
Melihat ekspresi Brandon, mata Angga terbelalak tidak percaya.
"Siapa, Brand? Siapa yang berhasil menghancurkan hati seorang Brandon Rivaldo Sutomo? Siapa?" tanya Angga senang sekaligus penasaran, masih tidak percaya.
"Sotoy lo, Ga" Brandon melemparkan kertas yang sudah di buatnya berbentuk bola kepada Angga. Angga langsung menghindari lemparan Brandon begitu melihat Brandon melemparinya.
"Mana Brandon yang gue kenal? Brandon yang kerjaannya gonta-ganti cewek tiap minggu? Gua nggak liat tuh, lo jalan bareng sama cewek dalam dua minggu ini. Kalo dugaan gue salah, terus elo kenapa sih, bro? Atau jangan-jangan, waduh" ucap Angga terlihat menyadari sebuah rahasia besar.
"Jangan-jangan gue apa?"
"Gay? homo?" Angga memandangi Brandon dengan wajah takut di buat-buat.
"Gay kepala lo" Brandon kesal dengan Angga yang mempertanyaka orientasi seksualnya. Dia bukan-nya anti dengan namanya lgbt, tapi dia bukan gay. Dia suka dengan namanya wanita.
"Impotent?" Angga kembali menerka.
"Eh, kampret, siapa juga yang impotent. Gue cuma banyak pikiran akhir-akhir ini. Elo kali yang impotent"
Brandon memang banyak pikiran. Dan semuanya itu tentang wanita tersebut. Wanita yang sampai sekarang bahkan namanya saja tidak diketahui Brandon.
Get a grip, Brand. Hidop lo aman-aman aja sebelum wanita itu muncul. Masih banyak ikan di laut sana. Masih banyak wanita cantik yang jauh lebih cantik dari wanita itu. Wanita yang tentunya tidak akan mencampakan elo.
Brandon pun melirik Angga lalu menyeringai dan mengangkat kedua alisnya.
"Elo kenapa natap gue kayak gitu? Shit, Brand. Jangan bilang elo beneran gay?"
"Eh setan, kali ini gue bener-bener kasihan sama nyokap lo" Brandon menggelengkan kepalanya menatap Angga sedih.
"Sialan lo, Brand. Salahin tuh tatapan mesum elo, jangan salahin gue. Nyokap gue beruntung punya anak kayak gue"
"Salahin IQ jongkok elo, Ga" ucap Brandon bercanda, "Bentar malam kita ke tempat biasa. Panggil juga tuh sih Daniel sama Ferrel kalo mereka gak sibuk" tambahnya tersenyum rahasia.
***
Tempat biasa yang dimaksudkan Brandon adalah sebuah kelab. Kelab ini merupakan tempat yang sering mereka berempat kunjungi. Kelab ini salah satu kelab ternama di Indonesia. Penjagaannya sangat ketat. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam kelab ini.
Orang-orang yang biasa datang ke kelab ini kebanyakan dari kalangan elit. Artist, model, anak-anak konglemerat, dan berduit. Semua minuman dan makanan yang ada di keleb ini juga bisa dikatakan sangat mahal di bandingkan dengan kelab lainnya yang ada di Indonesia.
Melihat suasana kelab yang sangat ramai, Brandon mengajak Angga untuk duduk di Bar. Mereka berdua langsung pun memesan gin dan tonic pada bartender.
Cahaya remang-remang dan lampu kelap-kelip meliputi hampir seluruh ruangan kelab.
Kepala Brandon mengangguk mengikuti irama musik EDM yang sedang di putar sembariĀ memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya. Mata Brandon pun bertatapan dengan mata indah Feli yang sedang berjalan ke arahnya.
This's it, Brand. This's your game. Gumam Brandon dalam hati meyakinkan dirinya.
Brandon pun mengeluarkan senyum mautnya itu.
Feli merupakan seorang model. Cantik, badannya kurus dan tinggi. Sama seperti model-model pada umumnya.
Dengan wajah merajuk yang di buat secantik mungkin, Feli memeluk pinggang Brandon, "Kamu kok baru kelihatan si? kemana aja selama ini?" Tanya Feli dengan suara manjanya.
Entah kenapa begitu mendengar suara manja Feli, Brandon merasa ngeri, "Gue sibuk" Balas Brandon berusaha menarik diri.
Begitu Feli memeluknya dia merasa jijik. Dia merasa tidak enak badan. Brandon merasa ada yang salah dengan dirinya itu.
"Lo bisa nggak lepasin tangan lo? Gue gerah soalnya" ucap Brandon mencari alasan.
Feli menatapnya dengan ekspresi bingung. Merasa ditolak Brandon, dia pun melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Brandon.