
Senja mengeluarkan smartphonenya dan mulai melihat sinyal. Alamat IP itu sungguh mengarah kesebuah warnet biasa dekat dengan pinggiran jalan, meski begitu ia harus masuk kedalam dan untuk bisa memastikan nya. Seperti warnet pada umumnya, ini adalah tempat dimana hanya terlihat orang main warnet, games online, streaming, fecebookan, download dan bebagai kegiatan internet lain. Namun kebanyakkan para pengunjung disana hanyalah anak sekolahan dan anak – anak kecil. Tak lama munculah seseorang dari belakang Senja.
"Oh ! ada pelanggan, silahkan mau online nomor berapa?" Tanya seorang pria berumur.
Walaupun sudah tua tetapi beliau tidak terlihat bungkuk, tubuhnya tetap tegap dan tegak meski rambutnya sudah memutih semua. Sapaannya yang ramah membuat Senja tersadar dan langsung menjawabnya dengan ramah.
"Boleh aku lihat dulu?"
"Iya iya... silakan."
Senja mulai melihat layar smartphone nya lagi dan kali ini benar, mengarah pada komputer nomor 12, Senja lalu bertanya kembali padanya tentang hal itu.
"Permisi itu nomor 12." kata Senja sambil menunjuk kearah komputer tersebut.
"Iya iya nomor 12 sebentar saya onlinekan." balas pria tua itu tanpa mendengarkan perkataan Senja lebih jauh.
"Eh?! sebentar pak, maaf sebelumnya. Apakah kemarin siang bapak tahu siapa orang yang online komputer nomor 12 ?" sanggah Senja kepada pria tua itu dengan memohon.
"Hm begini aku... ada hal penting yang ingin kukatakan padanya, jika anda bisa...." lanjut Senja lagi, namun kali ini dengan ada sedikit keraguan di perkataanya.
"Kemarin?. Sudah 3 harian ini tidak ada seorangpun yang online di komputer nomor 12 mba... apa maksudmu dengan kemarin? jawab pria tua dengan heran sambil mengecek ulang pada layar komputer utamanya.
"Tidak mungkin, tapi ak-" protes Senja dengan ekspresi heran sambil menutup mulutnya. Kini Senja mulai merasa ada suatu hal yang mengganjal.
Bagaimana bisa, mungkin sekarang ia terkejut dengan kenyataan bahwa tidak ada orang yang online di kursi itu. Namun kenyataan dalam dunia maya, alamat IP nya benar – benar angka biner yang menunjukkan kode algoritma yang sama dari sinyal smartphone Senja.
Tapi itu tidak membuat Senja merasa terpusingkan. Ia hanya harus mencari lagi di semua lokasi yang tersisa sebelum menyimpulkan hasil pemikiran nya ini. Berbagai lokasi di kunjungi oleh Senja lagi, ada lokasi yang mengarah ke alamat rumah seseorang dan orang itu mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada yang memainkan games online. Jangan kan games online, internet pun tidak di pasang kata seorang keluarga penghuni rumah tersebut.
Di lain tempat ada yang mengarah ke sebuah rumah makan. Ini mengarah pada sebuah notebooks milik anaknya, namun anaknya masih terlalu muda untuk bisa main games online apalagi yang seperti role-playing. Disini Senja lagi-lagi merasakan sesuatu yang aneh,namun ia tetap tidak menyerah. Ia tetap menuju ke lokasi yang tersisa dan mulai memberi catatan kecil untuk setiap tempat sudah yang telah ia kunjungi.
Kali ini alamat IP nya mengarah ke sebuah bangunan tua dan sedikit terpelosok jauh dari jalan raya. Senja sedikit ragu untuk mengeceknya, namun ia tetap meyakinkan dirinya bahwa ia akan baik–baik saja. Bangunan ini memang benar tua dan sangat besar, seperti sebuah gudang tua kosong yang telah lama di tinggalkan. Senja tidak bisa masuk kedalam. Pintu masuk depannya terkunci dan di rantai dengan kuat. Namun ada sebuah pintu garasi tua dibelakangnya. Sepertinya ini dikunci dengan sebuah sistem keamanan komputer yang masih terlihat cukup baik. Senja pun mulai memikirkan sesuatu.
"Bangunan ini... mungkinkah masih bisa." pikir Senja dengan melihat sebuah kotak meteran listrik.
"Haruskah kucoba?" Senja pun mencari sebuah kotak dan mulai menaikinya, ia lalu mengenakan sarung tangan karet lalu mulai mengeluarkan sebuah tas kecil yang di dalamnya ada alat seperti perkakas. Dengan keterampilan nya ia mulai mengutak–atik kabel dalam kotak tersebut, mengeluarkan sebuah obeng kecil dan beberapa penjepit serta sebuah leser kecil untuk menyambungkan kabel yang terputus. Setelah selesai, Senja pun memasukkan peralatan tadi kedalam tasnya dan mulai menekan sebuah tombol.
"Yup... sepertinya masih berfungsi. Bagus dan sekarang." ungkap Senja sembari mengelap keringat dipipi dengan punggung tangannya dan meninggalkan sebuah noda hitam kecil di keningnya.
Hal yang baru saja di lakukannya adalah memperbaiki aliran listrik. Ia membuat bangunan tua itu berfungsi kembali Kemudian Senja mengeluarkan sebuah komputer mini pemberian Meyla jika memang suatu saat ia membutuhkan nya. Ia kemudian menyambungkan sebuah kabel ke sumber listrik. Kemudian Senja mulai melakukan peretesan singkat pada sistem keamanan bangunan. Tak lama kemudian terdengar sebuah suara.
BIIIB... BIINGG...
Suara itu terdengar seperti suara tombol yang terbuka.
"Uh maaf kan aku Mey, ini keadaan darurat lagi pula setelah ini akan kuberitahukan padamu dan sesuai kesepakatankan?!. Aku hanya ingin mengecek nya saja dan setelah itu akan ku kembalikan seperti semula." gumam Senja sendiri sambil buka pintu garasi belakang tadi.
"Uhhrggh... ngghh!... ini lebih berat dari yang kubayangkan." ungkap Senja dengan napas yang berat sambil terus menarik garasi tadi, ia benar – benar berusaha keras menarik pintu garasi yang tua itu dengan seluruh kekuatannya.
Kemudian setelah jalan kecil terbuka sedikit, ia pun langsung masuk dan melihat ke dalam. Ternyata itu adalah sebuah gudang bekas produksi kecap, begitu banyak barang bekas yang ditinggalkan disana, sebuah mesin – mesin tua produksi kecap serta botol kaca yang masih berserakan di lantai, dan beberapa peralatan serta kardus bekas masih tertinggal di sana. Setelah menelusuri lebih lanjut, lagi-lagi ini mengarah kesebuah laptop rusak dengan sebuah layar yang retak, terlihat sepertiada sesuatu yang ganjal. Ia lalu mengecek kondisi sekitar sana.
"Hai neng cantik pulang kemana?" goda seorang pria yang tiba-tiba berada di dekat Senja.
"Ikut pulang bareng abang yah he heh!" rayu seorang pria lagi kali ini dia dengan sengaja menyentuh tangan Senja.
Senja pun tahu ini situasi yang gawat. Walau berbahaya, ia hanya harus bersikap tenang dan jangan dulu panik. Saat ada kemungkinan ia berpikir harus melawannya. Tapi bagaimana, mereka itu ada 2 orang dari yang terlihat tubuh mereka dua kali lebih besar dari dirinya dengan salah satu pria yang memiliki otot tubuh yang besar. Pada situasi yang gawat ini, seketika Senja teringat gincu pemberian Meyla. Ia hanya memikirkan singkat tentang kegunaan dari benda itu. Ia kemudian mengeluarkan barang itu dari sakunya.
"Aduh neng gak perlu dandan segala kamu udah manis kok he heh." ujar Pria 1.
Saat pria itu hendak mendekati Senja, ia lalu menyerang pria itu dengan mencoretkan lipstik tadi ke arah mata Pria itu.
"Hei hei apa itu da- WAAAHHHH WAAAHH MATAKU." teriak pria 1 tersebut sambil membuka lebar kedua matanya lebar-lebar yang meradang.
"Oi, ada apa ini...." sahut pria 2.
Kemudian pria itu juga mendekat dan ingin meraih tangan Senja. Tentu saja Senja langsung mengelak dan memutar badannya ke arah kanan dan dengan sigap ia menggerakkan tangannya lagi, ikut mencoretkan kebagian mata kanan dan pipi pria itu. Untuk sesat pria itu tidak merasakan apapun, namun lama-kelamaan mata pria itu mulai merah dan kulit pria itu juga ikut memerah terbakar.
"Sialaaannn apa yang kau lakukan... AURGHH! WAH... WAHHHH!" teriak pria 2 yang juga ikut merintih kesakitan.
Senja juga tidak tahu, dan ia hanya berpikir mungkin dan begitulah. Setelah itu Senja memperhatikan mereka yang kesakitan dengan memohon maaf sambil menunduk kan kapalanya, ia kemudian menendang kaki kedua pria itu dan membuat keduanya terjatuh yang kemudian itu ia pun berlari dari sana secepat mungkin menuju kearah sepeda motornya. Seperti yang diharapkan Meyla, semua alat yang diberikannyapada Senja memang berguna tak ada yang sia-sia. Smartphone, komputer mini berserta gincu ajaib ini.
Setelah berhasil kabur menjauh dan situasi dirasa cukup aman, Senja kemudian berhenti pada sebuah tempat makan di pinggir jalan. Ia mengistirahatkan dirinya yang kelelahan di sana. Sesaat ia berpikir bahwa sahabatnya benar–benar pintar memberikan benda seperti itu. Di lain tempat Meyla yang sedang mengikuti mata kuliah ke 3 nya sedang membuka tas nya dan melihat peralatan make up-nya.
"Loh... yang tadi, jangan-jangan... gincu kadaluarsa yang belum aku buang, ya ampun aku salah memberikannya!"
Meyla panik dan mengeluarkan smartphonenya dengan cepat sambil nge-chat Senja, memperingatkan bahwa jangan sampai ia memakainya, karna gincu yang di berikannya itu sudah kadaluarsa. Ini sungguh kesalahpahaman yang luar biasa.
Ternyata Meyla benar–benar berniat memberikan gincu pada Senja bukan sebuah alat atau apapun berbeda jauh dengan yang di pikirkan Senja. Meyla yang pada saat itu melihat bibir Senja yang pucat dan berinisiatif memberikannya agar di pakainya. Senja yang saat ini sedang makan tiba–tiba saja terbatuk. Ia benar – benar terkejut saat melihat chat sahabatnya yang memperingatkan dirinya jangan memakai gincu tersebut.
Pada saat yang sama Senja pun melihat tulisan tanggal kadaluarsa pada wadah lipstik [ED. NOV 2010] dan itu membuatnya bersyukur karna tidak berpikir untuk memakainya lihat saja efeknya semengerikan tadi.
***
Ini adalah lokasi terakhir dari semua alamat IP yang di kunjunginya hari ini, dan ini adalah sebuah rumah tua besar yang tidak berpenghuni dengan keadaan sekitarnya yang lusuh tidak terurus. Siapapun yang melihat pasti merasa takut dan merinding tak terkecuali Senja. Ia lalu memutuskan untuk bertanya kepada penduduk sekitar tentang kondisi rumah tersebut dan menurut keterangan dari beberapa warga yang tinggal disana, rumah itu memang sudah bertahun – tahun lama di tinggalkan.
Inilah akhirnya setelah semua yang ia selidiki, mencari tentang si player Aruna ini tak ada satupun yang pernah melihat atau pernah mendengar nama itu. Tak peduli seberapa keras Senja mencoba pada akhirnya hanya kata 'tidak ada tidak nyata yang di dengarnya'. Bahkan untuk hal ini ia sampai melakukan hal ilegal.
"Tidak mungkin, apa yang sedang aku cari ini? ini orang kan... atau...." gumam Senja lagi, namun kali ini dengan nada yang lebih rendah dan putus asa.
Sambil berjalan perlahan pergi dari sana, Senja teringat kembali perkataan sahabatnya tentang seorang Player yang di rumorkan para gamer. Senja lalu mengeluarkan smartphone nya lagi dan menekan sebuah nomor untuk menghubungi seseorang.
"Senjaa, kau baik–baik saja kan?!. Where're you?"
"Mmp, iya aku baik–baik saja Mey. Aku sudah mau pulang sekarang. Mey... bisa kau ceritakan lagi padaku tentang rumor yang kau dengar itu?"
"... Tentang the phantom of the crownless gamer. Karena sepertinya... aku sudah... terlibat sesuatu yang tidak seharusnya" Ucap Senja lagi dengan ekspresi kosong dan nada suara yang datar.