Transmigration

Transmigration
Chapter 1



The Way I Fell For You, sebuah novel picisan biasa yang berlatar kehidupan remaja di sekolah. Kisah sang protagonis yang dikejar-kejar oleh tokoh utama laki-laki. Umum sekali bukan? Ya, Authornya mungkin terinspirasi dari para Author lain atau dia hanya terlalu malas untuk mencari ide baru.


Dan disinilah dia, Alexia yang kini terbaring terlentang di ranjang rumah sakit. Meratapi nasibnya yang apes karena bertransmigrasi ke dalam tubuh Alesya Gabriella. Antagonis sampingan yang ditakdirkan mati.


Alesya menghembuskan nafas kasar, matanya tak lepas dari memandangi langit-langit yang tampak lebih menarik daripada pengunjung yang sejak tadi memandangnya dengan tajam. Mungkin dia lagi halu bisa ngeluarin laser dari matanya. Entahlah Alesya tak peduli.


"Lo bisa gak sih gak usah caper, " Ucapan ketus itu terlontar mulus dari bibir tipis sang pengunjung yang kesal. Alis tebal sang pengunjung mengerut semakin dalam saat tak mendapatkan jawaban dari Alesya. "Ck, lo tuli ya?!" Bentaknya


"APAAN SIH LO, GANGGU AJA! Gue lagi pusing nih. Lagian lo siapa sih?" Alesya balas membentak. Bangun, ia menatap kesal laki-laki di hadapannya, mengabaikan ekspresi tercengang di wajahnya.


Tiba-tiba tangan kekar milik laki-laki itu mencengkram bahu Alesya dengan kuat, membuat dirinya meringis. "Lo- beneran amnesia?" Tanya laki-laki tersebut ragu, ketidakpercayaan terlukis jelas di wajah tampannya. "


'Gak mungkin kan yang di bilang papa beneran?' Bantin laki-laki itu. Ya benar, paling Alesya hanya pura-pura saja agar mendapat perhatian. Ia yakin, sebab bukan sekali dua kali gadis di hadapannya ini melakukannya. 'ya bener dia pura-pu-'


"Mana gue tau?!" Laki-laki itu tersentak kaget saat Alesya berteriak, memutuskan lamunannya.


"Tanya ke dokter bukan ke gue, " Lanjutnya. Alesya memalingkan wajahnya tak nyaman saat laki-laki yang masih mengenakan seragam sekolah itu terus menatapnya seolah mencari kebohongan di matanya.


Alesya mengatakannya bukan tanpa alasan. Tiga hari yang lalu setelah Alesya pingsan di kamar mandi karena terlalu syok dan setelah sadar lagi untuk kedua kalinya. Dokter melakukan pengecekan dan menurut sang dokter ia mengalami amnesia sementara atau apalah itu, dia gak ingat.


Kehabisan kesabaran Alesya mendelik tajam ke laki-laki di hadapannya."Gue tau gue cantik. Tapi bisa kan gak usah natap gue terus, risih tau gak?" Protesnya.


Saat laki-laki itu melepaskan pundaknya dan sedikit mundur, Alexa diam-diam bernafas lega. Ia menatap dari ujung rambut sampai kaki laki-laki di hadapannya. Dirinya menatap tubuh tinggi laki-laki di depannya yang sepertinya tengah bergelut dengan pikirannya itu. Terlihat dari seberapa sering ia menangkap basah mata tajam yang meliriknya.


Setelah beberapa saat terdiam, laki-laki tersebut menatap Alesya "Ayo."


Dahi Alesya mengernyit " Kemana?"


"Ck, pulang. " Ujar laki-laki tersebut setelah menata pikirannya yang awut-awutan. Mencoba menerima kenyataan jika Alesya amnesia dan bukan pura-pura.


"Siapa lo tiba-tiba ngajak pulang,kenal aja kagak," Sewot Alesya, dirinya menatap tak percaya laki-laki di harapannya saat sebuah pemikiran terlintas. "atau jangan-jangan lo mau nyulik gue terus-"


"Udah stop. Gue sepupu lo Bara, Bara Keandra puas?" Potongnya, ia mengusap wajahnya lelah.


'Huh Bara?'Alesya kembali mengobservasi laki-laki di hadapannya, badan kekar, tinggi dan tampan. Mata Alesya mendarat pada sudut mata laki-laki yang mengaku sebagai sepupunya itu, ada tahi lalat di sudut mata sebelah kanan. Tapi dia tak ingat punya sepupu namanya Bara, Alesya gak akan lupa jika dia memiliki sepupu setampan ini.


Setelah diam beberapa saat, Alesya menepuk dahinya. Secara batin merutuki ingatannya. Kenapa Alesya tak sadar ia sekarang bertransmigrasi.


'Kok bisa lupa ya?' Batinnya, tak sadar dirinya ditatap aneh oleh Bara. 'Kenapa dia? Stres?'


...◖◇◗...


"Lo beneran amnesia?"


Alesya menghembuskan nafas kasar bercampur kesal, entah sudah berapa kali laki-laki di sampingnya ini menanyakan hal yang sama. Apa ucapannya kurang jelas atau dia yang budek?


"Iya ganteng~, harus berapa kali lagi gue harus ngomong. Apa sampe mulut gue berbusa lo baru paham? "Tutur Alesya sedikit menekan kata-katanya karena muak diakhiri dengan senyum terpaksa.


Bara Keandra, salah satu karakter di dalam novel The Way I Fell For You. Karakter sampingan namun memiliki kepopuleran yang tinggi dan juga banyak memikat pembaca perempuan. Tokoh sampingan yang melindungi sang protagonis dari kekejaman sepupunya sendiri. Memiliki sifat yang gentle dan juga dewasa. Tapi kok yang ada di sini beda ya? Mana gentle sama dewasanya? Kok yang ada malah nyebelin!


"Nanya doang," Timpal Bara, mengedikan bahunya acuh. Sebenarnya dia masih tak percaya jika gadis disampingnya itu amnesia. Namun mau dilihat berapa kalipun Alesya memang bertingkah berbeda, terutama saat ia sampai Alesya tak mengenali dirinya dan juga tak menanyakan tentang Langit. Namun ini lebih baik sih. Bara diam-diam mengangguk setuju dengan pemikirannya.


"Nanya geh ya kira-kira dong"


Bara terlalu tenggelam dengan pikirannya sampai tak sadar dengan gerutuan Alesya. Alesya mendengus kasar karena diabaikan. Dirinya melengos pergi begitu saja meninggalkan Bara.


"Mau kemana?! " Seru Bara setengah berteriak, dia tak mau diseret oleh satpam karena membuat kegaduhan, cukup sekali saja.


"Toilet" Saut Alesya mengayunkan tangannya tanpa berbalik.


Suara air yang mengalir dari keran bergema di dalam toilet. Alesya meletakan tangannya di pinggiran wastafel, memusatkan berat badannya. Iris matanya memandang pantulan dirinya di cermin. Cukup lama Alesya menadangi dirinya di cermin. Tangannya terulur menyentuh rambut hitam panjangnya yang tergerai. Sudah satu minggu dirinya berada di rumah sakit ini. Setelah keluar dari sini dirinya akan memulai kehidupannya sebagai Alesya Gabriella.


Alesya sudah sedikit memahami situasinya. Ia bertransmigrasi setelah Alesya mengalami kecelakaan di depan sekolah. Itu berarti masih awal-awal novel. Dan tokoh yang sudah ia temui sejauh ini hanya Bisa Yuni, orang pertama yang Alesya lihat, Om Candra dan Bara. Entah dengan cara apapun dirinya harus bisa bertahan hidup.


Memejamkan matanya, Alesya harus bersiap-siap dengan segala situasi yang akan terjadi saat dirinya keluar dari rumah sakit ini. Dan juga efek kupu-kupu yang mungkin saja terjadi. Suhu dingin air menyentuh permukaan kulit tangannya saat Alesya mencuci tangan. Alesya mematikan keran, keluar dari kamar mandi.


Alesya membawa langkahnya dengan ringan, pikirannya kini sudah terasa lebih ringan. Tanpa sadar dirinya menabrak sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang yang datang dari lorong sebelahnya.


"Maaf." Spontan Alesya langsung meminta maaf.


"Gak papa" Balas laki-laki tersebut memperbaiki posisi kacamatanya. Ketika Alesya hendak memeriksa keadaan orang yang ditabraknya, teriakan Bara terdengar memanggilnya, mengalihkan atensi kedua orang tersebut. "Alesya cepet!"


"Iya bentar! " Jawab Alesya menyahuti.


"Sekali lagi maaf ya" Meminta maaf lagi seraya menundukkan kepalanya sedikit dan diiringi senyum menyesal. "Dasar gak ada sabar-sabarnya jadi cowo, " Alesya merenggut dengan suara dingin bercampur kesal.


Alesya buru-buru pergi dengan wajah yang siap menerkam Bara, meninggalkan laki-laki yang menatapnya dengan keterkejutan di wajahnya saat melihat perubahan sikapnya.


"Alesya?"