The Playboy's Baby

The Playboy's Baby
22



Pernyataan pria itu membuat Sarah tertawa, "Bukannya elo tadi  nggak yakin kalo anak ini anak elo? terus kenapa berubah kayak gini?" balas Sarah mengejek.



Pria itu menatap Sarah dengan tatapan yang tidak bisa dibaca Sarah. Dia kemudian mengulurkan tangannya kepada Sarah.



Sarah bingung dengan apa yang sedang dilakukan pria ini. Dia tidak mengerti tentang maksud pria ini mengulurkan tangannya kepadanya.



Minta dipegang?



Sarah lalu mengangkat alisnya kanannya menandakan bahwa dirinya tidak tahu dengan apa yang diinginkan pria yang ada di depannya ini.



Pria itu pun mendesah "Mana handphone elo?" tuntut pria itu mulai terlihat sedikit rilex.



"Handphone gue? buat apaan?" tanya Sarah bingung. Dia tidak tahu apa hubungan handphonenya sama masalah yang sekarang ini dibicarakan mereka berdua.



Sarah menuruti perintah pria tersebut. Dia meraih handphone yang berada di kantung celananya kemudian memberikan handphone-nya itu  kepada pria tersebut.



Pria itu mulai mengetikan sesuatu di handphone Sarah. Tiba-tiba handphone pria tersebut berbunyi. Pria itu kemudian mengeluarkan handphone yang disimpannya di kantung depan celananya. Dia lalu mengetikan sesuatu.



"Itu nomor gue. Kita perlu ngomong soal masalah ini di tempat yang lebih private. Nanti gue kabarin elo. Yang pasti kita ketemuannya besok. Elo bisa-kan besok?"



Sarah mengangguk pasrah, dia tidak bisa menolak karena pria tersebut adalah Ayah dari anak yang sedang di kandungnya sekarang.



Pria itu menemani Sarah membawakan barang belanjaannya sampai ke mobilnya. Dilihat dari bagimana pria tersebut membantunya, Sarah bersyukur karena setidaknya pria tersebut memperlakukan-nya dengan baik.



Sebelum Sarah tidur, dia mengingat kembali kejadian yang terjadi di supermarket tadi.



Dia berharap bahwa keputusannya untuk bertemu dengan pria itu besok akan menghasilkan solusi yang baik bagi mereka berdua.



Sarah juga sudah menerima pesan yang berisikan tempat dan waktu dimana mereka berdua akan bertemu besok.



Dia kemudian meletakan tangannya di perutnya dan mulai mengelus perutnya itu dengan pelan.



Semoga pertemuan bunda dengan Ayah kamu besok bisa mendapat titik temu. Ucap Sarah pelan pada janin yang dikandungnya itu.




Dari kantornya Sarah langsung menuju ke tempat pertemuan yang sudah di tentukan oleh pria tersebut.



Pria itu menyuruh Sarah bertemu dengannya di salah satu restoran yang cukup terkenal di Jakarta.



Begitu Sarah masuk, seorang pelayan wanita menyambut sarah dengan tersenyum.



"Mbak sudah pesan tempat?" tanya waitreess tersebut masih tersenyum kepada Sarah.



"Brandon Rivaldo" Sarah menyembutkan nama pria tersebut.



Tadi pagi pria tersebut mengingatkan Sarah sekali lagi lewat sms. Pria itu memesan tempat pertemuan mereka dengan namanya. Dan menyuruh Sarah untuk menyebutkan namanya jika ada yang bertanya.



Sarah sempat melihat bahwa pelayan wanita tersebut memandangi Sarah dengan tatapan iri dan ingin tahu,  begitu Sarah mengatakan nama pria itu yang baru diketahuinya bernama Brandon.



Waitressnya pun mengantar Sarah ke tempatnya.



Ini cowok kerjaannya apaan coba, sampe ngajakin gue ke resto mahal kayak gini..



Sarah menunggunya sepuluh menit sebelum Brandon sampai.



Brandon datang dengan memakai celana jeans hitam panjang dipaduhkan dengan kemeja denim tangan panjang yang digulung setengah tangannya.



Wajahnya tampak bersinar.



"Elo nggak lama kan nunggunya?" Brandon duduk di depan Sarah.



"Enggak. Gue juga baru nyampe sepuluh menit lalu"



Brandon kemudian tersenyum kepadanya. Hati Sarah langsung berdebar-debar begitu melihat senyuman Brandon.



Gue gapain juga pake deg-degan kayak gini, udah kayak anak abege aja.