The Phantom Of: The Crownless Gamer

The Phantom Of: The Crownless Gamer
Pemain 21: Hadiah Di Malam Pertunjukkan Merah



Sepanjang jalan Senja menunjukkan ekspresi wajah yang senang, yup itu karena sebagian hal yang selama ini ia pendam akhirnya bisa ia keluarkan. Perasaan melegakan itulah yang sekarang membuatnya senang terlebih lagi, sekarang ia dapat langsung menuju kekota Bumi pusat untuk menyaksikan hiburan malam di sana yang sangat di nantikannya.


Aruna hanya berjalan di sampingnya dengan ekspresi datarnya seperti biasa, namun ada sedikit rasa penasaran yang dia tunjukkan dari sikapnya, dia kemudian mulai sedikit menundukkan kepalanya, secara perlahan memperlambat dan kemudian menghentikan langkah kakinya.


Senja yang merasa Aruna tidak berada lagi di sampingnya menoleh kearahnya. Kini Senja hanya bisa melihat Aruna berdiri di sana sambil menundukkan wajahnya. Membuatnya sedikit bertanya.


“Aruna?”


Aruna yang mendengar suara Senja akhirnya mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah seriusnya di hadapan Senja. Aruna kemudian berjalan mendekati Senja secara perlahan. Tangannya mencoba untuk meraih rambut Senja di bagian kiri, tepat diatas telinganya.


“Aruna? apa ada sesuatu di rambut ku?”


“Tidak. Hanya saja... kupikir ini akan terlihat pantas padamu.”


Aruna kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah jepitan rambut yang indah. Dia hendak memberikannya pada Senja.


“Aku hanya mengambilnya, jika kau tidak suka, aku bisa memberimu yang lain.”


Aruna berkata seraya memperlihatkan sebuah jepit rambut berukuran sedang itu pada Senja. Senja hanya bisa terdiam dan terpana melihat betapa indahnya jepitan tersebut, itu adalah jepitan sama yang ingin diambilnya di toko aksesories kemarin, warnanya yang seperti titanium itu, bentuknya yang hampir menyerupai daun ditambah motif  dasar bunga melati putih yang terukir disisinya yang terkesan cantik tak lupa manik-manik berlian tergantung di bawahnya menambah kesan unik. Senja hanya bisa tersenyum sambil berkata.


“Maukah kamu memasangkannya di rambut ku?”


Kalimatnya ini membuat Aruna tersenyum dan dia pun menggerakkan tangannya secara natural, mencoba untuk memasangkan jepitan itu kerambut kiri Senja, setelah dirasa pas dia pun melepaskan tangannya. Matanya terpana melihat Senja yang begitu manis mengenakan jepitan itu dengan sedikit mengekspos sisi wajah kirinya.


“Bagaimana?” tanya Senja.


“Kau memang cocok dengan motif bunga melati.”


Senja pun kembali teringat perkataan seorang anak kecil yang berkata bahwa dia cocok dengan imej bunga melati, hal ini pun membuatnya sedikit menahan napasnya. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca itu ia menarik napas berusaha untuk mengucapkan rasa terima kasih dan mengatakan sesuatu.


“Makasih Aruna... Aruna kau-”


Namun ketika Senja hendak mengatakan sesuatu yang penting, terdengar suara ledakan besar dari dalam kota pusat Bumi. Mereka berdua pun terkejut melihat ada kumpulan asap hitam tebal dan api yang sangat besar yang mucul dari dalam tengah kota. Mereka berdua pun segera menuju kesana secepat mungkin.


Sesampai di tengah kota mereka terkejut melihat isi kota yang hancur dan rusak dimana – mana. Tempat yang tadinya sangat indah dan penuh dengan kebahagiaan di sana berubah seketika menjadi lautan bunga merah yang melahap semuanya.


GWAAAARRRRRHHH...


Senja terkejut mendengar sebuah suara aungan seekor monster yang sangat besar berada di tengah kota, monster itu terlihat seperti seekor naga hitam setinggi berpuluh meter. Memiliki sayap lima pasang dengan mata merahnya yang menyala - nyala, mulutnya mengeluarkan sebuah api berwarna biru juga tubuhnya yang seperti di selimuti oleh kabut hitam gelap.


“A-apa yang terjadi....”


Senja hanya bisa mengangkat alisnya dengan membuka sedikit mulutnya, melihat semua ini terjadi begitu saja, tak lama terlihat sebuah notif merah berkedip – kedip pada layarnya.


Karena Senja sibuk memperhatikan notif itu, ia tidak melihat bahwa naga itu menyemburkan api kearahnya dan tentu saja serangan tiba – tiba itu membuat Senja tidak bisa bergerak. Namun sebelum serangan itu sampai pada Senja, seorang player class knight berdiri dan menghadang api naga tersebut dengan tamengnya.


“Kekh... nona, kenapa kau tidak bergerak lebih cepat seperti kemarin?”


Ucap seorang Player class Knight berarmor lengkap itu pada Senja. Senja yang tadinya memejamkan mata kemudian membuka matanya, ia juga melihat Aruna sudah berpindah ke depannya.


“Erdian!”


“Yah... nona senjata api, haha... maksudku Nona Senja.” Sapa Erdian pada Senja secara formal.


“Kenapa kamu memanggilku seperti itu, Senja saja sudah cukup.” Senja sedikit tidak nyaman dengan keformalan Erdian. Ia tidak suka julukan nona yang di berikannya itu.


“Itu cara ku menghormati Player terbaik tahun ini... Kekh hahahah.” Canda Erdian sedikit padanya namun itu hanyalah sebuah sapaan sementara yang dia ungkapkan kepada Senja.


Sementara itu, Erdian terlihat merubah raut wajahnya menjadi masam setelah menatap wajah Aruna yang berada dekat Senja.


“Cih... kau! awas saja kalau kau berani mengambil Boss event ini.”


Erdian mendengus kesal pada Aruna dengan memperingatinya agar tidak ikut campur menghabisi Boss event yang sekarang. Dia khawatir jika Aruna sampai mengikuti event maka, Player lain pasti kesal dan marah serta tidak akan bisa menikmati penyerangan bersama ini dengan tenang.


Aruna juga ikut menatap balik kearah Erdian tanpa berkata apapun, namun Senja langsung menyela di antara pertikaian itu.


“Apa itu Boss event, Erdian?” Tanya Senja penasaran sambil melihat ke arah monster naga hitam di sana.


“Ya Nona, sebentar lagi guild – guild besar akan berkumpul di sini dan memulai pertarungan mereka mengalahkan Boss event MVP ini.”


“Tapi nona... kenapa kau bersama si-Aruna ini lagi? bukankah sudah ku peringatkan padamu untuk menjauhinya.”


Erdian kemudian menatap curiga kearah Senja yang kini sedikit salah tingkah, namun ia langsung mengalihkan pembicaraan itu pada hal lain.


“Ah... aku tadi managih hutangnya, dia berjanji memberikan sesuatu padaku jika dia kalah berduel....” sahut Senja dengan sedikit nada khawatir.


Erdian masih saja melototi Senja dengan tatapan kecurigaan nya, meski Senja sudah memasang senyum di sana namun masih terlihat ada yang tidak beres.


“Bagus Nona, orang sepertinya memang harus diberi pelajaran karena meremehkan orang. Kheh heh, Nona jika urusanmu sudah selesai dengannya... ikutlah bersama kami. Kami membutuhkan kemampuan serta demage mu itu untuk menyerang boss bersama... sampai jumpa.”


Erdian kini berbalik namun dia masih menoleh sedikit kearah Aruna dengan sorotan mata yang tajam.


“Dan kau! jika kau ingin berguna maka cobalah untuk melindungi Nona itu. Setidaknya buatlah dirimu nampak berguna.”


Suara Senja terhenti ketika Aruna mencegahnya untuk menbalas kalimat Erdian yang mencela dirinya itu. Senja yang marah pada sindiran Erdian terhadap Aruna kini hanya bisa menahan amarahnya, kesal karena membuat Aruna terkesan seperti seorang Player yang menganggu.


Ia merasa merasa tidak terima karena temannya diejek seperti itu.Namun Senja tidak bisa hanya berdiam diri, ia pun kembali berkata.


“Aku menolak untuk di lindungi! apa kau meremehkan aku, Erdian?” Senja menatap lurus pada Erdian dengan sorotan matanya yang menyipit dan tajam.


Erdian juga Aruna kini memasang wajah terkejut bersamaan setelah mendengar Senja berteriak seperti itu. Erdian kini melekukkan bibirnya sambil berucap.


“Ya, Nona aku menantikan pertempuran hebat mu yang lain... haha.”


Tawa Erdian sambil melambaikan tangan kanannya dari balik punggungnya kemudian pergi berlari kearah pertempuran guild besar di sana.


“Aku tidak bisa memaafkan mereka, menghinamu seperti itu!”


“Hm... kau marah?”


“Tentu aku marah, kamu tidak marah apa?” balas Senja yang menaikkan alisnya kesal.


“Aku juga marah.”


“...?! tapi wajahmu datar... kamu tidak bercanda kan?” Senja yang heran melihat wajah Aruna yang katanya sedang marah namun ia melihat wajahnya itu yang jelas – jelas tidak mengeluarkan ekspresi sedikitpun.


“Aku marah, bahkan juga kesal sekarang.” ucap Aruna yang masih setia dengan wajah datarnya.


Senja hanya bisa merasa sedikit merinding melihat Aruna yang marah namun tidak mengeluarkan ekspresi apapun diwajahnya.


Ia berpikir apakah sebenarnya orang ini pandai memendam amarah nya? tapi jika hanya di pendam bukankah suatu saat bisa meledak? dan itu bukanlah hal yang bagus, kan?!.


“Aruna....” sambil mengepalkan serta mengangkat tangan kanannya seperti kode joss, Senja sedikit mendengus dan memberi semangat padanya.


“Jika kau tidak bisa marah maka biar aku saja yang mengeluarkan ekspresi marah itu... ok" sambil menepuk pudak Aruna pelan Senja melanjutkan "Kamu tunggu di sini, aku akan pergi menyusul mer- kyaa....”


Senja langsung merasa langkah kakinya terhenti karena sesuatu menahannya. Ia lalu membalikkan lagi badannya karena merasa geraknya di hentikan oleh Aruna.


“A-Aruna apa yang kamu lakukan, aku juga akan ikut bertarung ke sana da-”


“Aku tidak menghentikanmu... apa kau lupa?”


Aruna pun mengangkat tangannya yang masih terikat borgol bersama tangan Senja, memperlihatkan kondisi anehnya itu pada Senja. Senja sekarang hanya bisa memasang wajah layaknya lukisan scream. Ia sungguh lupa bahwa dirinya masih terikat bersama Aruna.


Tanpa mengahabiskan banyak waktu, mereka lalu pergi menuju ke rumah NPC penempah di kota, namun tak ada satupun orang di sana ketika sampai di toko.


“Ternyata NPC-nya di buat realistis juga, huh. mereka ternyata bisa melarikan diri jika merasa dalam bahaya... ha-ha-ha hikss....” rintih Senja yang kini hanya bisa menangisi kondisi mereka.


Senja tentu saja juga ingin ikut bertarung melawan boss MVP itu, merasakan tantangan pertarungan yang menegangkan itu namun, jika ia membawa Aruna kesana, mereka pasti akan menolaknya. Padahal Senja berniat untuk sedikit mengamuk di sana, jadi yah untuk Boss event yang ini, ia hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa bisa menikmati semua keseruannya.


"Sebegitu ingin kah kau ikut ke sana?" tanya Aruna yang melirik kearah Senja yang terduduk memeluk lututnya.


"...." Senja hanya mengangguk kan kepalanya.


Mereka sekarang berdiri di atas sebuah atap rumah penduduk yang berada tak jauh dari Boss event, sambil terus memperhatikan Boss event yang sekarang sedang di serangi oleh berbagai class player, bahkan beberapa dari mereka banyak mengeluarkan sihir gabungan, menyatukan berbagai skill mereka menyerang dan terus menyerang boss.


Mereka semua mulai mengeluarkan berbagai skill terhebat mereka. Aruna hanya bisa memperhatikan dari kejauhan.


Anehnya meski mereka telah menyerang dengan sekuat tenaga dan dengan demage yang sangat besar disana, Boss event tersebut tidak menunjukkan adanya tanda-tanda dampak. Aruna seperti merasakan ada sesuatu yang salah.


Boss event ini... muncul tanpa ada pemberitahuan, bahkan tak ada notif apapun.


Batin Aruna yang melihat pada layar monitornya tentang event ini, namun tak ada pemberitahuan apapun, belum lagi kondisi Boss event ini yang berada di tengah kota.


Bukankah kota zona aman? apa mereka merubah lokasinya dan....


Seketika Aruna dan Senja merasakan sesuatu mendekat secara tiba-tiba dan dengan refleks yang cepat keduanya segera menghindari serangan dadakan dari atas kepala mereka.


CTAAAAARR... KZZZZ... Zz


Suaranya yang seperti sambaran guntur dan dengan efek kerusakan yang sangat parah itu membuat lantai atap menjadi hancur berserakan, dan dari balik kabut asap itu muncul seseorang bukan... dua orang yang terlihat seperti seorang Player.


Mereka memiliki penampilan layaknya seperti seorang pesilat dengan sabuk yang terikat pada pinggang mereka, satu laki - laki dan satunya lagi perempuan. Warna pada kulit mereka coklat gelap, rambut mereka yang terlihat sedikit acakan itu untuk laki - laki sedang yang perempuan di ikat satu.


Rambut mereka pun berwarna sama yakni grey dengan biasan sedikit merah pada ujung rambutnya, sementara mata mereka di tutup dengan sebuah kain hitam dengan lambang yang aneh pada tengahnya.


"Siapa mereka?!, apa mereka PK?"


"Bukan... mereka bukan Player." sanggah Aruna.


"Jika bukan Player lalu apa? kenapa mereka menyerang kita Aruna?!" tanya Senja lagi.


"Entahlah... tapi yang pasti sekarang, mereka menganggap kita musuh."


"Eh?!" Tatap Senja pada Aruna yang kini di wajahnya terukir sebuah kekhawatiran.