
Raphael keluar dari ruangan kemudian mendatangi Lius, dia kali ini benar-benar memberi peringatan pada lelaki itu supaya tidak memperlakukan Lucy dengan seenaknya.
Namun, peringatan Raphael hanya ditertawakan oleh Lius dan yang lainnya.
"Katamu kau ingin menjadi mafia, tidak ada mafia yang berbelas kasih sepertimu," ejek Lius.
Walaupun benar tapi Raphael tidak suka jika Lucy tersiksa apalagi anak perempuan itu menganggap dirinya teman.
"Lebih baik cepat selesaikan misi ini" Raphael tidak mau menundanya lagi.
Akhirnya Lius masuk ke ruangan Lucy berada dan meminta gadis kecil itu menghubungi Samuel.
Lucy menerima ponsel dari Lius kemudian menuliskan nomor Samuel dan langsung melakukan panggilan. Tapi, sayangnya panggilan dari Lucy tidak ada yang dijawab.
"Sebenarnya orang tuamu itu sayang padamu atau tidak!" kesal Lius karena semua tidak sesuai ekspektasinya. Kalau tahu begini, dia tidak akan menuruti ide Raphael.
Sebaliknya, Raphael semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Lucy. Hal itu begitu mengusik pikirannya.
"Kita hubungi besok lagi memakai nomor yang berbeda," ucap Raphael yang ingin pulang dulu karena takut Robin akan curiga.
Sesampai di rumah pun, Raphael tidak bisa tidur karena memikirkan keadaan Lucy. Padahal sebelumnya dia sudah memberi pesan pada Lius agar memperlakukan Lucy dengan baik.
"Arghh..." Raphael akhirnya menghubungi Tony supaya mengantarnya ke mansion Lucy. Dia berencana akan mencuri obat anak perempuan itu karena Lucy sudah melewatkan dua malam tanpa obatnya.
Raphael takut keadaan Lucy semakin parah.
"Tapi, Tuan Muda..." Tony ingin menolak tapi Raphael lagi-lagi membuatnya menurut saja.
Di sisi lain, Arabelle memandangi wajah Samuel yang tertidur setelah dia beri obat tidur sebelumnya. Itulah kenapa Samuel tidak menjawab panggilan dari Lucy.
Tangan Arabelle kemudian terulur mengelus pipi suaminya. Elusan itu begitu lembut sampai berpindah ke bibir lelaki itu lalu turun ke leher dan dada Samuel.
"Sam..." panggil Arabelle seolah ingin mengatakan sesuatu yang mendalam.
Namun, fokusnya teralihkan karena lagi-lagi ponsel Samuel berbunyi.
"Apa ini panggilan dari polisi?" gumam Arabelle.
Dengan pikirannya itu, Arabelle akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan.
"Hallo?" jawabnya.
Hening! Sampai beberapa detik kemudian terdengar suara lemah di ujung telepon.
"Mommy..." panggil suara itu.
Rupanya tanpa sepengetahuan Raphael, Lius memaksa Lucy untuk menghubungi Samuel lagi. Lius mengancam akan menyakiti Raphael yang membuat Lucy menuruti permintaan lelaki itu padahal sebelumnya Lucy tengah tertidur.
"Lucy?" tanya Arabelle memastikan.
"Iya, ini aku mommy," jawab Lucy.
Arabelle mengeratkan gigi gerahamnya karena mendengar suara anak itu. Tapi, dia berusaha menutupi kekesalannya.
"Lucy, kau ada di mana?" tanya Arabelle.
Ponsel yang di tangan Lucy langsung direbut oleh Lius untuk mengambil alih pembicaraan.
"Anakmu sekarang ada bersamaku jika kau mau anakmu selamat, jangan pernah memberitahu polisi!" Lius mulai mengancam.
Dari sini Arabelle langsung yakin jika Lucy tengah diculik.
"Apa maumu?" tanya Arabelle menantang.
"Ini akan menarik kalau aku bisa berbicara langsung pada suami mu," balas Lius yang ingin berbicara pada Samuel.
Arabelle tersenyum miring karena dia jadi mempunyai ide. "Lebih baik kita bicarakan berdua karena aku mempunyai penawaran yang menarik untukmu!"
"Oh iya? Apa itu?" Lius mencoba mendengarkan.