The Little Mafia

The Little Mafia
TLM BAB 23 - Kebohongan Demi Kebohongan



Di sisi lain, Arabelle tampak tenang saja, dia membuat teh chamomile kemudian berjalan ke ruangan kerja suaminya di mana Samuel tengah frustasi karena hilangnya Lucy.


"Sam, minumlah teh dulu," ucap Arabelle saat masuk ruangan itu.


Arabelle menaruh teh di meja tepat di depan Samuel. Tapi, lelaki itu tampak acuh karena pikirannya fokus pada Lucy.


"Kita percayakan semuanya pada polisi, aku yakin putri kita baik-baik saja!" Arabelle memeluk Samuel supaya suaminya tidak terlalu berlarut-larut memikirkan Lucy.


Dalam pelukan Arabelle pun, Samuel tidak tenang. Kalau pun Lucy jadi korban kebakaran, dia ingin melihat jasad putrinya dengan mata kepalanya sendiri. Samuel masih belum menyadari jika Lucy saat ini jadi korban penculikan.


"Aku menyesal telah mengizinkannya ikut kelas musik," ungkap Samuel.


Arabelle terus mengelus punggung suaminya, dia tidak ingin bicara banyak karena suasana hati Samuel tidak baik.


...***...


Karena tidak mau Robin curiga, Raphael kembali ke hotel bersama Tony. Besok dia juga harus sekolah.


Sepulang sekolah, Raphael kembali menemui Lucy dengan membawa beberapa makanan. Hari ini dia harus berhasil membujuk Lucy supaya anak perempuan itu mau menghubungi Samuel.


"Paman akan pulang telat? Tenang saja, jangan khawatir. Aku akan aman bersama Tony," ucap Raphael disambungan telepon bersama Robin.


Setelah selesai melakukan panggilan itu, Raphael menghela nafasnya sejenak.


"Paman Robin sedang sibuk, orang tuaku masih membuat adik, kesempatan ini jarang terjadi tapi Lucy mengacaukan semuanya," keluh Raphael.


"Lebih cepat lebih baik, Tuan Muda," timpal Tony yang merasa kasihan pada Samantha.


Setelah insiden hilangnya Lucy, Samantha dipecat oleh Samuel. Jadi, gadis itu sekarang kehilangan pekerjaannya. Dan Samantha susah mencari pekerjaan dibidang yang dia kuasai karena reputasi buruknya.


"Aku tahu itu, aku juga harus mengembalikan uang daddy yang sudah aku curi," ucap Raphael.


"Bagaimana?" tanya Raphael pada Lius.


"Dia tidak mau makan," balas Lius seraya menunjuk menu yang diberikan sebelumnya pada Lucy. Terlihat makanan cepat saji yang terlihat murah.


"Lucy sudah terbiasa memakan masakan dari tangan koki, mana mungkin dia mau memakan seperti itu," ucap Raphael sambil merebut paperbag dari tangan Tony. "Biar aku yang mengurusnya!"


"Cih!" Lius berdecih. Dia selalu tidak suka dengan Raphael yang sok jadi penguasa.


Di ruangan yang minim cahaya itu, Lucy terus memikirkan keadaan Raphael. Sepertinya memang Lucy harus menghubungi Samuel supaya Raphael tidak terluka.


"Lucy..." panggil Raphael seraya membuka pintu.


Lucy yang mendengar suara Raphael langsung berdiri dan berlari ke arah Raphael tapi anak perempuan itu terjatuh.


"Kenapa kau lari?" Raphael mencoba membantu Lucy berdiri.


"Raphael, kau tidak apa-apa?" Lucy justru mencemaskan keadaan Raphael.


"Aku tidak apa-apa," jawab Raphael seraya memperhatikan wajah Lucy yang pucat. "Ayo makan!"


Raphael berpikir pucatnya wajah Lucy karena anak perempuan itu yang tidak mau makan.


"Paman penculik itu membelikan mu makanan enak jadi makanlah," ucap Raphael seraya memberikan paperbag yang telah dia bawa pada Lucy.


Lucy membuka paperbag itu dan melihat berbagai makanan tapi dia masih kepikiran pada Raphael yang sebelumnya dibawa keluar.


"Apa mereka menyakiti Raphael?" tanya Lucy memastikan.


"Tidak, paman-paman penculik itu hanya menyuruhku memijit badan mereka," sahut Raphael yang terus membohongi Lucy.