The Phantom Of: The Crownless Gamer

The Phantom Of: The Crownless Gamer
Pemain 5: Mencari Dirimu



SWING... SLASH... SRACH... DOUBLEKILL...TRIPELKILLL... PENTAKILL...


Berbagai suara musik keluar dari sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka. Itu adalah suara yang berasal dari kamar Senja. Ia sedang memainkan gamesnya. Kali ini sebuah games berbentuk team yang terdiri dari 5vs5 orang. Namun seperti biasa ia harus kehilangan kesempatannya ini, walaupun team yang ia dapatkan random, tetap saja, lagi-lagi kekalahan menghampiri nya.


Aruna benar–benar serius dalam permainan nya. Dia tidak membiarkan team Senja untuk dapat menyerang balik dengan mudah. Aruna dengan mudah menghabisi hampir semua lawannya. Seandainya ini bukan permainan team mungkin orang–orang yang bersamanya itu juga ikut di-kill.


>>backchat>>Waduhh... itu player hebat banget, padahal heronya tipe support bertahan?!>>< ujar player 1


>>backchat>>Gilaaa bungg>>< sahut player 3


>>backchat>>Die lagi, die lagiiii?!! woy yang bener nih??!!>>< protes player 4


>>backchat>>Udah guys... gue nyerah kagak guna barangnya udah jadi tuh>>< ungkap player 5


>>chat>>>Wahhh, jangaan....>>< kata Senja


>>backchat>>Ok guys... mari bersama kita pencet tombol menyerah (-_-) sebelum menara terakhir di hancurkan lord mending kita sendiri yang ancurin>>< sahut player 1 kembali.


Dengan begitu berakhirlah gamesnya. Skor 0-3, Aruna lagi – lagi mengalahkan Senja didalam games-nya dan ini sudah ke-12 kalinya yang ia mainkan dan seperti ketetapannya... Senja harus menghapus games ini dari daftar favoritnya dan melupakannya selamanya.


"Uh... hiks... hikss." Tendengar suara rintihan hati Senja yang terluka.


"Baiklah Senja kau tidak boleh gegabah dia benar – benar mencegahku untuk bermain games lebih banyak."


Untuk sesaat Senja merasa bahwa jika terus seperti ini ia akan terbatas bermain games dan ini benar – benar kelak bisa membuatnya berhenti main games sepenuhnya pikir Senja dengan serius. Ia mulai mengalami konflik batin sendiri dan pada akhirnya ia memutuskan satu hal yang mesti di lakukan secepatnya agar dapat mengakhiri teror mengerikan ini. Ia lalu mulai mengemasi barangnya dan bersiap pergi keluar menuju suatu tempat dan tempat itu adalah rumahnya Meyla.


***


Sesampai dirumah Meyla, Senja lalu menceritakan semua hal yang dilakukannya pagi tadi, termasuk games-nya. Sampai pada hal-hal di mana Meyla tertawa terbahak – bahak mendengar ceritanya. Senja hanya bisa memarahinya sedikit karena ia tahu bahwa sahabatnya itu membuatnya malu.


"Aduh... duh... bwahaha hah hah, Senja.Memang tak ada momen membosankan jika bersamamu!" ungkap Meyla sambil menahan tawa nya sedikit demi sedikit.


"Ayolah Mey ...ini bukan candaan, ini sudah ke-12 kalinya aku seperti ini"


"Honey... lets think positif, does'nt that made you, lebih tercegah? ehem." ujar Meyla sambil menepuk pundak Senja dan memberinya semangat.


Memang itulah hal yang di inginkan sahabat nya, Meyla tidak menyangka ternyata ada orang diluar sana yang mau mengambil setengah tugasnya dan itu membuatnya benar-benar bersyukur untuk Senja.


"...."


Senja hanya terdiam menunduk lemas tanpa berkata apapun.


"Andaikan aku bisa bertemu dengan si Aruna ini secara langsung, aku mungkin akan menjabat tangannya dan memberikannya bingkisan buah–buahan." gumam Meyla yang mengkhayal.


Setelah Senja mendengar perkataan Meyla barusan, terlintaslah sebuah ide di kepalanya. Senja lalu menaikkan kepalanya dan menatap Meyla. Sahabatnya itu balik membalas senyum di wajahnya.


"Meyla, kau pintar!" ungkap Senja sambil memegang kedua tangan sahabatnya itu. Untuk sesaat senyum yang ada diwajah Meyla menghilang. Meyla sadar apa yang akan dilakukan oleh Senja sekarang.


"Tidak. No no Senja, kau tidak serius, bukan?"


"Meyla... kamu sahabatku, kan?" ungkap Senja dengan wajah berserinya dan membuat sahabatnya tak bisa menolaknya. Merekapun bergerak pindah keruang khusus keluarganya.


Ini adalah ruang khusus dirumah Meyla, karena ruang ini penuh dengan peralatan elektronik  yang di lengkapi dengan teknologi komputer terbaru. Beberapa keluarga Meyla ada yang termasuk pengembang dari peralatan ini, karna itu semua teknologi yang ada di rumahnya termasuk peralatan terbaru yang di uji. Meski masih di uji jika menggunakan teknologi yang terbaru bukankah itu sudah sangat canggih. Itulah yang di pikirkan Senja.


"Aku harus melakukannya. Teror menyakitkan ini harus kuhentikan!" ujar Senja sambil memasuki sebuah ruang. Cahaya dalam ruangan itu hanya dihasilkan dari sebuah lampu yang menempel didinding, sedikit gelap karna lampu yang di pasang pun memang tidak cukup terang.


"Kau terlalu berlebihan Senja. Aku sih, setuju."


Angguk Meyla yang setuju dan mengikuti Senja berjalan dibelakangnya.


Senja lalu berbalik kearah Meyla dengan matanya yang terlihat menyipit kali ini walau masih kesal, ini hanya memperlihatkan bahwa ia sedikit merasa marah agar sahabatnya merasa seperti tertekan.


"Just kidd, okay." ujar Meyla sambil tersenyum sedikit melihat Senja yang mulai marah namun terlihat lucu diwajahnya.


"Aku hanya ingin menyapanya. Apa itu tidak boleh? hmp." balas Senja kembali sambil menyentuh sebuah layar komputer dihadapannya, ia kemudian memakai kacamatanya agar terhindar dari radiasi. Setelah itu Senja mulai mengaktifkan layar monitor lain disekitarnya.


Komputer itu adalah processor gen terbaru, layar nya berupa hologram yang super besar 50 inch dan sebuah layar datar yang ada di bawah kaki mereka, yah lantai yang mereka injak pun merupakan sebuah layar komputer. Ia sungguh mengerti dengan semua peralatan yang ada didepannya tanpa ragu sedikitpun ia mulai menjalankan semua komputernya.


Tak bisa dibayangkan jika ia bisa menggunakan itu untuk bermain games pasti sangat memuaskan itulah yang pernah terpikirkan oleh Senja. Selanjutnya ia mulai menyambungkan kabel data smartphonenya pada komputer yang ada dilantai. Saat ini Senja sedang duduk dan mengetik dilantai sambil sesekali melihat pada layar hologram yang ada dihadapannya. Meyla yang berada didekatnya pun hanya bisa memperhatikan, dia pun teringat akan kenangan lamanya.


"Sudah lama ya, dari terakhir kali aku melihatmu melakukan itu."


"Yup, waktu itu keadaan darurat jadi terima kasih sudah percaya padaku, Mey."


Waktu pertama kali Senja memasuki ruangan itu adalah ketika sahabatnya kehilangan smartphonenya karena di curi. Senja yang baru seminggu mengenal Meyla merasa sangat ingin membantunya meski harus melakukan sesuatu yang di anggap ilegal.


Meyla tidak pernah terpikir bahwa sahabatnya itu memiliki kemampuan seperti itu. Skill yang dianggap sebagian orang berbahaya untuk beberapa hal hacks. Bayangkan saja jika kau bisa melakukan itu, kau dapat dengan bebas mengakses data pribadi seseorang atau informasi yang sangat privasi meski terkunci sekalipun dengan kode yang rumit.


Apa yang kau pikirkan jika ada seseorang yang mengetahui seluruh isi yang ada dalam smartphonemu?. Barang yang kita anggap paling dekat dengan seluruh kehidupan kita. Semua hal menyenangkan dan memalukan, rahasia yang kau sembunyikan dari orang-orang, pacar atau orang yang kau sukai, kode privasi, data pribadi, akun bank, atau lainnya.


Itulah kenapa di anjurkan bagi setiap orang untuk mengganti kode mereka sewaktu-waktu, hal itu untuk mencegah terjadinya kebocoran data yang dapat mengakibatkan kerugian pada dirinya sendiri.


"...."


Meyla hanya melihat Senja tanpa bicara.


Kamu benar – benar menjadi orang yang berbeda ketika sedang melakukan ini ya Senja. Aku sangat terkejut loh tidak menyangka kau dapat menemukan smartphone ku yang dicuri hanya dalam waktu 17 menit. Bukan hanya itu kau juga mencari dan menemukan kartu memori beserta sim yang dibuang terpisah oleh pencurinya.


Setelah itu lampu di ruangan tiba–tiba jadi berkedip-kedip lalu menjadi lebih redup lagi dan kini layar monitor berubah menjadi gelap dengan berbagai kode tulisan yang rumit muncul.


"Aku mulai." ungkap Senja dengan serius sambil mengetik dikeyboardnya dengan cepat. Ia menggerakkan seluruh jarinya tanpa mengurangi kecepatan sekalipun. Benar – benar hebat. Ia sungguh fokus dan melihat layar monitor dengan seksama. Seakan – akan ini adalah hal yang biasa ia lakukan.


Kode–kode rumit yang muncul dilayar monitor pun satu per satu mulai berganti, ada yang hilang dan setelah itu muncul kembali lebih banyak. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Senja selesai dan terlihat sebuah peta dan dari berbagai lokasi tersebut muncul sebuah titik merah lengkap dengan sebuah gambar yang menjelaskan titik tersebut.


"Hm... dengan ini... selesai."


"Wait... over, already?!" sanggah Meyla dengan wajah terkejut tidak percaya. Tentu saja itu tidak bisa di percaya. Ini baru 5 menit lebih dari waktu ia memakai komputernya.


"Yup, sudah he heh." tawa Senja sedikit sambil melepas kacamatanya dan mengambil smartphone nya yang tersambung ke komputer.


"Dont, heh he he... to me!" protes Meyla dengan terkejut takjub. Ini 3 kali lebih cepat dari terakhir kali ia melakukannya. Skill yang mengerikan mungkin itulah yang telintas dipikiran Meyla.


"Komputermu luar biasa Mey, aku hampir tidak menyangka bisa surfing sedalam itu walaupun hanya di permukaannya." ujar Senja dengan bangga memuji komputer sahabatnya itu.


"Wa- hwaah!"


Teriak Meyla sambil menepuk pundak sahabatnya itu dan dengan kedua tangannya dia mengoyang-goyangkan tubuh Senja, maju mundur. Tindakan ini pun membuat Senja merasa sedikit pusing.


"Dengar Senja, kau tidak boleh melakukan hal seperti ini sembarangan okay, jika memang terpaksa. Kamu harus mengatakan nya padaku. Berjanjilah!" paksa Meyla sambil berteriak memperingati sahabatnya itu.


"Huh... hah!?" ujar Senja sedikit bingung.


Namun Meyla kini lebih memaksa Senja untuk segera berjanji padanya sambil menekan pundak Senja dengan lebih kuat agar segera mengucapkannya.


"BERJANJILAH!"


"Um iya! aku janji... mau pake jari kelingking?" ungkap Senja yang merasa tertekan sambil menawarkan kesepakatan lucu.


"... Kamu, are we a kindergarden?" ungkap Meyla dengan ekspresi polos menanggapi Senja.


***


"Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan Senja?"


Mereka berdua sekarang pindah ke ruang kamar Meyla, untuk sebuah kamar ukurannya sangat luas dan didalam kamar itu terdapat sebuah meja bundar yang terdapat sepasang sofa single berwarna hijau muda sebagai pelengkap. Terlihat seperti kamar seorang putri. Tempat tidurnya yang memiliki tirai berenda dengan motif hijau daun muda, serta meja untuk menulis dengan rak buku yang tersusun rapi berada diatasnya lengkap dengan karpet bulu berwarna rerumputan yang di atasnya tergantung sebuah lampu panjang dengan berhiaskan permata yang berkilauan menambah kesan mewah pada ruangan.


"Aku sudah menemukannya ke-12 lokasi di mana dia online, letak dan alamatnya." ungkap Senja dengan yakin.


"Hah?. Ke-12 lokasi?" Meyla yang terheran melingkarkan kedua tangannya sambil berpikir.


Hebat bukankah ia hanya menggunakan komputer ku sebentar, hanya dalam waktu 5 menit lebih itu ia bisa menemukan ke-12 lokasi beserta alamat orang itu online hehh apa itu mungkin?.


Aku hanya membiarkan ia menggunakan komputer sebentar dan sudah sebanyak itu? BAGAIMANA JIKA KU TINGGALKAN SENJA SEHARIAN?.


Benar–benar sebuah konflik besar yang ada di dalam kepala kecil Meyla. Dia sekali lagi di buat kagum dan terkejut dengan kehebatan sahabatnya ini, meski begitu Meyla sadar akan satu hal. Semakin Senja mahir dalam kemampuan nya ini maka, akan semakin besar resikonya. Inilah yang membuat Meyla semakin khawatir.


"Aku akan kesana Mey, akan kutemui si Aruna ini" gumam Senja dengan serius sambil membereskan peralatannya dan memasukkanya kedalam tas.


"Tidak Senja, bagaimana jika si-Aruna ini adalah om–om mesum jelek yang pengangguran!?" Sela Meyla sambil mencegat Senja pergi dengan tangannya.


"Jika dia om-om maka aku hanya harus melaporkan ke istri atau keluarganya, pengangguran? Kurasa tidak... lagi pula si-Aruna ini... kupikir dia lebih hebat dari itu. Dia saja berani menawari ku item berbayar gratis, dan ergh!? mesum jelek sepertinya aku harus bersiap menelpon polisi...." ungkap Senja dengan sedikit khawatir jika mengalami kondisi tersebut. Meyla pun memperhatikan wajah Senja dengan seksama, lalu dia berpikir untuk memberikan sesuatu padanya.


"Tolong bawa ini." Meyla pun mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya dan menaruhnya ketelapak tangan Senja.


"Ini adalah senjata yang harus dibawa setiap wanita kau paham kan!" Kata Meyla dengan lebih meyakinkan, memberikan benda itu ketangan Senja. Ia yang melihat benda itu hanya bisa memasang wajah heran polos dengan tanda tanya besar dikepalanya.


"Gincu?"


"Hmp hmp!" angguk Meyla.


Dengan begini di mulailah perjalanan Senja mencari keberadaan si player Aruna ini. Meski Meyla sangat ingin ikut, tetap tidak bisa. Karena hari ini sahabatnya itu memilki jadwal padat empat mata kuliah dan itu membuatnya harus berada di kampus setengah harian sampai malam.


Tapi Meyla mengatakan jika terjadi apapun atau merasa dalam bahaya ia harus menelpon secepatnya. Meski begitu Senja terus meyakinkan kepada sahabatnya bahwa ke-12 lokasi ini tidak jauh masih berada disekitaran kota Mereka. Ia mengatakan pada Meyla bahwa letak alamat nya juga tidak keluar dari kota masih bisa dijangkau dengan kendaraan. Walaupun sudah jelas namun Meyla tetap saja masih merasa khawatir. Senja pun pergi dari rumah sahabatnya dengan menggunakan motornya.


***


Ini adalah lokasi pertama dari terakhir kali si-Aruna online. Senja melihat sebuah rumah dengan tulisan [WARNET ABAH IYAH] di sana, pada ujung lorong jalan. Senja lalu memarkirkan motornya ke sebuah tempat di dekat dinding pembatas pinggir jalan. Sebelum berjalan memasuki lorong, ia teringat benda yang diberikan oleh sahabatnya, ia lalu mencoba untuk mengeluarkan benda itu dari dalam tas dan membukanya karena penasaran.


"Mau di lihat bagaimanapun juga ini memang gincu huh." gumam Senja lagi, setelah memastikan lalu menutupnya kembali. Ia lalu menggenggam benda itu ditangannya. Senja merasa seperti sahabatnya itu berada di dekatnya. Dengan menarik sedikit tas slempangnya Senja berjalan mendekati tempat warnet tersebut dengan sebuah pengharapan dalam hatinya.