
FOLLOW IG AUTHOR:NIS3263.
HAPPY READING.
“ayo!.”ajak manager Lily,membuka kan pintu mobil untuk Lily.
“tunggu!.”
Baru saja hendak melangkah kan kaki nya masuk ke dalam mobil.sebuah teriakan, membuat Lily reflek menoleh.
“semoga berhasil.”max mengulur kan sebuah coklat batangan berukuran jumbo.
“ini untuk ku ya?.”tanya Lily,tapi tangan nya reflek mengambil coklat yang di ulur kan max.
“iya,coklat akan membuat Mood mu lebih baik.”ujar max penuh kebanggaan.
“terima kasih.”balas Lily.
“masuk lah ke dalam mobil,kau akan terlambat.”
Lily mengangguk,setelah memberi kan senyum paling terbaik yang ia miliki,Lily masuk ke dalam mobil.
Max tersenyum puas, melihat baby girl nya tumbuh menjadi orang sukses.
Mall xx.
Lily mengisi sebuah acara dengan suara nya yang merdu,dan unik.
para penggemar berdatangan tanpa tangan kosong.mereka semua membawa hadiah untuk Lily, tentu saja gadis cantik itu tersenyum penuh kebahagiaan.
Di tempat yang sama juga,Liam sedang duduk.memandang ke arah Lily dengan pandangan penuh cinta.
Setelah selesai menyumbang kan beberapa lagu,dan menyapa fans.lily tiba di sesi fansign,di mana dia akan menerima beberapa hadiah dari fans.
“ini untuk mu.”lily mendongak,menggeleng kan kepala nya karena ternyata yang datang adalah Liam.
“ini acara untuk fans Liam,jika kau ingin meminta tanda tangan ku,datang ke asrama.”ujar Lily malas,menggeser tubuh Liam.
“aku salah satu fans mu!aku ingin minta tanda tangan di dada ku.”ujar Liam penuh percaya diri,menunjuk ke arah dada bidang nya.
“mau di buka kaos nya nggak?.”goda Lily.
“no,di luar nya saja.”
Lily mengangguk,membuka tutup spidol sebelum membubuh kan tanda tangan nya di kaos bagian dada Liam.
“dengan begini,aku resmi jadi milik mu.di hati ku hanya ada nama mu.”ujar Liam penuh percaya diri.
Dia hanya bercanda,pasti kan?.ku mohon,aku sudah terlalu nyaman dalam friends zone.
Dalam hati Lily mulai merasa was-was.takut Liam tidak bisa menjaga hati seperti Devan.
Lily tidak pernah mengharap kan sekali pun dalam hidup Nya, berpacaran dengan sahabat nya sendiri.
“ada-ada saja.”kekeh Lily.
“kau sibuk nanti?aku ingin makan malam berdua dengan mu?.”tanya Liam.
“aku akan pulang ke rumah sebentar,ada beberapa barang ku yang tertinggal di kamar.”jawab Lily penuh kebahagiaan.
“ah baik lah,nikmati kebahagiaan mu girl.aku akan pergi sebentar.”pamit Liam
Lily mengangguk pelan,melambai kan tangan nya pada Liam yang sudah berlalu pergi dari sana.
Empat jam kemudian.
Lily meregang kan leher nya yang sudah terasa lelah,memati kan layar komputer di hadapan nya.
“aku menyesal menjadi penyanyi dan copy editor sekaligus.”gumam Lily pelan.
“ayo,mau shalat nggak?.”qilla datang ke ruangan copy editor,mengajak Lily untuk shalat.
“lagi libur.”jawab Lily,sembari berdiri.
Lily dan Qilla berjalan bersamaan, menuju tempat yang berbeda.
“sangat, shhh.”lily mendesis pelan,mulai berjongkok,melepas Hells di kaki nya.
“kau belum ganti perban?.”tanya Qilla khawatir.
“belum,sibuk hari ini.tapi kok,sakit ya?.”jawab Lily, memandang ke arah telapak kaki kanan nya.
“mungkin infeksi.kau sih,kenapa nggak mau ke dokter?.”gerutu Qilla kesal.
Lily hanya terdiam,sembari melepas kedua Hells nya,lalu menenteng nya.
“kau yakin bisa jalan?.”tanya Qilla,menatap ngeri ke arah kaki Lily.
“tenang,aku kan strong.”kekeh Lily, mengerjap-ngerjap pelan.
secara perlahan Lily berjalan,dengan langkah tertatih-tatih menahan nyeri.di bantu dengan Qilla,yang dengan setia merangkul sang sahabat.
“loh,Lily kenapa?.”ryan yang baru keluar dari studio, mendekat,lalu berjongkok.
“kaki nya sakit,kemarin waktu kabur dari rumah nggak sengaja menginjak paku.sudah di obati.”qilla yang mengambil alih jawaban.
“ku rasa ini infeksi,kau juga kenapa pakai Hells sih?.”tanya Ryan kesal,memegangi salah satu kaki Lily.
Ya,ini juga salah ku.
Lily membatin.sebenar nya,sejak tadi pagi Lily sudah mulai merasa kan nyeri di kaki nya.pada hal kemarin baik-baik saja,tapi ia abai dan tetap memakai Hells.
secara perlahan Ryan mulai memeriksa kondisi kaki Lily,tangan nya menyentuh perlahan luka yang sudah membengkak di kaki gadis itu.
“awh.”teriak Lily reflek, karena Ryan menekan kaki nya yang bengkak.
“kak sakit.”lily mulai terisak, karena luka di kaki nya semakin terasa sakit.
“aku akan bawa Lily ke rumah sakit,kau di sini saja.”titah Ryan pada Qilla,yang langsung mengangguk pelan.
Ryan segera menggendong tubuh Lily ala bridal style,tanpa mempedulikan Lily yang terus terisak lirih,dalam dekapan dada bidang Ryan.
Tangan max mengepal pelan.tatapan mata nya berubah tajam.urat-urat di leher nya mulai timbul,di ikuti rahang yang mulai mengeras.
“berani sekali dia menyentuh lily ku.”ujar max kesal,menatap tajam ke arah punggung Ryan yang sudah berlalu pergi.
“berhenti cemburu brother, kau tidak lihat Lily terisak, mungkin saja kaki nya sakit.”
Ricko yang baru datang langsung menggerutu kesal,menatap tajam ke arah max,dengan pandangan kesal.
Kaki nya sakit.
Max menghembus kan nafas pelan, sadar bahwa mungkin kaki Lily benar-benar sedang sakit sekarang.
“ayo,makan aku lapar!.”ajak Ricko,menarik tangan max.
“ayo,aku lapar.”rengek ricko lagi, menarik-narik tangan max.
“diam,dan henti kan tingkah menjijikan mu itu.”gerutu max,menepis kasar tangan ricko,membuat laki-laki itu memberengut kesal.
“ayo!.”tanpa memperduli kan,wajah kesal ricko,max melangkah lebih dulu.
kantin.
max hanya memangku wajah mengguna kan kedua tangan nya,tidak menghirau-kan makanan di hadapan nya.
pada hal banyak makanan dengan menu yang super lezat,tapi Fikiran max hanya tertuju pada satu hal,yaitu Lily dan Lily.
dia baik-baik saja kan?.sial,kenapa aku sekhawatir ini.aku yakin dia baik-baik saja,bodoh seharusnya aku mengobati nya kemarin!!!ah sial.
ricko terkekeh pelan melihat max yang terus termenung seorang diri.
“dia akan Baik-baik saja,ada laki-laki bernama Ryan di sana.dia pasti akan menjaga Lily, terlihat dari mata nya saja dia menaruh rasa pada lily.”ucap ricko.
satu kebiasaan yang dia miliki,menenang kan sekaligus memanas-manasi.suatu kehandalan yang hanya di miliki oleh nya seorang diri.
# Like, komen and vote ya readers kesayangan author bidadari ayah.