
Seperti yang dikatakan oleh sang wali kelas 11-4, Ulangan Akhir Semester akan segera diselenggarakan. Karena itu banyak para siswa yang pergi ke perpustakaan untuk belajar, termasuk Maya dan juga Alesya -atas paksaan seluruh kelas terutama ketua kelas- pergi ke perpustakaan untuk belajar bersama setelah pulang sekolah.
Seharusnya ini menjadi kegiatan belajar bisa, namun ekspektasi Maya tak seindah realita.
Maya memijat pelipisnya yang berdenyut, niat mereka ke perpustakaan adalah untuk belajar bersama dan semuanya berjalan lancar hanya sampai beberapa menit sebelum orang-orang tak diundang ini datang satu-persatu.
Dimulai dari ketua OSIS yang tiba-tiba duduk di samping Alesya yang sukses merebut atensi dari para siswa yang ada di perpustakaan. Bukan hanya itu, Viana yang ikut dengan Darren pun duduk di samping Maya. Saat ditanya Alesya alasan mereka ada di sini mereka menjawab ingin mengerjakan pekerjaan OSIS. Tapi Maya tidak bisa tidak bingung. Pasalnya apa gunanya ruangan OSIS jika mereka mengerjakan pekerjaan OSIS di sini!
Lalu beberapa menit kemudian Alan datang dan duduk di sebelah Alesya, dan disusul Langit. Alasan keduanya cukup mirip, yaitu ingin belajar. Tapi belajar apaan jika mereka terus melirik ke arah Alesya, belajar tentang Alesya gitu?!
Maya tersadar dari lamunannya saat suara gedubrak keras terdengar di dalam perpustakaan luas yang sunyi ketika Alesya menjatuhkan kepalanya di atas tumpukan buku di meja.
"Gue sekarat," Gumam Alesya dengan suara lemah. Mengabaikan tatapan tajam nan mematikan sang penjaga perpustakaan padanya untuk kesekian kalinya.
Alesya tidak peduli. Kepalanya sudah panas seperti dibakar oleh tulisan-tulisan bahasa alien dan juga kode-kode FBI di hadapannya -sebenarnya itu hanya buku bahasa Inggris dan juga buku matematika-. Otaknya sudah menyerah untuk diajak berjuang.
Sepertinya memang dia dan pelajaran sekolah tidak berjodoh, mereka tidak ditakdirkan untuk bersama. "Maaf pelajaran sekolah, gue….gak bisa memperjuangkan lo lagi." Alesya menyeka air mata yang berlinang di pelupuk matanya. Melambai pada pelajaran sekolah untuk terakhir kalinya, berbalik dan berjalan pergi. Langit senja dan angin pantai yang berhembus menjadi saksi perpisahan mereka berdua.
"Lebih baik gue ngajarin batu dari pada ngajarin lo," Celetuk Langit, menyerah mengajari Alesya. Bayangkan saja, ia sudah mengajari materi yang sama selama setengah jam, namun orang yang ia ajari tak kunjung paham.
Alesya melirik tajam ke arah Langit yang duduk di sebelah Maya. "Maksud lo gue bego gitu?!"
"Ya emang kenyataannya begitu kan, pendek." Timpal Alan tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibacanya.
Mengangkat kepalanya, Alesya kini beralih menatap nyalang Alan, "Gak usah ikut campur," Desisnya. "Lagian lo kelas dua belas ngapain nimbrung di sini hah?!" Lanjutnya dengan intonasi yang cukup tinggi. Entah mengapa batas kesabaran Alesya selalu berada di puncaknya jika tengah berhadapan dengan Alan.
"Ya terserah gue dong, si ketos aja boleh ada di sini." Belanya seraya melirik orang yang ia maksud yang duduk di sebelah Alesya.
Darren yang merasa namanya di sebut hanya tersenyum,lalu kembali mengerjakan pekerjaan OSIS bersama dengan Viana yang duduk di depannya.
Melipat kedua tangannya di depan dada, Alesya mendengus, "Ya kak Darren beda lah."
"Lo manggil dia pake sebutan kak kenapa gue enggak? gue juga senior lo," Protes Alan tidak terima.
"Ogah."
Menghembuskan nafas gusar, Maya sungguh lelah. Maya memandangi orang-orang yang duduk bersamanya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ternyata banyak yang tengah curi-curi pandang ke arah meja mereka. Memang tak dapat dipungkiri jika ini merupakan kejadian langka melihat lima siswa populer berada di satu meja.
Manik mata Maya tak sengaja bertemu dengan netra Viana yang sepertinya tengah cemas menatap perkelahian antara Alesya, Alan dan Langit. Ya siapa yang tidak cemas dengan adu mulut mereka. Di tambah Alesya tidak pernah menyaring kata-katanya. Hanya menunggu waktu saja mereka di usir oleh sang penjaga perpustakaan.
Dan benar saja, setelah beberapa saat penjaga perpustakaan itu menghampiri meja mereka dan memandang mereka keluar.
...◖◇◗...
"Udah gak papa, gak usah malu-malu ayo," Ajak laki-laki yang entah siapa namanya itu seraya menarik tangan Alesya.
Sudut bibir Alesya berkedut di ujung senyum palsu yang ia dipasang. Menahan kesal dan amarah yang membuncah. Bisakah dia membunuh laki-laki di depannya ini? Dirinya sudah menolak ajakan laki-laki ini untuk ketiga kalinya. Namun sepertinya omongannya itu hanya dianggap angin lalu.
Persetan dengan memperbaiki reputasi, Alesya suda benar-benar kehilangan kesabarannya. Melangkahkan kakinya, Alesya pergi begitu saja meninggalkan laki-laki yang tercengang itu.
Laki-laki itu menatap kepergian Alesya tak percaya. Dua kali, dua kali ia sudah ditolak oleh Alesya. Pertama saat ia mengungkapkan perasaannya saat istirahat dan kedua saat ini. Ia hanya ingin mengantar gadis yang disukainya ini pulang karena mungkin saja penyebab dia ditolak karena Alesya tidak mengenalnya -emang bener-. Rencananya bahkan belum dimulai namun dia sudah ditolak lagi.
"Kalo udah di tolak nyerah aja, jangan mempermalukan diri lo sendiri," Bisik Alan di telinga laki-laki yang baru saja ditolak Alesya siang tadi. Lalu berjalan pergi mengikuti Alesya.
Seringai terbentuk di wajah Langit saat mendengar apa yang dibisikan Alan yang memang cukup kencang. Langit memegang bahu laki-laki itu dan meremasnya, lalu berbisik, "Dengerin." Kemudian melenggang pergi.
Netra laki-laki tersebut bersitatap dengan netra berkacamata Darren. Ia meneguk ludahnya kasar saat Darren menatapnya dingin lalu pergi.
"Lo bukan saingan mereka bro, udah ikhlasin aja,"
Laki-laki itu melirik pemilik tangan di pundaknya dan menangkisnya dan berjalan pergi begitu saja. Mengabaikan kikikan dari orang itu.
"Bisa gak sih lo gak ngedumel mulu," Keluh Alan. Bosan mendengar sumpah serapah serta rutukan Alesya sepanjang jalan.
Menghentikan langkahnya, Alesya berbalik, lalu menatap Alan, "Terserah gue! Mulut-mulut gue, ngapain lo protes."
Alan bersedekah dada, "Tapi kan suara lo kedengeran sama telinga gue, makanya gue protes." Terang Alan, balas menatap Alesya.
"Ya udah tinggal di tutup doang dan lagian ngapain lo ngikutin gue?"
"Heh jangan kepedean, gue mau ke parkiran."
Wajah Alesya memanas karena malu sebab salah sangka. Alesya berdehem mencoba menyembunyikan rasa malu. Lagian sejak mereka meninggalkan perpustakaan ketiga laki-laki ini terus mengekorinya ya dia tidak salah dong jika memiliki pemikiran itu? "Terserah lah." Alesya berbalik, melanjutkan langkahnya.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti lagi saat mendengar suara Viana memanggilnya. Alesya berbalik dan mendapati Darren yang sudah ada di depannya dan langsung memeluknya. Karena gerakan tiba-tiba itu mereka berdua terjatuh dan disusul suara benda pecah.
Alan dan langit segera menghampiri keduanya. Disusul dengan Viana di belakang.
"Alesya lo gak papa?" Darren segera memeriksa Alesya, namun gadis di pelukannya tak bergeming seolah jiwanya tak ada di sini. Mata Alesya terlihat tidak fokus menatap ke belakangnya. Darren mengikuti arah pandang Alesya dan mendapati pot bunga yang tadi terjatuh lalu kembali menatap Alesya.
Namun yang dilihat Alesya bukanlah pot bunga melainkan lampu panggung. Lampu panggung yang terjatuh menimpa dirinya. Penglihatan Alesya seperti terdistorsi, pemandangan sekolah segera berganti menjadi sebuah aula.
Merah. begitu banyak warna merah di pandangannya yang kabur, mengecat lantai kayu yang seharusnya berwarna coklat. Jantungnya berdegup kencang sampai memekakkan telinganya.
Kebingungan melanda dirinya, ia tak memahami apa yang terjadi. Bukannya ia sedang tampil, lalu tiba-tiba….kepalanya berdengung dengan menyakitkan saat ia mencoba mengingat apa yang terjadi apa lalu disusul rasa sakit yang amat sangat di sekujur tubuhnya. Penglihatannya memburam, lalu hanya kegelapan yang bisa dilihat.
...◖◇◗...
Deru nafas terdengar begitu jelas, mata yang tak fokus itu melirik menelisik ke segala arah dalam ruangan. "Ini….dikamar," Gumam Alesya, kelegaan dapat terdengar dari suaranya saat menyadari dimana ia berada. Detak jantung serta nafasnya yang tak karuan segera mereda setelahnya.
Alesya memandangi tangannya yang masih sedikit gemetar untuk beberapa saat. Memejamkan matanya, kilatan dari mimpi yang baru saja ia alami terlintas di benaknya. Alesya sudah tak memimpikan kejadian saat ia tertimpa lampu panggung setelah ia keluar dari rumah sakit. Mungkin karena kejadian tadi sore ia kembali memimpikannya.
Namun Alesya bersyukur bahwa yang ia mimpikan hanyalah saat ia mengalami kecelakaan itu, bukan mimpi soal kejadian itu ataupun tentang orang itu.