Transmigration

Transmigration
Prolog



Warna putih memenuhi bidang penglihatan Alexia. Bau desinfektan yang akrab menyengat, membuatnya muak. Alexia tahu dimana ini tepatnya, Rumah sakit. "Sepertinya gue gak mati ya?" Gumamnya.


Mungkin sudah sepuluh menit Alexia duduk termenung di ranjang pasien. Ruangan ini sangat sunyi, kontras dengan suasana riuh di luar yang dapat dirinya lihat dari jendela. Taman kecil yang hijau, ramai oleh orang-orang yang tengah menikmati suasana sore yang cerah. Netranya menangkap sepasang orang dewasa dengan seorang anak perempuan berpakaian pasien tengah duduk di bawah pohon rindang. Senyum tipis terukir di bibir Alexia saat melihat keluarga kecil itu saling menjahili dan tertawa. 'Ya, lagipula siapa yang bakal jenguk? Mungkin malaikat maut doang.'


Setelah beberapa menit keheningan itu, terdengar suara pintu dibuka membuat Alexia tersadar dari lamunannya. Sosok wanita sudah berumur memasuki penglihatannya. Alexia menatap heran dengan tatapan wanita tersebut yang menatapnya dengan mata terbelalak tak percaya, seolah sedang melihat hantu.


"N-non? non udah sadar?" Wanita yang entah siapa itu bertanya dengan ragu-ragu.


"Gak, masih tidur. Bentar lagi juga bakal dibawa sama Osiris naik perahu ke alam baka," celetuknya. Lagian aneh-aneh saja, Apa dia tak melihatnya tengah duduk cantik begini? Pake ditanya udah sadar apa belum lagi.


Wanita yang entah siapa -part 2- itu setelah mendapat jawaban tersebut seketika terdiam. Entah karena kaget tak percaya atau karena tersindir. Entahlah, lagian Alexia tak peduli. Kenal juga enggak kan?.


Ruangan itu kembali sunyi, tak ada yang membuka suara. Alexia sebagai anak baik hati dan rajin menabung pun mencoba untuk bertanya. Namun niat baiknya itu pupus saat tiba-tiba wanita itu yang tak ada angin tak ada hujan langsung melengos pergi.


Tersenyum miris, Alexia meratapi takdir kejam yang memisahkan mereka berdua.


Baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya karena ia tak mau ambil pusing, pintu lagi-lagi terbuka. Kini bukan hanya wanita yang entah siapa namanya tadi yang datang, tapi juga seorang pria yang mengenakan pakaian khas dokter, seorang wanita berpakaian suster dan seorang pria tampan masuk dengan terburu-buru.


"Semuanya normal tidak ada yang salah" Ujar sang dokter usai melakukan berbagai pemeriksaan. Kedua orang yang sejak tadi menunggu dengan harap-harap cemas itu langsung menghembuskan nafas lega setelah mendengar perkataan sang dokter.


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Kamu buat Om khawatir tau gak pas Bara bilang kamu kecelakaan. " Kelegaan dapat terlihat jelas dari raut wajah pria tampan itu.


Mata Alexia berkedip bingung mendengar ucapan pria tampan yang sejak kedatangannya sudah mencuri atensinya, terutama wajahnya yang bak patung-patung dewa Yunani."Eh bukannya ketimpa lampu gantung panggung ya?"


Raut bingung menghiasi wajah pria itu, ia menatap bergantian antara Alexia dan sang dokter, seolah meminta kejelasan.


Alexia terdiam saat pria tampan itu memanggilnya dengan nama yang bukan miliknya, namun terasa tak asing."Maaf Om ganteng, tapi nama saya bukan Alesya-"


Ucapan Alexia terhenti saat matanya menangkap helaian rambutnya yang tergerai.


Sebentar, kok rambutnya panjang? Tidak mungkin kan semalam langsung panjang? Perasaannya langsung tak enak. Alexia mendongak, menatap orang-orang yang ada di ruangan itu yang juga sedang menatapnya heran atas keterdiamannya yang tiba-tiba.


Tanpa membuang waktu, Alexia langsung membawa kakinya berlari menuju kamar mandi. Mengabaikan teriakan dan rasa perih di tangannya karena infusan yang tercabut paksa.


Alexia langsung mengunci pintu kamar mandi, "No way, " Gumamnya tak percaya,menatap ngeri pantulan di cermin. Di cermin tampak sosok wajah yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Alexia menyentuh rambut hitam panjang yang tergerai, itu lembut. Alexia menuntun tangan ramping tubuh yang tak dirinya ketahui, menelusuri setiap inci wajahnya . Bibir tipis yang sedikit pucat, hidung yang mancung dan ramping. Siapapun akan setuju jika wajah ini sangat cantik.


Ini jelas bukan wajan Alexia. Setelah beberapa saat terdiam, satu kesimpulan terlintas di benaknya.


Transmigrasi.


"Aww, sakit. " Alexia menampar wajahnya.


Rasa perih langsung merambat di pipinya. Rasa sakitnya membuat Alexia sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Telinganya seolah menuli, Alexia tak mendengar teriakan dan gedoran pintu yang menyuruhnya membuka pintu.


"Kenapa?" Suara Alexia terdengar lirih dan putus asa. Alexia terhuyung ke belakang dan jatuh tersungkur karena kakinya lemas, mungkin karena dirinya yang baru sadar atau karena syok. "KENAPA HARUS GUE?!!"


Orang-orang yang berada di balik pintu langsung mendobrak pintu sesaat setelah mendengar teriakan Alexia. Mereka menatap gadis yang tergeletak tak sadarkan diri dengan perasaan kaget dan khawatir.Pria yang memanggil dirinya Om itu langsung menyerbu masuk. Menghampiri Alexia yang kembali tak sadarkan diri. "ALESYA!!"