
Tekstur lembut dan halus kain Oxford Alesya rasakan saat mengenakan seragam sekolah yang terpasang dengan sempurna di tubuhnya. Tak terlalu ketat atau pun longgar. Alesya pikir Alesya asli akan menggunakan pakaian ketat dan dandanan yang menor untuk menggoda tokoh utama laki-laki, ternyata pikirannya salah. Alesya asli tak begitu.
Dirinya secara mental meminta maaf pada Alesya asli karena sudah berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
Alesya mengambil sisir, merapikan rambutnya yang kini panjang. Rambut panjang yang menyentuh pinggang yang selalu Alesya inginkan, namun tak bisa ia miliki.
Tangannya berhenti di tengah kegiatannya, manik mata Alesya menangkap sesuatu yang akrab di deretan produk kecantikan yang berjejer rapi di lemari rias.
Meletakan sisir, Alesya meraih sebuah botol kecil berisi kapsul. Untuk orang-orang yang tak tau, ini mungkin terlihat seperti vitamin biasa. Namun hanya botolnya saja, isinya adalah obat tidur. Yang membuatnya heran kenapa Alesya asli meminum obat tidur. Seingatnya Alesya asli tak memiliki insomnia. Alesya mengedikkan bahu acuh. "Ya bukan urusan gue juga sih."
...◖◇◗...
Alesya melangkah menuju meja makan begitu turun dari tangga. Dirinya duduk di kursi yang cukup jauh dari kedua orang yang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Bahkan tak menyadari jika makanan sudah tersaji di meja makan berwarna hitam. Nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya, ada juga sosis dan sayuran yang ditumis. Sederhana namun menggugah selera.
Alesya menatap makanan di depannya dengan semangat, siap untuk menyantapnya. Cacing-cacing di perutnya pun sudah bergemuruh minta diisi. Namun Alesya tak bisa memakan makanan di depannya.
'Mana makanan gue!' Alesya secara mental menangis karena Bi Yuni, selaku yang memasak hanya menyajikan dua piring.
" ....Bi, punya aku mana ya?" Bi Yuni yang tengah menuangkan air tersentak, dia menatap Alesya kaget. ".... Non… . Juga mau makan?" Tanyanya ragu.
Alis Alesya menukik tajam heran. "Ya iyalah bi, gak mungkin kan aku duduk di sini buat nonton orang makan?"
Mendengar hal itu Bi Yuni segera pergi ke dapur yang berada tepat di sebelah meja makan, mengambil makanan. Alesya langsung melahap makanannya begitu Bi Yuni menyuguhkannya.
Sudah berapa lama dirinya tak menikmati sarapan? Entah, Alesya tak tahu. Dirinya selalu tak punya waktu untuk hanya sekedar sarapan saat hidup sebagai Alexia. Walaupun ada,dirinya tak diizinkan untuk makan oleh kedua orang tuanya. Dirinya justru disuruh untuk menghafal partitur.
Senyum tersemat di bibir Alesya saat mulutnya di banjiri oleh rasa nasi goreng.
Suara logam jatuh berdentang, ketiga orang di meja makan menoleh ke asal suara. Bi Yuni segera meminta maaf, mengambil nampan yang jatuh.
"....Alesya."
Tubuh Alesya menegang saat tiba-tiba Rasya, nyonya rumah ini dan juga ibu Alesya memanggilnya. Nada keraguan sedikit terdengar dari suaranya. Alesya tak langsung menjawab, diam-diam meletakan sendok di tangannya.
"Iya? Ada apa?" Jawabnya sesopan mungkin, menatap sekilas Rasya. Tangan Alesya menggenggam erat rok sekolahnya refleks, jantungnya berdebar dengan cepat.
Melihat perilaku putrinya, Rasya menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum lembut. "Bukan apa-apa."
Alesya secara spontan mendongak, tanda tanya besar memenuhi pikirannya saat Rasya mengurungkan niatnya. Alesya hanya mengangguk sebagai respon.
Kerutan di dahi Gunawan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan semakin dalam saat melihat interaksi ibu dan anak itu.
Sebuah helm adalah hal pertama yang menyambut Alesya begitu ia membuka pintu ganda kayu berwarna hitam. Alesya mendengus, mendelik pada orang yang menyodorkan helm. Bersyukur ia berhenti tepat di depan pintu. Bagaimana jika Alesya keluar dengan berlari, pasti kepalanya sudah kejedot tuh helm.
"Lama." Bara menatap Alesya. Kejengkelan terdengar jelas dari suaranya yang terendam helm yang dipakai.
Alesya mengambil helm dengan warna yang sama dengan yang dikenakan Bara, hitam dengan corak berwarna emas. "Lo nya aja yang kecepetan." Balasnya mencemooh.
"Ck, masih mending gue jemput," Kaki jenjang Bara melangkah menuju moge berwarna hitam dan emas yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
Memutar bola matanya, Alesya menyusul Bara yang sudah bertengger di motornya. "Ya karena disuruh Om Candra, kan? " Celetuknya seraya memakai helm.
Alih-alih menjawab, Bara justru meledeknya.
"Oh lo tau cara pake helm?" Seru Bara dengan nada terkejut dibuat-buat.
"Gue hilang ingatan, bukan hilang otak!" Sanggah Alesya, dengan kesal menaiki motor.
"Siapa tau kan lo jadi bego."
Darah Alesya mendidih, mendengar perkataan dari 'sepupu'nya ini. Alesya menoyor kepala Bara jengkel, mengundang tatapan tajam Bara. "Berisik, buruan jalan"
Tanpa peringatan, Bara membawa motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah tiga lantai bernuansa hitam dan putih, sebab kesal. Alesya tak henti-hentinya mengutuk Bara sepanjang jalan karena membawa motor seperti kesetanan.
...◖◇◗...
"Denger, kelas lo ada di gedung tiga lantai dua. Lo di kelas 11- 4. Ngerti?"
"Kenapa gak lo anterin aja" Alesya memandang penuh tanya pada Bara yang menyuruhnya untuk pergi ke kelas sendiri. Padahal seharusnya Bara paham dengan kondisinya yang amnesia -sebenarnya enggak- .
Alesya mengangguk. Ia tak punya pilihan lain setelah melihat raut wajah Bara yang sepertinya sangat terdesak. Meskipun baru sebentar Alesya kenal dengan Bara, dirinya tau walaupun nyebelin tapi Bara orang yang bertanggung jawab. Buktinya saja Bara tetap berangkat sekolah bersamanya karena perintah sang ayah sekalipun dia tak suka.
"Ok gue cabut ya. " Setelah mengatakan hal itu, Bara berlari meninggalkannya.
Alesya menghembuskan nafas kasar, dengan penuh tekad melangkahkan kakinya menuju sekolah barunya. CPB High School. Sekolah bergengsi yang hanya bisa dimasuki orang yang terlahir dengan sendok perak dan emas. Juga sekolah dimana ia akan bertemu tokoh-tokoh lain dari novel.
Alesya sudah bertemu dengan Bara yang bisa dibilang termasuk golongan orang 'normal'. Disini Alesya akan benar-benar memulai misinya untuk bertahan hidup di sarang harimau. Karena menurutnya CPB bukan singkatan dari Cendikia Permata Bangsa, namun Crazy, Psychopath and Barbar.
"Gue pasti bisa, gue harus bertahan," Alesya bergumam penuh tekad.
Mungkin ini kesempatan yang diberikan padanya agar bisa hidup sesuai dengan keinginannya, Alesya bertekad tak akan melewatkan kesempatan ini. Dirinya tak akan mati. Alesya akan mengubah takdirnya di novel ini.
Alesya melangkahkan kakinya memasuki sekolah. Dirinya seketika menjadi pusat perhatian, namun hanya diabaikan olehnya.
Karena menurutnya itu tak penting.
Semenjak ia berada di rumah sakit, Alesya sudah membuat rencana untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah berteman dengan para tokoh novel terutama sang protagonis dan juga tokoh utama laki-laki. Lalu dia kan memperbaiki reputasinya. Ya benar itu rencana yang amat sempurna!
Saat memikirkan rencananya yang berjalan sempurna,Alesya tersenyum senang hampir menyeramkan membuat orang-orang di lorong yang dilewatinya gemetar ketakutan.
Seperti api yang melahap rumput kering di tanah gersang, kabar bahwa Alesya masuk sekolah langsung menyebar dan damai di seluruh sekolah. Terutama di akun lambe turah yang memposting info itu beserta foto Alesya yang berjalan sendirian di lorong.
-|Singa ngamuk|ALESYA ADA DI SEKOLAH WOY!!!!
-|True Angel|Bukannya itu Alesya ya?
-|Buy ME|Wahhhhhh, rame!!!!
-|Chill Bro|Dia udah keluar dari rumah sakit?
-|NoticeMe|Menurut lo?
-|Buy ME| ✺◟( ͡° ͜ʖ ͡°)◞✺
-|CrazyJRK|Kapan dia keluar?
-|Buy ME|Cangcimen-cangcimen
-|Buy ME|☆(ノ◕ヮ◕)ノ*
-|CrazyJRK|GUE NANYA WOY!!
-|BisepNo.1|Berisik lo BST!
-|Dead Bird|Wah keknya dramanya bakalan di lanjut nih˙(^_^♪)
-|Buy ME|( ✧Д✧) YES!!
Dan kabar itu sampai pada telinga sang ketua geng Shadow, dan juga merupakan sang Tokoh utama laki-laki. Langit Biantara.
...◖◇◗...
PRANG!!!
Semua mata di kantin terbuka lebar. Mulut mereka menganga selebar danau Toba, menatap mengeri pada seorang gadis yang tengah mengangkat kursi di atas kepalanya. Siap menggeplak laki-laki yang tengah tersungkur di depannya.
Ya dialah sang pemeran utama kita Alesya Gabriella, yang sudah siap lillahi ta'ala untuk membu- memberi pelajaran pada sang tokoh utama laki-laki novel yang ia masuki, Langit Biantara.
Ini baru hari pertama, namun Alesya sudah naik pitam dengan kelakuan orang-orang di sekitarnya. Apalagi makhluk yang sedang terduduk di lantai seraya menatapnya kaget dan takut.
Lupakan tentang rencana berteman dengan tokoh utama laki-laki, yang ada Alesya ingin membunuhnya.
Dan yang paling membuatnya paling kesal adalah bahwa sang protagonis favoritnya jatuh cinta dengan makhluk seperti ini.
' Gimana bisa lo jatuh cinta sama orang modelan kek gini hah?!! badak aja lebih baik anjir, ' Batinnya, mengutuk ke begoan sang protagonis. Dia tahu cinta itu buta dan tuli, tapi gak ngebuat orang tolol juga kan?.
".....Dengerin ini ya bangsat." Alesya memecah keheningan. "Sekali lagi lo ngebacot di depan muka gue, gue pastiin barang berharga lo gue potong, GUE BABAT!!!"