The Real Crazy Duda.

The Real Crazy Duda.
selamat tinggal Devan.



FOLLOW IG AUTHOR:NIS3263.


HAPPY READING.


“mayat?!apa maksud mama mayat?Devan ku pasti akan baik-baik saja.dia akan kembali dengan nyawa yang utuh, karena dia ingin melihat ku menikah.ingin mengantar ku ke pelaminan,dan menyerah kan ku pada suami ku!.”teriak Lily tidak terima.


“lily,Lily jangan seperti ini.”max menarik bahu lily.


“devan.”gumaman terakhir yang terdengar dari bibir Lily,sebelum gadis itu pingsan di dalam pelukan max.


Hotel Xxxxxxxx.


Max menghela nafas panjang.menatap sosok cantik yang tengah terbujur di atas ranjang hotel.


“dia pingsan, karena belum terima pada kenyataan.sedari dulu hanya Devan yang ia miliki,yang dia jadi kan tumpuan hidup.aku yakin sangat berat bagi nya menerima fakta,bahwa bisa saja Devan.....sudah tiada.”


ujar papa Devan setelah selesai memeriksa keadaan Lily.


“saya turut berduka om,atas tragedi yang sudah menimpa Devan.”ujar max Prihatin.


Di mata max,papa Devan adalah laki-laki yang hebat.hati nya remuk redam,namun mampu menempat kan diri agar terlihat baik-baik saja.


“kalau begitu saya permisi,jika terjadi sesuatu pada Lily, hubungi saya.”pamit papa Devan.


Max berdiri dari duduk nya, Merapih kan selimut Lily sebelum berlalu keluar.


Dia sengaja memesan dua kamar yang bersebelahan,agar lebih mudah memantau kondisi Lily.


“pak max sedang apa anda di sini?.”sapa Ryan yang juga turun langsung untuk menjadi kameramen.


“kau sedang apa disini?.”tanya max balik.


Kenapa ada laki-laki ini di sini sih?!dia selalu ada di mana pun Lily berada.


Umpat max dalam hati kesal.


“saya yang meliput secara langsung pencarian korban.karena itu saya di sini.oh ya anda sendirian atau bersama Lily? Di mana dia sekarang?Devan salah satu korban pesawat jatuh?.”


Masih dengan sopan santun yang tertata rapi,Ryan bertanya tanpa jeda.


“dia sedang tidur,jika ingin menemui nya kau bisa bertemu besok.”jawab max dingin,berlalu pergi masuk ke dalam kamar inap nya.


Jakarta.


“apa?.”ryo yang sedang makan malam, langsung bangkit begitu mendengar kabar dari seseorang.


“ada apa Ryo?.”tanya papa.


“devan masuk dalam list korban pesawat jatuh di Natuna.”jawab Ryo dengan bibir yang bergetar.


“astaga.”mama dan papa Lila memegang dada nya yang terasa sesak.


“bagaimana bisa?.”tanya Lila bingung.


“tentu saja bisa,dia pergi ke Papua.”jawab Ryo.


Bagus,sedikit demi sedikit Lily kehilangan orang-orang yang ada di sisi nya.


Gumam Lila lirih.mata nya mengulas seringai sangat licik.


Back to Natuna.


“evan!!!.”pekik Lily bangun dari tidur nya.


Mendengar suara teriakan Lily yang sampai hingga ke kamar inap nya.max segera menerobos masuk.


“di mana Devan?.”tanya Lily sendu.


“tim SAR sedang mencari nya,kita berdoa yang terbaik saja ya?.jangan seperti ini,kondisi mu akan memburuk.”max mendekap pelan tubuh Lily,memberi kan kata-kata penuh ketenangan.


“bagaimana jika dia tidak selamat?.”


Max tertegun.untuk pertama kali nya,ia melihat Lily tersenyum dengan sangat miris.


“hanya Allah yang tau,berdoa saja yang terbaik.jika memang hanya mayat Devan yang di temu kan,kau harus ikhlas.itu adalah akhir nyawa nya.”ujar max penuh kelembutan.


Dua hari kemudian.


Kabar di temukan nya bangkai pesawat Tiger air mx17 sudah mulai terdengar.radar melihat pesawat terbagi menjadi tiga bagian yang berada dalam radius cukup dalam.


Lily hanya berdiri diam.sudah tiga hari ia di sini,menunggu sebuah kabar tentang sang sahabat.


Beberapa aktivitas manggung nya juga terpaksa di batal kan.bagi Lily,uang tidak sepenting Devan sahabat nya.


Di mana kau?.


Gumam Lily pelan, netra nya menatap sendu ke arah hamparan laut yang sangat luas.mungkin saja,laut yang akan menjadi tempat terakhir Devan nya bersemayam.


“lily!.”panggil Liam yang baru datang dari Korea.


“sudah ada tanda-tanda di temu kan nya korban?.”laki-laki bernama lengkap song Li-am itu bertanya sendu.


Lily hanya menggeleng.dada nya terasa sesak,hingga air mata tanpa sadar mengalir.


Aku sendirian Devan.


Selama dua hari ini,Lily ada di kepulauan Natuna seorang diri.menghabis kan setiap hari nya, melihat langsung pencarian korban.


Max, sebagai seorang pimpinan dia tidak bisa meninggal kan pekerjaan nya begitu lama.


Max bukan CEO di novel-novel yang bisa ongkang-ongkang kaki.tanggung jawab yang ia pikul sangat lah besar.


“kita berdoa yang terbaik, semoga Tuhan masih memberi Devan umur.”doa Liam.


“pesawat nya tenggelam liam.umur apa yang kau maksud Hem?.kau lihat mereka?.”


Lily menunjuk ke arah para relawan,baik dari media,warga setempat, ataupun keluarga korban yang sedang mengadakan doa bersama.memohon kemudahan dan kelancaran proses pencarian korban,jatuh nya pesawat.


Di antara mereka hanya ada beberapa orang yang masih menanti sebuah keajaiban.keajaiban dan keluarga nya akan baik-baik saja.


“mereka berdoa agar korban di temu kan.entah itu dalam keadaan bernyawa yang sangat mustahil,atau mayat nya saja.”jawab Lily lirih.


Liam terdiam sejenak, menggengam sebelah tangan lily.ini saat nya saling menguat kan.


“kita harus menerima yang Tuhan takdir kan,termasuk kepergian Devan untuk selama nya.”


“mereka sedang apa?.”tanya Lily bingung.


“mereka sudah menemukan badan pesawat nona,dan sedang berusaha mengangkat nya.juga mengevakuasi jasad korban.”jawab seorang wanita yang ada di sebelah Lily.


Apa aku harus mengikhlaskan mu sekarang?.ku mohon jangan membuat ku gila Devan.


Lily hanya mengangguk.


Tengah malam.evakuasi berhasil,para korban juga berhasil di evakuasi,ada yang masih dalam keadaan utuh.dan juga ada yang kehilangan beberapa anggota badan nya.


Keluarga korban juga sedang di data,untuk melakukan pencocokan.


Ketua tim SAR mengatakan besok sore korban selesai diidentifikasi.


“lily ayo pulang!.”ajak Liam pada Lily yang sibuk memandangi ambulance yang berdatangan.


“lily.”sebuah tepukan di darat kan oleh Liam pada bahu Lily.


“ya?.”tanya Lily kaget.


“ayo pulang,ini sudah malam udara di pantai sangat dingin.”ajak Liam, menarik tangan Lily.


selamat tinggal Devan,aku akan kembali......


# Like, komen and vote ya readers kesayangan author bidadari ayah.