
Malamnya setelah Erin pulang, Sarah pergi ke rumah orang tuanya. Dia ingin sekali memberitahukan kehamilannya itu kepada orang tuanya.
Meskipun dia dekat dengan kedua orangtua-nya, tapi Sarah takut membuat mereka kecewa.
Sarah memutar radio yang ada di dalam mobilnya. Dia kemudian memilih siaran radio yang cukup terkenal di Jakarta. Dia mengernyit begitu mendengar suara parau seorang pria terdengar dari radio yang ada mobilnya. Suara vokilasnya terdengar familiar. Sarah mencoba mengingat di mana dia mendengar suara serak seperti itu.
Di dengarnya lagu tersebut sampai habis. Tapi, dia masih saja tidak bisa mengingat di mana dia mendengar suara seperti suara pria yang lagunya baru saja di putar di radio tadi.
Penyiar radio pun membahas lagu yang baru saju mereka putar. Lagu tersebut adalah single terbaru dari band The Storm.
Sarah sering mendengar nama band The Storm. The Storm cukup terkenal di Indonesia. Meskipun band tersebut cukup terkenal, tapi Sarah tidak pernah melihat atau mengetahui siapa saja yang ada di dalam band tersebut. Yang Sarah tahu, semua anggotanya tampan. Itu juga Sarah dengar ketika dia tidak sengaja mendengar pembicaraan karyawan wanita di kantor.
Hampir semua karyawan wanita yang ada di perusahannya adalah penggemar The Storm. Tapi sayang, anggota band itu playboy semua.
Jujur saja, Sarah tidak terlalu suka dengan lagu-lagu Indonesia, dia lebih suka mendengar lagu-lagu barat. Bukannya dia tidak menghargai karya anak bangsa, ya. Sarah suka kok beberapa penyanyi Indonesia. Contohnya Iwan Fals, Ari Lasso dan Judika, adalah penyanyi Indonesia yang Sarah suka.
Memerlukan waktu satu jam perjalan dari apartement Sarah untuk sampai ke rumah orangtua-nya di kawasan perumahan cibubur.
Pak Yoyo, yang sudah lima belas tahun bekerja dengan keluarganya, menyapanya begitu dia masuk.
"Malam mbak, Sarah" sapa pak Yoyo tersenyum kepadanya.
"Malam Pak, Papi dan Mami ada di rumah?" Sarah tidak memberitahukan kepada orang tuanya tentang kedatangannya. Biasanya Sarah selalu menghubungi mereka dulu sebelum dia berkunjung.
"Ada, di dalem. Tapi Bapak dan Ibu lagi ada tamunya, Mbak"
"Oyah? Siapa?" Sarah penasaran. Tamu yang biasanya diterima sama orang tuanya di rumah, biasanya cuma keluarga atau teman-teman dekat dari mereka.
Begitu Sarah Masuk empat pasang mata langsung menatapnya. Dua pasang penasaran dan dua pasang terkejut.
Maminya tersenyum begitu melihatnya. Mami menghampirinya, lalu memeluk Sarah dengan sayang.
"Kamu kok kesini nggak bilang-bilang sama mami sih" ucap Mami sambil memeluk pinggang Sarah kemudian memimbingnya ke arah papi dan sepasang suami istri yang tidak di kenal Sarah.
"Surprise aja mams" ucap Sarah tersenyum.
Maminya pun mengenalkan Sarah pada sepasang suami-istri tersebut.
"Ini, Pak Roy Sutomo dan Istrinya Erma Sutomo. Mereka berdua teman Mami dan Papi waktu kuliah dulu, Sar. Mereka berdua juga sama kayak Mami dan Papi, pasangan dari waktu kuliah" Mami menjelaskan sambil matanya kelihatan sedang bernostalgia.
"Wah. Sarah ternyata sudah besar, yah. Waktu dulu kita main ke rumah, kamunya masih kecil gini" Tante Erma tersenyum, menunjukan tinggi Sarah waktu dia masih kecil dulu.
"Anak om juga kayaknya seumuran sama kamu. Kamu umurnya berapa sekarang?" Tanya Oom Roy pada Sarah.
"Dua puluh lima, om"
"Brandon umurnya kalo nggak salah udah dua puluh tujuh yah, Ma" ucap Oom Roy meminta pembenaran dari istrinya. Tante Erma menganggukan kepalanya.
"Kamu enak banget Gas, anak kamu mau kerja di perusahan kamu. Nah, anak-ku Brandon, sudah di paksa-paksa masuk perusahan, ehh anaknya malah tidak mau" Oom Roy menceritakan tentang anaknya dengan ekspresi kesal. Namun Sarah juga dapat melihat ekspresi sayang dari wajah Oom Roy saat dia menceritakan tentang anaknya itu.
"Sarah memang dari dulu sudah berminat di dunia bisnis. Aku hanya membantu-nya sedikit. Anak aku yang tua saja lebih memilih tinggal di luar negeri daripada disini"