
"Apa? gue nggak salah dengar?" Ucap Sarah kaget.
"Elo nggak salah denger. Telinga elo baik-baik saja" Balas Brandon acuh.
"Elo becandakan?" Tangan yang di silangkannya sekarang sudah mengepal. Tidak percaya.
Gila aja ini orang mau ngambil hak asuh anak gue. Emang playboy bisa jaga anak? Pacar aja gonta-ganti kayak ganti baju, eehh mau main ngambil hak asuh anak. Jangan-jangan pas dianya bosan jagain anak gue, bisa-bisa anak gue di titipin di panti asuhan lagi.
Gerutu Sarah tidak senang dalam hati.
"Gue serius" Jawab Brandon berjalan menuju Sofa yang ada di ruang kerja Sarah. Mata Sarah tidak lepas dari Bradon. Dengan santainya Brandon duduk menyilangkan kedua kaki dan tangannya menatap Sarah.
"Ohh, pede banget elo ya. Emang elo yakin bakalan menang ngelawan gue?" Sarah tersenyum menyindir. Berjalan, kemudian duduk di sofa yang ada di depan Brandon duduk.
Dia yakin bahwa Brandon tidak akan mendapatkan hak asuh anak mereka. Reputusi playboy-nya itu tidak mungkin membuatnya menang.
Sarah mengamati ekspresi wajah Brandon. Brandon tidak menanggapi ucapannya. Dia terlihat santai-santai saja. Brandon bahkan tersenyum mendengar ucapan Sarah. Dia melihat ada sesuatu yang terbesit di mata Brandon. Sesuatu yang Sarah yakin tidak akan berdampak baik akan dirinya.
"Gue yakin banget kalo gue bisa menang dari lo" Brandon tersenyum tipis.
Sarah menatapnya dengan alis berkerut. Dia ingin tahu dari mana rasa percaya diri Brandon itu muncul. Apa yang membuat Brandon bisa berpikir akan menang malawannya di pengadilan nanti.
"Emang elo bisa apa? antara seorang vokalis band terkenal yang super sibuk sekaligus seorang playboy dan seorang wanita kantoran yang kerjaan dan penghasilannya bagus, gue yakin gak mungkin elo yang menang" Jelas Sarah sinis menatap Brandon. Yang di balasnya dengan tatapan penuh makna.
"Eitss, elo salah besar. Gue akan berubah demi anak gue. Pengadilan juga akan lebih menerima gue daripada lo. Gue akan bilang sama mereka bahwa gue mau tanggung jawab. Gue mau nikahin elo karena peduli anak gue, tapi elonya malah nggak mengijikan" Jelas Brandon dengan tatapan menantang Sarah.
Emosi Sarah mulai naik. Setiap kali dia berhadapan dengan Brandon, darahnya selalu naik. Dia bisa hipertensi.
Dasar cowok sialan, brengsek, bajingan, nggak tau malu!! Runtuk Sarah dalam hatinya.
"Gue nggak bilang kalo elo nggak boleh tanggung jawab. Gue bilang elo nggak usah nikahin gue" Sarah merasa sangat kesal dengan Brandon.
Dia melihat Brandon menggertakan giginya begitu mendengar ucapannya itu.
Sarah tidak pernah melarang Brandon bertanggung jawab pada anak yang ada di dalam kandungan Sarah. Sarah tahu kalau dia tidak bisa memisahkan seorang anak dengan ayahnya. Dia tidak tega melakukan hal tersebut kepada anaknya sendiri. Sarah hanya tidak ingin cara tanggung jawab Brandon dengan cara menikahinya. Cuma itu. Dan Brandon tidak pernah mengerti akan maksudnya itu.
Ngapain juga ni orang pake ngucapin aku-kamu segala. Dasar cowok aneh.
"Gue bilang elo nggak usah tanggung jawab kalo elo merasa bersalah. Gue juga nggak ingin kehidupan lo yang dulunya begitu waahh, suka main sana-sini berubah drastis karena lo terikat sama gue. Elo tau artinya pernikahan-kan?" Tanya Sarah menantang Brandon. Dia tahu kalau orang seperti Brandon ini tidak mau memiliki hubungan yang rumit dan terikat.
Nggak mungkin dia ngorbanin hidupnya yang berharga itu hanya untuk sebuah pernikahan.
Dia yakin bahwa Brandon akan memikirkan tawarannya lagi.
Brandon menatap Sarah tidak suka, dia yang semula duduk santai, sekarang berubah kaku, "Orangtua ku nggak pernah ngajarin aku untuk lari dari sebuah tanggung jawab. Mereka pasti akan kecewa jika mengetahui anak mereka menghamili seorang wanita dan tidak menikahinya" Hati Sarah sedikit melembut ketika Brandon menceritakan orangtuanya.
"Elo juga nggak usah pake aku-kamu segala" Ucap Sarah merasa canggung tidak tahan dengan perubahan gaya bicara Brandon.
Suara ketukan pintu, membuat Sarah menghentikan pembicaran mereka.
Dina masuk dengan membawakan dua cangkir kopi. Selesai meletakan dua cangkir kopi di atas meja, sekretarisnya itu pun keluar meninggalkan mereka berdua.
Atmosfir ruang kerja Sarah berubah mencekam. Brandon menyesap kopinya dengan tenang. Tidak terlihat bahwa dia sekarang sedang berada dalam pembicaraan serius dengan Sarah. Lain halnya dengan Sarah, tampak dari raut wajahnya, dia sedang memikirkan sesuatu.
Perasaan Sarah saat ini campur aduk. Ketika Brandon mengatakan bahwa orangtua Brandon idak mengajarkannya lari dari sebuah tanggung jawab, Sarah sadar. Ternyata ini tidak hanya melibatkan mereka berdua, orangtua mereka juga sudah pasti ikut terlibut.
Sarah takut kalau orang tua Brandon akan akan berpikir bahwa Sarah menjauhkan anaknya dari ayah kandungnya. Mereka juga pasti akan berpikir Sarah tidak menerima Brandon sebagai ayah dari anak yang ada di kandungannya ini. Melihat Sarah yang tidak mau menikahi Brandon.
Sarah mendesah. Orangtuanya juga pasti tidak mau Sarah melakukan hal yang memalukan bagi keluarganya. Orang tua Sarah selalu menyuruh Sarah berpikir dengan rasional dalam menanggapi setiap permasalahannya. Dia tidak boleh mengikuti kata hatinya jika menghadapi masalah seperti ini. Dia juga harus memikirkan keluarganya, keluarga Brandon dan yang paling penting adalah dia harus mengutamakan anak yang ada di kandungannya.
Sarah menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Ya, mungkin sebaiknya dia menerima ajakan Brandon. Toh, tidak ada ruginya buat dirinya.
Dia membuat keputusan. Dia tidak boleh egois, ini bukan saatnya untuk memikirkan apa yang dia mau. Dia lalu melirik Brandon yang masih diam menikmati kopinya.