
Pagi hari yang cerah di mana sinar mentari masih sangat baik untuk tubuh, berdirilah seorang gadis memakai kacamata hitam beserta seorang pria tinggi berbaju hitam mendampinginya yang juga mengikuti dari belakang gadis itu. Mereka pun memasuki sebuah rumah kecil yang halamannya sangat rapi dan terawat. Secara perlahan gadis itu mulai mengetuk pintu rumah.
Sekitar pukul 08.02, Meyla tiba bersama supir pribadinya dirumah Senja. Sesampai disana dia langsung meminta izin kembali pada neneknya Senja untuk mengajaknya berlibur di rumahnya selama satu minggu lebih. Dia membicarakan semua hal yang akan di lakukan mereka dan juga mengatakan pada beliau bahwa cucunya akan dia rawat dengan baik seperti saudara perempuannya sendiri, dia tidak akan membiarkan Senja kelaparan, kepanasan ataupun kedinginan dan akan memeluknya jika ia memerlukannya selama di sana.
Namun itu seperti bukan perkataan dari seorang saudara. Itu lebih mirip kasih sayang seorang ibu, mungkin hal itulah yang terlintas di kepala Senja dan sontak saja membuat Senja dan neneknya tertawa. Perkataan itu juga membuat supir pribadi Meyla tersipu malu sambil menutupi wajah merahnya dengan telapak tangan, keadaan ini pun membuat Meyla juga ikut malu.
"Aku pergi ya, Nenek" Ungkap Senja yang melambaikan tangannya lewat jendela mobil.
"Iya jaga baik–baik dirimu Senja, jangan sampai merepotkan.” Saran neneknya yang juga ikut melambaikan tangan karena perpisahan.
Kemudian mobil itupun melaju perlahan – lahan melewati gerbang rumah dan lama kelamaan rumah itupun terlihat kecil dan semakin kecil karena kecepatan mobil yang terus bertambah. Bagi Senja yang seorang anak rumahan, meninggalkan rumah itu terasa sangat berat. Namun ia sudah berkomitmen dan sudah memutuskan untuk menghadapi hal yang selama ini ia hindari.
***
"Padahal aku sering datang kerumahmu Mey tapi, baru kali ini aku... di sambut semewah ini." ungkap Senja yang terkesima melihat ada beberapa pelayan yang menunggu kedatangan mereka didepan pintu rumah.
"Arghhrrrr!"
"Ada apa Mey?" Tanya Senja yang tidak mengerti situasi.
"Aku tahu ini pasti ulah mereka... para saudaraku yang aneh itu!" jawab Meyla lagi namun kali ini lebih marah dan ia masuk kedalam rumah dengan mood yang sangat buruk.
Senja yang melihat keadaannya tersebut hanya merasa heran dan mulai mengikuti Meyla dari belakang. Namun langkah kaki Senja terhenti ketika salah seorang pelayan meminta Senja untuk memberikan kopernya padanya. Karena ia tidak mengerti hal seperti itu, maka Senja menolaknya dengan sopan. Kenapa koper yang ia bawa harus diberikan kepada orang lain, meski ia terus menolaknya pelayan itu tetap bersikeras dengan sopan meminta agar dia saja yang membawa kopernya.
Karena Senja terus menolak dan pelayan itu terus menawarinya, pada akhirnya terjadilah adegan tarik–menarik koper antara Senja dan pelayan itu, sambil disaksikan oleh beberapa pelayan lain yang ikut melerai.
**k
"Mey pembantu dirumahmu aneh. Mereka ingin membawakan koper milikku, itu kan tidak berat dan aku masih cukup sehat untuk membawanya sendiri, walau sudah kutolak, tapi mereka tetap saja memaksa. Setelah ada kesempatan sedikit aku kabur dari mereka!" ungkap Senja dengan ekspresi yang serius dan meyakinkan.
"...."
Meyla tidak bisa berkata apapun pada sahabatnya ini karena ia sudah mengetahui jawabannya, dan dia takut jika ia menjelaskan hal ini padanya, maka hanya akan membuatnya tersipu malu dan itu mungkin dapat menurunkan rasa kepercayaan dirinya karena setelah itu Senja pasti akan langsung mencari pelayan tadi dan meminta maaf. Hal itu dapat menambah masalah yang lebih padanya. Sebab itulah Meyla mengatakan hal lain sebagai pengalih pembicaraan.
"Itu ulah saudaraku... mereka tahu aku membawa teman dan mereka ingin menyambutmu dengan cara yang wah, gitu." ungkap Meyla dengan wajah kesal dan menusuk makanannya dengan brutal.
"Wah- gitu? oh mewah!. Yups, benar aku terkejut memang me-wah... he heh" sahut Senja lagi sambil mengartikan perkataan sahabatnya itu dengan wajah polos.
Meyla yang pada saat itu makan dan sambil mendengarkan Senja berkata seperti itu membuatnya menahan tawa. Meyla merasa sangat bersyukur karena ini Senja, seandainya saja temannya yang lain mungkin ia tidak akan bisa merasa lega seperti ini, dia malu dan kesal melihat ulah kakak – kakaknya yang senang memperlihatkan betapa hebatnya kehidupan mereka.
Karena dulunya juga Meyla pernah membawa beberapa temannya kerumah dan semua temannya kagum dengan kehidupan mewah Meyla, mereka mulai mengajak Meyla belanja, pergi ke tempat wisata, serta meminta suatu barang pada Meyla karena mengganggap dia memiliki segalanya dan walaupun di mintapun, itu tidak akan mengurangi milikya.
Lama–kelamaan perbuatan mereka ini semakin menjadi–jadi, sampai mereka secara pribadi meminta supir Meyla untuk mengantar mereka kemanapun atau menggunakan pelayan Meyla untuk menyuruh mereka sesuka hati. Sangat berbeda sekali dengan Senja. Mulai saat itulah Meyla memilih dan membatasi siapa saja yang menjadi temannya dan karena inilah dia mendapat julukan 'Nona Pemilih'.
Meski Meyla sedang kesal dan bercampur geli saat ini, tetapi dia tidak marah sedikitpun kepada Senja. Mereka pun hanya bisa saling menatap dan terkadang saling tersenyum serta menertawakan satu sama lain.
"Saudara ku sikapnya memang seperti itu, meraka senang memerintah orang lain dan melakukan hal apapun sesuka hati, terlalu memanjakan." ungkap Meyla yang saat ini sudah mulai tenang.
Mereka berdua saat ini sedang mencuci piring makan mereka sendiri, karna Meyla tahu Senja tidak akan membiarkan hal pribadi yang seperti dibiarkan ini begitu saja.
"Meyla kau tidak perlu ikut mencuci juga!" ujar Senja sambil terus mencuci dan mebilas piring – piring itu.
"Ah... kenapa sekarang kau terdengar seperti saudara ku yang resek!. Aku juga bukan mencuci piring tapi mengelapnya!" protes Meyla lagi namun kali ini moodnya berubah jelek.
Sambil menyenggol sedikit punggung sahabatnya itu Senja memohon maaf.
"Um."
Setelah selesai makan mereka istirahat sejenak di ruang tidur lain yang sudah di persiapkan pelayan Meyla sambil melihat dan mencoba peralatan VR yang baru meluncur kemarin. Senja memperhatikan alat itu dengan kagum, ia sangat takjub melihat betapa kerennya alat seperti itu bisa membawamu seakan kau berada di dalam dunia games. Dengan hanya memikirkan itu saja sudah sangat membuat Senja bersemangat sekali.
Sambil olahraga sedikit mereka lalu mulai melakukan beberapa pengecekan sambungan, dan seperti yang di harapkan alat itu berfungsi dengan baik.
Senja pun memasangkan alat berupa kacamata [AUTUMNgrass] VR itu kekepala Meyla, sambil memberikan beberapa instruksi kepada Meyla pada saat ia melakukan login. Mereka memasukkan kartu memori games khusus [Araum of Inverted SkyEarth] pada sisi kanan alat [AUTUMNgrass] itu. Sebelum tidur, terlebih dahulu mereka melihat layar kacamata untuk melakukan pendaftaran dan pendataan lalu masuk ke program [CONNECTING].
Setelah selesai dan lancar, kini mereka siap untuk melakukan [CONNECTING].
"Bagaimana, apa kau siap Mey?!!" sahut Senja yang tidur ditempat tidur lain yang terpisah dari tempat Meyla.
"hu... kenapa aku deg degan begini, its okay Senja." ungkap Meyla dengan sedikit khawatir dan namun juga bersemangat.
"Baik, mari mulai permainannya!"
>>[CONNECTING]<<
Ucap Senja dan Meyla dengan bersemangat, secara bersamaan namun perlahan mereka pun mulai tertidur dan tenggelam kedalam dunia lain.
Saat ini pikiran tersebut sedang berada pada sebuah ruang kosong putih digital yang hadapannya ada layar monitor dengan sebuah kalimat besar bertuliskan.
...Selamat Datang di Benua Araum En, Petualang!...
...Silahkan Masukan Kode Yang Tertulis di Kartu ID Player Kalian...
...Pada Kotak Konfirmasi Di Bawah Ini,...
...[12****2]...
Tulisan tersebut muncul untuk memastikan bahwa mereka benar – benar sudah masuk ke dalam games. Setelah melakukan konfirmasi lagi, tulisan tadi akan menghilang yang kemudian memunculkan sebuah gerbang emas dari dalam tanah dengan ukiran bunga melati dan relif cendrawasih kuno yang sangat indah di tambah pada kedua sisinya yang diapit oleh dua candi berukuran sedang.
"Tempat ini... luar biasa! aku bahkan seperti bisa merasakan bahwa aku memiliki kendali penuh atas karakterku." Ucap Senja dengan girang sambil bergerak perlahan menuju kehadapan gerbang emas itu dan dengan mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh gerbang pintu ia mulai mengucapkan sebuah kata [CONNECTING].
"Hwahh!" teriak Senja yang ketika itu langsung bangun terduduk sambil melihat di sekitarnya. Ia lagi–lagi di kejutkan dengan semua kenyataan khayalan itu. Dari pandangan nya yang berupa layar ia melihat dan mulai mengecek semua tulisan itu.
Benar – benar tak terlihat seperti sebuah layar games karena tepat berada di depan matamu dan setelah beberapa menit ia mengutak-atik pengaturannya, Senja akhirnya bisa menghilangkan icon gambar yang tidak perlu di layarnya. Beberapa saat setelah itu Senja pun teringat sahabatnya tidak ada di dekatnya. Ia lupa bahwa ia meninggalkan karakter Meyla di kota yah di tengah kota dekat dengan air mancur utama kota karena waktu itu ia memakai karakter Meyla untuk menari sambil mengamen di sana.
"Ya saman, aku lupa karakter Meyla ku tinggalkan dikota, sekarang dia pasti sangat kebingungan. Aku harus secepatnya ke sana." gumam Senja sambil berlari menuju arah pusat kota.
***
Pada saat yang sama Meyla yang sudah tiba di dalam dunia games langsung kebingungan dan juga takjub melihat seluruh tubuh karakternya bisa ia gerakkan dengan bebas layaknya tubuh sendiri. Dia juga kagum pada karekternya yang lebih cantik saat terakhir kali dia membuat dan memainkannya bersama Senja.
Karena takjubnya dia sampai menari–nari dengan indah di sana dan tanpa sadar menarik beberapa petualang yang lewat, termasuk NPC. Meyla yang kemudian sadar merasa ingin melarikan diri dari sana namun justru terjebak oleh kerumunan mereka yang memintanya untuk menari lagi dan sebagai gantinya mereka akan menyumbangkan uang kepadanya, meski begitu Meyla bukanlah tidak mau dia hanya terlalu malu.
Senja akhirnya tiba di dalam kota dan sekali lagi ia terkagum – kagum dan takjub melihat keadaan kota seperti nyata semuanya, seperti sebuah dunia lain. Di jalan tidak terlihat adanya mobil, motor atau rambu lalu lintas yang ada hanya sebuah gerobak pengangkut barang yang ditarik dengan momon dan kereta yang ditarik kuda berlalu lalang di jalan, serta beberapa player dengan mount luar biasa mereka terlihat di sana sambil di iringi dengan alunan musik khas petualang.
Ia kali ini terlena lagi melihat keadaan kota yang begitu indah dengan desain bangunan dari kayu balok dan semen biasa tanpa adanya warna-warni cat cerah. Pada saat sedang menikmati indahnya suasana kota yang ramai ia akhirnya tersadarkan oleh suara yang memanggil namanya dengan lantang.
"Senjaa! uwaahh Senjaa!" teriak seorang gadis dengan sangat keras dari dalam kerumunan ramai.
"Eh?! Meylaa. " Sahut Senja menanggapi suara itu dan langsung mengenal teriakan gadis itu, yah itu adalah teriakan dari seorang gadis class Dancer dan dia adalah sahabat nya Senja. Ia pun bergegas, memaksa masuk kerumunan dan ketika berada didalam kerumunan ia melihat sahabatnya sedang berhadapan dengan dua orang satu class Musician dan satunya lagi class Poet mereka berencana mengajak Meyla untuk Party dengan mereka. Senja yang saat itu melihat langsung berdiri didepan sahabatnya sambil melindunginya.
"Maaf ya, sahabatku kan sudah menolak jadi, tolong pergilah." Sahut Senja yang menyela di antara kedua pihak.
"Senja!" ungkap Meyla dengan haru sambil memeluk tangan kiri Senja dengan erat.
"Ka- kau hiks... berani sekali meninggalkan diriku disini, hoh hoh." Protes Meyla lagi namun kali ini tangannya memeluk dengan lebih erat dan membuat Senja merasa tertekan. Senja mengerti bahwa sahabatnya ini sedang marah padanya. Namun reuni itu harus di tunda karena kedua player yang ada di hadapan mereka.
"Heh heh heh, besar juga nyalimu Hode!" ujar player Poet sambil memperhatikan Senja yang memakai jubah dengan sedikit menutupi kepalanya, dan itu membuatnya jadi sebuah candaan. Ucapan nya ini membuat Senja merasa tertusuk. Meski sudah sering ia di bilang hode oleh player lain, entah kenapa kali ini ia merasa lebih terhina.
"Santai bro, santai." Sahut player Musician dan dalam kalimatnya yang mengatakan bro itu membuat Senja lebih tertusuk lagi seakan ia sungguh seorang hode. Dengan begini, ia pun merasa seperti kehilangan suatu hal pada dirinya sambil menundukkan badan beserta tangannya menyentuh lantai dengan kecewa. Ini sudah kelewatan pikirnya.
"PVP Arena, yuk~" ajak Senja dengan nada menekan dan sedikit ekspresi jengkel pada saat bersamaan.
"Kalah jangan menangis, heh heh." Balas Player Musician itu.
"Senja, be careful!" ucap Meyla sambil melambaikan perpisahan.
"Tak apa Mey, aku hanya sebentar kok." Jawab Senja sambil tersenyum percaya diri pada sahabatnya itu sebelum mereka menghilang masuk ke dalam arena.
Tak sampai satu menit kemudian Senja keluar dari PVP arena nya dan ia dalam keadaan yang sangat puas. Itu nampak jelas di wajahnya. Sementara pemain lain yang tadi ia tantang kelihatan terduduk lemas sambil membelakangi punggung masing-masing, mereka benar – benar KO. Ini baru 46 detik dan ia sudah mengalahkan kedua player itu. Bukan hanya Meyla namun beberapa player lain yang menyaksikan juga ikut terkagum.
"Senja! aku bangga padamu, akhirnya aku sadar ada sesuatu yang dapat di banggakan dalam games-mu!" ungkap Meyla sambil memuji hebatnya sahabatnya itu namun bagi Senja kalimat itu tak seperti pujian, lebih ke sindiran, meski begitu ia tetap saja tidak memandangnya serius.
"Ayo kita pergi menjelajah Mey!" saran Senja sambil menarik lengan sahabatnya itu.
"Yes, lets go go go!" sahut Meyla menanggapi perkataan sabhabatnya dengan semangat sambil berlari bersama. Mereka berdua pun pergi menjauh dari keramaian itu.
***
Sebelumnya pada saat ia berada di dalam arena player versus player, seketika tiba Senja langsung menyerang mereka berdua secara terus–menerus karena ia paham, jika ia memberi sedikit saja ruang maka kedua player itu dapat menggunakan skill buff mereka dan hal ini akan membuat pertarungan menjadi lebih sulit. Karena tipe Senja DPS jarak jauh maupun dekat maka ia bisa menyerang mereka dengan bebas, sambil terus menembaki dan mendapatkan combo pada keduanya tanpa memberi kesempatan bisa melawan balik. Kedua pemain itu benar – benar terdesak dan akhirnya mereka kalah tanpa bisa melawan balik.
***
Mereka berdua akhirnya duduk di sebuah kedai rumah makan kecil. Mereka duduk di luar dengan sebuah meja bundar dari kayu yang di tengahnya ada sebuah parasol. Senja lalu menjelaskan kenapa mereka bisa dengan mudah ia kalahkan.
"Bukan aku nya yang hebat Mey, itu karna yang aku lawan newbie." Ungkap Senja sambil makan roti croissant madu yang tadi mereka pesan.
"Hm, kau ini selalu merendah." Ujar Meyla sambil sedikit memujinya. Di tempat ini Meyla merasa senang karna hanya di dunia ini dia dapat makan dengan terbatas (stack 6) dan dapat merasakan rasa kenyang walau bukan secara nyata.
"Dan Senja, jika kau tidak mau di panggil hode lagi, segera ganti bajumu." Saran Meyla dengan ekspresi menyindirnya, karna dia tahu bahwa temannya ini kesal dengan sebutan itu.
"Benarkah?. Kalau begitu aku ganti style rambutku saja." Senja lalu mengubah style rambut avatarnya dan ia kini tidak menggenakan jubah penutup kepala lagi yang sekarang ini ia terlihat lebih manis dengan rambut coklat muda pendek nya yang sama seperti di dunia nyata. Meyla yang melihat langsung memberikan emot dua jempol untuk penampilan nya yang keren namun tetap memperlihatkan wajahnya yang manis.
Selanjutnya mereka berencana untuk menjelajahi kota mencari sebuah tokoh dengan NPC yang menjual aksesories rambut. Sungguh menarik dan sangat menyenangkan, mereka benar-benar menantikannya itulah yang di pikirkan keduanya sambil tersenyum menatap satu sama lain.
Kamus Gamer Singkat:
AUTUMNgrass; ialah sebuah alat berbentuk kacamata layar tipis yang membuatmu bisa memainkan games VR, namun penggunanya diharuskan untuk tertidur.
NPC,non-playable character/sebuah objek dalam game berupa orang, hewan atau robot, yang tidak dapat dikendalikan pemain, namun ia dapat bergerak sendiri sesuai programnnya.
Party, ialah grup dalam sebuah game.
PVP arena, ialah arena di mana lebih dari 2 player dapat bertanding dalamnya.
KO, Knockout kondisi kemenangan yang berhasil mengalahkan lawannya secara total dengan serangan mutlak.
Buff, kekuatan dalam game yang memberikan efek menguntungkan.
DPS, demage persecond, kerusakan yang dihasilkan tiap detik/penyerang yang dapat menyerang tiap detik.
Newbie, pemain baru.
Style, ialah gaya/bentuk namun di sini lebih ke gaya rambut di dalam game.
Stack, jumlah tumpukan barang yang bisa di konsumsi atau di gunakan dalam game.