
Kicauan burung yang berterbangan mulai terdengar, di tandai dengan kondisi langit yang mulai berubah warna menjadi merah yang berpadu dengan sinar sang surya yang cerah namun semakin lama sang surya mulai menenggelamkan diri dan mulai menyembunyikan cahaya nya di balik bukit itu, seraya membiarkan kegelapan memakan cahayanya, membuat keadaan yang semulanya ramai mulai di makan oleh damai nya sunyi.
Di sana terdapat sebuah pondok dengan panggung setinggi lutut orang dewasa, tidak memiliki dinding pada sisinya, namun memiliki beberapa tiang penyangga yang sangat besar pada tiap sisi sudutnya. Pondok yang terbuat dari kayu berukuran tebal dan sangat keras itu biasanya di gunakan untuk orang yang ingin melakukan latihan beladiri atau sekedar berolahraga.
Lantainya yang terbuat dari potongan kayu tebal dan di poles dengan sangat halus serta di bentuk menjadi susunan tatami yang rapi, tak lupa pada ruang utama yang menghadap kedepan terdapat sebuah boneka kayu berbentuk seukuran manusia serta sebuah bantal panjang yang tergantung pada sudut kiri bangunan. Kedua benda itu terlihat begitu lusuh dan mulai rusak bukan karena di makan waktu tetapi karena seringnya digunakan.
HYAAAT... PLAAK.
Suara itu di keluarkan oleh seorang gadis yang saat ini pukulan kaki kirinya terhentikan karena di tahan oleh seseorang yang tubuhnya lebih tinggi darinya. Seorang pria berumuran sekitar 60-an yang memiliki tubuh setinggi 174 meter serta tegap itu berhasil menahan tendangan dari seorang gadis muda yang menyerangnya. Dia pun perlahan melepaskan cekraman tangannya dan mulai mengeluarkan sebuah kain kecil dari dalam saku untuk mengelap tangannya.
“Bagus nona Senja, sampai di sini dulu latihan kita. Hmp... hmp... kelihatannya tubuh anda sudah mulai terbiasa dengan semua latihan ini.”
Dengan sedikit menundukkan kepalanya gadis itu kemudian menatap kembali kearahnya seraya berkata.
“Hahh... huft... ya! Terima kasih kembali Pak Arie.”
Senja yang kini badannya mulai terlihat sedikit lelah karena beberapa latihan yang ia jalani mulai dari siang tadi sampai menjelang malam hari ini. Tubuhnya terlihat basah karena keringat yang bercucuran di dahinya, rambutnya yang di ikat ke belakang serta suara yang sedikit terengah-engah sambil bicara itu memperlihatkan betapa semangatnya ia menjalani latihan ini.
“Saya sangat bangga jika bisa membantu anda nona Senja. Meski saya tidak banyak berbuat tapi kuharap bisa membantu anda lebih... hiks saya terharu.” Pria itu kemudian mengusap air matanya dengan sebuah sapu tangan.
“Eh?! Hanya dengan latihan dasar dan pengembangan bela diri ini saja sudah sangat membantu ku pak Arie! Ini sudah banyak.”
Senja dengan sigap menenangkan Pak Arie yang mulai terharu karena perkembangan latihan bersama dirinya yang menjadi semakin baik hari demi hari. Tak lama terdengar sebuah suara yang memanggil namanya dengan lantang dari luar rumah latihan. Senja pun keluar dan pergi mengikuti suara itu.
“Senja. Apa latihanmu sudah selesai?” Tanya Meyla.
“Yup, sudah Mey.”
Senja pun melambaikan tangannya pada Pak Arie dari luar pondok latihan yang kemudian berbalik dan berjalan beriringan pergi dari sana bersama sahabatnya menuju rumah utama dengan melewati taman belakang rumah Meyla yang sangat luas. Untuk sebuah halaman belakang tempat itu seperti sebuah hutan yang sangat luas yah Meyla pernah berkata di sini bahkan ada hewan-hewan liar seperti harimau yang di lepas agar penyusup susah masuk ke rumah utama dan hutannya sengaja di jaga keasriannya, karna itulah terkadang ada beberapa orang yang pernah ingin menyusup malah tersesat di hutan bahkan sampai di kejar hewan liar. Sangat efisien.
Selain para pegawai dan semua yang berkerja dirumah Meyla, mereka tidak akan mengetahui seluk beluk hutan ini yang seperti labirin.
Sesampai di depan pintu rumah utama Meyla pun menghentikan langkah kakinya dan menarik tangan kiri Senja, seakan tak mau melepaskannya, Senja pun membalikkan badannya menghadap sahabatnya itu. Dia terkejut melihat sebuah ekspresi wajah yang sangat jarang di buat oleh sahabatnya itu, tak ada senyuman bahkan dia mengeryitkan dahinya dengan wajah yang muram sambil berkata.
“... Senja, aku tahu ini aneh tapi, aku merasa kan sesuatu yang buruk.”
“....”
Senja hanya bisa membuka lebar kelopak matanya sambil melihat wajah sahabatnya itu yang sangat cemas. Meski begitu ia tetap mengubah bentuk bibirnya dengan lebar. Tangan lainnya pun bergerak untuk meraih tangan sahabatnya itu meletakkannya di atas milik sahabatnya.
“Mey, kamu percayakan padaku?, aku... tidak bisa menjamin apa yang akan aku temui di sana tetapi... aku berjanji padamu aku akan kembali dengan selamat!”
“Hiks... hikss... Senja!”
Perlahan air mata mulai membuat matanya berkaca-kaca, warnanya yang sebening kristal itu mulai memenuhi kelopak matanya, sedikit demi sedikit butiran itupun mulai jatuh melewati pipi merah mudanya yang merona, kulitnya yang putih serta berkilau terkena sinaran rembulan yang menyinarinya membuat Senja tak bisa berkata banyak. Ia tahu orang yang ada di hadapanya ini tak ingin membiarkannya pergi.
“Kau... kembalilah hikss... mengerti... aku akan menunggumu sampai tengah malam, jika kau tidak terbangun sampai tengah malam nanti, aku akan me-logut mu dengan paksa, understand!"
“Yup, Mey. Heh... heh.” Tawa Senja ringan sambil mengelus tangan sahabatnya.
Ia berusaha sebisa mungkin menenangkan nya agar Meyla mau membiarkannya pergi, meski begitu tetap saja Meyla merengek dan melampiaskan semua perasaannya di sana.
***
Di Dalam Ruang Bermain, Rumah Meyla
Pukul 20.05
Senja kini sudah duduk di atas tempat tidurnya dan mulai memeriksa semua perangkat [AUTUMNgrass] nya lagi. Namun kali ini mereka tidak sendirian karena saudara laki – laki Meyla, kak Berto ikut menemani mereka di sana. Dia diminta khusus oleh Meyla untuk mengawasi sistem komputer utama pemain. Memastikan bahwa tidak akan ada masalah pada saat program di jalankan dan tentu saja dia sangat senang membantu apalagi jika itu permintaan adik tersayangnya secara pribadi kepadanya.
Meyla kemudian mendekat lagi dan duduk di atas tempat tidur Senja, berada di samping nya sambil berucap.
“Be careful....”
“Iya... aku akan berhati – hati..." sambil melirik kearah kak Berto "...dan kak Berto... makasih juga.”
“Iya." Senja mengangguk setuju.
Setelah semua sudah di pastikan aman, Senja kemudian perlahan memasang kacamata itu di kepalanya, ia pun melihat layar dan bersiap untuk melakukan Log in.
>>[CONNECTING]<<
Sesaat setelah Senja menyambungkan kode permainannya, ia perlahan mulai menutup matanya, semakin lama semakin berat dan sekarang hanya ada sebuah keheningan yang ia dengar.
Sayup – sayup ia mulai mendengar suara seseorang memanggilnya, mencoba mengatakan sesuatu padanya, namun Senja masih belum bisa membuka matanya. Ntah kenapa sangat berat dan susah sekali untuk di buka sampai pada saat di mana orang itu pun berteriak sangat keras di telinganya dan tindakannya ini berhasil membuat Senja terbangun duduk dengan sangat kaget.
Jantungnya berdebar-debar seakan ia sudah mengalami mimpi buruk yang sangat kelam. Ia lalu menggerakkan tangan kanannya, memastikan bahwa jantungnya masih berdetak di dadanya.
“Tidur mu nyenyak sekali nak, te hehe. Apa yang kau impikan tadi?” Tatapnya penasaran.
“....”
Senja hanya bisa terduduk dengan kedua kakinya di lipat kebelakang sambil menatap seseorang yang membangunkan nya itu. Dia memiliki tubuh seorang anak kecil hampir sekitaran 4-5 tahun. Memilki warna rambut kecoklatan yang mengkilap sama seperti warna matanya, di tambah kulitnya yang putih dan terlihat pucak itu memperlihatkan betapa serasi wajahnya yang imut.
Senja masih belum bisa berkata apapun padanya, ia hanya memasang wajah datar dan heran sambil terus melihat anak kecil yang berada di hadapannya tersebut. Anak itu pun mulai bertanya lagi dan lagi pada Senja dengan pertanyaan yang sama.
"Kau tadi memimpikan apa?, apa indah? taman bunga atau... oh aku tahu, kau sedang bermimpi di kejar monster jahat menakutkan yang akan memakan rambutmu kan, te hehe..gwarrrghh."
Anak laki-laki itu terus saja berbicara sambil bergaya menyeramkan layaknya monster dengan mengangkat kedua tangannya, mencoba menakuti Senja, meski Senja tidak menanggapinya, yang di pikirkan Senja sekarang rasa khawatir dan bingung. Kenapa lagi-lagi ia di bawa ke sebuah tempat yang tidak ia ketahui. Bukankah tadi ia melakukan log-in di Araum.
Senja mulai menyentuh dagunya dengan tangan kirinya seraya memikirkan sesuatu yang harus ia segera lakukan agar ia bisa keluar dari sana secepatnya. Ia lalu melihat sekitarnya, lagi - lagi hanya ruang kosong digital berwarna putih tanpa ada sesuatu apapun yang bisa ia lihat jadikan sebuah petunjuk.
Satu - satunya cara agar ia bisa mengetahui keadaannya sekarang hanya bertanya pada sosok anak kecil yang dari tadi terus berbicara dan bertanya padanya sambil terus meminta untuk di perhatikan.
"Hei~ Nak... jika ada orang yang bertanya padamu kau harus menjawab! tidak sopan tahu."
Senja segera tersadar kembali dari pikirannya, kemudian mulai melekukkan senyum di bibirnya. Mencoba untuk membalasnya dengan sebuah senyuman, sambil balik bertanya.
"Iya, iya... boleh aku tahu siapa namamu?"
Anak laki-laki itu pun membuka matanya lebar - lebar dan terlihatlah sebuah binar yang terpancar pada kedua matanya, dia sangat senang karena Senja merespon padanya.
"AH! namaku, namaku ya... err...."
Sekarang ekspresi bingung mulai terpancar pada wajahnya namun bukan itu saja dia nampaknya sangat terkejut dan sedih bahwa dia tidak mengetahui siapa namanya atau pun siapa dirinya.
"Maaf Nak, aku tidak memiliki ingatan apapun. Tak ada yang bisa aku katakan padamu."
Mendengar ucapanya itu Senja lalu merasa kasihan padanya. Ia mencoba berdiri dan mulai mendekati anak laki-laki itu lalu membuka kedua tangannya, sambil memposisikan ukuran tubuhnya sama seperti anak itu. Ia mencoba merangkul dan menenangkannya.
"...."
Anak laki-laki itu pun merasakan adanya sebuah kehangatan yang terpancar dari hati Senja, sebuah pelukan yang hangat dan sangat nyaman itu membuatnya merasa aman dan tenang, dia merasa sangat tersentuh dengan sikapnya.
"Nak! kau anak yang baik te hehe."
Senja lalu perlahan melepas dekapannya dan menatap wajah anak laki-laki yang ada di depannya itu, ia masih heran kenapa anak laki - laki itu terus saja memanggilnya Nak.
Padahal, jika di lihat dari fisiknya, bukankah Senja lebih terlihat dewasa daripada dirinya. Namun ketika Senja hendak memikirkan sesuatu, anak itu mendekat ke depan wajahnya dan mencoba memberikan aba-aba bahwa Senja harus mengulurkan tangan kanannya.
"Ini... akan aku berikan padamu Nak! sebagai hadiah menjadi anak perempuan yang baik, te hehe."
Anak laki-laki itu memberikan sebuah kristal bulat kecil yang di dalamnya seperti ada sesuatu yang terukir. Benda itu tidak berkilau hanya bulat bening dan biasa saja.
"Itu kelereng kesayanganku te-hehe, aku ingin kau menyimpannya Nak. Sampai jumpa."
Ucap perpisahan anak laki - laki itu kepada Senja, sambil pergi meninggalkan sisinya dan terus berlari menjauh darinya. Tentu saja Senja mencoba untuk mengejarnya, mencoba mengikuti dari belakang namun kesadarannya mulai menghilang, matanya mulai berkunang-kunang dan perlahan matanya mencoba untuk tertutup dengan sendirinya.