The Playboy's Baby

The Playboy's Baby
39



"Tenang Brand, Reno itu Kakak-nya Sarah" Jelas Ferrel mencoba menenangkan Brandon yang terlihat sudah hampir meledak itu "Ngomong-ngomong muka lo nggak cocok sama warna ijo" Tambah Ferrel. Brandon langsung menatap Sarah dengan tatapan menyesal. Sarah balas menatapnya dengan tatapan tidak sudi.



Sarah mengerutkan keningnya begitu menyadari apa sebenarnya maksud kalimat terakhir yang di ucapkan Ferrel kepadanya.



Nggak mungkin si Brandon cemburu. Desah Sarah dalam hati.



Ferrel akhirnya menjelaskan semuanya. Dia menjelaskan kepada Brandon kenapa dia sampai berkata seperti itu. Dia hanya ingin melihat reaksi dari Brandon. Ferrel juga berkata bahawa Brandon itu sifatnya sedikit seperti anak kecil. Brandon mengamuk begitu dikatakan seperti anak kecil.



Sarah bahkan tidak tahu bahwa Ferrel itu ternyata anggota bandnya The Storm. Dari dulu Ferrel dan Reno memang suka main musik, tapi Sarah tidak tahu kalau Ferrel ternyata meneruskan kegemarannya itu sampai bisa seperti sekarang ini.



Setelah Sarah bertemu secara langsung dengan semua anggota The Storm, dia merasa bahwa tidak semua yang dikatakan public itu benar. Buktinya mereka berempat tidak terlihat seperti apa yang di label-kan public kepada mereka.



Mungkin, di balik sikap arogan mereka berempat ada sesuatu yang lembut tersembunyi di hati mereka. Sama seperti sekarang ini. Sarah bisa melihat bahwa empat pria tampan yang ada bersamanya ini terlihat seperti pria-pria pada umumnya yang hanya ingin hidupnya normal selayaknya pria-pria biasa.



*********



Sarah sedang menunggu Brandon di ruang tunggu rumah sakit. Sarah tadi baru selesai melakukan pemeriksaan rutin buat kandungan-nya. Brandon saat ini sedang mengambil mobil di parkiran. Sementara menunggu Brandon, Sarah melihat sekelilingnya.



Suara-suara dokter berbicara dengan suster, dokter dengan pasien bahkan dokter dengan dokter, samar-samar terdengar di telinga Sarah. Suara langkah kaki di koridor rumah sakit sudah bercampur dengan suara orang yang sedang berbicara.



Sementara Sarah memperhatikan keadaan di sekitarnya, tiba-tiba Sarah mendengar seseorang memanggil namanya. Sarah menoleh dan mendapati bahwa Brandon sedang memperhatikannya dengan tatapan yang tidak bisa di baca Sarah.




Ni cowok semakin dilihat ternyata semakin ganteng. Astaga mikir apa sih gue. Sadar Sar, sadar. Lo nikah sama dia cuma buat anak yang ada di kandungan elo.



Sarah menggelengkan kepalanya mengusir apa yang baru saja di pikirnya itu.



"Mobilnya sudah di luar" Brandon tersenyum. Sarah pun berdiri dan mengikuti Brandon berjalan ke luar.



Belakangan ini Brandon banyak tersenyum kepada Sarah. Dia juga banyak meluangkan waktunya demi Sarah, seperti sekarang ini. Sarah sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan keberadaan Brandon di sisinya. Tanpa Sarah sadari, dia mulai bergantung pada Brandon.



"Sudah sampai" Sahut Brandon menghentikan mobilnya di depan gedung apartement Sarah. Sarah menoleh dan menatap Brandon tepat di manik matanya. Lagi-lagi Brandon tersenyum dengan senyuman yang belakangan ini selalu membuat jantung Sarah berdebar-debar. Sarah langsung memalingkan wajahnya yang mulai terasa panas dan memerah.



Dia kemudian berdeham untuk menyamarkan rasa gugupnya itu karena Brandon "Gue masuk dulu"



Brandon kemudian melepaskan seat belt-nya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Sarah. Jantung Sarah langsung berdebar-debar lebih cepat dari sebelumnya. Sarah menahan nafasnya masih menatap arah depan. Dia takut menatap Brandon. Tubuhnya diam tidak bergerak. Brandon lalu memegang dagu Sarah dengan lembut lalu mengarahkan wajah Sarah menatap Brandon.



Mata cokelat kehitaman Sarah bertemu dengan mata hitam pekat Brandon. Sarah merasakan bahwa atmosfir di mobil Brandon mulai terasa panas walaupun Brandon masih menyalakan AC mobilnya. Tanpa sadar, Sarah menelan ludahnya. Pria yang sedang menatapnya sekarang adalah pria yang sudah menghamilinya. Brandon mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah.



Is he gonna kiss me??