
Pada saat itu, Samuel baru menyelesaikan rapat. Dia langsung mendapat laporan dari asistennya bahwa Samantha kehilangan Lucy.
Dan parahnya Lucy hilang dalam insiden kebakaran gedung.
"Apa!?" teriak Samuel tidak percaya. "Ayo cepat pergi ke sana!"
Samuel dan asistennya bergegas pergi ke gedung terjadinya kebakaran. Dan keadaan jalanan menjadi macet karena kebakaran itu.
"Aku akan berjalan kaki!" Samuel keluar dari mobil dan berlari ke lokasi yang jaraknya ratusan meter dari mobilnya yang terjebak macet.
Saat sampai, Samantha langsung bersimpuh di depan Samuel. Bodyguard itu merasa bersalah apalagi tim pemadam kebakaran dan polisi tidak dapat menemukan Lucy.
Beruntung Samuel bersikap bijak dan menyerahkan hilangnya Lucy pada polisi.
Dan hal itu dilihat Raphael dari kejauhan, dia masih ada di lokasi karena menunggu Robin datang.
Sama halnya dengan Samuel, Robin juga menembus kemacetan dengan berlari ke lokasi kejadian.
"Raphael..." panggilnya.
Robin berlari ke arah bocah itu dan memeriksa keadaan Raphael. "Apa kau terluka?"
"Tidak, Paman. Jangan beritahu daddy, okay. Aku tidak mau mengganggu daddy membuat adik," sahut Raphael.
Robin menghela nafasnya, dia masih tidak curiga bahwa kebakaran yang terjadi adalah disengaja. "Kita istirahat di hotel terdekat karena jalanan masih macet total!"
Akhirnya mereka pergi ke hotel terdekat, Robin ingin memesan satu kamar saja tapi Raphael ingin kamar sendiri.
"Kau masih kecil tidak mungkin punya privasi," ucap Robin mencoba menolak.
Tapi, Raphael berusaha meyakinkan jika dia ingin kamar sendiri bersama Tony.
Dan Robin pun menuruti permintaan Raphael itu. Dia sebenarnya juga ingin istirahat setelah seharian bekerja.
"Jaga Raphael untukku," ucap Robin memberi pesan pada Tony sambil memberi pass card.
"Baik, Tuan," sahut Tony yang tidak sabar ingin berganti baju.
Beruntung Robin tidak mempertanyakan masalah bajunya, mungkin Robin menganggapnya tidak penting.
"Ayo, Tuan Muda," ajak Tony. Dia ingin membawa Raphael ke kamar.
Tapi, Raphael justru menggelengkan kepalanya karena dia ingin bertemu dengan Lucy.
"Tapi--" Tony tidak bisa menolak karena sebenarnya dia juga khawatir pada Lucy.
Setelah memastikan Robin masuk ke kamarnya, Raphael dan Tony pergi ke tempat di mana Lucy disekap.
Mereka menembus kemacetan dengan menyewa pengendara motor kemudian mereka dijemput oleh anggota Black Shadow.
Hanya butuh waktu satu jam mereka sudah sampai ke lokasi dan Raphael segera turun karena cemas.
"Lius..." panggil Raphael penuh emosi.
Lius dan beberapa anggota lain hanya menatap datar kedatangan Raphael.
"Kenapa kau membuat kebakaran sungguhan? Itu sangat berbahaya!" kesal Raphael sambil mendorong tubuh besar Lius.
"Lantas kau ingin seperti apa?" tanya Lius dengan nada datar seolah menganggap kebakaran itu hal kecil.
Rasanya percuma Raphael protes, bukankah kehidupan mafia memang tak jauh dari kekerasan?
Raphael jadi ingin cepat mengetahui keadaan Lucy. "Di mana dia?"
"Dia masih pingsan, saat dia sadar nanti kita harus menghubungi keluarga Boutier dan mengajukan syarat pertukaran kita," jelas Lius.
"Ya, aku tahu. Aku ingin melihat Lucy sekarang," ucap Raphael yang membuat Lius menunjukkan rekaman di ruangan Lucy disekap.
Mata Raphael membesar karena melihat Lucy yang pingsan dengan badan terikat.
"Kenapa kau mengikatnya?" protes Raphael.
Padahal perjanjian mereka sudah jelas, tidak ada yang boleh menyakiti Lucy. Setelah ini Raphael harus berbicara pada Lius supaya lelaki itu tidak memperlakukan Lucy semaunya.
Raphael masuk ke ruangan yang minum cahaya, di sana Lucy masih memejamkan mata dengan badannya yang terikat.
Dengan perlahan Raphael membuka ikatan di tubuh anak perempuan itu.
Sialnya saat ikatan terlepas, Lucy terbangun dan melihat Raphael.
Lucy langsung teringat kejadian yang terakhir dia alami.
"Raphael, apa kita sekarang diculik bersama?" tanya Lucy kemudian.