang membaca novel ataupun nonton film.


'Jadi KM berat juga ya?' Batin Alesya menatap kasihan pada laki-laki yang duduk di depan paling ujung dekat pintu, tidak menyadari jika penyebab ketua kelas 11-4 seperti itu karena dia. 


Bu Ria berdehem pelan, memecah kesunyian yang hampir mencekam dalam ruangan kelas yang ia bimbing. Netra berkacamatanya menyapu ke seluruh kelas yang menyebabkan para siswa semakin cemas dibuatnya, sebab ekspresi tegas yang terpasang di wajah wali kelas mereka."Ka-


"BIARIN ALESYA REMEDIAL BU, TOLONG!" 


Teriakan ketua kelas yang tiba-tiba serta suara kursi yang jatuh memotong perkataan Bu Ria, serta membuat mereka terkejut. Mereka menatap bingung serta heran pada laki-laki yang kini tengah membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.


"Ketua kelas, saya belum selesai bicara," Ujar Bu Ria tegas seraya memperbaiki ekspresinya. Ketua kelas segera meminta maaf dan memperbaiki kursinya yang terjatuh. Siswa lain pun juga kembali menatap ke depan tepatnya ke arah Bu Ria. 


Berdehem sekali lagi, Bu Ria kembali menatap anak-anak didiknya. Tapi kali ini senyum tersungging di wajahnya, "Selamat, kalian semua lulus, tidak ada yang gagal!"


Mendengar hal itu, kelas itu seketika heboh, gumaman serta teriakan -dari Ketua kelas- tak percaya membanjiri. 


Bu Ria mengetuk meja, guna mendapat perhatian dari para siswanya itu. "Dan teruntuk kamu Alesya," Bu Ria menatap ke arah Alesya, lalu tersenyum lembut, "saya kagum karena kamu sudah melebihi ekspektasi saya. Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada kalian, kelas 11-4."


Sekali lagi sorak sorai bahagia menggema di dalam kelas. Bu Ria yang menyaksikan hal itu tersenyum lembut. Ekspresi tenang Alesya seketika pecah, digantikan dengan ekspresi tak percaya. Dia menatap Bu Ria seolah meminta konfirmasi dan Bu Ria yang menyadarinya pun mengangguk kecil.


"Alesyaaaa!" Teriak Ketua kelas menggelegar di dalam kelas begitu Bu Ria keluar, dengan segera menerjang Alesya yang baru saja berdiri. Air matanya pun sudah mengalir dengan deras.  Alesya dengan segera menghindar, alhasil Ketua kelas tersungkur ke lantai. 


"Apaan-EH?!"


Alesya tidak bisa menyelesaikan perkataannya sebab Silvi dan Lulu yang juga ikut menyerbunya, membuat ia terhimpit oleh kedua gadis itu. Lalu disusul oleh teman-temannya yang lain. 


"Lo keren banget!" Seru Silvi dan diangguki Lulu juga yang lainnya. 


"Apaan sih, kalian terlalu berlebihan deh."


"Tapi lo beneran keren Sya, liat dari peringkat tiga puluh lima ke tujuh belas, naik delapan belas!" Silvi dengan girang menunjuk ke kertas yang mencantumkan daftar peringkat di papan tulis. 


"Ya semua ini juga berkat Maya, kalo gak ada dia gue gak bisa sampe ke posisi ini," Terang Alesya jujur. Jika bukan berkat Maya yang mau mengajarinya selama seminggu ini Alesya yakin ia akan gagal. Walaupun Alesya banyak mengeluh tapi Maya tak pantang semangat. 


Mendengar hal itu, mereka mengalihkan perhatiannya pada gadis yang dimaksud. 


"But, You udah bekerja keras Al," Bantah Maya dengan senyum di akhir. Menolak semua pujian. 


"Tuh Maya aja bilang gitu, lo itu emang keran Sya"


Alesya tidak bisa tidak bingung dengan reaksi teman-teman sekelasnya yang menurutnya terlalu bereaksi berlebihan, bahkan mengalahkan reaksi orang-orang yang meraih peringkat. Tapi di sudut hatinya ia merasa hangat. 


Tatapan tajam terarah ke Alesya saat seluruh perhatian tertuju padanya, tangannya mengepal dengan erat, sampai buku-buku jarinya memutih, 'Ck, sialan.'


...◖◇◗...


Angin kencang berhembus kencang, menerpa wajah seorang laki-laki saat membuka pintu dari besi. Netranya menangkap sosok yang tengah berdiri membelakanginya di pagar pembatas rooftop. Ia menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya menuju sosok itu. Tangannya berkeringat dingin sebab gugup yang merayap. "Bos," Panggilnya pelan saat ia menghentikan langkahnya beberapa langkah dari sosok itu. 


Sosok yang ia panggil Bos itu menoleh dan menatapnya, membuat jantungnya berdetak lebih kencang karena takut. Padahal hanya tatapan saja, tapi sudah membuatnya takut. 


"Pergi," Ujar sosok itu, tak mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang baru saja ia terima.


Mendengar suara dingin tersebut membuatnya merinding. Dengan segera dia pergi meninggalkan area rooftop. Tak ingin membuat sosok itu marah. 


Baru saja ia menutup pintu besi, dirinya langsung dihadapkan dengan sosok yang tengah berdiri di hadapannya dengan seringai menghiasi wajahnya. Ia segera menundukkan kepalanya dan berjalan menuruni anak tangga. 


"Hey!"


Tubuhnya tersentak saat suara dengan nada main-main itu menyentuh telinganya. Dengan kaku ia menoleh dengan kepala masih menunduk. "I-iya."


"Dia ada di sana?"


Kepalanya mengangguk dengan cepat, "I-iya."


"Hmmmm."


Keringat dingin mengalir di pelipisnya ketika laki-laki di hadapannya bersenandung. Firasatnya seketika tak enak. 'Sial, gue kena masalah.'


Dan benar saja, tiba-tiba sebuah tinju mendarat di sebelah pipinya. Membuatnya limbung ke belakang. Untung saja ia segera memegang pegangan tangga, jika tidak dirinya pasti sudah terjungkal dan jatuh ke tangga. 'Bangsat!' Geramnya saat rasa panas dan perih seketika menghantamnya. 


Dia segera mendongak menatap tajam pelaku yang barusan memukulnya. Namun ia segera menunduk kembali saat matanya bersinggungan dengan iris yang bersinar liar. 


Mendengus gusar, laki-laki itu menggaruk tengkuknya. Lalu kembali memasukkan tangannya ke saku celana."Ck, maaf ya, soalnya muka lo bikin gue kesel sumpah," Ujarnya acuh, lalu berbalik menghadap pintu besi. "Oh iya siapin makan siang gue, jangan sampe salah lagi," Lanjutnya memperingati, lalu membuka pintu besi. 


Segera ia segera mengangguk paham walaupun tak terlihat oleh sosok itu karena sudah memasuki area rooftop.


Dengan santai laki-laki tadi berjalan menuju sosok yang berdiri membelakanginya. "Sialan, kenceng banget nih angin." Rutuknya, saat rambutnya menghalangi area pandangnya sebab tertiup angin.


Begitu sampai, laki-laki itu merangkul leher sosok yang masih fokus membaca kata-kata pada kertas di tangannya."Yo Boss." Sapanya ramah justru malah disambut delikan tajam dari sosok yang ia rangkul. 


Memanyunkan bibirnya, laki-laki itu melepaskan tangannya dan memilih bersandar pada pagar pembatas. "Ck, galak amat sih. Pantesan jomblo mulu," Celetuknya. 


"Ada apa?"


Laki-laki itu segera tersenyum lebar, "Gue mau ke bar malam ini, ikut ya?"


"Gak." 


Wajah laki-laki itu semakin cemberut saat mendapat penolakan langsung. "Ayolah Raka, temenin gue. Kalo ada lo, banyak cewe yang nempel, " Bujuknya pada ketua geng Black Flame itu. Tak dapat dipungkiri jika Raka ikut, banyak perempuan yang mendekati mereka. Ya siapa juga yang bisa menolak terpesona sosok Raka. 


Bukannya menjawab, laki-laki itu malah dibuat tercengang sebab Raka malah melenggang pergi meninggalkannya. Ia menatap nanar Raka yang menghilang di balik pintu. 


Energinya seolah tersedot seketika, dengan lemah ia menyandarkan punggungnya ke pagar, "Huh, sendirian lagi dah gue." Gumamnya lemah karena harus pergi ke bar sendirian. 


Tiba-tiba dahinya berkerut, "Oh iya Viana sama Alesya itu siapa ya? Ck, nanti aja lah nanyanya." Bisik laki-laki itu saat mengingat dua nama yang tidak ia sengaja baca di kertas yang seharusnya menjadi laporan perkembangan penyelidikan tentang kecelakaan Raka saat balapan malam itu, yang berakibat pada kekalahan Black Flame. 


...◖◇◗...


Alesya menatap rumah di depannya dengan kagum. Rumah berlantai dua dengan suasana asri sebab banyaknya pepohonan serta bunga berwarna warni bertebaran di halaman. Diliriknya ke samping saat inderanya menangkap suara percikan air, netranya disuguhi dengan kolam ikan yang lumayan besar dengan air mancur di pinggirnya. Surga, itulah kata yang menggambarkan tempat ini. 


Ternyata bukan hanya luarnya saja yang seperti surga, di dalamnya juga sama. Alesya bersiul menyaksikan pemandangan yang tersuguh di depannya. "Roti sobek," Gumamnya pelan.