
• ----------------- ☼ ------------------ •
Gadis kecil itu mulai menangis, karena merasa tidak bisa berbuat lebih untuk orang yang membutuhkannya. Dia sangat mencintai orang – orang di sekitarnya, tak perduli seperti apapun mereka, jika dia bisa membantu orang lain maka hatinya sendiri akan ikut bahagia.
Dan karena tangisan air mata yang begitu tulus itu, datanglah seorang peri mungil yang tidak tega mendengar suara rintihannya.
Peri itupun bertanya “Ada apa gerangan dikau meneteskan air mata gadis kecil?”
Gadis kecil itu terkejut melihat sesosok peri mungil muncul dengan cahaya terang di sekujur tubuh itu mulai bertanya padanya. Gadis kecil itupun mencoba untuk menghapus air matanya yang mengalir di pipi dengan kedua tangannya.
“Aku sedih peri kecil, aku ini hanyalah gadis kecil yang beruntung di antara para gadis kecil yang lain di dunia ini. Aku memiliki segalanya layaknya seorang putri, dan karna aku sudah sangat bahagia aku ingin membagikan sebagian kebahagiaanku itu pada mereka yang tidak punya....”
“Ta-tapi... hikss meski sudah aku bagikan tetap saja, masih ada orang yang tidak mendapatkannya... aku ingin sekali peri kecil bisa membantu semuanya. Karena kelak ketika aku dewasa, aku ingin melihat sebuah dunia di mana setiap orang di dalamnya tidak merasakan kesengsaraan, hanya kebahagiaan,” ucap gadis kecil itu seraya menagis tersedu-sedu.
“Dikau memang anak manis yang berhati mulia, tetapi dunia ini sudah memiliki aturannya, meski kau berbuat baik sebanyak apapun tetap saja masih ada ketidakadilan yang terjadi."
“Jadi bagaimana peri mungil apakah dunia seperti itu hanya ada di dalam imajinasi?”
“... Sayang nya iya gadis kecil, tetapi karena aku memiliki kekuatan ajaib, aku bisa mewujudkan sebagian imajinasimu itu.”
“Apa dikau bersedia melakukan apapun asal bisa menciptakan dunia imajinasi itu wahai gadis kecil?”
Gadis kecil itu pun menjawab “Iya. Aku akan melakukan apapun agar dunia itu bisa kulihat!”
Saat ini di bibirnya terukir sebuah senyuman tulus yang indah, dia sangat bahagia karena peri mungil itu bisa mewujudkan imajinasinya.
• ----------------- ☼ ------------------ •
Senja kini terdiam sesaat dengan sedikit keringat yang mengucur di dahinya, membaca buku ini membuatnya teringat akan suatu hal, meski sudah coba di ingat tetap tidak teringat. Alhasil Senja yang semakin penasaran membuka lagi lembaran kertas itu.
• ----------------- ☼ ------------------ •
Keesokan paginya gadis kecil itu di datangi lagi oleh peri mungil. Peri mungil itu berkata pergilah mengelilingi setiap kota makmur dan bahagia di seluruh negeri, rasakan dan ingatlah setiap kebahagiaan serta keindahan di sana. Setelah kau kembali dengan semua memori indah itu temui aku di hutan sihir terdalam tempat di mana ada altar suci berada.
Tanpa ragu, gadis kecil itu berkelana keseluruh negeri menyaksikan dan mengingat baik – baik semua hal indah dan menyenangkan yang dia rasakan. Setelah satu tahun dia pun kembali dan menemui lagi peri mungil itu di hutan sihir.
“Peri mungil, peri mungil... aku sudah kembali! Sekarang kumohon wujudkan impianku! dunia imajinasiku!” panggilnya sambil berseru di sekitar altar.
Peri mungil itu kembali muncul dengan cahaya berkilauan di hadapannya, dia mendekat kewajah gadis kecil sambil menyentuh keningnya. Membuat cahaya pada tubuhnya berkedip – kedip.
“Baiklah gadis kecil, mendekatlah ke altar suci dan biarkan alam yang ada disekitarmu menyatu barsamamu,” ujar Peri mungil itu sembari mendorong tubuh gadis kecil itu kedekat altar dan membantunya untuk berbaring di atasnya. Sekarang gadis kecil itu sudah berada di atas altar sembari tangannya yang dia lipat di atas perutnya, dia pun kembali bertanya.
• ----------------- ☼ ------------------ •
Senja sekarang mulai memiringkan kepalanya dan kini wajahnya menjadi sedikit pucat dengan keringat dingin yang mengucur semakin banyak. Dengan menelan sedikit air ludahnya, ia kembali membuka lembaran baru bab berikutnya.
• ----------------- ☼ ------------------ •
“Apakah aku hanya harus terbaring seperti ini, peri mungil?” tanya gadis kecil tersebut.
“Iya anak manis, sekarang aku bisa mengabulkan imajinasimu itu, sekarang pejamkanlah matamu.”
Gadis kecil itu sangat percaya pada ucapan sang peri mungil, dan sekarang dia mulai tertidur semakin lama semakin lelap dan tubuhnya pun mulai di selimuti oleh akar – akar tanaman yang menjalar di sekujur tubuhnya, namun akar – akar itu terlihat seperti mengikat dan menyerap menembus ke dalam kulit gadis kecil itu, membuat cahaya pada tubuhnya seakan – akan meredup. Tubuhnya pun lama – kelamaan menjadi semakin mengecil dan kurus yang pada akhirnya di tubuhnya hanya tersisa sebongkah tulang belulang yang terbaring di atas meja altar.
Peri kecil itu kini mengeluarkan senyum menyeringainya, dan mulai terkekeh – kekeh melihat bahwa dirinya berhasil menipu gadis kecil yang naif itu serta mendapatkan energi Rana mudanya.
Peri kecil itu lalu turun ketanah dan berubah dengan kepulan asap tebal di sekitarnya, kewujud aslinya seorang penyihir tua yang sekarang wajahnya perlahan menjadi muda kembali.
“Dikau gadis kecil yang malang, kau terlalu murni untuk dunia ini. Sebaiknya kau menciptakan sendiri dunia imajinasimu dengan ingatan bahagia yang kau dapatkan dari dunia ini AHA-HA-HA,” tawa jahat penyihir itu. Sembari terbang pergi jauh ke angkasa luas meninggalkan tubuh malang gadis kecil itu yang kini tak terbentuk lagi kulitnya.
• ----------------- ☼ ------------------ •
“Uhh... hikss... hikss seharusnya aku tidak membacanya, tapi... karena sudah terlanjur kubaca berarti harus aku selesaikan,” tangis Senja dengan nada terisak – isak seraya menggerakkan jemarinya membuka halaman lain untuk di baca.
• ----------------- ☼ ------------------ •
*Beberapa hari kemudian keluarga gadis kecil itu berhasil menemukan tubuhnya di dalam hutan sihir tepat berada di atas altar pengorbanan, mereka tidak menyangka seorang gadis kecil yang sangat lembut dan baik hati sepertinya dapat berakhir dengan sangat tragis.
Kedua orang tuannya terus menagis dan merasa tidak bisa menerima kenyataan, mereka tetap berikeras berada disamping anaknya, terus – menerus seraya berkata “Kami juga ingin ikut bersamamu nak kedunia imajinasimu*.”
*Dilain sisinya seorang anak laki-laki juga duduk disebelahnya sambil memegang tangan tak berbentuknya seraya berucap “Bawa aku juga bersamamu, bukankah aku sudah bersumpah akan selalu menjaga dan berada disampingmu?. Kenapa kau pergi begitu saja,” air mata mulai mengalir dikelopak matanya yang merah itu, matanya sembab dan mungkin sudah berhari – hari ini dia mencari gadis kecil itu didalam hutan.
Dia tidak penah menyangka bahwa teman yang disayanginya itu bisa dia temukan tak bernyawa, bukan hanya tak bernyawa bahkan sosoknya pun sudah tidak bisa di kenali lagi, hanya sisa gaun merah mudanya yang masih terlihat utuh di sana*.
Kini seluruh warga kota yang menyayangi gadis kecil tersebut ikut berduka, mereka hanya bisa berharap bahwa dunia yang selama ini diimajinasikan oleh gadis kecil itu dapat terwujud di dalam mimpi panjangnya.
• ----------------- ☼ ------------------ •
“Hiks... hiks... kenapa, kenapa aku membacanya, uhh... sekarang aku menyesal karena sudah membaca cerita menyedihkan seperti ini,” tangis Senja yang kini berlinang air mata. Ia mulai mengusap air mata yang sedikit demi sedikit keluar itu agar tidak di lihat oleh sahabatnya.
Senja kemudian meletakkan buku itu kembali ke dalam rak dan berjalan menuju sisi terang ruang baca.
Sembari mengusap sedikit tetesan air yang masih tersisa di kelopak matanya, ia berjalan menuju sofa hitam yang berada di sepanjang jajaran jendela kaca. Ia membukakan kedua matanya seraya terheran melihat kak Berto juga sudah duduk di samping Meyla dengan ekspresi yang serius.
Senja berjalan perlahan dan mulai duduk di sisi lain yang berhadapan dengan kak Berto juga Meyla.
“Senja, tentang Bug yang kau ceritakan semalam, pihak Developer Araum ingin kau mendatangi kantor pusatnya dan menjelaskan kepada mereka secara mendetail tentang semuanya, bersedia kah kau?” tanya kak Berto yang memasang wajah tersenyum.
“....” Senja hanya terduduk diam dan sedikit terkejut mendengarnya.
"Tentu saja, ini bisa di katakan panggilan darurat dari mereka, mereka secara resmi mengundangmu ke perusahaannya, bagaimana apa kau mau melihat perusahaan pengembang Araum?” tanya kak Berto lagi namun di kalimatnya ini terdengar seperti nada keraguan.
Senja pun menoleh kearah Meyla dan Meyla pun merespon Senja dengan mengedipkan matanya.
“Terserah padamu Senja, kau pasti penasarankan seperti apa tempat yang mengembangkan games yang sangat kau sukai itu, Huh~ aku tidak mengerti yang begituan... lagi pula....” Meyla menarik sedikit jas tangan kak Berto sambil mendekatkan sedikit wajahnya kehadapan Senja.
“Saudaraku yang ini akan menemanimu kesana, dia akan bertanggung jawab dengan nyawanya,” lanjut Meyla dengan mata sipit yang melirik kearah kak Berto dengan tajam.
“Tentu adikku tersayang~” senyum kak Berto yang sangat bahagia dengan permintaan khusus Meyla.
Dan seperti biasanya Meyla, mengeluarkan ekspresi kesalnya mendengar ucapan menjijikan dari saudaranya itu.
“Iya Mey, aku akan kesana! aku pasti kesana. Terima kasih kak Berto atas undangannya!” seru Senja sambil berjabat tangan dan menerima surat undangan resmi yang di keluarkan oleh kak Berto dari balik jas putih panjangnya.
Senja tidak pernah menduga bahwa dirinya bisa menyaksikan sendiri seperti apa perusahaan tempat pengembang games Araum online yang sangat terkenal itu dengan mata kepalanya sendiri. Dengan mata yang berseri dan senyum bahagianya itu, Ia sungguh tak sabar untuk segera bertemu hari esok.
-end of story-
Terima kasih sudah membaca sampai sini.