
Pagi hari yang cukup tenang untuk sebuah lingkungan kampus. Meski terlihat beberapa mahasiswa berjalan lalu lalang melewati lorong kelas. Ada pria yang sedang duduk di kursi sambil memegang buku sedangkan disebelahnya terlihat sepasangan gadis yang sama – sama sedang membaca buku sambil mendengarkan musik dan ada juga yang duduk di samping ruang kelas sambil bersila membaca buku.
Tak ada satupun yang membuat keributan atapun berani berbicara keras disana, itu adalah suatu keadaan dimana ujian akhir semester sedang berlangsung. Sebagai penutup akhir enam bulan yang panjang ini, mereka mengerahkan semua yang dibisa agar mendapatkan hasil yang memuaskan, meski ada beberapa mahasiswa yang terlihat santai dan biasa saja, kau tidak akan pernah tahu hal apa saja yang dapat terjadi selama didalam ruang ujian.
Untuk mereka yang sudah mempersiapkan diri dalam perang, ini akan terasa ringan dan santai, namun bagi yang tidak memiliki persiapan apapun ini mungkin terasa seperti neraka di dalam otak mereka. Di sini tekanan dari dosen pengawas ujian begitu ketat, mata mereka seakan tidak membiarkan satupun mangsanya lepas dari penjagaan. Meski dalam keadaan tertekan sekalipun keajaiban dapat saja terjadi.
"Ini di kali ini... kemudian jawaban ini, pakai rumus yang ini." gumam Senja yang saat ini sedang menjawab soal ujian dengan tenangnya.
Sudah hampir setengah jam suasana perang tenang ini berlangsung. Bagi Senja, ini bukanlah sesuatu yang membuatnya kesulitan bukan karena ia belajar, namun karena ia sudah paham jadi ini lebih seperti kebiasaan yang dilakukan dalam keseharian nya. Ujian kali ini tentang mengetik soal dan sekaligus menjawabnya sendiri. Dalam ujian ini mereka dituntut menyelesaikan ujian mereka secepat mungkin serta diharapkan dapat meningkatkan kecepatan gerak jari mereka dalam mengetik.
Karena semuanya tentang hal yang berhubungan dengan word dan excel, ini menjadikannya lebih mudah. Bagi Senja, ia sudah terbiasa dengan mengetik sejak umur 5 tahun. Kedua orang tua Senja yang seorang manajer dan pengembang games membuatnya dapat lebih tertarik dengan dunia komputer sejak dulu. Ibunya yang seorang manajer selalu mengajarkan Senja bagaimana cara mengetik dengan benar dan rapi, sedangkan ayahnya yang seorang pengembang games selalu menghibur Senja kecil dengan berbagai games yang beliau buat. Itulah awal mula Senja mulai menyukai games.
Yup... dan dengan ini... akhirnya selesai.
Senja bernapas lega sambil melemaskan jari – jarinya. Ia kemudian melirik ke arah sekitarnya, namun semua orang masih sibuk mengerjakan ujian mereka. Tentu saja ini masih terlalu cepat bagi seseorang untuk menyelesaikan ujiannya, batas waktu ujian ini 1 jam 15 menit, dan ia meyelesaikannya hanya dalam waktu 20 menit.
Apa... aku terlalu bersemangat menyelesaikannya, ya?. Masih 55 menit lagi sampai batas waktu ujian selesai, uh... kuharap waktu cepat berlalu.
Desah Senja dalam hatinya. Ia lalu membaca ulang soal yang di jawabnya tadi sambil menghabiskan waktu.
Aku akan ikut kumpul ketika ada seseorang yang melakukannya duluan. Pikir Senja lagi meskipun tahu bahwa jika ia mengumpulkan pertama, ia akan mendapatkan nilai tertinggi lebih dari yang lainnya. Tetap saja Senja bukanlah seseorang yang memperlihatkan kemampuan lebihnya di depan orang lain.
Sementara itu di sisa 21 menit, akhirnya ada seseorang yang selesai dan mengumpulkan, tentu saja Senja juga bergegas mengumpulkan miliknya dan keluar dengan perasaan lega di dalam hatinya. Bukan karena ia dapat mengerjakan soal itu dengan mudah namun yang Senja pikirkan sekarang adalah di sisa 20 menit terakhirnya ia dapat login sebentar di gamesnya sebelum ujian berikutnya di mulai.
***
Satu minggu pun berlalu tanpa adanya kendala. Inilah akhir dari semester pertama yang sudah dijalani Senja ditambah kebahagiaannya memuncak ketika ia melihat jadwal awal perkuliahan akan di mulai dalam 3 bulan lagi, dan itu termasuk 1 bulan tambahan untuk liburan akhir tahun mereka.
"Ah... when all of this over... i feel free." desah Meyla sembari menyenderkan bahunya kepunggung kursi. Seakan – akan dia sudah menyelesaikan tugas negaranya. Mereka memutuskan untuk bertemu di Resto and DCMcafe tempat biasanya.
"Bagaimana ujianmu tadi Mey?. lancar kan?" tanya Senja dengan nada penasaran.
"Don't make me think about it!. Kau tidak boleh membahas hal yang sudah kau tulis, yang berlalu biarlah berlalu... move forward!" bantah Meyla dengan nada sedikit kesal dan memberi semangat pada dirinya sendiri. Ini mungkin sebuah curahan hati Meyla yang kurang merasa puas.
"Ok ok, he he" tawa Senja geli.
"By the way Senja... liburan ini, apa saja yang akan kau lakukan?" tanya Meyla yang setelah itu dia memperhatikan Senja dengan serius sambil memainkan jari telunjuknya melingkari mulut gelas.
"Ah! aku ak-" Meyla dengan sigap menutup mulut Senja dengan jari telunjuknya, Senja hanya bisa melihat dengan heran.
"Main games kan?!, maaf salahnya aku bertanya." ungkap Meyla dengan menepuk lembut kepalanya sendiri. Dia sadar bahwa waktu yang sangat panjang ini akan di manfaatkan oleh Senja untuk memainkan games–gamesnya.
"Tidak Mey. Selama liburan ini aku akan bekerja!" sanggah Senja dengan mantap.
"Aku harus menghasilkan sesuatu agar tidak membebani nenekku. Meski kami memiliki tabungan yang cukup untuk beberapa tahun kedepan tapi, tidak ada salahnya kan memiliki uang sendiri untuk berjaga–jaga!"
"Uh... Senja!"
Meyla pun tersenyum bangga melihat sahabatnya.
"Jika begitu... aku akan menunggumu di tempat kerja okay."
"Hum... yups" jawab Senja dengan mengangguk setuju.
Senja bekerja paruh waktu pada sebuah restoran milik salah satu kakaknya Meyla, sebagai seorang kasir. Hal ini karena kadang-kadang mesin kasir disana sering terjadi eror, tentu saja jika begitu Senja dapat segera menerapkan keahliannya. Sangat efisien.
"Tapi sebelum itu Mey... aku ingin minta tolong padamu, dalam dua minggu pertama ini... aku...."
Sambil memohon meminta sesuatu, ia juga menceritakan hal aneh yang dialaminya ketika sedang jogging pagi, semuanya pada sahabatnya ini termasuk tertabraknya ia antara para fans. Hal ini membuat Meyla tertawa terbahak–bahak lagi, meski kali ini coba ditahan tetap saja masih kelepasan.
"Aku yakin... orang ini mengatakan padaku bahwa jika aku ingin mengetahui semuanya, aku harus menemuinya, bukan... menghadapinya dulu." ungkap Senja dengan yakin.
"Jadi... si-Aruna ini orang kan?!" Tanya Meyla lagi dengan sedikit meyakinkan.
"Iya aku tidak ragu lagi sekarang. Pasti ada alasan kenapa Aruna tidak mau memperlihatkan dirinya yang asli."
"Hm... lalu kau juga harus tahu kenapa Aruna menantangmu dalam games, niat banget, ya kan?" ujar Meyla dengan santai.
Senja yang mendengarkan perkataannya langsung tersenyum sekaligus takjub dengan pertanyaan pintarnya Meyla. Di sini Meyla merasa sangat bangga pada dirinya karena pujian Senja.
"...! Meyla kamu semakin cemerlang belakangan ini!"
"Hum! of course!"
"Kamu benar Mey, aku harus tahu dulu alasan kenapa Aruna menantangku berduel games dengannya. Bukankah banyak pro player yang lebih hebat dariku?" ungkap Senja dengan yakin menetapkan tujuannya dahulu sebelum mereka mulai merencanakan misi mengalahkan Aruna yang penuh tekad ini.
***
Di lain tempat, terlihat sebuah ruang kantor kelas atas yang sangat mewah dengan seseorang yang berdiri di depan sebuah jendela kaca di seluruh dindingnya. Dari jendela kaca yang bening itu, kita dapat melihat seluruh pemandangan dari atas kota.
"Kau sungguh serius. Mungkinkah karena dia... yang selama ini kau cari?" ungkap pria muda tampan itu.
Pria itu memiliki warna rambut pirang yang indah dan pada bagian belakang, dia mengikat rambutnya yang sedikit panjang. Warna mata violetnya serta bulu matanya yang cukup panjang memperlihatkan betapa indah wajahnya, di tambah kulit putihnya itu terlihat sangat terawat. Baju yang dia kenakan pun berupa setelan jas dengan gaya terbaru, di tambah ukuran tubuhnya yang tinggi dan tegap itu memperlihatkan dirinya seperti seorang model.
"Dari awal aku selalu serius, bukan... jika itu dirinya... aku selalu serius." jawab pria yang penampilannya terhalang karena sinar matahari yang menyilaukan.
-----------
"Jika kau benar – benar yakin dan tekadmu sudah bulat. Aku tidak akan menghentikanmu" ujar Meyla yang kini menyanggah pipinya dengan kedua tangannya.
"Jadi, games apa yang akan kau gunakan untuk melawannya?"
"Aku akan mengalahkannya di [Araum of Inverted SkyEarth]. Tempat di mana segalanya di mulai."
"Lalu, apa yang kau butuhkan dariku Senja?"
Senja lalu mengatakan rencananya pada Meyla. Meski yang terlihat malah seperti ia sedang meminta sesuatu sambil memohon sujud padanya.
"Baik, yang itu kuterima. Lalu... kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri... aku akan menemani mu!" kata Meyla dengan menggandeng salah satu tangan Senja.
"Aku akan login bersamamu dan aku akan memastikan sendiri seperti apa si-Aruna ini!"
"Tapi Mey, bagaimana dengan nenekku? Aku khawatir jika ia sendirian." resah Senja yang khawatir.
"It's okay honey, your granny under my care. Saudara ku akan mengirim maid kesana dan dia itu salah satu maid yang di percaya oleh keluarga kami tenang saja." jawab Meyla dengan meyakinkan.
"Aku juga akan meminta izin pada nenekmu bahwa minggu depan kamu akan menginap dirumahku."
Setelah itu Senja pulang kerumah dan menceritakan pada neneknya bahwa ia diundang untuk menginap di rumah keluarga Meyla, Senja juga mengatakan bahwa ia berniat memainkan beberapa games bersama dengannya meski begitu tetap saja neneknya tidak ragu sedikitpun, beliau malah dengan senyuman mengizinkannya.
Beliau sangat yakin dan percaya pada hal yang dilakukan cucunya ini. Hal itu karena beliau tidak ingin melihat cucunya itu seperti keadaan dulu, jangankan untuk keluar rumah bermain dengan anak seumurannya, keluar kamar pun hampir jarang semenjak insiden yang terjadi 10 tahun lalu itu. Seolah – olah Senja tidak memiliki keinginan untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Hal ini membuat neneknya khawatir bagaimana jika suatu saat beliau tiba – tiba meninggalkannya pada keadaan seperti itu, mungkin Senja akan lebih menutup dirinya lagi. Namun syukurlah sekarang ia bertemu dengan Meyla, kehidupannya menjadi lebih cerah. Karena itu jika suatu saat beliau pergi meninggalkan Senja, beliau yakin kali ini ia akan baik – baik saja. Mungkin karena alasan inilah neneknya tak melarangnya untuk pergi bersenang – senang, karna beliau yakin cucu kesayangannya ini selalu menepati perkataannya.
"Nenek tidak marah aku akan pergi satu mingguan mungkin lebih." ujar Senja sambil berbincang di meja makan bersama neneknya.
"Tidak, nenek senang jika kamu senang. Kamu masih muda banyak hal di luar sana yang bisa membuatmu lebih berkembang."
"Lagi pula, temanmu mengirimkan pelayannya kesini dan nenek senang padanya, dia hampir mirip denganmu. Dia pandai memijat." ujar neneknya Senja yang memuji pelayannya Meyla.
"Syukurlah, aku pikir nenek akan merasa terganggu dengan keberadaannya dirumah." ungkap Senja dengan lega.
Bagitulah akhir dari percakapan harmonis yang terjadi di ruang makan keluarga kecil itu, dan malam ini Senja harus tidur cepat agar ia memiliki energi yang cukup untuk memulai misi barunya karena dalam 5 hari lagi akan ada peluncuran perangkat terbaru hardware yang berhubungan dengan games online [Araum of Inverted SkyEarth].
***
Hari ini adalah hari yang sangat sibuk dan juga panjang. Semua media elektronik menyiarkan berita peluncuran produk terbaru dari games yang sudah 1 tahun lebih menjadi mmorpg terlaris diaplikasi play, banyak masyarakat khususnya para gamers yang menyambut hangat hardware terbaru besutan games RPG online [Araum of Inverted Sky Earth]. Ini adalah launching dimana perangkat ini akan menggunakan fitur tambahan kacamata VR, namun untuk menjalankannya pemain harus tertidur penuh.
Senja yang saat ini sedang menonton siaran televisi dirumahnya menyaksikan acara dengan seksama.
KRIIINGGG~ KRINGGG~
Terdengar suara smartphone Senja yang berbunyi, ia lalu mengaktifkan handsfree-nya sambil menjawab.
"Kau nonton acara tv?"
"Yups. Jadi besok malam apakah sudah bisa?" Tanya Senja dengan memalingkan wajahnya ke sisi lengan sofa panjang sambil menyenderkan kepalanya pada sebuah bantal kecil.
"Tentu, saudaraku akan membawakannya nanti. Kemungkinan besok malam kita sudah bisa menggunakannya, untuk pemasangan nya pun semua saudara ku yang atur." ungkap Meyla dengan yakin. Karna ini juga termasuk kedalam salah satu alat yang mereka kembangkan jadi mereka adalah ahlinya.
Sementara itu Meyla merasa sedikit risih ketika dia harus meminta hal ini kepada saudaranya. Meyla tahu jika dia meminta sesuatu pasti akan langsung dikabulkan saudaranya tersebut hanya saja Meyla sedikit kesal dengan ekspresi mereka yang merasa sangat tersentuh bahagia karna melihat Meyla yang meminta sesuatu pada mereka adalah pemandangan yang sangat jarang terjadi.
"Aku akan menjemputmu besok. Okay, see you tomorrow."
"Makasih lagi ya, Mey."
Dengan berakhirnya percakapan tersebut, pada malam ini Senja mulai menyiapkan koper pakaiannya, diri juga mentalnya untuk satu minggu kedepan.
Kamus gamer singkat:
mmorpg; massively multiplayer online role playing games; permainan role playing game yang melibatkan ribuan pemain untuk bermain bersama didunia maya, yang terus berkembang saat ini melalui media internet.
Launching; ialah peluncuran sesuatu (barang) yang terbaru.
Virtual realiti; alat yang membuatmu bisa melihat yang ada didunia maya seperti berada didunia nyata.