
Seperti biasa Senja tiba di ruang kelas kampus dengan tidak terlambat. Baginya mata kuliah kali ini sangat menyenangkan karena ia dapat dengan gratis menikmati ruang komputer dengan internet yang sangat stabil dan itu membuatnya dapat bermain games walau hanya sesaat.
Tapi bukan berarti ia akan memainkannya waktu pelajaran, ia hanya akan meminta waktu lebih pada saat mata kuliah selesai, yang membuatnya bisa melakukan hal ini karena yang mengajar bidang ini adalah saudara kandung dari sahabatnya Meyla.
"Senja, jika sudah selesai kembalikan kunci lab komputer ini keruang dosen lantai 4 block D." ucap seorang dosen kepada Senja dengan meletakkan sebuah kunci diatas sebuah meja. Dia kemudian pergi perlahan meninggalkan ruangan ketika selesai berbicara kepadanya.
"Baik." jawab Senja sambil mengambil kunci lab komputer itu dan duduk kembali ke depan tempat duduknya.
Sambil bersenandung, ia kemudian berjalan mendekati sebuah meja dan duduk disebuah kursi sambil berkata.
"Hm~ hm~ hm~. Kali ini games apa yang harus kumainkan?"
Dari layar terlihat berbagai jenis games online yang muncul dan ia pun menggerakkan mousenya terus sambil memilih tipe seperti apa yang akan dimainkannya. Ia pun terpaku pada sebuah laman utama games yang sedang menjadi tranding.
"Ini... ini... ah! aku coba Battle in RoyalACE." pikir Senja dalam hatinya.
Karena konsepnya yang solo player memungkinkan Senja untuk bisa memperlihatkan gaya permainannya yang serius. Ia senang dengan tipe seperti ini karena permainan itu seperti survival atau bertahan hidup dengan memanfaatkan benda atau senjata apapun yang ada di sekitarmu sambil menghindari musuh yaitu player lain yang sama denganmu. Senja kali ini terlihat lebih fokus.
Meskipun itu games tetapi ia tetap memainkannya secara serius. Ketika didalam games yang membuatnya harus bertahan di arena, ia terlihat sangat hebat. Dari cara menggerakan jarinya di keyboard mendengar kan suara langkah kaki pemain lain dengan headset sampai melihat keadaan sekitarnya membuat gadis ini terlihat seperti seorang pro.
Orang biasa yang melihatnya pun mungkin akan salah sangka dan melihatnya seperti seorang pemain hebat. Mata nya yang begitu fokus menghindari musuh sambil melawan satu persatu benar–benar tontonan yang hebat. Ini bukanlah pemandangan biasa yang bisa dilihat dari seorang gamer pemula.
***
Di Dalam Games, Battle in RoyalACE
"Hufh~ huh hah."
Terdengar suara napas yang berat dari dalam sebuah rumah yang sangat sepi, dari luar keadaan rumah tersebut terlihat cukup tua karena beberapa warna cat yang pudar dan beberapa tanaman menempel di dinding yang memperlihatkan bahwa rumah itu tidak terurus.
"Jika aku mau bertahan sampai akhir aku harus mendapatkan sesuatu yang lebih baik." pikir Senja sambil duduk bertahan dan menggunakan kotak darah yang ia dapatkan didalam games.
Dooorrrr... doorr... dorr...
Terdengar suara beberapa kali tembakan dan itu membuat Senja kembali waspada. Ia melihat kondisi disekitar dengan memanfaatkan pecahan kaca dari benda disekitarnya.
"... Dua... tiga dan sepertinya yang terakhir itu team jadi 6." ujar Senja sembari menghitung player yang tersisa dan setelah mulai tenang ia lalu mengecek jumlah amunisi yang dimiliki. Sepertinya ini buruk karena jumlah amunisi yang tersisa hanya 4 dan ia belum menemukan kotak amunisi untuk senjatanya di tambah lagi ia hanya memiliki sebuah panci masak yang digunakan untuk pemukul. Membuat keadaan semakin sulit.
Terlebih lagi senja menyadari bahwa musuh yang akan dilawannya setidaknya memiliki senjata yang jauh diatasnya. Sambil terus waspada memperhatikan, Senja akhirnya memutuskan untuk menyerang mereka.
SLIT... SHOOT....
Terdengar sebuah suara tembakan yang sangat halus, karna sangat kecil suaranya hampir tidak terdengar sama sekali.
"Wargghh ahh...."
Seorang player tiba–tiba saja tumbang dan membuat player lainnya bergerak mencari si penembak.
"Di sana! di atas rumah... berani sekali kauu sialannn." kata player 2. Dengan sigap dia mulai memasuki sebuah bangunan.
"Hoi~ keluar kau si-a-lan!" kata player 2 itu yang perlahan menaiki tangga dan ketika memasuki sebuah ruang atap di langsung menyodorkan senapannya tapi ternyata tak ada seorang pun disana. Namun dia terkejut ketika seseorang menyapanya dari belakang.
"Halo."
Sapa Senja sambil mengejutkan pemain itu yang tiba-tiba keluar dari belakang pintu, dan dengan sigap ia menerjang kaki player 2 itu dengan kaki kanannya. Tindakan ini membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
DOORR... DORR....
Senja pun menghabisi Player 2 itu dengan sisa amunisi yang di milikinya. Namun karena suara tembakan ini begitu besar membuat pemain lain mendekati areanya. Ia dengan cepat mengambil beberapa item yang ditinggalkan oleh pemain itu namun semua amunisinya untuk senjata yang berbeda. Mau tidak mau ia harus mengganti Senjatanya juga dan kali ini ia mendapatkan amunisi yang cukup.
Karna waktu tidak banyak akhirnya Senja terkejut dengan sebuah ledakan bom yang membuatnya hampir kehilangan setengah darahnya. Beruntung ia langsung sadar dan sempat menghindari. Namun kini darahnya berkurang banyak dan tinggal sedikit. Seandainya saja ia tidak menghindar, itu akan membuat ia benar–benar kalah. Namun tidak ada cara untuk keluar dari atap jika ia melompat sekarang ia akan langsung tewas karna darahnya sudah lewat setengah.
"Tidak ada cara lain... bertahan, aku harus melakukannya walaupun hanya 9%." pikir Senja, Setelah itu ia pun menggunakan item yang dibawa dan mengeluarkan senjatanya. Ia pun naik keatas atap dan bersembunyi di balik tumpukan pipa besi besar sambil bersiap.
"Ck~ kau masuk duluan." perintah player 3.
Salah satu player pun memasuki ruangan dan mengecek situasi, player itu memberi aba-aba pada temannya. Mereka bertiga pun memasuki ruangan.
"Oi- dia di sana." ujar salah satu player yang menunjuk dengan pistolnya mengarahkan sambil mendekati tumpukan pipa besi. Mereka bertiga perlahan bergerak ke tumpukan pipa besi dari arah yang berbeda.
"Tahan... sedikit lebih dekat... lagi." gumam Senja.
"Sekarang." ketika semua pemain hampir mendekatinya, Senja mengeluarkan bom dan terjadilah ledakan besar disana, membuat semua pemain yang mengepungnya tadi mati.
"What?! ...i-ini bom bunuh diri." teriak player 4.
"Waaaahhhtt... shitt shhiiit." ujar player 4.
"Hoi~ hoii~ meski itu bom kau juga akan ikut tewas." Tambahnya namun betapa terkejutnya dia melihat Senja masih berdiri disana dengan darah yang sangat sedikit dan terus berkurang.
"... Apa? tidak mungkin... si si-a-lan ini ternyata memakan imunniti mushroom. Pantas saja ia berani melakukan bom bunuh diri." tambah player 4 tadi.
Meski Senja memakan immuniti mushroom ia masih harus bergegas mengambil kotak obat pemain lain agar darahnya dapat bertambah. Ini karena ia terkena efek ledakan nya sendiri dan membuat darahnya berkurang lebih lambat.
"Aduh~ hah... lega, hampir saja aku aku ikut tewas." ungkap Senja dengan perasaan lega.
Ia pun turun dari tangga menuju pintu keluar dari rumah, namun saat ingin keluar ternyata didepannya berdiri satu player tersisa dan mereka saling menyerang dengan senjata masing-masing. Senja yang langsung sigap pergi melompat keluar jendela dan berlari diluar, terus berlari mengarah kesebuah mobil dan menaikinya. Player 6 tadi ikut mengejar Senja dan menembakinya dengan senjatanya, terus-menerus sampai mobil yang dikendarai Senja mulai terbakar.
"Ahhhh~ kuhk...." ungkap Senja sambil melompat keluar dari dalam mobilnya, dengan memegang salah satu lengannya yang berdarah ia moncoba berdiri. Kini player 6 itu juga kehabisan amunisi senjata dan mereka kini hanya harus bertarung secara langsung.
"Ahh... ini gawat... aku hanya punya panci pemukul ini!?. A-aku harus bagaimanaa?"
Sementara Senja berpikir, ternyata musuh juga hanya punya pemukul besi. yah setidaknya senjata yang player itu pegang lebih meyakinkan dari punyanya.
"Sepertinya kita sama–sama kehabisan senjata ya!" ujar player 6 itu sambil mendekat kearah Senja dan membuat suasana semakin tegang.
"Tapi, aku masih punya yang lain... ini." tambah player 6 tersebut lagi dengan menunjukkan sebuah granat ditangannya. Benar-benar gawat, pada saat seperti ini Senja benar–benar terdesak dan jika sudah seperti ini yang ia lakukan hanya menyerangnya langsung walaupun ia tahu bahwa dirinya tidak mungkin menang.
Mereka pun saling beradu satu sama lain, Senja berusaha keras menyerang pemain itu dengan panci pemukulnya. Player 6 itu pun melihat sedikit titik kelemahan Senja dan memukulnya dengan keras ketika itu sejata yang dikenakannya terlepas dari tangannya dan Senja terlempar terkena pukulan dari pemain itu.
"Hah hah hah. Inilah saatnya." kata player 6 itu sambil mengeluarkan granat dan menarik platuknya. Dia pun berjalan dengan sombongnya ke arah Senja, seakan ini sudah berakhir.
"Dengan ini ka- ahh!"
BBRAAKK...
Suaranya teriakannya terpotong karena dia tersandung panci pemukul Senja yang tadi terjatuh disana, membuat player 6 itu terjatuh dan saat sadar granat yang tadi player 6 itu pegang terlepas dan terjatuh kembali ke depan matanya.
BOOOM... DUAARR...
Seketika tempat itu meledak dipenuhi kumpulan asap dan pemain tadi tampak tewas gosong karena senjatanya sendiri. Senjata makan tuan. Keberuntungan dadakan itu pun membuat Senja keluar sebagai pemenangnya.
***
"Eh ah?! ...wahhh sungguh-han? yeah!" teriak Senja sambil melihat dilayarnya bertuliskan.
WINNER [the Last Survivor].
Ekspresi bahagia luar biasa terpancar diwajahnya. Ia benar – benar tidak menyangka akan menjadi pemenang.
"Hm... kalau begitu satu ronde lagi dan aku akan pulang !" ujar Senja namun kali ini lebih semangat lagi sambil memulai ulang games dan menunggu waktu loginnya.
***
Di Dalam Games, Battle in RoyalACE
Sudah 35 menit ia memainkan games ini, namun untuk ronde ke dua ini lebih sulit karena banyak Player lebih hebat dari sebelumnya, dan juga kini, hanya tersisa 15 orang. Senja pun harus benar – benar bersembunyi sambil menunggu beberapa player saling menyerang hingga tewas dan berkurang sedikit.
Saat Senja sedang mengambil item, ada player yang melihat dan langsung menyerang nya dari kejauhan. Senja tentu saja langsung berlari dan terus berlari berharap darahnya masih tersisa saat dia berhasil kabur sambil ditembaki. Beberapa saat setelah itu didepan terlihat sebuah terowongan yang mengarah kebawah tanah, itu adalah sebuah lorong yang digunakan untuk sebuah kereta pengangkut tambang dulunya dan dengan tergesa-gesa tanpa pikir panjang ia memasuki terowongan bawah tanah itu meski cukup gelap, walaupun ada kemungkinan ia dapat saja bertemu dengan player lain yang juga bersembunyi didalam sana.
Karna jika ada tentu saja ia harus bertempur dengan medan yang cukup sulit serta tidak menguntungkan. Semakin dalam ia memasuki terowongan, semakin gelap keadaan didalamnya meski ada beberapa lampu yang menyala dan ada pula yang rusak. Dengan cahaya yang remang-remang tersebut serta lantainya yang basah dan lembab membuat tempat ini terlihat sangat ideal untuk tempat persembunyi.
"Breng-sek... berhasil kabur hah!" kesal player tersebut.
"Lagi pula kau sudah kalah karna memasuki terowongan. Kau tahu apa yang terjadi ketika kau memasuki terowongan, itu hanya ada satu jalan keluar dan itu adalah akhirmu!" teriak Player itu dengan yakin. Player itu pun bergegas menuju ke ujung terowongan lewat jalur luar namun ketika hendak pergi dari sana player itu berhadapan dengan player lain yang menghadangnya. Aura player ini terlihat berbeda dari player lainnya.
"Wah wah~ chicken dinner, setelah aku mengalahkanmu aku akan mengejar mangsaku tadi!" ujar player itu dengan sombong dan mulai menembaki Player tadi yang menghadangnya.
"Hwaahahahaha! tamatlah kau !" Namun setelah dia selesai menembak, kabut asap itu pun mulai menipis dan dia terkejut dengan kondisi player itu masih berdiri di hadapan nya tanpa terluka sedikit pun di tubuhnya.
"Breng-sek! bagaimana kau?" Player itupun tercengang dengan mulut terbuka. Namun Player yang berdiri dihadapannya tidak berkata apa-apa, yang kemudian mulai menyerang balik kepadanya.
Kamus gamer singkat:
Immuniti mushroom, ialah sebuah item yang memberikanmu kekebalan tidak bisa mati
terhadap sesuatu meski efeknya hanya beberapa detik.