The Playboy's Baby

The Playboy's Baby
10



"No.. No.. No. No" Sarah berteriak histeris ketika dia melihat tiga dari empat test pack yang di belinya menunjukan hasil positif. Kakinya serasa tidak memiliki kekuatan untuk menopangnya berdiri. Sarah jatuh terduduk lemas. Otaknya langsung kosong. Blank.



Shit!! What should i do now?



Sarah tidak tahu harus bagaimana dia menghadapai kehamilannya ini. Nama ayah dari anak yang dikandungnya saja, dia tidak tahu. Belum juga orangtua Sarah. Bisa kena stroke Papinya, jika tahu puteri kesayangan-nya hamil tanpa tahu pria yang menghamili-nya. Yang Sarah takutkan adalah Dimas. Sarah bahkan belum memberitahukan peristiwa yang terjadi di Bali lalu. Dan hal ini terjadi.



Ya, Tuhan.



Sarah menyesal pergi ke Bali.



*********



Hal pertama yang Sarah lakukan begitu dia mengetahui kehamilannya itu yaitu menghubungi sahabat baiknya, Erina. Begitu Sarah menelpon Erina, dia langsung meminta sahabatnya itu untuk datang ke apartementnya.



Untung saja hari ini weekend dan sahabatnya itu sedang berada di Jakarta. Biasanya Sarah hanya mengobrol via telpon dengan Erin karena jadwal Erin yang super padat.



Ketika Erin sampai ke apartementnya, Sarah dengan perasaan sedih dan bingung, menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu. Dari pertama kali dia bertemu dengan pria tersebut sampai bagaimana Sarah mengetahui kalau dia saat ini sedang mengandung anak pria tersebut.



Erina mendengarkannya dalam diam. Dia hanya mendengarkan tanpa Berkomentar.



"Rin. Elo dengar nggak apa yang gue omongin tadi? Udah panjang lebar gue curhat, lo-nya malah diem"



"Gue dengar, Sar. Gue bingung aja, ngapain juga tu cowok nyamperin lo terus pake acara nyium elo gitu" ucap Erin tidak mengerti.



"Gue juga gak tau, Rin. Itu cowok tiba-tiba aja nyemperin gue gitu. Ehh pas gue mau cabut, tu cowok malah nyium gue"



Erin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Sarah, "Cerita elo itu udah kayak di sinetron-sinteron aja, Sar"



"Sinetron dengkul mu. Ini tu reality buat gue. Nyata, Rin" Sarah sedikit kesal pada tanggapan dan reaksi dari Erin.




"Maaf, maaf. Terus rencana lo gimana? mau elo apain ni anak? gugurin?" tanya Erina serius yang di balas pukulan Sarah.



"Oww, Sakit. Ngapain lo mukul gue?" Erina mengusap lengannya yang di pukul Sarah sambil menatap Sarah bingung.



"Elo kalo ngomong di pikir dulu, Rin. Kapan gue bilang mau gugurin anak gue? Anak ini gak salah apa-apa. Gue nggak mungkin ngegugurin anak gue sendiri. Gue cuma takut aja Rin. Gue nggak tau harus ngapain"



Erin memeluk Sarah.



"Lo pasti bisa kok, Sar. Gue tau elo orangnya baik, kuat, mandiri, tegar, dan masih banyak lagi. Gue yakin elo bisa jadi ibu yang hebat buat anak lo, Sar. Elo juga punya bonyok lo yang sayang banget sama lo. Dan elo juga masih punya gue"



"Thanks banget, Rin. Elo itu emang sahabat gue yang paling baik" puji Sarah tersenyum masih memeluk Erin.



"Eiitss, jangan lupa cantiknya" canda Erin melepaskan pelukannya.



"Iya, cantik juga"



Erina adalah seorang model yang namanya cukup terkenal. Sarah dan Erin sudah berteman dari semenjak mereka duduk di bangku SMA. Walaupun sahabatnya itu terlihat ceria dan tegar seperti tadi, tapi Sarah tahu betul semua yang terjadi pada Erina. Apa yang terjadi pada Erina membuatnya menjadi seperti Erina yang sekarang ini.



"Terus Dimas gimana?" tanya Erin tiba-tiba.



Sarah hanya bisa mendesah, "Gue nggak tau, Rin. Mungkin besok gue ketemu, Dimas"



Erina mengelus pundak Sarah dengan lembut, "Elo pasti bisa kok, Sar. Semuanya pasti bakalan baik-baik aja. Elo yang kuat" Sarah tersenyum.



Dia sangat berterima kasih karena memiliki sahabat seperti Erin. Sarah sudah menganggap Erin layaknya saudara kandungnya sendiri.