The Phantom Of: The Crownless Gamer

The Phantom Of: The Crownless Gamer
Pemain 24: Buku Berawalan 'Permulaan'



Rumah Meyla | Ruang Makan


07.02


“Senja?” panggil Meyla sambil melambaikan tangannya kedepan wajah Senja yang masih melamun didepan meja makan.


“I-iya Mey. Aku mendengarmu,” jawab Senja sambil menggerakkan lagi sendok ke mulutnya yang sempat berhenti beberapa detik.


“Kau, apa benar semalam tidak ada kejadian aneh selain bug itu? Aku mencium sesuatu yang tidak beres,” dehem panjang Meyla yang memasati wajah Senja dengan penuh kecurigaan.


“... Yups Mey, bukankah sudah kujelaskan semua.” ucap Senja seraya mengangkat alisnya lagi meski mulutnya masih sibuk mengunyah makanannya.


Menu makan malam kali ini nasi goreng spesial yang Senja sendiri memasaknya, walau hanya nasi goreng tapi ntah kenapa jika itu diracik oleh tangan Senja, bisa menjadi sesuatu yang sangat menggugah selera, perpaduan antara bumbu rempah – rempah khas, tumbukan aneka bawang, pedasnya cabai berpadu dengan bahan inti garam, gula, ditambah telur bahkan bumbu x yang biasa menjadi andalan penambah nikmatnya cita rasa kaldu dan taklupa taburan suwir ayam yang tipis juga renyah itu menari – nari di dalam tiap sendokan kedalam mulutmu, bagi Meyla yang sangat suka makan dia bisa menghabiskan hampir satu kuali penuh. Karenanya Senja sering memasak dua kuali agar Meyla bisa makan sesuai ukuran porsinya.


Meyla selalu mengeluarkan ekpresi luar biasa bahagia ketika dia makan masakan Senja, dan tentu saja ini juga membuat Senja merasa bahagia jika sahabatnya senang.


“Ahh~ Senja, seandainya saja hobi berlebihanmu itu tidak ada, kau mungkin sudah bisa mendekati kategori istri ideal.” puji Meyla yang kini sudah mulai selesai makan dan mengangkat secangkir perasan hangat teh lemonnya.


“Mey... aku belum mau menikah, kuliah ku masih panjang,” sahut Senja dengan sedikit menarik alis kanannya kebawah.


“I’m telling the truth, honey... lets see, kau itu termasuk tinggi untuk ukuran normal wanita, lekuk tubuhmu yang berisi namun tetap terlihat ramping itu, rambut pendek coklatmu yang lurus dan halus itu....” Meyla kembali melirik Senja yang duduk berhadapan dengannya secara menyeluruh.


“Bulu matamu yang letik dan juga lebat itu, matamu yang bulat dengan iris secerah mentari, pipi yang sedikit tembam dan... bibir merah mudah itu... tak sadarkah kalau kau ini gadis yang manis,” ungkap Meyla sembari memutarkan tangannya kedepan wajah Senja yang dari tadi terus mendengarkan sambil meminum segelas air putih lagi yang ada di atas mejanya. Setelah tiga kali tegukan Senja mulai meletakkan dan mendengarkan Meyla lagi.


“Kecantikan saja tidak akan membuat orang lain tertarik Mey,” sanggah Senja.


“Thats right! tapi itu tetap hal utama, selain kepribadian mu yang pandai, baik dan ramah juga ehem... keras kepala, tidak peka, dan terkadang naif itu....”


“....”


Senja kini terdiam dan memasang wajah yang heran sambil sedikit memiringkan kepalanya. Melihat Meyla yang kini mulai menyilangkan tangannya sambil terus melanjutkan komentarnya.


“Kau bahkan pintar mengurus orang lain dan terkadang lupa pada dirimu sendiri.”


“Bukan hanya aku Mey. Setiap wanita itu cantik, tidak perduli dengan bentuk fisiknya. Jika hatinya indah maka kecantikan sejati yang ada di dalam dirinya akan terpancar keluar. Semakin indah hatinya, semakin cantik wanita itu. Karenanya banyak wanita cantik dengan paras yang berbeda – beda, bukankah itu adalah cerminan dari hatinya," ucap Senja yang membalas dengan menarik sebuah lekukan hangat pada bibirnya.


Meyla lagi – lagi hanya bisa terkesan dengan ucapan balasan sahabatnya, walau dia terus berbicara dengan ketus dan terkesan seenaknya, Senja tetap menerima dirinya yang cerewet itu. Tak tahu seberapa marah atau kesal dirinya, setiap dia berbicara dengan Senja, dia selalu bisa merasa tenang.


Mereka pun menyelesaikan serta membereskan semua piring yang ada di meja makan, mencuci serta merapikan dan memasukkan satu – persatu piring kedalam rak dan setelahnya mereka pindah ke ruang baca, yah ruang perpustakaan yang terletak pada lantai dua rumah Meyla.


***


Rumah Meyla | Ruang Baca, Perpustakaan


Pukul 08.21


Senja saat ini sedang memilih buku apa yang akan dibacanya, ia memperhatikan setiap detail tulisan pada punggung buku dengan berbagai judul itu. Ada yang tentang kesehatan, pertanian, politik, bahkan sejarah. Ruang perpustakaan ini sangat luas, dengan desain interior pada akhir abad 16 di Italia.


Gaya baroque yang terkesan glamor dan dramatis mendominasi setiap sudut ruangan yang terbuka, meski warnanya terkesan gelap kemewahan gaya baroque tetap terpancar oleh penggunaan emas, perak serta bebatuan berharga yang tergambar pada motif daun – daunannya.


Meski tidak menyalakan lampu ruangan, tempat duduk sofa single dengan meja kotak yang diposisikan berdampingan dengan jendela bergaya abad pertengahan itu membuatmu terdukung jika ingin membaca dengan nuansa yang tenang dan terang. Jarak tiap sofa yang sedikit berjauhan dan sendiri – sendiri itu sangat ideal. Belum lagi setiap sisi rak buku itu di selipkan sebuah vas bunga keramik yang berasal dari negeri tirai bambu berukuran satu meter diletakkan pada tiap ujung tepiannya.


Senja berjalan dari satu rak buku ke rak buku lainnya, masih terus melihat dan mencari jika ada buku menarik yang ingin di bacanya. Tangannya yang lentik itu mulai menyentuh sambil menunjuk judul – judul tersebut, sampai suatu ketika matanya tertuju pada sebuah buku tua kecoklatan, sampulnya sudah sedikit tua namun jika dilihat dari sisi kertas di dalamnya masih terlihat rapi dan tidak terlihat adanya kerusakan. Buku itu tidak memiliki judul pada punggungnya, karena itu Senja dengan lambat menarik buku itu keluar dari raknya.


Walau teksturnya sedikit kasar, serta berdebuan namun judulnya membuat Senja penasaran untuk membukanya.



“Gadis kecil di dalam imajinasinya?” gumam Senja sembari mengelap dan meniup sedikit debu yang menutupi judulnya.


Senja lalu memegang buku itu di tangan kirinya sambil melihat sekitar rak lainnya, setelah itu ia kembali menatap cover sampul buku itu dengan wajah yang datar.


Dari sekian banyak buku di perpustakaan Meyla... hanya buku ini yang terlihat lusuh dan berdebu, sementara buku lainnya bersih dan tidak terasa ada debu yang menempel pada covernya, aneh.


Bahkan buku ini hanya memiliki judul saja di covernya, tanpa ada nama penulisnya, haruskah aku baca?.


Senja yang diliputi rasa penasaran mulai membuka lembaran demi lembaran kertas putih kecoklatan itu satu persatu, tetapi ia masih tidak melihat nama penulis, kata pengantar atau daftar isi di dalamnya. Hanya sebuah tulisan ‘permulaan’ pada bab pertamanya.


•-------------- ☼ -------------- •


PERMULAAN


Dahulu kala ada seorang gadis kecil yang kehidupannya hanya di penuhi dengan kebahagiaan. Kehidupan itu bagai sebuah berkah untuk setiap harinya, keluarganya adalah pembisnis sukses yang sangat kaya di kota tersebut dan dia adalah anak semata wayang yang sangat di manja, hanya dengan mengucapkan sebuah kata saja, dia bisa mendapatkan semua yang di inginkan. Memiliki kedua orang tua, pelayan serta seorang kesatria kecil penjaga yang sangat menyayanginya di sana, membuat hari – harinya selalu di penuhi dengan bunga - bunga.


Setiap orang muda maupun tua yang mengenalnya, juga sangat menyayangi gadis kecil itu, perawakannya yang ramah, lembut, dan dermawan itu membuat setiap orang menyukainya.


Dia bukan seorang putri, tetapi dia layaknya seorang putri. Bahkan orang – orang yang berpapasan di jalan dengannya akan menyapanya dengan penuh semangat. Senyumnya yang lembut bagaikan bunga musim semi yang bermekaran, suaranya yang merdu, tubuh mungil dan wajahnya yang cantik jelita itu bisa membius siapa saja yang berada di dekatnya.


• -------------- ☼ -------------- •


Kemudian Senja membalik lagi halaman keduanya, sambil terus membaca ia mensandarkan tubuhnya pada salah satu rak buku.


• -------------- ☼ -------------- •


Karena kehidupannya yang begitu sempurna, dia berniat untuk membagikan kebahagiaan itu juga pada orang lain. Jadi, dia membagikan apapun yang di milikinya kepada semua orang yang membutuhkan, makanan, perhiasan, emas juga baju semua kelebihan yang di punyai-nya, dia bagikan pada semua orang di kotanya.


Meski sudah dia bagikan, namun tetap saja masih kurang bahkan ada orang yang masih juga yang tidak mendapatkan kebahagiaan yang coba dia berikan.


Dia kemudian pergi berkeliling ke kota – kota tetangga, di sana dia masih saja menemui beberapa orang yang masih kekurangan, kelaparan, bahkan tidak memakai pakaian yang layak.


Hatinya begitu iba dan sedih, dia sangat ingin menciptakan sebuah dunia di mana setiap orang yang hidup di dalamnya juga bisa merasakan semua yang dia rasakan bukan hanya dirinya sendiri.


• -------------- ☼ -------------- •


Tangan Senja dengan alaminya membuka kembali lembaran berikutnya.