The Playboy's Baby

The Playboy's Baby
28




Sudah dua jam semenjak Brandon mengirim pesan pada Sarah dan sampai sekarang Sarah masih belum membalasnya. Brandon juga sempat beberapa kali menelponnya tetapi tidak di angkat oleh Sarah.



Dia tidak mau memberikan isyarat lampu hijau pada Brandon. Dia takut Brandon menganggap Sarah menerima ajakan menikahnya itu. Sarah sudah yakin akan keputusannya itu. Dia tidak akan menikah dengan Brandon apapun alasannya.



Sorry Brandon. I can not marry you.



Berkas laporan tentang proyek barunya tergeletak berantakan di meja kerja. Sarah menghembuskan nafas berat menatap berkas tersebut.



Sementara mempelajari dan meneliti berkas-berkas tersebut, telepon kantor yang berada di atas meja berbunyi. Sarah kemudian menekan tombol jawab. Suara Dina, sekretarisnya itu terdengar dari speaker telpon.



"Maaf Bu Sarah. Ini ada Pak Brandon Rivaldo ingin menemui Bu Sarah" Ucapan Dina membuat Sarah kaget dan reflex berdiri.



What? ngapain Brandon kesini?



Sarah merapikan pakaiannya dan kembali duduk menjawab sekretarisnya, "Suruh naik saja ke ruangan saya" Sarah merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya.



What he's thinking?



"Baik bu Sarah" Sahut Dina.



Setelah Dina memberitahukan kedatangan Brandon, Sarah merasa khawatir. Bagaimana kalau Brandon tidak menerima keputusannya. Bagaimana kalau Brandon tetap ingin menikahinya?



Nggak. Gue nggak akan ngebiarin diri gue menikah dengan playboy seperti Brandon.



Keputusannya sudah bulat, suka atau tidak Brandon terhadap keputusannya itu, Sarah tetap akan menolaknya.


__________________



Brandon mengetuk-ngetukan jari telunjuknya ke meja. Sudah hampir satu jam Sarah tidak membalas pesannya. Teleponnya juga tidak di angkat. Ia khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Sarah dan janinnya.



Tiap detik Brandon selalu menoleh ke ponsel yang di letakannya di meja. Masih tidak ada tanda-tanda bahwa Sarah membalas pesannya itu.




Brandon hanya mendesah. Tiba-tiba handphonenya berbunyi dengan ringtone pesan masuk, menandakan bahwa ada seseorang yang mengiriminya pesan.



Dengan cepatnya dia langsung mengambil ponselnya di meja. Brandon mengerutkan dahinya begitu mengetahui bahwa yang mengirimkan pesan ternyata adalah operator telkomsel yang mempromosikan tentang paket sms terbaru dari mereka. Dia kecewa.



Sialan.



Apa dia menghindari gue? kalo itu emang alasannya nggak bales sms gue dan angkat telpon gue, dia ngeremehin gue. Gue nggak bakalan mundur Sar. Gue pasti dapetin elo.



"Elo kenapa bro? apa ini ada hubungannya sama cewek yang di restoran kemarin?" tanya Angga dengan wajah sangat penasaran. Brandon hanya membalasnya dengan anggukan kepala.



Teman-temannya itu dari kemarin terus saja bertanya perihal Sarah kepadanya.



"Emang itu cewek siapa si? hebat banget bisa bikin elo, Brandon Rivaldo, vokalis The Storm yang banyak di gilai perempuan, galau kayak gini?" ledek Angga dengan tersenyum lebar.



"Sok tau lo, Ga. Cuma temen gue doang" Balas Brandon. Dia tidak pernah menjelaskan hubungannya dengan Sarah pada teman-temannya itu.



"Temen doang aja muka elo udah bisa ngalahin si blackie yang seremnya minta ampun, gimana kalo pacar elo" Sindir Angga dengan tertawa kecil.



Brandon menatapnya dengan tatapan tajam. Angga mengangkat kedua tangannya menandakan bahwa dia tidak akan mengatakan sesuatu lagi.



"Chill out bro" Ucap Angga tersenyum menepuk punggung Brandon dengan pelan.



Tiba-tiba saja Brandon tersenyum.



"Dilihat dari mata lo yang mulai berbinar-binar, kayaknya elo lagi ngerencanain sesuatu. Kasih tau gue dong" Sahut Angga dengan tatapan ingin tahu.



"Rahasia" Brandon berjalan pergi meninggalkan Angga yang sedang mencibir tidak senang.