
Dulu, Arabelle dan Brainne adalah sahabat baik. Mereka selalu mempunyai kesukaan yang sama termasuk laki-laki.
Siapa sangka mereka sama-sama menyukai Samuel. Terjadilah kompetisi diantara mereka berdua.
Samuel lebih menyukai Brainne yang mempunyai sifat lemah lembut. Dan hal itu membuat hubungan Arabelle dan Brainne merenggang.
Saat mendengar kabar pernikahan Samuel dan Brainne, hati Arabelle begitu hancur. Dia mulai membenci sahabatnya sendiri.
Arabelle menjauh tapi diam-diam masih mengawasi Brainne. Sampai dia mendengar jika Brainne meninggal saat melahirkan Lucy.
Dari situ, Arabelle mulai mendekati Samuel lagi. Butuh waktu bertahun-tahun membuat Samuel jatuh hati dan mau menikah lagi.
Saat resmi menjadi istri Samuel, Arabelle berharap segera hamil tapi wanita itu mempunyai rahim yang lemah jadi sangat susah memiliki keturunan.
Arabelle mulai mencari pelampiasan dan Lucy adalah sasarannya. Dia sangat menyalahkan semua pada Brainne yang wajahnya mirip dengan Lucy.
Dia mulai mencuci otak Samuel dan Lucy jika anak perempuan mereka itu pesakitan karena keturunan dari Brainne.
Doktrin demi doktrin yang dibangun Arabelle mulai mendarah daging. Awalnya Arabelle ingin Lucy mati secara perlahan supaya terlihat natural.
Tapi, rupanya semesta berpihak padanya. Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk membuat Lucy hilang selamanya.
"Samuel akan menjadi milikku seutuhnya," gumam Arabelle dengan tertawa jahat sekali.
Dia harus kembali ke mansion sebelum Samuel terbangun dan curiga padanya. Arabelle tidak menyadari jika pergerakannya telah dipantau oleh Raphael.
Kenzo berhasil melacak keberadaan Arabelle dan Lius. Mereka mengamati dari jarak jauh seraya menjalankan rencana yang disusun oleh Raphael.
"Sekarang kita bergerak!" Raphael memberi perintah.
Kali ini Kenzo mengikuti semua perintah si mafia cilik itu.
"Ayo selesaikan ini segera. Lucy harus mendapat penanganan medis," ucap Kenzo yang sudah memberi komando pada Gilbert untuk menarik beberapa anak buah dari markas.
"Mau apa kau kemari?" ketus Samantha saat melihat Tony. Saat ini Samantha bekerja tengah malam di pom bensin yang buka 24 jam. Hanya pekerjaan itu yang bisa dia lakukan tanpa terikat.
"Kau harus ikut bersamaku," ucap Tony seraya menggandeng tangan Samantha. "Kita tidak punya banyak waktu!"
"Kita harus menyelamatkan nona Lucy!"
Mendengar itu, Samantha mulai menanggapi, dia masih merasa bersalah atas hilangnya Lucy.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Samantha.
"Kita akan menjemput tuan Samuel dan kita harus menghubungi polisi dengan segera," jelas Tony.
Walaupun belum tahu pasti apa yang telah terjadi, Samantha mengikuti arahan Tony. Mereka pun pergi ke mansion Boutier.
Di sana security masih tertidur dan hal itu membuat Samantha keanehan karena tidak biasanya penjaga selemah itu.
"Pasti mereka telah diberi obat tidur," komentar Tony yang mulai mengerti permainan Arabelle.
Kali ini mereka harus memastikan Arabelle jatuh pada permainannya sendiri.
"Ayo cepat masuk, kita harus bisa membangunkan tuan Samuel untuk menjemput nona Lucy!" Tony tidak mau membuang waktu lagi.
"Bagaimana dengan nyonya Arabelle dan apa yang sebenarnya terjadi?" Samantha butuh kejelasan. Jangan sampai dia melakukan kesalahan lagi.
"Setelah ini, kau pasti akan mendapat pekerjaanmu kembali." Tony kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Samantha.
Awalnya Samantha sangat marah tapi setelah mendengar rencana mereka. Samantha sepenuhnya ada dipihak Raphael.
"Ayo cepat, jangan buang waktu lagi!" serunya.