
Raphael menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar pertanyaan Lucy. Tidak mungkin Raphael menjawab kalau dia yang menculik anak perempuan itu.
"I-- iya, kita diculik!" akhirnya Raphael berbohong pada Lucy.
Bukannya takut, kini Lucy merasa senang karena waktunya akan lebih banyak dia habiskan bersama Raphael.
"Jadi, hanya kita berdua saja yang diculik?" tanya Lucy memastikan.
"Aku rasa begitu," sahut Raphael.
"Aku tadi sangat takut tapi jika ada Raphael di sini, aku tidak takut lagi. Aku janji tidak akan cengeng," ungkap Lucy.
Ada bagusnya Raphael berbohong, setidaknya dia tidak akan bingung jika Lucy terus-terusan menangis.
Dan hal itu tentu saja dilihat oleh Lius melalui kamera yang terpasang dan tersambung di laptop dan ponselnya.
"Anak itu sudah sadar, ayo kita jalankan rencananya!" Lius memberi perintah pada yang lain. Kemudian mereka masuk ke ruangan Lucy disekap.
Dengan terpaksa Raphael kini harus berpura-pura menjadi korban penculikan.
"Raphael..." Lucy memegang baju anak laki-laki itu ketika melihat Lius dan yang lain masuk ke ruangan mereka berada.
"Tenang, jangan takut!" Raphael mencoba menjadi pelindung Lucy.
Raphael memberi kode mata pada Lius karena dia yakin pasti lelaki itu mendengar percakapannya dengan Lucy dan tahu posisinya sekarang.
"Aku hanya butuh kau!" Lius kemudian menunjuk Lucy. "Cepat kemari!"
Lucy tentu saja takut dan tidak berani, dia justru berlindung dibalik punggung Raphael.
"Apa yang kalian inginkan, katakan saja!" Raphael akhirnya berbicara untuk mewakili Lucy yang membuat anak perempuan itu semakin mengagumi Raphael karena Raphael yang gagah berani padahal posisi mereka tengah diculik.
"Seperti biasa, Raphael selalu cool," batin Lucy kagum dan berbunga-bunga.
Lucy menerima ponsel itu, dia sebenarnya sangat hafal nomor pribadi Samuel tapi dilain hal, Lucy ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Raphael. Karena setelah ini dia pasti akan dilarang kemana-mana. Jadi, kesempatan bertemu Raphael sangat kecil.
"Aku tidak hafal nomor daddy," ucap Lucy kemudian.
Mendengar itu, Raphael langsung membalik badannya supaya berhadapan dengan Lucy.
"Tidak mungkin kau tidak hafal, kau itu anak pintar, aku saja hafal nomor ponsel pribadi orang tuaku," ucap Raphael menggebu-gebu.
Lucy sebenarnya agak kaget dengan perubahan sikap Raphael, dia jadi berpikir jika Raphael ingin cepat bebas.
"Ya sudah, kau berikan nomor ponsel pribadi orang tuamu saja Raphael, kita kan sama-sama diculik," ucap Lucy seraya memberikan ponsel yang ada di tangannya.
Raphael mengacak rambutnya kasar karena Lucy benar-benar membuatnya kewalahan. Anak laki-laki itu kemudian memberi kode pada Lius untuk mengambil tindakan.
Akhirnya Lius berdiri dan menangkap Raphael sebagai ancaman bagi Lucy.
"Kalau kau tidak mau memberitahu nomor ponsel pribadi ayahmu, aku akan membawa bocah ini," gertak Lius sambil memegangi lengan Raphael.
"Raphael..." Lucy ingin membantu anak laki-laki itu tapi Raphael justru dibawa keluar.
"Jangan sakiti Raphael!" teriaknya.
Tapi, Raphael sudah keluar dan Lucy hanya tinggal sendiri sekarang.
Di luar, Raphael mondar-mandir karena penculikan tidak berjalan sesuai rencana.
"Sepertinya anak itu menyukaimu jadi kau hanya perlu membujuknya," ucap Lius memberi saran.
"Aku juga berpikir seperti itu," balas Raphael.