The Playboy's Baby

The Playboy's Baby
31



"Ehem-ehem" Sarah berusaha menarik perhatian Brandon.



Brandon meletakan cangkir kopinya di meja lalu menoleh menatap Sarah. Dia mengangkat sebelah alisnya menandakan bahwa dia siap mendengar apa yang akan di katakan  Sarah.



"Gue akan menikah sama elo" ucap Sarah menatap Brandon tanpa ekspresi, "Tapi ada syaratnya" Tambah Sarah. Dia melihat perubahan ekspresi Brandon berubah drastis. Dari tersenyum begitu mendengar bahwa Sarah mau menikah dengannya, seketika menjadi masam begitu Sarah megatakan bahwa Sarah memiliki syarat sebelum mereka menikah.



Brandon mengerutkan dahinya. Dia lalu menyisir rambutnya dengan jari kemudian menatap Sarah dengan wajah ingin tahu, "Apa syaratnya?"



"Gue mau pernikahan kita dilakukan dengan sederhana saja. Gue nggak mau acara pernikahan kita di buat besar-besaran. Cukup keluarga dekat dan teman dekat kita" Jelas Sarah.



"Oke" Brandon tersenyum gembira. Jantung Sarah langsung berdebar-debar dengan cepat begitu melihat senyuman Brandon, "Hanya itu?" tambah Brandon masih tersenyum. Sarah mengalihkan padangannya. Dia mencoba mengontrol perasaan dan detak jantungnya yang sekarang berdetak dengan sangat kencang.



Sarah mengangkat cangkir kopinya di meja, "Ada lagi"



"Apa?" Tanya Brandon terdengar penasaran.



Sarah menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan lalu menyisip kopinya itu.



"Gue nggak mau kita melakukan hubungan suami istri, gue juga minta kamar gue sendiri. Dan gue minta kita berdua gak usah ikut campur dalam urusan pribadi kita masing-masing" Brandon mengangguk mengerti.



"Adalah lagi yang mau kamu tambahin, my dearest soon to be wife?" Brandon masih tersenyum.


Suara Sarah langsung tercekat, jantungnya mulai berdebar dengan cepat lagi begitu mendengar Brandon mengucapkan kalimat terakhir tadi.



Sialan, bisa-bisa kena serangan jantung gue kalo kayak gini terus.



"Udah gue bilangin elo nggak usah pakai aku-kamu segala. Elo sama gue itu nggak punya hubungan spesial" Jelas Sarah kesal pada Brandon.



Dia melihat bahwa Brandon mulai menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya. Sarah tambah kesal pada pria yang ada di hadapannya ini. Melihat Ekspresi Sarah yang terlihat lebih kesal karena Brandon, Brandon pun tidak tahan menahan tawanya itu. Dia tertawa keras. Dan itu membuat Sarah dongkol setengah mati.



Brandon seketika berhenti tertawa begitu melihat tatapan yang diberikan Sarah kepadanya



"Sorry, sorry. Kalau soal itu aku nggak bisa janji sama kamu" Brandon tersenyum dengan mempertunjukan giginya yang putih.



Sarah hanya bisa mendengus mendengar ucapan Brandon barusan. Dia tahu dia tidak bisa menghentikan Brandon.




"Hmm" Gumam Sarah.



Sarah baru menyadari bahwa Brandon hanya memakai kaos putih polos dengan celana jeans hitam yang di paduhkan dengan sepatu fantofel bootsnya. Dia terlihat muda.



Sarah juga sebenarnya tidak tahu berapa tepatnya umur Brandon, tapi dilihat dari wajah dan tubuh Brandon, sepertinya umur mereka berdua tidak terpaut jauh.



Sebelum Brandon keluar dari ruang kerja Sarah, dia berbalik lalu tersenyum dan berkata, "Oyah, soal tadi yang kamu bilang kita gak boleh melakukan hubungan suami istri, akunya sih nggak bisa bilang seratus persen kalau kita berdua gak bakalan ngelakuinnya. Dilihat dari bagaimana tubuh kamu merespon sentuhan aku di Bali lalu, aku nggak bisa yakin kalau kamu akan tahan untuk tidak melakukannya lagi. Hasilnya juga-kan sekarang sudah ada di perut kamu" Brandon mengedipkan sebelah matanya, tersenyum lebar kepada Sarah lalu bergegas keluar meninggalkan ruangan Sarah.



Sarah terbelalak. Dia megap-megap.



Holly shit! What the freaking banana is wrong with him?? Damn him!! Umpat Sarah dalam hari.



"No way!!" Teriak Sarah sekeras-kerasnya. Dia tidak peduli bila ada karyawan yang mendengarnya berteriak.



Nyesel gue nerima ajakan itu cowok. Bisa-bisa gue mati berdiri dibuatnya. God Bless me.



*******



Respon dari keluarganya dan Erina sudah seperti dugaan Sarah. Mereka menyelamati Sarah dengan penuh kebahagiaan ketika mendengar bahwa Sarah akan menikah dengan ayah dari anak yang ada di kandungannya.



Orangtuanya bahkan menyuruh Sarah untuk membawa Brandon bertemu dengan mereka. Mereka ingin mengenal Brandon dengan lebih baik lagi.



Sarah berharap bahwa keputusannya menikahi Brandon tidaklah salah.



Dalam pernikahan yang di bayangkan Sarah, dia ingin menikah dengan orang yang dicintai dan mencintainya. Setelah menikah dia ingin memiliki dua anak, satu perempuan dan satu laki-laki.



Bukan seperti ini. Dia akan menikah dengan orang yang tidak dia kenal, tidak dicintai dan mencintainya. Dia  juga mengandung sebelum dia menikah.



Apa boleh buat, semua rencana Tuhan bukan rencana manusia. Sarah menerima apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Semua yang telah di rencanakan oleh Tuhan akan indah pada akhirnya. Sarah tahu ini.