The Playboy's Baby

The Playboy's Baby
12



Sarah hanya tersenyum mendengar ucapan Papinya. Sarah dari dulu memang berminat dengan perusahan keluarganya. Dia ingin mengembangkan perusahan mereka menjadi lebih besar lagi.



"Yah walaupun anak-ku itu tidak ingin menjalankan perusahanku, tapi dia itu berkomitment. Mandiri. Brandon anak-ku itu seorang penyanyi. Sedari kecil dia bermimpi menjadi penyanyi. Dan dia berhasil. Bandnya juga cukup terkenal di Indonesia. Cuma sayang, kelakuan anakku itu tidak pernah berubah dari dulu. Kerjaannya cuma bikin pusing Mami dan Papinya saja" Jelas Oom Roy cemberut.



Sarah kagum dengan anak Oom Roy. Jarang sekali ada anak yang rela meninggalkan perusahan keluarga-nya yang ternama, demi mengejar mimpi yang belum tantu di raihnya. Dia salut akan prinsip anak dari Oom Roy.



Setelah Om Roy dan istrinya pulang, Sarah teringat dengan tujuan utamanya datang berkunjung. Keberaniannya pun sedikit demi sedikit mulai berkurang. Dia mulai merasa takut untuk mengatakan maksud kedatangannya itu.



"Kamu kesini kenapa?" tanya Papi tidak pakai basa-basi.



"Aku hamil tapi bukan anaknya Dimas" ucap Sarah to the point. Dia tidak biasa berteleh-teleh jika ingin mengatakan hal penting. Lebih cepat, lebih baik menurutnya.



Perasaan khawatir meliputi Hati Sarah. Dia mencermati ekspresi dari kedua orang tuanya. Wajah Papi kelihatan seperti biasa. Sedangkan wajah Mami, waduhhh.



Kenapa wajah Mami seneng kayak gini?



"Kok mami keliatan seneng sih?" Sarah bingung.



"Terus Maminya harus gimana? Mamikan seneng kamunya hamil. Kamu sebentar lagi bakalan kasih Mami cucu" Jawaban Mami membuat Sarah melongo.



Ini Mami beneran?



"Jadi mami nggak marah sama aku?"




Ha? reaksi apa ini?



"Kalo Papi gimana?" Sarah merasa waswas. Papinya dari tadi hanya menunjukan poker-face-nya ketika Sarah mengatakan berita besar tersebut.



Papi menatap Sarah lekat, "Papi tau kamu sudah besar. Papi tau kamu sudah bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Papi sudah tidak bisa lagi mencampuri urusan kamu. Kamu sudah punya penghasilan sendiri. Papi yakin juga kamu bisa jadi ibu yang baik buat anak kamu. Walaupun Papi sedikit kecewa, tapi Papi tahu kamu orang yang bertanggung-jawab. Jika kamu butuh sesuatu, jangan sungkan hubungi Papi dan Mami" jelas papinya tersenyum lembut.



Meskipun kaget dan tidak percaya dengan reaksi dan tanggapan kedua orangtua-nya, Sarah terharu mendengar ucapan mereka berdua. Dia tidak menyangka Papi dan Mami akan berkata seperti itu. Sarah pun berdiri dan memeluk kedua orangtua-nya.



"Thanks Mam. Thanks Pap. You're the best"



Sarah sangat bersyukur memiliki orang tua seperti Mami dan Papi. Tidak ada orang tua lain yang bisa menggantikan Mami dan Papi. Dan tidak ada orangtua lain yang bisa menanggapi berita tersebut layaknya Mami dan Papinya lakukan barusan.



Kurang satu orang yang perlu di temuinya. Dia hanya berharap bahwa orang tersebut dapat memaafkannya. Dia tidak berharap bahwa Dimas akan menerimanya kembali. Dia tidak bodoh dan bukan wanita tidak berprasaan.



***



Vote, komen, kritik dan sarannya di tunggu.



love


ilz_ 😊😍😘