
Dua hari lalu Brandon bertemu dengan orangtua Sarah. Satu hari sebelum bertemu, Brandon gugup setengah mati. Dia bahkan hampir tidak tidur karena terlalu khawatir.
Di kepala Brandon, orangtua Sarah sudah pasti tidak menyukainya karena membuat anak mereka hamil. Apalagi Brandon adalah orang asing. Bukan pacar Sarah.
Tapi dugaan Brandon keliru. Mami Sarah menerimanya dengan ramah. Ya, walaupun ayah Sarah tidak pernah tersenyum ketika melihat Brandon selama pertemuan, setidaknya Brandon bersyukur karena ayah Sarah tidak mamaki atau membunuhnya.
Brandon juga kaget ternyata Sarah adalah anak dari pengusaha ternama Bagas Saputra. Pantas saja posisi Sarah di kantor tinggi. Semakin Brandon mengenal Sarah, semakin Sarah terlihat lebih menarik di mata Brandon.
Sarah sudah mengirimnya pesan menanyakan keberadaan Brandon.
Brandon meminta orangtuanya untuk bersiap-siap. Meskipun sudah mengenal orangtua Sarah, Brandon masih saja merasa sedikit gugup.
Ketika memasuki kawasan perumahan orangtua Sarah, tangan Brandon mulai berkeringat dingin. Perutnya sedikit mual karena gugup.
Tiba-tiba saja Papi Brandon memecahkan keheningan di dalam mobil, "Lah ini dekat sekali dengan rumah teman Papi dan Mami, Brand" Sahut Papinya yang duduk di belakang. Brandon duduk di depan mengemudikan mobil sedangkan orang tuanya itu duduk di kursi belakang mobilnya.
"Oyah? Siapa?"
"Lah iya, Papi dan Mami belum lama ini ke rumah mereka. Ada, teman papi waktu kuliah dulu" Maminya yang duduk di sebalah Papi menganggukan kepala membenarkan.
Sebelum sampai di rumah orang tua Sarah, Brandon memutuskan untuk mengatakan kepada orang tuanya alasan dia dan Sarah menikah, "Oyah, ada yang pengen Brandon bilang sama Mami dan Papi sebelum kita bertemu dengan orangtua Sarah" Gumam Brandon melirik Mami dan Papinya dari kaca yang ada di dalam mobil.
"Kamu mau bilang apa?" Tanya mami-nya terdengar penasaran.
Brandon melirik lagi orang tuanya itu lalu kembali menatap jalan yang ada di depan. Dia menarik nafas dengan perlahan kemudian di hembuskannya dengan pelan "Sarah sedang hamil" Orang-tuanya tampak terkejut dengan perkataannya itu. Mata papi-nya terbuka lebar begitu mendengar ucapan Brandon. Maminya sampai mengerjapkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Brandon.
"Hamil? Anak kamu-kan, Brand?" Mami mendongak memandangi Brandon. Papinya pun terlihat serius ingin mendengar jawaban Brandon.
Maminya pun menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi lalu mulai mengelus dadanya. Papinya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Sudah berapa lama?" Tanya papi-nya yang sekarang ini sedang memejamkan matanya.
"Lima bulan" Balas Brandon. Mami langsung menatap Brandon lewat kaca yang ada di dalam mobil. Kaget dengan berita yang diberikan Brandon.
"Kamu yakin itu anak kamu?" Ucap Papinya yang sekarang sudah membuka matanya. Brandon mendesah mendengar pertanyaan dari Papinya itu.
Nggak mungkin gue nikah sama cewek yang sedang hamil kalo bukan gue yang menghamilinya. Pertanyaan Papi konyol banget. Gerutu Brandon dalam hati.
"Aku yakin seratus persen, pi" Orang tuanya itu hanya mendesah mendengar jawaban dari Brandon.
***
Karena terlalu tenggelam dalam pembicaraan mereka yang sangat serius itu, orang tua Brandon tidak sadar kalau Brandon mulai memelankan laju mobilnya.
"Udah nyampe, pi, mi" Ucap Brandon menghentikan mobilnya di depan rumah orang tua Sarah. Dia kemudian membuka seat belt yang dipakainya lalu berbalik menghadap orang tuanya.
Mami dan Papinya terlihat sangat terkejut begitu menyadari bahwa mereka sudah sampai di rumah orang tua Sarah. Brandon memberengut melihat ekspresi kedua orangtua-nya itu.
***