The Little Mafia

The Little Mafia
TLM BAB 41 - Bisikan



Berita mengenai datangnya mahasiswa tampan tersebar begitu cepat seantero kampus bahkan langsung masuk berita di akun gosip kampus.


Di akun gosip itu tersebar foto Raphaelo yang baru keluar dari mobilnya.


Para gadis mulai membicarakan hal itu dan Lucy merasa de javu.


"Padahal aku ingin mengungkapkan perasaanku," gumam Lucy.


Lucy jadi mengingat Raphael yang begitu populer sementara dirinya hanya anak culun yang selalu mengagumi Raphael dari jauh.


Saat mata kuliah selesai, seperti rencana Lucy akan menunggu kedatangan Raphael di kantin kampus. Ternyata ketika Lucy sampai di sana, Raphael sudah menunggunya.


Tapi, ada yang membuat Lucy kesal karena Raphael tengah dikelilingi teman-temannya.


"Lucy..." panggil mereka.


Dengan malas Lucy menghampiri mereka dan Raphael seperti tidak merasa bersalah, pemuda itu justru menarik Lucy untuk duduk di sampingnya.


"Lucy, kenapa kau tidak memberitahu kami kalau selama ini kau mempunyai kekasih yang tampan," protes salah satu temannya.


"Kekasih?" batin Lucy.


"Raphael bilang kalau dia adalah kekasihmu," jelas yang lainnya.


Lucy pun menatap Raphael meminta kejelasan tapi pemuda itu justru mengerlingkan mata untuknya.


"Ayo Bunny, kita pergi!" ajak Raphael seraya menggandeng tangan Lucy untuk menjauh.


Raphael membawa Lucy pergi ke parkiran dan meminta bodyguard Lucy untuk pergi dengan memberinya uang.


"Aku semalaman memikirkan tempat yang cocok untuk kita menghabiskan waktu berdua," ucap Raphael.


"Sebelum itu, sepertinya ada hal yang perlu kau jelaskan," tuntut Lucy yang ingin meminta kejelasan mengenai kejadian di kantin sebelumnya.


"Aku hanya ingin mereka tidak memanfaatkan mu lagi. Karena aku tahu gadis sepertimu hanya bisa memendam perasaan," balas Raphael.


Lucy jadi terharu mendengarnya, padahal mereka terpisah sepuluh tahun lamanya tapi Raphael seolah mengenal dirinya.


"Bagaimana kalau satu kampus berpikir seperti itu?"


Raphael mendengus kasar karena Lucy bisa sepolos itu. "Justru bagus kalau begitu, selama ini kau tidak diganggu karena ada bodyguard yang selalu di sampingmu! Jadi, yang mereka bisa lakukan adalah membicarakanmu dari belakang dan mendekati hanya untuk memanfaatkanmu!"


"Tapi tenang saja, sekarang ada aku. Mereka tidak akan berani memanfaatkanmu lagi!"


Lucy memainkan jari-jari tangannya karena merasa bodoh sekali. "Kau pasti berpikir jika aku masih gadis kecil yang lemah!"


"Aku tidak pernah menganggapmu lemah! Kau bisa bertahan sampai sekarang, kau perempuan kuat Lucy," balas Raphael lagi.


"Dan aku ingin mengucapkan ini walaupun terlambat!"


Raphael yang sebelumnya fokus menyetir mobil kini melirik ke arah gadis yang duduk bersebelahan dengannya.


"Selamat karena kau diterima di fakultas kedokteran," ucapnya seraya mengusap kepala Lucy dengan satu tangannya. "Kau pasti selama ini telah bekerja keras untuk itu!"


Wajah Lucy langsung memerah karena perlakuan Raphael padanya itu. Dia sampai bingung harus merespon seperti apa.


Mobil pun berhenti di salah satu street food, Raphael menggandeng tangan Lucy saat turun dari mobil.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?" tanya Raphael.


"Aku ingin es krim itu!" tunjuk Lucy pada penjual es krim cone.


"Baiklah." Raphael membeli es krim cone dengan berbagai toping untuk Lucy.


Lucy menerima es krim dan duduk di sebuah bangku kosong untuk memakannya. Gadis itu begitu menikmati es krimnya sampai belepotan di mulut.


"Pelan-pelan," tegur Raphael seraya mengusap bibir Lucy memakai ibu jarinya.


Deg... Deg... Deg...


Suasana pun menjadi canggung. Apalagi jantung Raphael berpacu dengan cepat ditambah bisikan hantu cabul pada telinga.


Cium Lucy! cium Lucy! Bibirnya pasti manis seperti es krim