
Di dalam terowongan Senja terus waspada apabila ada pemain lain disekitarnya. Ia benar – benar sudah siap kali ini.
"Sepertinya aman." ungkap Senja dengan leganya.
"Tapi, apa yang terjadi dengan player yang mengejarku?" Pikir Senja. Ia menunggu beberapa saat namun tidak terlihat siapapun yang datang dari jalan masuk terowongan. Ia berencana untuk menunggu sebentar sambil memikirkan strategi apa lagi yang akan dijalankannya. Tak lama terdengar suara alarm yang sangat kencang.
BEEEP... BEEIP... BEEEP...
"A-apa yang terjadi?... Huh? bagaimana bisa?"
Dari radar terlihat semua lokasi dari sisa player yang bertahan. Itu adalah sebuah efek dari sebuah drone yang ketika melewati suatu tempat maka seluruh pemain yang ada disana akan muncul dalam radar secara paksa. Ini membuat semua player dapat mengetahui posisi masing-masing meski bersembunyi dalam bangunan sekalipun.
"Wah, aduh bahaya!" ujar Senja dengan paniknya. Sekarang sudah tidak memungkinkan lagi baginya untuk bersembunyi karena sekali lokasimu muncul di radar maka player lain akan bersiap untuk menyerang. Saat Senja memperhatikan layar radar, tiba – tiba saja sesuatu yang ajaib terjadi.
"Eh?! ...apa maksudnya ini" gumam Senja dengan mata terkejut.
Senja memperhatikan layar radar dan melihat bahwa tiba – tiba saja player yang ada dilayarnya menghilang satu per satu secara perlahan, yang pada akhirnya hanya tersisa 1 Player lagi. Namun player ini tidak bergerak kearah Senja, Player itu malah bergerak menjauh dari lokasi Senja dan tiba – tiba saja berhenti pada sebuah tempat. Sesaat setelah pemain itu berhenti bergerak muncul sebuah notif dilayar monitor Senja.
>>Aku tahu kau di sana kemarilah<<
Kata player itu mengirim sebuah pesan kepada Senja. Senja sedikit terkejut. Namun ia sadar memang inilah saatnya, pertarungan terakhir dari dua orang tersisa. Senja pun maju dengan keseriusan dihatinya, sambil menyiapkan peralatannya ia menuju ke lokasi dari player itu berada.
***
Tempat ini adalah lokasi dari player tersebut berada. Ini adalah sebuah tower yang cukup tinggi dengan tujuh lantai. Terlihat cukup tua namun tidak. Untuk masukke dalam tower ini harus menaiki tangga yang melingkari sepanjang tower sampai keatas. Yah kelihatan nya hanya itulah satu–satunya cara menaiki tower.
Senja pun perlahan mulai menaiki tangga, selangkah demi selangkah sambil melihat setiap lantai sampai pada akhirnya ia tiba dilantai ke tujuh yaitu lantai terakhir. Di sana ia melihat bayangan seseorang dan bersiap menembak. Namun ketika Player itu berbalik menghadapnya, dia mengatakan sesuatu yang membuat Senja terkejut.
"Kita berjumpa lagi Senja."
"Kamu... Aruna?"
Senja tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya. Sulit di percaya namun apakah benar ini player yang sama dengan yang mengajaknya berduel terus tempo hari. Pertanyaan demi pertanyaan mulai menghantui pikiran Senja. Bagaimana bisa dia tahu ini adalah Senja yang sama yang ditantangnya perang.
"Ah... iya aku paham sekarang." gumam Senja dengan menyadari sendiri bahwa nama ID player nya selalu sama. Mungkin inilah alasan dia tahu ini adalah player yang sama.
"Aku tahu kau pasti menyadarinya, mungkin kau juga penasaran. Apakah aku ini orang yang sama...." ungkap Aruna dengan meyakinkan dirinya.
"Aku adalah orang yang sama dengan yang menantangmu semalam. Di [Araum of Inverted SkyEarth]. Bagaimana sudah yakin?" Tanya Aruna kali ini dengan nada yang datar namun dengan ekspresi yang serius.
Tidak bukan itu masalahnya, bagi Senja ini adalah sesuatu yang tidak bisa ia terima dengan pemikirannya, ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Memang benar bahwa Aruna bisa dengan mudah tahu bahwa ini adalah dirinya saat di dalam games hal itu dikarenakan ID nya tersebut, namun permasalahan utamanya tidak semudah itu.
Bagaimana Aruna bisa mengetahui bahwa Senja sedang memainkan games online ini dan bisa tahu waktu ia memainkannya. Bukankah sudah jelas bahwa ia sudah menolak dan tidak memberitahukan apapun padanya, ini bukanlah hal yang bisa disebut sebagai kebetulan.
"Benar-benar sebuah kebetulan ya, kebetulan yang direncanakan" ungkap Senja dengan ekspresi khawatir di wajahnya.
"Jadi, apa tujuanmu?" Senja berkata dengan waspada.
"Tentu saja, bukankah aku sudah menunjukkan keseriusan ku. Sekarang kau juga harus menerimanya. Ajakanku." balas Aruna dengan nada serius dan menekan yang secara langsung menatap kearah Senja. Ia pun teringat perkataan nya sendiri semalam sewaktu pertama kali Aruna mengajaknya berduel. Ia memang sudah menolaknya. Namun setelahnya itu hanya sebuah bualan yang ia anggap tidak mungkin terjadi.
***
Sebelumnya di Araum Online
"Aku menolaknya!" ungkap Senja dengan tegas sambil menyilangkan tangannya.
"Resikonya tidak sebanding dengan yang aku terima!"
"... Tidak sebanding?. Ah, bukankah jika kau menang aku akan memberikan item langka apapun?. Bagaimana itu tidak sebanding?" jawab Aruna dengan sedikit heran sambil menjelaskan kembali ucapannya.
"Iya. tapi."
"Jika aku kalah... percuma saja aku mendapatkan itemnya, aku juga tidak bisa memainkan gamesnya lagi, kan sia-sia." jawab Senja dengan sedikit menggembung kan pipinya.
"Coba kau perhatikan perkataanku, bukankah kubilang apapun. Apapun." Ungkap Aruna dengan menunjukkan kalimatnya lagi yang digaris bawahi.
"...."
Senja terdiam sebentar lalu ia mulai menyadari maksud dari perkataan Aruna tersebut.
"Termasuk itu." Jawab Aruna.
Wah bukankah jelas-jelas itu termasuk sesuatu yang bukan Player biasa sepertinya bisa dapatkan. Itu seperti impian tinggi bagi para player biasa sepertinya, bisa mendapat kan sebuah item berbayar tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Apa itu sungguhan?, itulah yang mungkin di pikirkan oleh Senja sekarang.
"... Dan aku akan memberikan item langka apapun itu selamanya, selama kau memainkan games itu. Win all or Lost all." ungkap Aruna dengan lebih meyakinkannya.
Ini sungguh keputusan yang sulit. Tapi karena sekarang ia sudah memahami kondisinya, sekali Senja menang ia akan bisa memainkan gamesnya dengan damai tanpa harus khawatir dengan sistem berbayar. Setelah memikirkan dengan matang. Akhirnya Senja sudah membulatkan tekad dan tetap pada keputusannya.
"Tidak... aku tetap menolaknya, lihat saja tadi aku PVP denganmu sebentar dan langsung kalah telak."
"Yang tadi tidak termasuk kesepakatan. Kau masih bisa memainkan games ini." tanggap Aruna.
"Terima kasih... tapi aku tetap menolaknya." bantah Senja sambil bersiap untuk melakukan logout.
"Tapi... jika kita bertemu lagi digames lain mungkin akan kupikirkan...." ungkap Senja lagi.
"Benarkah? baik, jika kita sungguh bertemu di games lain kau harus menepatinya." ungkap Aruna dengan serius menanggapi perkataan Senja tadi. Senja yang melihatnya mulai merasakan adanya keseriusan dimatanya.
"Ya, itu jika kita sungguhan ketemu." sahut Senja tersenyum kearahnya, ia pun menekan tombol logout. Meninggalkan Aruna disana.
***
Kembali kepikirannya sekarang. Senja mulai merasa sangat menyesal karna sudah pernah berkata seperti itu. Ia seharusnya tidak membuat sebuah peluang meskipun itu terlihat sangat mustahil. Meski sekarang sudah terjadi dan kondisi ini sudah terpenuhi. Ia benar–benar sudah bertemu lagi dengan Aruna di games yang berbeda. Jadi sekarang ia harus serius menanggapi ajakannya dan dengan begitu Senja akhirnya menerima ajakan duel Aruna.
"Baik... aku terima ajakanmu." balas Senja yang menanggapi ajakan Aruna dengan serius. Karna bagi Senja tidak sopan untuk menolak orang yang memiliki niat serius untuk melakukan sesuatu.
"Kita mulai gamesnya." tantang Aruna dengan bersiap menyerang Senja.
Senja lalu mulai berlari sambil memutari Aruna, dan mengeluarkan senjatanya, kali ini dia menembak sebuah tong serta karung semen yang ada di sekitar sana dan hal itu menyebabkan debu yang cukup tebal untuk menghalangi pandangan. Senja berusaha menembak Aruna terus–menerus meskipun beberapa tembakannya ada yang mengenai tetap saja itu tidak bisa membuat Aruna tumbang. Pada saat yang sama Senja pun bersembunyi sebentar namun tiba-tiba saja.
SLINGG... TANG...
Terdengar suara gesekan antar sesama besi. Ternyata Aruna sudah berada di sampingnya. Untunglah Senja memiliki refleks yang cepat, ia mencegah Aruna menebas lehernya dengan panci pemukulnya.
"Urghh... huft." rintih Senja sambil menahan serangan Aruna.
Senja langsung menyika pedang yang hampir menebasnya itu namun, saat hendak menghindar Aruna langsung menyerangnya dengan sebuah pistol. Senja dengan sebisa mungkin mengelak dan hanya bagian tangan kirinya yang terkena. Senja pun memanfaat kesempatan ini untuk kabur. Ia mulai berlari menuruni tangga sambil terus berusaha menyerang Aruna. Aruna mengikutinya sambil menghindari tembakan Senja. Aruna pun mulai melawan balik serangan demi serangan dari Senja dengan pistolnya. Senja mulai sedikit terdesak ketika salah satu anak tangganya ada yang rusak, di sini Senja secara tidak sadar menginjaknya dan itu membuatnya hilang keseimbangan dan terjatuh.
"Huh?!"
Dengan ekspresi tidak percaya bahwa ia akan kalah karna jatuh dari ketinggian, Senja lalu menutup matanya perlahan namun ia tidak mendengar suara apapun dan merasakan seperti ada sesuatu yang menyentuhnya dan ketika ia membukanya, ternyata ia belum terjatuh karena tangan kanannya dipegang oleh Aruna. Yup Aruna menyelamatkannya.
"Kalah karna kecelakaan itu tidak termasuk kekalahanmu."
Aruna lalu memegang dan menarik Senja keatas. Senja hanya bisa terkejut heran melihat hal yang dilakukan Aruna. Ia sungguh tidak berpikir bahwa Aruna akan menyelamatkan nya. Tapi ya sudahlah, Senja hanya merasa harus berterima kasih pada Aruna.
"Huh? kupikir aku akan terjatuh...."
Senja kemudian menunduk lalu melihat ke arah wajah Aruna sambil berucap
"...Terima kasih karna ka-"
Namun kata–kata terakhirnya tidak terselesaikan oleh tindakan Aruna yang menyodorkan sebuah pistol kekepala Senja. Keadaan canggung dan merasa tertekan ini membuat Senja terpucat. Tamat.
"Skak matt." Kata Aruna singkat.
***
Ruang Komputer | Kampus
Pukul 17.36
Dengan begitu berakhirlah games Senja. Ia pun merasa down, kali ini lebih down dari biasa nya. Meski game ini sudah ia rencanakan masuk ke dalam salah satu daftar games favoritnya, namun kini ia harus merelakan untuk menghapus dan melupakan selamanya. Hatinya sangat berat untuk menerima kenyataan ini. Meski begitu ia tetap harus optimis.
"Hikss... aku kehilangan games yang bagus, ya ambil positif nya Senja, kau baru kehilangan satu game yang artinya... aku masih punya banyak (gamesnya)!" kata Senja dalam hatinya sambil menyemangati dirinya sendiri.
"Jika satu hilang maka... aku hanya harus mencari games baru dan memainkannya!. Hilang akun satu buat akun baru!" Tambah Senja dengan semangat barunya sambil me-shutdown komputernya dan bersiap untuk pulang.