
"Aruna?"
"... Kau, kemana kau akan pergi kali ini."
Cegat Aruna yang dengan sigap dan serius bertanya kepada Senja. Hal ini menyebabkan sebuah atmosfer yang bahkan Meyla sendiri bingung untuk mengatakannya seperti apa.
"By, by1 lah dengan ku!" paksa Senja dengan nada yang menantang.
"Bukan, maksudku kau akan pergi kemana. Aku tidak memintamu untuk berduel denganku." Sanggah Aruna dengan pasti menjawab balik perkataan Senja, namun Senja terus saja memintanya untuk by1 dengannya dan sebaliknya Aruna terus saja menolak permintaannya itu.
Di sini Meyla merasa seperti sebuah serangga kecil yang tidak terlihat. Dia hanya bisa heran dan melongo melihat kedua orang ini terus berdebat ingin berduel, tapi anehnya bukankah ini keadaan yang terbalik.
Mereka berdua terlihat terlalu serius hanya untuk sebuah duel kecil yang tak berujung ini. Karena Meyla merasa tak bisa memasuki atmosfir ini, dia lalu duduk di sebuah kursi dan memesan lagi makanan. Dia menunggu sampai keduanya mulai mereda sendiri.
"Dengarkan aku, Senja!"
Aruna kini berubah dengan ekspresi serius dan kedua tanganya bergerak spontan memegang kedua pipi Senja dengan kedua tangannya. Tindakan tiba – tibanya ini membuat Senja berhenti berkata – kata dan Senja pun akhirnya ikut diam.
"Kau... tidak mau by1 dengan ku?, apa kau bosan berduel dengan aku yang lemah ini?" ungkap Senja namun kali ini nada kecewa.
"Tidak, aku tidak akan pernah bosan berduel denganmu, tapi... jika sekarang kulakukan kau hanya akan kalah dan itu...."
Dia yakin Senja yang sekarang tidak akan siap berduel dengannya secara penuh. Jika dia menerimanya maka Senja hanya kan mengalami kekalahan yang mutlak tanpa perlawanan sama seperti sebelumnya. Kenyataan bahwa dirinya belum siap sepenuhnya untuk melawan Aruna.
Akhirnya Aruna menyarankan untuk bertemu pada sebuah festival, dia mengatakan bahwa dalam 4 hari lagi akan ada festival dan di dalam nya ada turnamen besar para klan Langit dan Bumi. Turnamen itu adalah bentuk festival yang dilakukan untuk mengenang pertempuran para petinggi klan Langit dan Bumi pada zaman dahulu dimana mereka berhasil bertahan dalam medan pertempuran melawan klan Samudra.
Di dalam turnamen itu mereka dituntut untuk bertarung dengan player lain sambil melawan momon. Jumlah pesertanya 400 orang, dari 400 orang itu akan di bagi menjadi 100 orang yang masing – masing hanya ada satu pemenang dari 4 tempat dan pemenang itu akan bertarung 1:1/1:1. Mereka harus bisa bertahan melawan 100 orang dan menjadi pemenang tunggal.
"Jika kau bisa bertahan dan menjadi juara disana, maka kau bisa by1 denganku." Ucap Aruna dengan serius meyakinkan Senja.
"Bagaimana bisa?, aku tidak-" bantah Senja tidak percaya dengan hal yang dikatakan oleh Aruna. Ia merasa aneh biasanya Aruna yang niat banget mengiriminya permintaan PVP dengannya, namun sekarang berbeda sekali.
"Aku tahu karena itu kau Senja. Kau dan aku di final...." ucap Aruna namun kali ini dia melepaskan tangannya dari Senja dan menjauh beberapa langkah dari hadapannya.
"Tunggu, aku harus meminta saran pada sahabatku."
Senja bergerak spontan dengan ekspresi bingung dan tangannya seperti ingin menggapai sesuatu namun terhentikan. Ia lalu pergi memeluk Meyla yang sedang makan dan bertanya padanya, Meyla yang tadinya tidak terlihat sekarang menjadi terlihat.
"Mey, apa yang harus aku lakukan haruskah aku ikut turnamen itu?" Tanya Senja sambil memeluk Meyla yang sedang makan.
"Oh. Kau ingat aku masih di sini, ya?" jawab meyla dengan nada kesal dan datar.
Dia merasa bahwa dirinya sudah di abaikan oleh sahabatnya ini hanya demi seseorang yang selalu menantangnya duel games.
"Hum?... kau kan selalu bersamaku Mey, kalau kamu logut, kan di layarku akan muncul notif." Sahut Senja dengan tidak memahami situasi.
Yah lagi – lagi Meyla hanya bisa menghela napas panjang karena dia tahu Senja tidak akan mengerti meskipun dia menjelaskan. Meyla lalu menghabiskan semua makanan dan pergi kearah Aruna. Dia lalu menunjuk Aruna dengan jari telunjuk nya dan mengeluarkan kata – kata yang menantang.
"Dengar ya Aruna, kau akan segera kami kalahkan. Senja akan ikut dalam turnamen itu dan mengalahkanmu!" Ungkap Meyla dengan nada menantangnya yang sombong.
"...."
Aruna hanya mendengar tanpa berkata – kata.
"Aku tidak peduli jika kau itu arwah atau gamer tak terkalahkan sekalipun... hanya saja,sekuat apapun seseorang itu aku yakin dia pasti memiliki kelemahan, karena aku akan membantu sahabatku ini untuk menang!" tantang Meyla dengan nada serius dan yakinnya memihak Senja.
"Bagus, akan kutunggu, 4 hari dari sekarang." balas Aruna dengan menerima tantangan mereka berdua.
"Sebelum itu, Senja. Apa kau berencana untuk keliling kota?. Aku...." Tambah Aruna sembari berjalan mendekati Senja dan terlihat dimatanya dia meminta sesuatu.
Ternyata Aruna ingin ikut dengan mereka mengelilingi kota. Hal ini tentu saja membuat Senja heran dan berpikir ternyata dia juga bisa terlihat seperti Player normal. Karena selama ini Senja mengira mungkin saja Aruna itu adalah bot. Ya meskipun permintaannya aneh, Senja mengizinkan Aruna ikut dalam acara keliling kota mereka meski Meyla memprotes, ia tetap merasa waspada bahwa mungkin saja Aruna memiliki niat buruk terhadap Senja.
Mereka pun bersama – sama mengelilingi kota bersama Aruna yang mengikuti mereka dari belakang. Sampai pada sebuah toko aksesori mereka pun memasukinya. Aruna hanya diam sambil menyilangkan kedua tangannya dan bersandar pada sebuah dinding. Ia memperhatikan kedua orang itu dari jauh. Sesekali dia melirik kearah Senja yang selalu berubah – ubah ekspresi.
"Mey, kamu terlalu banyak memilih... aku tidak punya uang sebanyak itu." Resah Senja dengan khawatir melihat semua barang aksesoris yang di pegang Meyla untuk di pakaikannya pada Senja.
"Semua ini cocok dan bagus sekali untukmu Senja... lagi pula kau harus mempersiapkan barang apa yang nanti akan kau beli ketika kau menang darinya!" ungkap Meyla yang dengan sombongnya melirik kearah Aruna.
"Itu terlalu sia – sia! aku tak mau yang seperti itu. Lagi pula inventori ku tidak muat." sanggah Senja menanggapi perkataan Aruna dengan menolaknya langsung.
Aruna lalu berjalan mendekati tempat Senja berdiri dan melewati dirinya, ia lalu melihat – lihat semua aksesories yang ada di dalam kaca toko. Lalu dia pun mengambil sebuah aksesories cantik untuk di jepitkan di sekitar kepala Senja. Aksesories itu berbentuk hampir seperti daun namun dengan motif bunga Melati Putih yang cantik terukir di sisinya lengkap dengan manik – manik tergantung yang indah di sana.
"Aku pikir ini terlihat cocok padamu, Senja." saran Aruna sambil mencoba mempaskan jepitan tadi kerambut Senja.
Senja pun melihat dari arah cermin dan dia mulai teringat kata – kata seorang anak laki – laki yang mengatakan padanya bahwa dia sangat cocok dengan imej bunga melati putih. Terjadi keheningan sesaat disana, namun keadaan itu pecah ketika Meyla juga ikut mengomentari, dan dia pun merasa itu cocok untuknya.
Walau hanya sesaat ketenangan ada disana, seketika suasana berubah pada saat terdengar suara ledakkan dan suara teriakkan para player yang berhamburan serta berlarian di depan tokoh mereka, ada yang berlari masuk kedalam toko namun seseorang mengejarnya dan membunuh Player itu dengan kejam di tempat.
"PK."
"Hah!. Di saat seperti ini?!" sahut Meyla dengan gelisah.
"Bahaya, dia... levelnya terlalu tinggi dan itu equipnya... berbayar." Tambah Senja dengan nada khawatir melihat Player itu.
Saat ini namanya muncul di layar dan berwarna Merah. Dia pastilah cukup kuat untuk bisa membuat para player tadi berlarian kabur.
"He he he... sepertinya ada tikus yang terjebak disini." Ujar Player Killing tersebut sambil perlahan masuk kedalam toko itu.
Pada saat itu Senja merasa ingin maju melawan namun ia di hentikan oleh tangan Aruna yang menghalanginya.
"Kau tidak perlu melawannya, kau hanya harus fokus pada duel kita nanti." Sanggah Aruna dengan santainya, melihat tindakannya itu Senja hanya bisa meng-iya kan.
"Aruna... kau ingin melawannya?" Tanya Senja lagi pada Aruna yang berjalan kedepan siap bertarung dengan PK tadi.
"Aku hanya menyapu sampah." Jawab Aruna dengan nada datar dan ekspresinya mulai berubah menjadi serius dengan aura yang berbeda.
"Kau! ku-ku... heh, besar juga nyalimu bocah!" hina PK itu sambil mengarahkan pedang besar tangan gandanya ke wajah Aruna.
Aruna pun mengeluarkan tongkatnya dari telapak tangan kirinya sebuah lingkaran sihir pun tercipta seketika. Yah Aruna adalah kelas Mage namun dia lebih ke mode BattleMage. Tongkatnya dapat dia ubah menjadi sebuah tombak dan itu memberinya sebuah keuntungan ketika mananya habis karena dia dapat tetap bertarung meski mana-nya habis.
Seketika PK itu pun menyerang Aruna dengan skillnya, namun Aruna melompat menghindari serangan, iya paham betul serangan demi serangan yang di keluarkan oleh PK itu. Aruna terus saja menghindari dan sambil menyerang PK itu.
"A-apa yang kau lakukan! serang aku, di mana kau bo-doh!"
Aruna langsung menyerangnya pada saat dia tak melihat Aruna melayang di atasnya dan dia kini siap dengan posisi menyerangnya dia lalu memberikan sebuah sihir seperti kurungan listrik pada player PK itu, namun PK terlihat membalas serangan Aruna dengan skillnya.
Meski begitu setelah dia berhasil meloloskan diri dari sihir Aruna tadi, Aruna berpindah cepat dan kini berada tepat di depan matanya dan menyerangnya dengan skill sihirnya dan terjadilah ledakan besar disana yang mendorongnya dengan sangat kuat sampai membuat lantai pecah tertekan ke dalam demage yang dihasilkan oleh sihir Aruna sungguh mengerikan.
Kini Aruna berdiri di atas tubuh PK itu, dan PK itu terlihat memucat karena kondisinya yang sudah berada di ujung tanduk.
"J-ja... waahhrrgg." Rintih Player PK tersebut sambil berteriak dan kalah karena terkena lagi skill Aruna yang sangat dahsyat. Iya itu adalah sihir gabungan dari tombaknya yang dia lapisi dengan sihirnya yang sangat kuat yang lalu dia tancapkan langsung ketubuh player PK itu dan akhirnya Aruna berhasil mengalahkan player PK itu dengan serangan mutlaknya. Senja dan Meyla yang melihat pertarungan hebat itu hanya bisa merasa terkagum-kagum melihat betapa hebatnya mereka bertarung meski mereka tahu Aruna lebih baik.
"Senja, aku sekarang mengerti kenapa kau selalu kalah melawannya." ungkap Meyla dengan nada datar.
"Sekarang kau tahu kan alasannya."
Setelah kejadian ini Meyla lalu mengubah pemikirannya lagi tentang tidak ada gunanya membawa Aruna, begitu melihat ini dia sadar betapa beruntungnya mereka membawa Aruna.
Setelah selesai dengan kejadian tadi, muncul lah sebuah notif di depan layar Senja yang mengatakan bahwa itu sudah memasuki jam makan malam mereka, dan ini lah akhirnya mereka berdua pun berpamitan pada Aruna karena dalam beberapa hari kedepan mereka tidak akan saling bertemu dan ketika bertemu lagi, maka itu hanya ada satu tempat dan itu di-final. Pada saat Senja dan Meyla selesai logut, PK tadi menanyakan balik nama dari player yang mengalahkannya itu.
"... Ho-i, siapa namamu. Setidaknya baritahu aku namamu karna kau sudah mengalahkan aku yang hebat ini." Tanya Player PK itu sambil melihat kearah Aruna sebelum menghilang.
"Apa kau tidak melihatnya? sekarang aku sama sepertimu." Jawab Aruna dengan sorot mata yang menekan. Player PK itu pun terkejut saat dia melihat nama lengkapnya yang juga ikut berwarna merah karena membunuh player lain.
"Ka-kauu... hah... haahhah... ahahah... pantas saja aku kalah!. Ka-u itu si-crownless, Player hantu... yang tidak memiliki niat dalam hal apapun, da-" kata – kata terakhir Player itu terpotong karena dia sudah menghilang dan di teleport-kan kembali ke tempat awal yakni kota [Reborn] dalam 2 jam lagi.
"Seperti itulah aku... di mata kalian, tapi, tidak baginya." Gumam Aruna sambil berjalan mendekati sebuah item dalam toko dan mengambilnya.
Kamus gamer singkat :
Bot; build operate and transfer atau bisa juga berarti program yang digerakkan secara otomatis.
Inventori; sebuah tempat penyimpanan item didalam games, dapat berupa tas atau tempat penyimpanan lainnya yang didalamnya ada batasan jumlah item yang bisa disimpan.