The Phantom Of: The Crownless Gamer

The Phantom Of: The Crownless Gamer
Pemain 2: Sebuah Penolakan



Pagi hari yang sangat tenang, Senja baru saja bangun dari tempat tidur yang kemudian mulai membereskan kamar tidurnya. Ia mengambil beberapa bantal serta merapikan posisi selimut dan bantal guling lain, dengan begitu terlihatlah tempat tidurnya yang tersusun sangat rapi seperti tak ada yang pernah tidur diatasnya.


Ia berjalan kearah sudut ruangannya, mengarah ke sebuah jendela berukuran besar. Dengan kedua tangannya ia membuka lebar pintu jendela itu, terlihatlah sebuah pemandangan cahaya pagi yang sangat indah sambil merasakan nyamannya angin lembut yang membuat beberapa helai rambutnya terbang, untuk beberapa saat ia berdiri di depan jendela itu sambil tersenyum mengangkat kedua tangannya dan Senja memulai paginya yang sibuk seperti biasa.


Rumah itu tidaklah besar hanya terdiri dari 2 kamar tidur utama, kamar mandi, ruang tamu yang terpisah oleh sebuah dinding dengan ruang dapur. Kemudian ia melakukan rutinitas nya setiap pagi, memilah pakaian kotor, menyapu setiap ruangan lalu memasak dan menyiapkan makanan. Setelah makanan nya siap, ia pun pergi ke depan sebuah pintu kamar yang berhadapan dengan ruang kamarnya. Tok tok tok... terdengar suara ketukan pintu secara perlahan.


"Apa nenek sudah bangun?"


Tapi tak ada respon apapun dari dalam kamar. Karena cukup lama tidak ada yang respon, Senja pun langsung membuka pintu kamar. Ruangan itu terlihat sangat bersih dan nyaman lengkap dengan beberapa benda bergaya interior lama yang terbuat dari kayu serta sebuah mesin jahit tua yang terletak disamping meja kaca rias. Ia pun mendekati tempat tidur itu. Namun betapa terkejutnya tak ada siapapun yang tidur di atas kasur itu.


"Nenek?" ungkap Senja dengan nada panik.


Senja pun berlari mengelilingi seluruh ruang rumah untuk memastikan keberadaan nenek nya itu. Ia menjelajahi satu-persatu mencari di setiap ruangan tapi tetap tidak ada.


"Aduh... bagaimana ini, tidak mungkin nenek keluar malam-malam kan?!"


Tak lama setelah Senja berhenti sejenak untuk berpikir ia mendengar suara pintu depan terbuka.


"Wah wah. Kau sudah bangun Senja?"


Muncul seorang wanita tua yang memakai dress panjang bermotif bunga dengan warna kuning pucat di tambah gaya ikatan rambutnya yang terikat bulat diatas kepalanya dan sedikit berantakan memperlihatkan rambutnya yang sudah putih.


Dengan ekspresi lega yang hampir sedikit menangis Senja kemudian memeluk neneknya.


"Nenek tadi pergi kemana?. Aku khawatir penyakit lupa nenek kambuh." ucap Senja dengan nada khawatir.


"Bukankah sudah kukatakan jika nenek ingin pergi, nenek harus memberitahuku... hiks...."


"Aku hanya bangun terlalu pagi dan sambil menunggu aku menyapu halaman depan." ungkap neneknya dengan suara yang pelan dan sedikit serak.


"B-biar aku saja yang melakukannya!. Nanti nenek lelah...." sanggah Senja dengan semangat. Sang nenek hanya bisa melihat ekpresi lucu dari sang cucu sambil tersenyum di wajahnya.


"Bagaimana kalau kita makan?" Kata neneknya sambil menarik Senja pindah keruang makan.


***


Setelah selesai makan, Senja pun mencuci dan merapikan semua piring. Ketika itu juga terdengar suara sang nenek memanggilnya, mengatakan bahwa smarthone nya berbunyi. Ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya lalu mengelap tangan dan berjalan menuju ke ruang kamarnya.


"Ya saman... ini... Meyla sungguh!? 15 misscall. Itu berarti telepon berikutnya aku akan...." gumam Senja yang sedikit takut sambil membayangkan wajah mengerikan sahabatnya itu ketika marah.


"Iya halo."


"Hoh hoh~ kenapa lama hmm... baik nanti temui aku jam 11 diresto and dcmcafe okay~" ujar Meyla singkat.


"Iya aku akan datang. Mmp... ini tentang telepon semalam atau, t-tapi aku tidak begadang main game lohh jadi, auh...." kata Senja dengan nada agak tegang.


"...Tentu aku tahu kamu menepati janjimu, tapi~ aku ingin tahu alasanmu tidak mendengar ceritaku dan menutup telepon?!.Ho hoo... berani sekali kamu SENJA" kata Meyla dengan nada menekan.


"Okay, see you soon~"


"Iya sampai jumpa nanti, Meyla."


Senja pun menutup telepon Meyla dan mulai bersiap-siap mencari pakaian yang akan dipakainya nanti serta menyusun dan membawa beberapa buku kedalam tas untuk di bawanya pergi nanti.


***


Senja tiba disana pada pukul 11.06, untuk sebuah kafe tempat itu sangat luas. Terlihat sebuah kursi hitam modern nan panjang yang mampu menampung dua atau tiga orang dengan sebuah meja berbentuk kotak kaca sebagai pelengkap, serta suasananya yang sangat sejuk dan nyaman terpancar karena ada beberapa tanaman hydroponic yang tergantung sepanjang dinding saat memasuki kafe, bukan hanya itu desain atap nya yang terbuat dari kaca tebal transparan membentuk kubah bulat, membuat kafe ini terlihat seperti rumah kaca bergaya bangunan barat dengan paduan lukisan awan.


"Ah! Mey. Apa kamu menunggu lama?" Sapa Senja sambil menarik sebuah kursi bulat yang terbuat dari anyaman rotan untuk ia duduki. Kafe ini memiliki ruang dalam yang seperti taman, untuk beberapa hal bagi pasangan tempat ini sangatlah sesuai karena jarak antar posisi kursi benar–benar berjauhan membuat lebih nyaman. Di tambah lagi ada sebuah sebuah semak bonsai panjang yang di buat membentuk batasan untuk setiap meja.


"No. Just in, you right on time."


"Haruskah kita pesan dulu makanan atau minuman?. Ahemm... Senja kau mau apa?" panggil Meyla dengan menawarkan beberapa menu yang tersedia didalam buku.


"Aku mau pesan minum... ah Mey aku pilih menu yang ini saja." Kata Senja dengan menujuk sebuah minuman.


"Satu iced apple tea, kan. Okay kalo begitu aku... fruit tea, smoothie berrys, trownies 2, farfaite strawberries dan... crounut whipped cream alvocado, serta nasi goreng merah dengan taburan daging kambing!. Hmm~ baik itu saja dulu~" ujar Meyla dengan semangat nya menunjuk pelayan di sana untuk mencatat menu.


Aku benar-benar tidak bisa membayangkan betapa banyaknya temanku ini makan, meski kali ini lebih terkendali dari biasanya pikir Senja dalam hatinya. Sambil menunggu makanan dan minuman yang mereka berdua pesan tiba, Meyla memaksa Senja mengatakan semua yang ingin dia ketahui.


"Senja... bisa katakan padaku alasannya~" pinta Meyla dengan sedikit memaksa tapi kali ini dia terlihat lebih santai.


Senja lalu menceritakan semua pengalaman nya selama bermain dan juga alasan kenapa ia dengan sengaja menutup telepon Meyla tanpa menghiraukan perkataannya. Disini Senja mengatakan bahwa ia menemukan sebuah item langka yang rencananya akan ia gunakan untuk membuat equip mystic, karna merupakan bahan utama sebab itulah itemnya susah dicari terlebih lagi tempatnya melewati pepohonan hutan lebat serta ia harus dipaksa melawan beberapa momon ganas berlevel tinggi disana.


Hingga pada akhirnya Senja menemukan item itu dekat wilayah pegunungan Vulcano. Senja juga berpikir bahwa andaikan saja ia dapat dengan mudah memasuki Dungeon maka ia mungkin tidak akan kesusahan seperti ini.


"... Benar, jika saja level ku lebih tinggi dari mereka. Aku mungkin akan melawan. Mereka sungguh membuatku kesal, mendominasi dungeon awal untuk para pemula dan pemain rata-rata agar tidak mudah mendapatkan equip langka, sungguh...." ucap Senja dengan nada kesal.


"Hm...." gumam Meyla sambil memperhatikan Senja.


"Jadi itu alasan kau tetap memakai equip level rendah sedang levelmu lebih tinggi?" tanggap Meyla dengan ekspresi menyeringai terdengar bahwa didalam kalimatnya itu seperti sebuah sindiran bagi Senja.


"Jadi bagaimana bahan kemarin kau dapat?"


"Huh~ tidak." jawab Senja namun mata nya langsung membuka lebar ketika ia teringat sesuatu.


"Eh, ngomong-ngomong Mey. Semalam aku bertemu Player aneh... walaupun keren dan cara bertarungnya sangat hebat seperti aku bertarung dengan real pro gamer." ungkap Senja dengan nada bersemangat.


"Lalu apa yang aneh? wajah atau gaya nya?" Tanya Meyla dengan penasaran.


"Sikap player itu... dia memintaku berduel dengannya...." jawab Senja dengan nada datar dan dengan wajah yang serius.


Meyla yang melihatnya menjadi bingung dan meminta ceritakan secara detail kepadanya. Kemudian Senja secara panjang lebar menceritakan pengalaman aneh yang ia alami semalam.


Meyla yang tertarik dengan pembicaraan Senja hanya bisa mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menanggapi perkataannya lalu memakan makanan dan minuman yang mereka pesan tadi, dengan menikmati pengalaman sahabatnya. Sesekali terpancar bentuk ekspresi yang berbeda – beda di wajahnya. Hal itu membuat Meyla tertawa geli. Apalagi bagian cerita dimana barang langka yang diinginkannya dicuri oleh seorang player.


Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat, yah dengan suasana dan keadaan yang sangat nyaman seperti itu siapapun pasti tidak menyangka waktu dapat berlalu dengan cepat. Sekarang sudah mulai sore, dan waktu menunjukkan pukul 14.05.


"Waw~ kau benar–benar menolaknya? ini memang aneh tak seperti biasanya kau menolak ajakan seseorang yang menantangmu bermain games." ujar Meyla dengan heran, sambil melipatkan kedua tangannya.


"...Kalau ditantang duel aku mau–mau saja...tapi kali ini lain ceritanya...."


"Bukankah nanti dia mau memberikanmu item secara gratis apapun itu, kan? terima saja dan lalu kalahkan." Kata Meyla dengan ekspresi candaan seperti ingin membunuh.


"Bagaimana mungkin? yang kulawan itu pro loh pro gamer, yang semalam saja aku kalah telak...." sanggah Senja.


"Lagipula jika aku kalah dia memintaku untuk berjanji bahwa aku harus...." dengan ekspresi marah sambil mengepalkan tangannya Senja berkata lagi.


"... Pensiun selamanyaa dari games! wah~ itu kan mustahil bagiku."


Bruuh... uhuk uuhuk... suara semburan air dan sedikit terbatuk dari Meyla yang kemudian langsung menyeka mulutnya dengan tisu sambil menunjukkan dengan tangan kanannya kearah Senja.


"Dengar yah Senja! kau sudah bertemu dengan player baik. Aku sih setuju dengan keputusannya!. Dia sudah mengambil pekerjaan yang ingin aku lakukan padamu." ungkap Meyla kali ini dengar mata yang berbinar–binar.


"Tidak tidak Mey, kau... ini sahabatku, ya kan? yang kau bela itu enemy loh."


Walau begitu tetap saja Meyla merasa seperti berterima kasih kepada Player itu dan mencoba membujuk Senja untuk menerima pernyataan perang dengannya. Meski begitu Senja tetap pada keputusannya dangan menolak sepenuhnya ajakan player itu.


Senja mengatakan pada Meyla bahwa ia sudah berkali–kali ditantang nya dengan mengirimkan personal message ke dirinya bahkan ketika Senja hendak login pagi ini pun didalam gamenya ia akan menemukan tulisan By1 dilayar komputernya. Player itu tidak berhenti mengirim permintaan itu terus padanya, sampai pada akhirnya Senja memutuskan untuk tidak bermain games online [Araum of Inverted SkyEarth] dulu sementara ini.


"Ya saman! sudah jam segini... aku pergi duluan ya Mey, ada kelas yang harus aku hadiri."


Senja dengan bergegas meminum habis makanan dan minumannya, selagi berpamitan dengan sehabatnya.


"Dan terima kasih untuk trownis bluevelvet nya! Sangat enak~ he he...." sahut Senja yang tersenyum manis sambil melambaikan tangan kanannya lalu pergi meninggalkan sahabatnya di sana.


"Iya, sama-sama... take care!" teriak Meyla dengan santai sambil melihat sahabatnya pergi.


Untuk beberapa saat Meyla duduk disana sambil membersihkan beberapa makanannya dan kali ini dia terlihat menggangkat tangannya melambai kepada seseorang.


"... Ah! pelayan aku mau pesan lagi." kata Meyla dengan lantang.


"Siap mba." jawab Pelayan itu.


"Aku pesan kwetiaw sosis, nasi goreng merah dengan taburan daging sapi asap, olf obento small, carbonara, dan menu terbaru kalian mini tumpeng with spicy seafood oh ya ocha." ungkap Meyla dengan cepat dan mantap.


Pelayan itu mendekati mejanya dan dengan ekspresi bingung sambil menggaruk keningnya dengan pena lalu menulis berbagai pesanan makanan untuk Meyla tadi. Itulah Meyla kami, meski makan sebanyak apapun tubuhnya tetap tidak gemuk.


Bahkan Senja pernah berpikir kalau didalam perut Meyla mungkin terdapat sebuah lubang hitam yang membuat semua makanannya menghilang seperti dirinya tidak pernah makan dengan kenyang. Tapi bagi seseorang yang sangat suka makan, itu seperti sebuah anugerah bahwa kita bisa makan sepuasnya tanpa mengkhawatirkan ukuran berat badan.


Kamus gamer singkat:


PK/Player Killing; istilah untuk pemain yang suka membunuh pemain lain.


Pro Gamer; istilah merujuk pada pemain game yang jago, juga para gamer yang biasa mengikuti turnamen.


Sultan Gamer; ialah hardcore gamer yang begitu menyukai game dan terus mengikuti perkembang game dari sofware maupun hardware mereka rela menghabiskan uang jutaan lebih demi perkembangan gamenya.


by1; merujuk ke pernyataan 1 lawan 1.