
Seorang gadis perlahan mulai membuka kedua matanya, meski masih merasakan pusing yang sangat hebat di kepalanya, ia tetap mencoba melakukannya.
"Ughh..., di mana aku?"
Sambil mencoba mendirikan tubuhnya dari atas tempat tidur, ia lalu melepas sebuah perangkat [AUTUMNgrass] yang ada di kepalanya dan meletakkan benda itu disamping tempat tidurnya. Kemudian tangan kanannya perlahan mencoba untuk menyentuh dahinya. Rupanya ia masih mencoba merasakan sesuatu yang terjadi pada dirinya. Tak lama terdengar suara teriakkan seorang gadis yang memanggil namanya dari arah pintu masuk, meski tidak terlalu jelas wajahnya namun gadis itu perlahan semakin mendekat ke tempatnya, ke sisinya dengan meneriakkan sebuah nama.
“Senja Senja! apa yang terjadi?. Sebentar, akan aku panggil seseorang... anyone! call a doctor right now!”
Karena masih merasakan pusing meskipun suaranya sangat lantang, bagi Senja suaranya hanya terdengar sayup dan seakan terasa seperti sebuah dengungan di telinganya. Tubuhnya pun terasa agak dingin, namun setelah beberapa menit walaupun hanya sekilas.
KRING~
Ia mendengar sebuah lonceng yang berbunyi dan berkat bunyi lonceng itu Senja pun kembali menjadi dirinya. Ia pun tersadar sepenuhnya dan melihat sekitarnya. Ia sadar bahwa sekarang berada di ruang bermain Meyla, yah lebih tepatnya di rumah Meyla sahabatnya. Sementara itu Meyla sudah berada didepan pintu kamarnya dan langsung masuk kedalam, dia langsung memerintahkan dokter beserta perawatnya untuk memeriksa kondisi Senja.
“Pak dokter, aku baik-baik saja.”
“Apanya yang baik saja! Kau itu pingsan selama main games, dan ini sudah 3 jam lewat. ” Protes Meyla yang terlihat sangat khawatir.
“Eh?”
Senja sangat terkejut mendengar ucapan sahabatnya, ia tidak yakin apakah yang di ucapkan oleh sahabatnya itu memang benar, tetapi jika ia melihat dari cara Meyla yang sudah setengah hampir menangis itu bukanlah sebuah kebohongan. Itulah yang terpikirkan oleh Senja sekarang. Dokter itupun mempersilakan Meyla untuk keluar dari ruangan. Dokter lalu mulai mengeluarkan peralatannya, steteskop, alat untuk mengukur tensi darah, dan kemudian memeriksa bola mata Senja secara mendetail.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Hmp! aku sehat lihat aku bisa menggerakkan tanganku... aku baik-baik saja!” Respon Senja sambil menggerakkan anggota badanya memperlihatkan betapa sehatnya dirinya sekarang.
“Baguslah, sebaiknya kau sekarang tidur dan istirahat yang cukup. Jangan dulu menggunakan peralatan tadi.” Sarannya.
Senja pun mengangguk mendengar saran dari pak dokter dan pak dokter pun mulai membereskan peralatannya di temani asistennya dia pun keluar dari kamar tersebut. Di luar Meyla sudah menunggu dan langsung masuk kedalam ruangan. Dia langsung mendekat kearah Senja sambil terisak tangis.
“Hiks, hwahh Senja!”
Meyla pun memeluk erat sahabatnya. Dia sungguh khawatir dengan kondisi sahabatnya saat ini. Palukkan nya sangat erat dan Senja yang melihat hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya. Ia pun perlahan menghapus air matanya sambil berkata.
“Aku tak apa Mey, lihat sudah membaik, ya kan?”
“Kau... kenapa lama sekali bangun nya?, apa yang terjadi, honey?”
“... Aku tadi bertemu seorang kakek yang memberikanku uang sangat banyak dan sambil berjalan melihat taman langi-” Jawab Senja dengan datar dan pelan.
“....”
Meyla yang mendengar ucapan Senja barusan merasa lebih khawatir lagi sekarang, dan dia pun langsung berdiri secara tiba-tiba. Dia merasa seperti ada yang tidak beres pada otak temannya dan Meyla pun mulai berteriak kembali dari balik pintu memanggil dokter yang tadi memeriksanya.
“P-pak Dokter! kembali dan rawat lagi Se-”
Kalimat Meyla pun tidak terselesaikan karena Senja langsung mencoba menghentikannya dengan menariknya dari belakang.
“Waah, Mey. Aku kan sudah bilang aku tak apa.” Bantah Senja yang mencoba menenangkan sahabatnya.
***
Setelah beberapa saat, Meyla pun mulai tenang dan mencoba menenangkan diri sekali lagi di hadapan Senja. Dia sungguh mencoba untuk mencerna semua berita yang diceritakan oleh sahabatnya itu. Dengan adanya sedikit keraguan Meyla tetap bertanya agar lebih yakin.
“Jadi... kau tadi menemui panitia yang membuat event games?, dan dia hanya mengantarkan hadiahnya kepadamu secara langsung begitu?"
“Iya Mey, aku tadi hanya sebentar bertemu dengannya, walaupun kakek GM itu banyak bicara.” Lanjut Senja.
“Wait a minute!, sebentar? are you sure??, 3 jam itu!” Sanggah Meyla dengan sedikit marah.
Meski sudah di yakinkan oleh Meyla, Senja tetap merasa bahwa dirinya tadi memang sebentar saja berada sana, tetapi setelah di cek kembali ia melihat bahwa riwayat jam mainnya pada layar monitor pemandu memang menunjukkan 3 jam lebih di sana. Karena itu Meyla mulai menasehati Senja. Dia melarang keras agar tidak memainkan games [Araum of Inverted SkyEarth] sampai kondisinya sudah benar-benar pulih dan alat itu sudah di periksa kembali keamanannya. Meyla pun mengambilkan Senja makanan agar bisa mengisi tenaganya kembali.
“Sudah malam, Senja kau harus istirahat total mengerti!”
“Hmp, baik Mey, itu... maaf dan terima kasih untuk segalanya.” Ungkap Senja dengan tulus.
Meyla pun tersenyum padanya sambil berjalan pergi meninggalkan ruang kamar bermain itu, meninggalkan Senja sendirian agar ia bisa istirahat dengan tenang disana. Senja pun perlahan mulai membaringkan tubuhnya keatas kasur, menarik sebuah selimut bersiap untuk tidur, mencoba untuk memejamkan matanya perlahan.
Walaupun sudah memejamkan mata, tetap saja ia masih tidak juga tertidur. Ia masih merasa bahwa semua yang ia alami tadi seperti mimpi. Ia lalu berusaha meraih smartphone nya, mencoba untuk mengecek sesuatu di sana dan ia pun melihat bahwa sekarang saldo rekeningnya sudah bertambah USD 1.200 dan Senja tahu bahwa ia tadi memang benar ada disana.
“Yang tadi bukan mimpi... tapi apa sebenarnya yang terjadi padaku?” Gumam senja pada dirinya sendiri.
Senja pun akhirnya sadar bahwa ia sudah melupakan sesuatu yang sangat penting, dan itu membuatnya bangkit dari tempat tidurnya, mencoba meraih sebuah perangkat [AUTUMNgrass] nya.
“Apa yang terjadi di arena selama aku pingsan?, Aruna... apa yang terjadi padanya! eh, aku harus menagih hutangnya dulu!” Senja yang kaget dan mulai mencoba menjalankan kembali perangkat gamesnya.
Ia pun memasang perangkat berupa kacamata itu [AUTUMNgrass] pada dirinya kembali. Walaupun ia tahu bahwa jika ia ketahuan oleh Meyla online kembali, ia benar-benar akan di ceramahi habis-habisan atau mungkin hal lain menyeramkan lainnya yang tak mau di bayangkan olehnya.
“Uh... Mey maaf kan keegoisan ku ini, aku tetap harus melakukannya.” Ungkap Senja yang di dalam hatinya sudah siap untuk di marahi Meyla. Ia tetap login kembali kedalam games dan mulai masuk kedalamnya.
***
Di dalam games
Senja kini bangun dan perlahan membuka matanya, melihat – lihat sekitarnya mencoba mencari seseorang di sana, yah meski ia tidak lagi berada di dalam arena tetapi berada di luar pintu gerbangnya, Senja pun berlari mengitari tempat itu sambil terus berharap bahwa seseorang yang diharapkannya masih ada disana. Karena berlarian kesana kemari membuatnya menjadi lelah dan dengan napas yang sedikit berat itu ia bergumam.
“Hah... hah... tidak mungkin kan... lagi pula ini sudah 5 jam berlalu....”
Senja pun merasa sangat kecewa sekaligus kesal kenapa di saat penting seperti itu ia harus kehilangan kesadarannya dan melewatkan kesempatannya untuk mengungkap hal yang selama ini ia pertanyakan. Senja pun membalikkan badannya dan ketika ia mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah depan, mata Senja pun terbuka lebar dan ia sangat terkejut dengan sosok seseorang yang berada di hadapannya.
“Aruna?”
“Ah! ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu! aku....” Teriak Senja dari tempatnya berdiri.
“....”
Aruna hanya diam tanpa berkata apa-apa di sana. Dia hanya melihat Senja dari sana dengan mengerutkan keningnya seakan dia ingin mengatakan sesuatu namun tetap berusaha diam. Dia mulai berjalan mendekati Senja semakin dekat dan akhirnya berhadapan tepat di depannya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap itu sekarang berada tepat di hadapannya.
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Ungkap Senja yang mulai sedikit khawatir, karena Aruna sekarang berada sangat dekat di depannya. Ia mulai merasakan sedikit canggung.
“Bodoh.” Gumam Aruna, karena suaranya terlalu kecil dan datar Senja pun hanya sekilas mendengarnya dan tidak terlalu mengerti apa maksudnya.
“Huh?”
“Bodoh!” Teriak Aruna marah padanya. Senja pun terkejut bukan main, namun setelah Aruna berteriak padanya tangan Aruna pun memegang tangan kanan Senja sambil menariknya dengan kuat kearahnya dan tindakannya ini membuat Senja tertarik kedalam pelukannya. Yah Aruna sekarang memeluk Senja dengan sangat erat. Karena terlalu tiba-tiba, Senja tentu saja dapat merasakan bahwa detak jantungnya berdetak sangat kencang lebih cepat dari sebelumnya.
“Aruna?!”
“Bukankah kita sudah sepakat bahwa jika aku menang aku bisa bertanya padamu?, aku....”
“Aku tidak akan pergi... jadi kembalilah lagi.” Pinta Aruna.
“Hah? tidak bisa... aku, hiks bahkan aku sampai mengabaikan peringatan sahabatku untuk kesini... kenapa... kenapa kau malah menyuruh ku pergi.” Bantah Senja lagi dengan nada sedikit kesal dan dengan ekspresi yang sangat kecewa.
Senja pun ikut memeluk Aruna dari belakangnya, ia pun merasa tidak ingin melepaskan orang yang di peluknya itu. Aruna yang mulai merasa reda amarahnya perlahan mulai mengelus kepala Senja secar perlahan, rambut coklatnya yang halus itu sangat nyaman dan halus ketika di sentuhnya, dia melakukan itu sambil memberinya nasehat.
“Selama kau bermain games aku dapat menemukanmu, aku tidak akan menghilang tiba-tiba ok? kembalilah, kau membuatku tidak bisa tidur!” Kalimat Aruna yang terakhir membuat Senja sedikit tersinggung dan mencoba untuk melepaskan dirinya dari pelukan Aruna, Senja pun mencoba untuk menarik kembali air mata yang mencoba keluar dari matanya.
“Aku juga tidak bisa tidur sekarang!”
Mereka berdua pun saling menatap satu sama lain cukup lama, dan kini mereka mulai tersenyum satu sama saling menertawakan keanehan masing - masing. Namun Senja sedikit terpana dengan senyum yang di keluarkan oleh Aruna padahal dia hanya menarik sedikit lekukan pada bibirnya namun terlihat sangat lembut.
Warna rambutnya yang hitam gelap layaknya langit malam di balut sedikit biasan pada ujung rambutnya yang terkena cahaya lampu, kulitnya wajahnya yang terlihat putih dan halus itu di tambah dengan warna iris pada bola matanya yang seindah bunga anggrek ungu itu, ah meski itu tidak secerah warna pada kelopak bunganya, tetapi itu seindah warna lembayung muda. Terlihat sangat pas dengan warna rambutnya yang gelap.
Seolah kau melihat bulan yang berada pada langit malam tanpa bintang, cahayanya yang terang itu tak akan bisa menyakiti matamu meski kau pandang berkali-kali. Ia baru saja menyadarinya sekarang bahwa orang yang selama ini mengajaknya duel tak berujung itu terlihat tampan. Walau sangat kecil dan mungkin hanya Senja sendiri yang menyadarinya, jantungnya mulai berdetak cepat.
Di saat yang sama Aruna pun menyarankan Senja untuk kembali menemuinya 3 hari kemudian, agar ia bisa istirahat total. Dengan sedikit berberat hati Senja pun menerimanya dengan syarat Aruna harus menjawab 3 pertanyaan sekaligus sebagai balasannya.
“3, hanya 3 pertanyaan yang akan aku jawab. Jadi sekarang kembalilah keduniamu dan....”
Aruna pun menyentuh kedua pipi Senja dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya kearah Senja. Dia menempelkan dahinya di dahi Senja sambil mengucapkan sesuatu tepat sebelum Senja tiba-tiba saja langsung logout dengan paksa.
“..-Ku... tidak......ak-... –alkan ... mu....” Ungkap Aruna ketika Senja mulai keluar logout dengan sendirinya. Senja kini tak bisa mendengarnya dengan jelas karena karakternya langsung logout tanpa pemberitahuan. Ia lagi-lagi tidak bisa mendengar kalimat akhir yang di ucapkan oleh Aruna.
***
Setelah Senja keluar dari dalam games, Aruna pun teringat kembali pada saat ketika Senja tiba-tiba saja pingsan tepat setelah selesai bertanding dengannya. Aruna langsung berlari dengan cepat dari tempatnya berdiri mencoba menangkap tubuh Senja yang terjatuh lemas di pelukannya seketika. Dia terus berusaha memanggil nama Senja yang tidak juga kunjung sadar dan tidak merespon itu.
Karena sudah setengah jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan terbangun. Sementara itu Meyla terlihat sangat khawatir dan terus menangis di sana. Aruna pun mencoba untuk menenangkannya.
“Kau, pergilah logout. Lihat apakah ia sudah terbangun dari gamesnya sekarang.” Saran Aruna.
“Hah?! aku tidak akan meninggalkan sahabatku di sini bersama orang sepertimu!” Bantah Meyla.
“Aku mengerti kau tidak mempercayaiku tetapi, haruskah sekarang kita berdebat?” Sanggah Aruna yang kesal bercampur khawatir.
“....”
Meyla pun jadi terdiam mendengar perkataan Aruna barusan. Dia paham di situasi yang sekarang ini mereka tidak boleh menyia-yiakan waktu dan pada akhirnya Meyla pun terpaksa harus logout untuk memastikan apakah Senja sudah keluar dari gamesnya sekarang. Dia harus merelakan sahabatnya di dampingi orang lain yang di anggapnya
berbahaya untuk Senja sekarang. Tapi jika Meyla memikirkan lebih lanjut, masih mendingan dia meninggalkan Senja pada Aruna dari pada ke Utara.
“Utara, kau harus mengawasi dia, awas saja kalau kau berani menyentuh Senja-ku hemp!”
“Baik nona, akan ku awasi mereka dengan penuh perhatian.”
“Aarrgh!” Geram Meyla mendengar ucapan Utara, dia menjadi lebih kesal lagi ketika sedang logout. Meyla pun membawa semua perasaan itu ke dunia nyatanya.
Setelah Meyla pergi, mereka pun kedatangan sekelompok player di sana, bukan... itu adalah beberapa player yang tadinya mengikuti turnamen.
“Kekh... akhirnya kami bisa membalasmu! Player hantu.” Ucap seorang player class knight.
“Ha-ha-hah” Tawa mereka semua sambil menyeringai.
“Wah~ di saat seperti ini, untunglah Meymei sudah pergi, bagaimana ini hm? pemain arwah tanpa identitas.” Kode Utara pada Aruna.
Aruna pun sedikit ragu di sini, dia menatap semua player di depannya, setidaknya mereka semua pasti memiliki [elixer] penambah darah yang banyak, agar tidak mudah mati dan belum lagi mereka memiliki dua Dancer di sana lengkap dengan class Poet beserta class Musician, buff mereka benar-benar menyusahkan jika di kombinasikan bersama.
Namun Aruna tidak bisa mundur dari sana sekarang sebab Senja masih belum sadarkan diri. Karena situasi yang mendesak ini Aruna pun meminta sesuatu pada Utara.
“Aku akan melindungimu, jadi cepatlah bangun Senja.”
Aruna pun menyerahkan tubuh Senja pada Utara, dan dia pun perlahan berjalan maju mengahadapi mereka semua. Seketika Aruna pun merasa sangat kesal di sana.
“Pas sekali, akan aku lampiaskan pada kalian semua.” Gumam Aruna yang setelah itu mulai memasang raut wajah serius dan mengubah atmosfer di sekitarnya.
“Sombong sekali kau! , kami akan membalas untuk semua perbuatanmu!” Protes mereka.
“...Ya ka-”
Dengan sangat cepat Aruna pun mencengkram wajah player yang ada di depannya yang bahkan tak sempat menyelesaikan perkataannya, sekarang Aruna sudah berganti menjadi class Fighter, karena baru membelinya, Aruna jadi tidak memiliki item senjatanya hanya menggunakan tangan kosong.
Sementara itu Player yang di serangnya itu pun berusaha memberontak dari cengkraman tangan Aruna, walaupun sudah sekuat tenaga, tetapi kuatnya cengkraman tangan kanan Aruna sangat kuat player itu benar-benar tidak bisa berkutik dan hal itu pun membuat player lain menjadi ragu, namun mereka masih berencana untuk tetap menyerang.
“Katakan padaku, apa kalian juga berniat menyerang mereka?” Aruna pun merujuk pada kedua temannya yang ada di belakang.
“Tentu saja! Orang-orang seperti kalian harus disingkirkan. Percuma bermain games tanpa niat. Menyusahkan kami para player yang serius.” Cela player itu di depan Aruna.
“Kau tidak bisa... akan ku hancurkan siapapun yang berusaha menyakitinya.” Ungkap Aruna yang kini raut wajahnya menunjukkan betapa marahnya dia dengan wajah tanpa ekspresi.
Player itu pun dihancurkan oleh cengkraman kuat tangan Aruna, Player tersebut hanya bisa berteriak mengerang kesakitan dan di iringi oleh player lain yang kemudian ikut membantu menyerang Aruna bersama, dan dia pun bersiap menyerang balik semua player yang berada di sana.
***
“... The phantom of the crownless gamer... sepertinya aku mengerti kenapa mereka menyebutmu seperti itu, kau seperti bayangan... tak bisa di sentuh....”
Gumam Utara sendiri yang melihat nama ID-nya [crownlessAruna] yang berwarna merah darah di atas kepalanya, membuatnya terlihat sangat mengerikan dari sana. Dia sekarang menjadi satu-satunya player tersisa yang masih berdiri dengan semua mayat player yang telah dia kalahkan.
“Aku harus segera pergi, aku kembali kan ia padamu ...wahai pemain bayangan yang menyembunyikan mahkotanya....”
Namun suara pada kalimat keduanya begitu kecil sehingga Aruna tidak perduli dan tidak mendengarkannya. Dia hanya fokus melihat pada diri Senja sekarang.
Utara pun menyerahkan tubuh Senja yang masih belum sadar pada Aruna. Aruna lalu menganggkat tubuh Senja dengan kedua tangannya, membawanya pergi keluar arena turnamen. Dia pun mencari tempat di sana sebuah kursi panjang dan meletakkan tubuh Senja yang terbaring di sana.
Aruna kemudian duduk di sampingnya sambil menatap wajahnya yang masih terlelap, walau masih kelelahan akibat pertarungannya tadi serta pakaiannya yang sangat lusuh dan bersimbah bercak darah itu, tak dia hiraukan sama sekali. Aruna pun mengerakkan tangannya mencoba menyentuh dan mengenggam kuat tangan kanan Senja dengan kedua tangannya sambil berucap.
“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”
***
Senja pun terbangun kembali dari tidurnya mulai duduk tegap di atas tempat tidurnya dan kemudian melepas kaca matanya, yah tiba- tiba saja ia di paksa untuk logout dan itu tak lain adalah ulah sahabatnya Meyla bersama saudara nya kak Berto yang sudah berdiri di sana dengan wajah yang sangat marah, namun berbeda dengan Senja, ia tidak terlihat khawatir malah dengan wajah menyesal dan mengakui kesalahannya ia langsung duduk manis di hadapan Meyla seraya sudah memantapkan mentalnya untuk di ceramahi.