The Little Mafia

The Little Mafia
TLM BAB 34 - Terlambat



Samuel yang mendengar suara Arabelle terus-terusan memanggil dirinya menjadi geram. Rasa cinta sebelumnya kini berubah menjadi kebencian setelah tahu apa yang dilakukan oleh istrinya itu.


Dia sudah memberikan kepercayaan penuh tapi Arabelle justru menipunya habis-habisan.


Plak! Plak!


Dua tamparan keras mendarat di pipi Arabelle bergantian. Pipi mulus itu kini ada tanda lima jari dari Samuel.


"Aku menceraikanmu sekarang juga, tunggu surat sahnya nanti!" geram Samuel.


Arabelle tak kuasa menahan tangisnya. "Aku tidak mau, aku mencintaimu, Sam. Cintaku jauh lebih besar dari pada cinta Brainne padamu!"


"Jangan sebut nama Brainne seperti itu. Dia wanita yang tidak akan tergantikan, dia rela mengorbankan hidupnya demi Lucy tapi kau justru membuat putriku dalam bahaya!" Samuel kemudian melirik ke arah polisi. "Bawa dan hukum dia seberat-beratnya!"


Samuel tidak mau melihat wajah Arabelle lagi, setelah ini semua akan ditangani oleh kuasa hukumnya.


"Lucy..." Samuel kembali mendekati putrinya dan menggendongnya. "Maafkan daddy... maafkan daddy!"


Dia juga berterima kasih pada Tony dan Robin. Sebenarnya Robin sangat marah pada Raphael tapi setelah melihat semua yang terjadi, dia justru bangga karena Raphael bisa mengungkap kejahatan.


Raphael sendiri mengamati semuanya bersama Kenzo. Anak laki-laki itu merasa lega karena kejahatan Arabelle bisa terungkap dan Lius bisa mendekam di penjara.


Sekarang Black Shadow benar-benar telah punah.


...***...


Raphael berada di ruang kerja Axe sekarang, anak itu kembali membuka brankas milik sang daddy dan meletakkan gepokan uang yang dia dapatkan dari Kenzo.


"Sudah selesai?" tegur Robin yang juga ada di sana.


Raphael mengangguk. "Kapan mommy dan daddy pulang?"


"Besok. Kita akan menjemput mereka di bandara," jawab Robin.


Sesuai dengan perkataan Robin, keesokan harinya Raphael bersiap-siap menjemput orang tuanya ke bandara.


"Ada apa?" tanya Raphael.


"Nona Lucy akan berangkat ke Amerika," ucap Tony.


"Apa?" Raphael terkejut bukan main padahal setelah dari bandara dia berencana menemui Lucy di rumah sakit.


"Nona Lucy akan melakukan pemeriksaan di sana dan kemungkinan akan tinggal di Amerika," jelas Tony lagi.


Tidak mau membuang waktu, Raphael segera meminta Robin untuk segera berangkat. Semoga dia masih sempat mengejar Lucy.


Perjalanan terasa begitu lama bagi Raphael padahal jalanan tidak macet.


"Cepat Paman!" perintah Raphael lagi dan lagi.


Saat sampai Raphael bergegas turun dari mobil dan tanpa takut berlari sendirian ke arah papan jadwal penerbangan.


Raphael berdiri dan melihat di papan itu jam berapa jadwal penerbangan ke Amerika.


Tapi, sayang sekali ternyata pesawat yang dinaiki Lucy sudah berangkat dari beberapa menit yang lalu.


"Raphael..." panggil Robin yang sempat kehilangan anak itu.


"Kita terlambat Paman," ucap Raphael dengan wajah tertunduk.


Raphael terus murung dan tidak berbicara sama sekali. Ketika Axe dan Flo sudah datang pun Raphael hanya menyambut orang tuanya datar sekali.


"Ada apa, apa kau sakit?" tanya Flo jadi cemas.


Anak itu hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Lalu kenapa wajahmu itu? Tenang saja, sebentar lagi kau pasti punya adik, daddy sudah berusaha keras pagi siang malam," ucap Axe di sana.


Tapi, Raphael justru menangis dan memeluk sang daddy. "Aku belum minta maaf pada Lucy, Dad!"