The Little Mafia

The Little Mafia
TLM BAB 29 - Semakin Hancur



Mobil van yang membawa Raphael telah sampai, Kenzo menyiapkan senjatanya dan turun duluan.


"Biar aku yang masuk duluan!" Kenzo yakin jika melihat wajahnya Lius pasti sudah ketakutan setengah mati.


Namun, saat Kenzo masuk, keadaan sudah sepi.


"Sial!" umpat Kenzo.


Sementara Raphael berlari ke arah ruangan di mana sebelumnya Lucy disekap, di sana sudah kosong.


"Lucy..." panggil Raphael seraya mengepalkan kedua tangannya. Dari sini Raphael langsung sadar jika Lius telah mengkhianatinya.


Raphael menghantamkan satu tinju di telapak tangannya. "Awas kau Lius!"


"Sekarang kau tahu bukan, bagaimana dunia mafia itu bekerja," ucap Kenzo yang mendatangi Raphael.


"Aku pasti akan membalas perbuatan Lius, modal yang dia pakai adalah uang daddy!" kesal Raphael. Dia jadi merindukan Axe, setelah ini Raphael tidak akan meremehkan sang daddy yang berjualan ayam.


"Apa sebelumnya Lucy sudah menghubungi keluarganya?" tanya Kenzo kemudian.


"Sudah tapi tidak ada yang menerima panggilan itu," jelas Raphael.


Kenzo berpikir sejenak dan merangkai setiap kemungkinan. "Bisa saja Lius menghubunginya lagi dan sudah diterima!"


"Ck! Aku sudah menyuruhnya besok saja!" decak Raphael sebal.


"Tapi, mengingat di mansion keluarga Boutier tampak tenang, sepertinya ada hal lain yang terjadi," ucap Kenzo yang jadi mencurigai Arabelle.


"Kali ini rencananya menyingkirkan Lucy pasti berhasil!"


Raphael semakin tidak tenang, dia mencemaskan Lucy tapi dia juga ingin membalas Lius dan Arabelle sekaligus.


"Paman, aku mempunyai rencana," ucap Raphael kemudian.


"Aku mendengarkan," tanggap Kenzo.


Di sisi lain, Lucy dibawa ke sebuah gedung kosong di mana Arabelle sudah menunggunya. Inilah kenapa dia tidak tahu jika Raphael menyusup karena memang Arabelle tidak ada di mansion.


Arabelle menunggu kedatangan Lius dengan membawa dua koper uang.


Dan hal itu membuat Lucy berpikir jika Arabelle akan menebusnya.


"Mommy..." panggil Lucy saat melihat Arabelle di sana. Dengan tertatih, Lucy mencoba berjalan ke arah perempuan itu. Lucy masih syok menerima kenyataan mengenai Raphael, satu hal yang dia inginkan saat ini adalah pulang.


Kaki Lucy sudah berhenti di depan Arabelle kemudian anak perempuan itu mengulurkan satu tangannya.


"Tolong buka ikatan ini, Mom. Aku mau pulang," pinta Lucy dengan mata berkaca-kaca.


Arabelle memandang Lucy dengan mata penuh kebencian. Wajah Lucy selalu mengingatkannya pada Brainne -- ibu Lucy.


"Kau ingin pulang ke mana?" tanya Arabelle.


"Pulang bersama daddy, aku mohon," jawab Lucy menjadi takut karena tatapan Arabelle begitu menakutkan.


"Bagaimana kalau pulang bersama mommy mu, mommy Brainne. Kalian akan bahagia di sana," ucap Arabelle begitu sarkas.


Lucy semakin meneteskan air matanya karena dari kalimat itu, Lucy berpikir jika Arabelle ingin dia mati menyusul ibunya.


"Kenapa?" Lucy hanya mampu bertanya seperti itu. Selama ini dia sudah berusaha menjadi anak penurut tapi kenapa semua orang tidak ada yang menyayanginya.


Hati Lucy semakin hancur, dadanya begitu sesak sampai dia mengeluarkan darah dari hidungnya. Badan Lucy mulai sakit lagi.


Di detik itu juga, tubuh Lucy limbung dan ditangkap oleh Lius supaya tubuh Lucy tidak jatuh ke tanah.


"Cepat bereskan!" Arabelle seraya menyerahkan dua koper uang yang dibawanya. "Jika kerjamu bagus, aku akan menambah lagi!"


"Kau harus menepati semua janjimu," tuntut Lius.


"Kau bisa percayakan semua padaku!" Arabelle berseringai karena dia sudah merencanakan sesuatu untuk Lius. "Dasar mafia bodoh!" batinnya kemudian.