The Little Mafia

The Little Mafia
TLM BAB 38 - Not Okay



Sungguh memalukan, kenapa Raphael selalu melihat sisi menyedihkan dari dirinya. Lucy pun berlari dan keluar dari kafe saat Raphael membayar bill di kasir.


Lucy malu, gadis itu terus berlari sampai dia tersandung dan akan terjatuh. Tapi dari belakang pula Raphael yang sebelumnya mengejar Lucy menangkap gadis itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh lagi," ucap Raphael.


Raphael menangkap tubuh Lucy kemudian mengangkatnya di pundaknya seperti karung beras.


"Raphael, apa yang kau lakukan?" tanya Lucy yang panik karena digendong seperti itu.


"Menculikmu," jawab Raphael tanpa beban.


Raphael menghampiri taksi yang baru saja menurunkan penumpang, pemuda itu kemudian masuk taksi dan membawa Lucy bersamanya.


Ternyata Raphael membawa Lucy ke apartemennya karena dia tidak tahu harus kemana lagi.


Sementara Lucy hanya diam karena perasaannya tak karuan sekarang. Bagaimana bisa Raphael ada di sini?


Selama ini Lucy tidak pernah kembali dan menetap karena Samuel ingin benar-benar melupakan Arabelle. Semua perusahaan pusat Samuel pindah ke Amerika dan mereka memutuskan menetap.


Tapi, Lucy masih terus memikirkan Raphael karena urusan mereka seperti belum selesai.


Lucy stalking akun sosial media Raphael tanpa dia sadari jika Raphael juga stalking dirinya.


Lamunan Lucy buyar ketika taksi sudah berhenti di loby apartemen dan Raphael menggandeng tangannya untuk masuk.


"Raphael, aku..." Lucy ingin menolak dan pulang tapi Raphael tetap membawanya masuk. Bahkan saat masuk lift, Raphael mengukung Lucy di sudut lift yang membuat mereka saling beradu tatap.


Keduanya diam sampai Raphael akhirnya menoel hidung Lucy dengan jari telunjuknya.


"Aku kira setelah masuk ke jurusan kedokteran kau akan pintar tapi ternyata kau masih Lucy polos dan bodoh yang bisa dimanfaatkan," ucap Raphael kemudian.


"Itu..." Lucy bingung harus menjawab apa.


"Teman tidak seperti itu Lucy, seharusnya kau belajar dari masa lalu," tambah Raphael.


Lift pun terbuka, Raphael menggandeng tangan Lucy untuk masuk ke unit apartemennya.


"Aku baru saja sampai jadi belum banyak barang," ucap Raphael seraya membuka kulkas. Beruntung ada minuman dan cemilan yang bisa dia berikan pada Lucy.


Lucy duduk di sofa sambil mengamati keadaan apartemen Raphael. "Kau baru datang?" tanyanya memperjelas.


"Aku pindah kuliah di Harvard, aku mengambil jurusan bisnis," jawab Raphael yang sekarang duduk di samping Lucy.


"Kenapa pindah?" tanya Lucy lagi.


"Kalau aku jawab karena ingin dekat denganmu, apa kau akan percaya?" tanya Raphael balik.


Wajah Lucy langsung bersemu merah karena malu. Apa benar begitu?


Raphael semakin mendekati Lucy yang membuat gadis itu memundurkan badannya. Jantung Lucy berdebar apalagi wajah Raphael begitu dekat dengannya sekarang.


"Lucy..." panggil Raphael.


"Ceritakan padaku, apa kau sudah sehat sepenuhnya?"


Lucy tidak menyangka jika Raphael akan peduli padanya seperti itu. Dan dia bingung harus memulai cerita dari mana. Mungkin dia harus bercerita dari awal supaya jelas.


"Setelah kejadian itu, aku dibawa daddy untuk menjalani pemeriksaan..."


"Kalau itu aku sudah tahu semuanya!"


Raphael memotong perkataan Lucy. "Aku ingin tahu keadaanmu yang sekarang. Are you okay?"


Pertanyaan yang seharusnya tidak sulit untuk dijawab tapi Lucy hanya bisa diam seraya menatap Raphael di sana.


"Not okay. Aku tidak baik-baik saja," jawab Lucy pada akhirnya.