
Raphael membawa Lucy ke apartemennya, sebelumnya pemuda itu sudah merencanakan akan makan siang bersama di salah satu kafe dekat kampus. Rencananya mereka akan bermain musik di sana untuk mengenang masa lalu.
Namun, hal tak terduga terjadi karena insiden Lucy yang terkunci di toilet.
"Bersihkan dirimu!" Raphael memberikan handuk pada Lucy dan juga setelan bajunya karena baju kekasihnya memang kotor.
Lucy mengambil semua itu dan segera membersihkan diri di apartemen Raphael. Sebenarnya dia sangat canggung tapi apa boleh buat, Lucy tidak mau banyak protes karena acara kencannya yang gagal.
Butuh waktu lima belas menit untuk membersihkan diri.
Saat Lucy keluar dari kamar mandi sudah ada segelas susu cokelat panas.
"Ini untukku?" tanya Lucy.
"Katanya cokelat bisa mengembalikan mood seseorang," sahut Raphael.
Tanpa banyak kata Lucy meminumnya dan benar saja mood nya langsung membaik.
"Setelah ini kau harus belajar bela diri, kau tidak boleh diam saja kalau ditindas," tegas Raphael.
Lucy hanya bisa menganggukkan kepala walaupun ragu.
"Apa obat yang kau konsumsi waktu kecil dulu mempengaruhimu sekarang?" tanya Raphael.
"Aku sudah menjalani terapi dan meminum vitamin tapi kadang tubuhku jadi cepat lelah," jawab Lucy jujur.
"Itu bukan alasan untuk berlatih bela diri, bukan? Semakin kau berlatih, kau akan menjadi STRONGGG!!!" Raphael menirukan gaya popeye.
"Hahaha..." Lucy tertawa melihat kekasihnya bergaya seperti itu.
Raphel mengulum senyumnya karena Lucy yang kembali ceria.
Untuk menebus hari gagal kencannya, Raphael ingin menyanyikan lagu untuk sang kekasih.
Sebuah gitar dia ambil lalu Raphel memainkannya sambil bernyanyi. Ternyata jiwa musisi Raphael memang masih mendominasi.
Lucy menopang dagunya sambil tersenyum melihat Raphael bernyanyi untuknya.
Alunan dari gitar Raphael memenuhi gendang telinga gadis itu ditambah suara Raphael yang begitu estetik.
Lama-kelamaan Lucy jadi ikut bernyanyi.
"Bukankah kita pasangan duet yang serasi? Kita harus tampil berdua saat di kampus ada acara musik," ucap Raphael..
Namun, Lucy hanya diam saja tidak merespon.
"Kenapa kau selalu ragu, hem?" Raphael menyentuh pipi kekasihnya. "Kalau kau tidak bisa membalas mereka dengan perlakuan sama, kau bisa membalasnya dengan prestasimu!"
"Tunjukkan pada mereka kalau kau bukan seperti yang mereka pikirkan!"
Ya ampun, di mata Lucy kini Raphael semakin tampan berkali-kali lipat sampai tanpa sadar dia mencium pipi pemuda itu.
"Thanks for everything," ucap Lucy. Dia akan berusaha berani dan menuruti apa Raphael.
Raphael berdehem, dia jadi salah tingkah.
"Berterima kasihlah dengan cara yang benar," pintanya.
"Memangnya yang benar bagaimana?" tanya Lucy malu-malu.
"Di sini," Raphael menunjuk bibirnya. "Kali ini harus true kiss!"
"True kiss?" Lucy mengingat-ngingat true kiss yang dia tonton di film. "Jadi harus menempel dan bergerak?"
"Iya, kau yang tempel nanti aku yang bergerak," balas Raphael dengan berdebar.
Ternyata Lucy benar-benar melakukan apa yang dia minta. Gadis itu memajukan tubuhnya dan berusaha menempelkan bibirnya.
Raphael diam, dia menunggu pendaratan bibir itu.
Beberapa detik kemudian, akhirnya bibir Lucy mendarat di bibirnya. Raphael menggunakan instingnya untuk melakukan gerakan.
Dua anak remaja saat ini tengah melakukan real kiss pertama mereka dengan amatir.
Jantung keduanya berdebar seperti genderang mau perang.
"I love you, Lucy," ucap Raphael setelah melepas ciumannya. Dia berjanji akan selalu ada di sisi kekasihnya.
...END...